pagi itu ulangan semester. ketika jam mengerjakan soal ulangan dimulai, kelasku, XII IPS 1, belum ada guru pengawasnya. kamipun belum bisa mengerjakan soal. walaupun seharusnya kami sudah harus mengerjakan soal. walhasil, kelas kami mengalami penundaan. kamipun kesal karena jujur saja, kami merasa dirugikan.
akhirnya setelah 5 menit yang penuh rasa dongkol mendalam, aku berinisiatif mendatangi ruang guru untuk meminta lembar soal dan jawaban. ketika sampai di sana, ada Ustad Rahmat.dia adalah pembantu direktur I yang mengurusi bidang kurikulum pengajaran. dengan penuh rasa dongkol yang tertahan, saya langsung bertanya,'Tad, ruang 29 kelas 6 ips 1 belum ada pengawasnya'. ustad Rahmat langsung menjawab,'nanti, tunggu dulu'. whats? tunggu dulu? dalam hati saya berkata ,'saya sudah nunggu dari tadi tad, gimana sih,kok ngurus ujian aja nggak becus?', dengan rasa agak gundah, aku pergi meninggalkan ruang guru. habis itu, aku benar2 bingung. (bagaimana gak bingung bro, mau ujian aja soalnya belum ada. mau nulis dimana? di meja? di pelepah kurma?) aku cuma bolak bali gak jelas di lantai dua sembari menunggu kepastian. tak lama, Alan, temanku sekelas datang. dia langsung bertanya kepadaku tentang soalnya. aku bilang gak tau. langsung saja dengan semangat menggebu-gebu dia menuju ruang guru menemui pak Rahmat. akupun mengikutinya. sampai sana, dia langsung saja berkata kepada pak Rahmat,'Tad, saya ambil soalnya yaa,' tentu saja ustad Rahmat menolak. kemudian Alan berkata,'tad, waktunya sudah lewat 10 menit. dengan tenang, ustad Rahmat masih menolak dan berkata,'gak boleh,tunggu guru pengawasnya datang'. Alan langsung menanggapi sambil memegang soal,'ayolah tad, soalnya gak dibocorin kok, Adah kelas 6 jujur tad', ustad rahmat masih tidak mengizinkan. Alan berkata dengan berbagai alasan. ustad Rahmat yang sudah tidak kuat lagi akhirnya kesal juga.'Sud@##^#&^@!!!! teriak ustad Rahmat.(jujur, aku gak tau apa yang dikatakannya habis ngomongnya gak jelas, pake marah2 sambil teriak2 lagi). jujur, aku kaget banget. aku setengah tidak percaya, ustad Rahmat yang aku kenal dengan ketenangannya ternyata bisa marah juga. ustad yang telah membuat kebanyakan siswa2 mu'allimin "naik darah" itu ternyata juga gampang marah. aku terus bertanya-tanya dalam hati. aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar