Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi Lasem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspedisi Lasem. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 20 (Final) : Akhirnya Terbit Juga

Majalah PASTI yang memuat tulisan Ekspedisi Lasem


Di tengah-tengah libur semester, aku tetap menjalankan aktivitas mengerjakan skripsi. Selain itu aku juga melakukan aktivitas lain seperti jadi Panitia Ramadhan di masjid dan juga sempat mudik ke Jakarta di pertengahan Ramadhan.

Aku sebenarnya menanti-nanti kapan Majalah PASTI terbit. Penantian itu akhirnya terbayar saat pada suatu hari di Bulan Agustus Pemimpin Redaksi kami Greg bilang majalahnya sudah terbit dan sudah bisa diambil pula. Aku langsung pergi ke penerbit, dan ambil majalah itu sama Greg untuk ditaruh di Sekre.

Kalau tidak salah, majalah itu diterbitkan sebanyak 200 eksemplar. Di dalamnya terdapat banyak tulisan teman-teman baru maupun teman-teman lama. Bahagianya aku tulisanku ditaruh di halaman pertama. Selain itu, diantara semua tulisan yang ada di majalah itu, tulisanku paling panjang. Aku menuliskannya sebanyak hampir 5.000 kata.

Namun tulisan yang terbit dari Ekspedisi PASTI hanya ada dua. Selain tulisanku ada pula tulisannya Bagus tentang pernikahan lintas agama di Lasem. Tulisannya Ancis belum rampung saat deadline, dan aku tidak tahu dengan tulisannya Rifat, Osa, Cipon, dan Cacing. Aku tak merasa bertanggung jawab atas tulisan mereka. Andai aku dipasrahi untuk bertanggung jawab atas tulisan Lasem pastilah aku akan mengejar-ngejar mereka untuk bertanya tentang progress tulisan.

Setelah menaruhnya di Sekre, aku mengambil satu majalah itu dan membawanya pulang. Di rumah aku tak henti-hentinya membaca tulisanku sendiri. aku membolak-balik halaman tulisanku, membacanya berulang-ulang, mengamati tiap kata yang aku tulis sendiri, dan kemudian aku merasa senang.

Setelah puas berkelindan dengang tulisan sendiri, aku mulai membaca tulisan lain. Ada tulisan Bagus soal pernikahan di Lasem, ada tulisan Kenia tentang Wiji Thukul, ada tulisan Bela dan Bekti tentang penghayat kepercayaan, ada tulisannya Lika dan Keceng tentang jalur pendakian Merbabu, ada tulisannya Dicha tentang Kampung Code, ada tulisannya Krise dan Ega tentang ojek difabel, ada tulisannya Lukas dan Cyntia tentang kampus, tak lupa tulisan seperti resensi film yang ditulis Greg dan resensi buku yang ditulis Ino. Dan di akhir halaman, ada cerpen karya Bram.

Sebelum pulang ke Jogja, Mas Pop minta agar ia dikirimi majalahnya kalau sudah jadi. Sayangnya, sampai saat ini, aku belum juga mengirim majalah itu. Aku sebenarnya malu, sebagai perwakilan tim, output dari ekspedisi itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kalau tahu kondisinya seperti ini, aku harusnya ngopyak-opyak mereka sepulang dari Lasem. Lagipula dalam Majalah itu aku tercatat sebagai redaktur senior. Posisi itu tidak disadari olehku karena pada waktu-waktu terakhirku di PASTI ini, aku hanya ingin srawung dan mencari teman diskusi saja.

Setelah berakhirnya Ekspedisi Lasem, aku makin jarang kumpul di Sekre dan akhirnya tidak berangkat sama sekali. Teman-teman memang banyak yang mengharapkan aku bisa ikut kumpul di sana, tapi aku saat itu memang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi di rumah dan malas keluar kalau benar-benar tidak ada kepentingan mendesak. Tulisan “Hikayat yang Menyatukan Lasem” menjadi tulisanku yang terakhir untuk PASTI.        

Jumat, 20 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 19: Kendala Menulis

Pertunjukka Barongsai di atas panggung


Dengan adanya rangkuman tentang Perang Kuning yang ditulis Mas Mahdi bukan berarti masalah penulisan beres. Aku perlu melakukan cross check dengan sumber-sumber lainnya. Atau sumber-sumber lain itu juga bisa menjadi pelengkap ceritaku. Aku kemudian mencari buku-buku lain yang ingin aku jadikan referensi. Ada bukunya Williem Remmelink tentang perang di Jawa pada abad ke-18, ada pula buku Sejarah Indonesia yang disusun oleh Kemendikbud bekerjasama dengan lembaga penelitian dari Belanda.

Untuk bisa memperoleh bukunya William Remmelink, aku harus berjuang mencarinya di Perpustakaan Pusat UGM. Bagiku yang bukan mahasiswa UGM, untuk masuk ke perpusnya aku dikenakan biaya Rp 5.000. Sayangnya aku tidak menemukan buku itu di sana. Aku justru mendapatkan buku Williem Remmelink di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Buku itu tentu saja tidak bisa dibawa pulang oleh orang yang bukan civitas akademik UGM. Akhirnya aku foto saja bagian yang ingin aku kutip. Kemudian aku tambahkan kutipan itu di bagian yang kira-kira tepat sebagai pelengkap cerita. Bagian yang aku ambil pada buku Williem Remmelink adalah pada bagian pertempuran antara pasukan kuning dengan tentara VOC di laut. Aku masukkan cerita itu di bagian inti kisah pertempuran pada perang tersebut.

***
Aku menulis dengan sangat lamban. Ada hari di mana aku begitu produktif menulis, dan ada pula hari di mana aku tidak punya mood untuk menulis sama sekali. Bahkan pernah ada waktu di mana aku menunda-nunda menulis sampai hampir satu minggu.

Tapi sebenarnya, kondisiku masih lebih mending dibandingkan kondisi teman-teman yang lain. Cacing misalnya, saat aku tak sengaja berjumpa dengannya di perpustakaan dan menanyakan progres tulisannya, dia dengan ringannya menjawab belum mulai menulis. Sementara Osa harus sampai berkonsultasi denganku untuk menemukan alur tulisan yang pas dengan data yang ia peroleh seadanya.

Intinya, aku bilang pada Osa, di balik kendala-kendala ini, hal terpenting adalah tulisan harus jadi. Sebaik atau seburuk apapun tulisanmu nanti kamu harus menyelesaikannya dulu, kataku pada Osa.

Sementara Cipon, aku tak tahu persis karena toh dia sudah punya banyak masalah di luar proyek tulisan ini. Dia harus segera menyelesaikan skripsi atau dia tidak akan memperoleh gelar sarjana.

Dalam menyelesaikan tulisanku, sebenarnya aku banyak berdiskusi dengan Ancis. Aku sering mampir ke kosannya, aku tanya progress tulisannya, dia tanya progress tulisanku. Dia dengan saksama membaca bagian awal tulisanku dan merasa kagum karena menurutnya tulisanku bagus. Benar-benar seperti tulisan jurnalisme sastrawi, katanya.

Akupun juga membaca progress tulisannya. Menurutku, masih banyak kekurangan pada tulisannya. Mulai dari diksi bahasa, cara mengutip kalimat, dan alur ceritanya sebetulnya masih kacau. Tapi ada satu hal yang membuatku kagum dengannya adalah semangatnya dalam belajar menulis.

Tidak seperti kebanyakan dari kami di PASTI yang berasal dari Prodi Ilmu Komunikasi yang sering diajarkan tentang cara menulis berita yang benar, Ancis berasal dari Prodi Teknobiologi. Tiap minggu dia sering menghabiskan waktu di Lab, membedah perut katak, dan membuat laporan ilmiah tentang hasil penelitiannya dari membedah perut katak. Tapi laporan itu tentu saja tidak ditulis untuk menjadi sebuah karya sastra, malah mungkin banyak berisi istilah-istilah biologi yang tak mudah dimengerti orang awam.     

Tapi saat masuk PASTI Ancis selalu punya antusiasme besar untuk belajar menulis. Pada masa awal-awal di PASTI, dia memang canggung dengan anggota lain karena minder belum bisa menulis. Akhirnya lebih banyak berdiskusi denganku. Dia berkata jujur padaku bahwa dia belum bisa menulis tapi ingin belajar. Di situlah awal mula kedekatan kami di PASTI.  

Dalam belajar menulis, dia mengaku banyak membaca buku tentang jurnalisme, karya-karya jurnalisme sastrawi, dan masih banyak lagi. Aku bukan bermaksud menjadi guru menulis untuknya, karena sebenarnya akupun belum merasa bisa menulis dengan benar. Akhirnya kami belajar bersama. Kami banyak berdiskusi tentang buku dan isu-isu terkini. Tak jarang kami harus debat dalam proses diskusi itu.

Begitu pula saat proses penulisan liputan khusus Lasem. Dia menulis tentang profil Gus Zaim. Kalau menurutku, sebenarnya tulisan itu cukup mudah dibuat karena datanya suda ada dan tinggal menuangkannya dalam bentuk tulisan. Beda halnya denganku yang harus melakukan riset pustaka sekali lagi agar tulisanku benar-benar terlihat pantas diterbitkan.

Pelan-pelan, hari demi hari, aku terus menulis sampai tulisanku jadi. Lalu tulisan itu aku kirim ke Pemimpin Redaksi-ku untuk diedit. Walaupun waktu proses pengerjaannya hampir mencapai dua bulan, namun pada akhirnya aku lega karena tulisanku jadi juga. Tulisan itu kuberi judul singkat “Hikayat yang Menyatukan Lasem”.  

Pertunjukkan Barongsai di atas panggung

Gubernur Ganjar Pranowo memberi sambutan

Tarian Cina

Drama Pertunjukkan Perang Kuning


Kamis, 19 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 18 : Mulai Menulis

Foto Dokumentasi Komunitas Bhre Lasem Koleksi Mas Mahdi 


Aku tidur di kontrakannya Bagus semalam. Keesokan paginya, aku langsung pulang ke rumah tercinta. Setelah seminggu di luar, akhirnya aku kembali bisa menginjakkan kaki di rumah. Kulihat kamarku telah rapi. Sepertinya ibuku telah membersihkannya seeaktu aku berada di Lasem.

Aku langsung tidur lagi sesampainya di rumah. Aku masih merasa lelah setelah perjalanan jauh yang menguras pikiran, emosi, dan tenaga itu. Aku bersyukur masih diberi keselamatan. Bayanganku kemudian kembali saat kami mengendarai motor di tengah hujan deras. Waktu itu aku benar-benar tidak bisa melihat jalanan dengan baik. Sementara teman-temanku meninggalkanku di depan.

Aku tak berani mengejar mereka di tengah kondisi seperti itu. Aku lebih baik tertinggal jauh dari pada nyawaku melayang sia-sia di jalanan. Banyak orang yang kehilangan nyawa di jalan. Jumlahnya mungkin lebih besar dibandingkan jumlah korban meninggal karena digigit ular beracun. Jalanan memang bahaya, tapi mau tidak mau kami harus melaluinya bila berpergian dengan kendaraan pribadi.

Di saat perjalanan itu juga Cacing kesal padaku. Dia bilang aku terlalu lelet. Biarlah, biarlah dia bilang begitu. Aku sungguh tak ingin memikirkannya.

Setibanya di rumah aku ingin istirahat sebentar. Sebenarnya setelah ini ada agenda lain yang harus aku jalankan. Beberapa minggu lagi aku dan dua teman kelompokku harus ke Jakarta untuk mengikuti lomba paper ilmiah. Sementara itu penelitian untuk paper kami belum selesai. Sehingga tulisan liputan Lasem-ku ini sementara harus ku pending dulu.

***
Sebenarnya aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan tulisanku. Majalah PASTI menurut rencana baru akan terbit pada akhir Mei. Sementara waktu itu baru akhir Februari. Walaupun deadline masih lama, aku harus cepat-cepat menyelesaikan tulisanku. Masalahnya aku masih harus mengerjakan skrpsi.

Aku memulai start menulis tulisan soal Perang Kuning Lasem setelah urusan lomba paper ilmiah-ku tuntas. Untuk bagian pembuka tulisan, semuanya berjalan mudah karena aku tinggal memasukkan deskripsi kesan pertamaku saat mengunjungi kota itu. Di dalam bagian itu aku masukkan cerita saat aku datang ke perayaan tahun baru imlek di sana. Aku juga memasukkan deskripsi singkat tentang pertunjukkan drama perang kuning saat perayaan itu.

Aku merasa kesulitan saat masuk di bagian inti. Di sana aku akan menceritakan kisah Perang Kuning. Karena ini berkaitan dengan sejarah, aku harus hati-hati betul. Sumber utama-ku untuk sejarah Perang Kuning berasal dari buku Babad Lasem yang kopiannya diberikan Mas Mahdi.

Tentu kelihatannya mudah untuk memindahkan tulisan di buku itu ke dalam tulisanku. Aku tinggal mengubahnya dengan kata-kataku sendiri. Tapi sayangnya tidak semudah itu.

Buku Babad Lasem ditulis dalam Bahasa Jawa. Dan aku bukanlah orang yang paham bahasa ini. Bahasa Jawa yang digunakan dalam buku itu benar-benar berbeda dengan Bahasa Jawa yang digunakan sehari-hari. Bahasa Jawa Sastra! Bahasa Jawa dari zaman dulu kala.

Buku Babad Lasem itu ditulis Panji Khamzah di akhir abad ke-19. Sekarang dasawarsa kedua di abad ke-21. Teks itu kemungkinan telah berumur 120 tahun. Aku bukanlah seorang ahli bahasa jadi aku tak tahu seberapa signifikan perubahan Bahasa Jawa dari zaman teks itu ditulis hingga kini.

Aku butuh waktu lama untuk memahami tulisan-tulisan yang, walaupun berbahasa Jawa, tapi untungnya  sudah ditulis dengan huruf latin itu. Selain itu aku terbantu dengan ringkasan Perang Kuning yang dibuat oleh Mas Mahdi. Tulisan itu merangkum cerita perang kuning dari berbagai sumber. Namun sumber paling banyak diambil dari buku Babad Lasem karangan Panji Khamzah.

Untuk menunangkannya ke dalam tulisanku, aku banyak membandingkan antara sumber buku Babad Lasem yang berbahasa Jawa dengan makalah yang ditulis Mas Mahdi. Setelah kubandingkan, aku mengambil petikan kisah dari makalah Mas Mahdi ketimbang dari Babad Lasem. Toh tulisan yang ditulis Mas Mahdi yang berbahasa Indonesia dan lebih mudah dimengerti itu juga ada dalam buku Babad Lasem. Jadi posisi makalah yang dibuat Mas Mahdi di sini adalah untuk mempermudah pemahamanku terhadap buku Babad Lasem yang berbahasa Jawa lawas itu.

Mesin Jahit Koleksi Museum Lasem

Batik Tulis Koleksi Museum Lasem

Peralatan masak koleksi Museum Lasem

Batik Tulis Koleksi Museum Lasem

Tabung Kaca Koleksi Museum Lasem


Minggu, 15 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 17: Kena Sial Lagi

Pemandangan selama perjalanan pulang

Motornya Cacing baru tiba kembali di bengkel pukul setengah empat. Telat satu setengah jam dari yang dijanjikan oleh sang montir. Akhirnya setelah melalui penantian panjang kami bisa kembali melanjutkan perjalanan. Kami mulai melintasi rute naik turun dan berkelok. Cacing, Ancis, dan Cipon berada di depan. Sementara aku yang berboncengan dengan Bagus berada di belakang.

Namun pada sebuah tanjakan, mesin motorku mati. Aku meminggirkan motor dan menyalakan mesin. Tapi mesin tak bisa menyala. Aku dan Bagus kemudian menuntun motor ke sebuah warung makan yang untungnya masih buka. Di sana aku menelpon Cipon, menelpon Ancis, tapi tak ada jawaban. Kami benar-benar ditinggal.

Dalam hati aku merasa emosi, kenapa motorku, yang mesinnya tidak sebagus dua motor KLX-nya Cipon dan Cacing, berada di posisi paling belakang. Seharusnya motorku berada di depan atau di tengah, karena jalannya paling lamban. Dan setelah menjadi satu-satunya motor yang tak pernah kena masalah selama ekspedisi ini, akhirnya motorku kena juga.

Dalam kondisi seperti itu aku berharap bisa menemukan bengkel motor. Sudah terlalu jauh untuk kembali ke bengkel motor yang tadi, sementara hujan bertambah deras saja. Kami kemudian bertanya pada ibu-ibu yang jaga warung. Dia bilang ada bengkel motor di sana. Dia mengarahkan telunjuknya pada sebuah jalan gang yang di depannya ada gapura. Ibu itu bilang, sekitar 500 meter masuk ke sana nanti akan ketemu tempat memperbaiki motor, kalau tidak tutup.  

Aku dan Bagus kemudian berbagi tugas. Aku menuntun motorku menuju bengkel itu, sedangkan Bagus tetap berada di warung, menunggu teman-teman yang sudah di depan agar tahu gang menuju bengkel.

Dengan ketidakpastian apakah bengkel itu buka atau tidak, aku menuntun motor dengan mantab, walau di tengah guyuran hujan dan dalam kondisi basah kuyup. Jalan desa itu banyak melintasi semak-semak. Untungnya lelah menuntun motor akhirnya terbayar. Bengkel itu buka. Aku segera mencari seorang bapak pemilik bengkel dan berharap dia sanggup memperbaiki motor itu.
Untungnya bapak itu menyanggupi untuk memperbaiki motorku. Sesaat kemudian Bagus datang, kemudian disusul Ancis, lalu menunggu agak lama Cacing dan Cipon. Bukannya mereda, hujan turun makin deras. Si ibu pemilik bengkel dengan baiknya menghidangkan kami teh hangat. Dalam kondisi kami yang sudah kedinginan, teh hangat menjadi pilihan tepat.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk memperbaiki motor itu. Setelah semua beres, kami kembali melanjutkan perjalanan. Hujan belum juga reda. Kami berteduh di indomaret Sumberlawang hingga hujan reda.

Saat kami kembali melanjutkan perjalanan, hari telah gelap. Jalan antara Sumberlawang, Gemolong, hingga Solo banyak yang rusak dan berlubang, sehingga kami harus hati-hati dan tidak bisa memacu motor dengan lebih cepat lagi.

Setibanya di Solo, hujan turun lagi. Kami berteduh di sebuah rumah makan, sekalian makan malam, dan sekalian menunggu hujan reda. Kondisi kami begitu memprihatinkan pada saat itu. Hidungku sesak nafas. Sementara Bagus, dia tampaknya sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Kami menunggu sampai hujan benar-benar reda. Setelah menunggu berjam-jam, hujan tak kunjung reda. Akhirnya kami terpaksa melanjutkan perjalanan di tengah guyuran hujan.

Aku berboncengan dengan Bagus. Di belakang, Bagus terus menggigil kedinginan. Sejujurnya aku khawatir dia kenapa-kenapa di jalan. Aku merasa dia seperti orang yang separuh nyawanya telah melayang.

Akhirnya aku tidak peduli lagi dengan rombongan. Aku melesatkan motorku dengan kecepatan tinggi menuju Jogja. Aku harus segera sampai Jogja agar nyawanya Bagus segera tertolong. Sementara dia di belakang terus bertanya apakah Jogja masih jauh atau sudah dekat. Aku hanya bisa bilang sudah dekat, walaupun mungkin kenyataannya tidak seindah yang dibayangkan Bagus.

Sepanjang jalan Solo-Jogja, hujan tak pernah berhenti mengguyur. Jalanan licin. Lampu motor tak memberi penerangan yang memadai. Kalau ada jalan rusak, aku hanya bisa pasrah. Aku hanya mengandalkan insting karena sudah sering naik motor melewati jalanan ini.
Dalam kondisi seperti itu aku juga sudah tidak mempedulikan lagi apa yang terjadi dengan Ancis, Cacing, dan Cipon. Keselamatan Bagus lebih penting mengingat kondisinya yang sudah kritis seperti itu.

Untungnya kami sampai di Jogja dengan selamat. Untuk bernafas sejenak dan beristirahat dari perjalanan yang menegangkan ini, kami berteduh di indomaret jembatan Janti. Waktu kami beristirahat, Cacing lewat dengan motornya. Tapi kami tak sempat mencegatnya. Akhirnya malam itu kami berdua langsung menuju ke kost-nya Bagus untuk mengantarnya sekaligus bermalam sejenak di sana.


Ekspedisi Lasem Part 16 : Seharian Menunggu di Bengkel

Suasana Bengkel


Ada sebuah pom bensin di dekat bengkel tambal ban itu. Karena bengkel itu tak sanggup membetulkan motornya Cacing, kami mampir ke tempat pom bensin itu untuk bertanya pada petugas pom di mana lagi ada bengkel motor di sekitar sini. Seorang petugas pom bilang kalau ada sebuah bengkel motor yang letaknya cukup dekat dari sini. Lokasinya sekitar 500 meter ke selatan sampai ketemu perempatan. Pada perempatan itu belok ke kiri sekitar 200 meter. Di sanalah letak bengkel itu. Namun karena sudah larut malam, petugas itu bilang bengkel itu sudah tutup.

Di pom bensin itu, kami berlima kemudian rembugan. Kata Cipon, tak mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Setelah melihat GPS dia mengambil kesimpulan bahwa rute di depan melintasi tengah hutan dan kontur jalannya bakal naik turun dan penuh kelokan. Hampir tak mungkin ada tambal ban di situ.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sampai pagi di pom bensin itu. Saat itu memang sudah mendekati tengah malam. Pom bensin itu sendiri bukanlah pom milik Pertamina di mana terdapat rest area, toilet, musholla, dan bila letaknya di jalan raya antar provinsi, biasanya bakal banyak pengendara yang beristirahat di sana. Pom bensin itu milik sebuah perusahaan bernama AKR. Jarang sekali ada kendaraan yang mengisi bensin di pom itu.

Tepat di sebelah pom pengisian ada ruangan kosong. Ruangan itu cukup luas. Tak ada perkakas atau barang apapun di sana. Mungkin ruangan itu difungsikan sebagai musholla buat para karyawan. Tapi di sanapun tak ada sajadah. Kami berlima masuk ruangan itu, rebahan di lantainya, dan tidur sampai pagi di sana.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagiku karena aku sulit untuk memejamkan mata. Setelah pagi datang, aku berinisiatif untuk mencari bengkel motor yang dimaksud. Saat itu pukul 6 pagi dan yang lain masih lelap tertidur. Aku menemukan bengkel itu namun ternyata baru akan buka pukul 8 pagi. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi di ruangan pom bensin.

Pukul 8 pagi kami langsung menuju bengkel. Di bengkel itu, dua orang karyawan tampak sudah sibuk memperbaiki motor. Motornya KLX-nya Cacing dan Cipon menunggu giliran untuk diperbaiki. Sambil menunggu motor dibetulkan kami mencari sarapan. Setelah sarapan kami kembali ke bengkel itu.    

Saat kembali ke bengkel itu salah seorang montir yang tampaknya juga pemilik bengkel itu bilang pada Cacing kalau motornya tidak bisa dibetulkan di bengkel itu, sehingga harus dibawa ke Purwodadi. Dia bilang bahwa motor itu baru bisa kembali ke bengkel itu pukul 2 siang nanti. Dan ini tentu membuat kami harus menunggu lebih lama lagi.

Apapun keadaan yang menimpa kami pada waktu itu, aku hanya bisa pasrah. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Kami menunggu di bengkel itu dengan tidak melakukan apapun. Cacing menghabiskan waktu dengan membaca buku barunya yang dibeli dari Pak Soesilo, sementara Bagus dan Cipon lebih banyak memejamkan mata. Hanya aku dan Ancis yang tidak bisa diam. Kami berusaha untuk tetap enjoy menghadapi keadaan itu.

Awalnya aku menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di sekitar bengkel dengan sepeda motor. Aku berjalan ke arah barat menyeberangi jalan raya. Aku melalui jalanan becek dan berlumpur akibat hujan pada malam hari sebelumnya. Di ujung jalan becek ini terdapat perlintasan kereta api tidak berpalang pintu. Aku memarkirkan motorku di situ.

Jalur kereta api ini merupakan jalur yang menghubungkan antara Solo dan Semarang dan juga termasuk bagian dari jalur kereta api tertua di Indonesia. Kereta api yang melintas di jalur itu tidak terlalu banyak dan sebagian besar melintas di malam hari. Aku memarkirkan motor tak jauh dari perlintasan. Lalu melihat ke kiri dan ke kanan siapa tahu ada kereta yang akan melintas. Tak dapat kereta, yang kutemui di sana justru seorang pria berusia 50-an bersama seekor kambingnya. Kambing itu diikat pada sebuah batang pohon dan makan rumput sepuasnya di dekat perlintasan itu, sementara pemilik kambing dan aku ngobrol di dekatnya.

Aku lebih banyak mendengarkan apa yang disampaikan pria paruh baya itu. Sejujurnya aku tidak paham apa yang ia bicarakan. Aku hanya menanggapi sekenanya agar terkesan aku mengerti yang ia bicarakan. Setelah dirasa porsi makannya cukup, pria itu pamit dan meninggalkanku seorang diri di sana. Aku yang mulai tak betah berada di sana karena udara mulai panas akhirnya kembali ke bengkel. Di sana aku menemukan mereka lagi pada tidur di kursi.

Pada siang harinya, aku menghabiskan waktu bersama Ancis dengan foto-foto di sekitar bengkel. Aku berpose di atas aspal jalan, di atas tumpukan batang pohon jati, di pekarangan rumah penduduk yang sepi, dan di tempat-tempat lain di manapun kusuka. Langit waktu itu mendung pekat. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.

Saat hujan turun, kami kembali duduk-duduk di bengkel. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memandangi hujan. Waktu terus berlalu. Melewati pukul dua siang, motornya Cacing belum juga datang.    


Bergaya di depan tumpukan ranting

Bergaya di depan rumah orang

Pendekar kesiangan

Meratapi nasib

Ekspedisi Lasem Part 15 : Terjebak Di Hutan




Hutan Merbabu

Selepas Blora, kami mengendarai motor di tengah kegelapan. Tak tahu apa yang ada di kanan kiri jalan, yang jelas di sana semuanya gelap. Bahkan tak ada pula lampu-lampu kecil yang berasal dari rumah-rumah penduduk. Praktis penerangan hanya berasal dari lampu kendaraan kami dan lampu kendaraan yang berada di depan. Kami memang beberapa kali melewati keramaian di tempat-tempat tertentu, seperti ibukota kecamatan, tapi setelahnya jalanan kembali gelap di kanan kiri, seolah tak ada apa-apa di sana.

Waktu SMP, aku pernah sekali melewati tempat ini bersama ayah, ibu, dan adikku. Waktu itu kami melintas siang hari dan di kanan kiri kami yang terhampar di sana hanyalah ladang-ladang milik penduduk. Tentu kondisinya seharusnya berbeda setelah hampir 10 tahun berlalu. Yang jelas perbedaannya adalah kondisi jalan yang dulu banyak berlubang, kini telah diganti dengan cor beton.
Jalan itu membentang sejauh 65 kilometer yang menghubungkan Kota Blora sampai Purwodadi. Aku mengendarai motor hanya dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Perjalanan menembus kegelapan itu sebenarnya begitu melelahkan, apalagi lampu penerangan motor yang kugunakan tidak terlalu terang. Apabila ada jalan rusak pastilah tidak kelihatan.

Setelah berjalan cukup jauh kami memutuskan berhenti untuk makan malam pada sebuah warung tenda di pinggir jalan. Warung itu menjajakan makanan sate ayam. Kami semua memesan sate ayam dengan minuman teh hangat. Sejujurnya aku tidak terlalu setuju kalau kami makan sate ayam, alasannya, makanan itu tidak bikin kenyang. Padahal perjalanan kami masih jauh dan harus menembus gelapnya malam. Aku lebih suka makan makanan prasmanan karena nasinya bisa ambil banyak dan juga bikin kenyang. Tapi di daerah yang masih asing bagiku itu aku memang tidak tahu warung makan mana yang menjual makanan seperti itu.

Setelah makan malam selesai, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini giliran Bagus di depan mengendarai motor. Aku santai di belakang sambil bernyanyi-nyanyi pelan untuk mengusir kebosanan. Lagu-lagu yang sebenarnya tidak terlalu kuhafal keluar dari mulutku dengan begitu merdunya. Mulai dari lagu Let It Be-nya The Beatles dan lagu I’m Yours-nya Jason Mraz. Dan oh-iya, lagu Stand By Me-nya Ben E. King juga kunyanyikan. Bagus sampai kaget mengetahui aku bisa mengeluarkan suara semerdu itu. Entah mungkin karena aku bernyanyi sepanjang jalan, jarak yang jauh jadi tak terasa lama. Tahu-tahu kami sudah sampai di Kota Purwodadi. Karena ingin segera sampai di Jogja, kami lalui saja kota itu untuk berbelok ke arah selatan menuju Solo.

Nyanyianku makin nyaring saja karena Jogja makin dekat. Padahal dari sinilah perjalanan kami akan menemui banyak masalah.

Masalah itu bermula saat kami melintasi sebuah perlintasan kereta api non-aktif antara Ngrombo dan Gundih. Di sana satu botol kaca yang berisi minuman kawista milik Ancis jatuh ke jalan dan pecah saat itu juga. Memang, saat itu kami saling mendahului sehingga tak sadar di satu titik ada jalanan rusak.

Selepas Gundih, jalan melintasi tengah hutan, naik turun dan banyak tikungan. Di samping itu jalan juga tidak dilengkapi lampu penerangan. Tapi justru di sinilah masalah terjadi. Roda belakang motor KLX-nya Cacing bergoyang seakan mau lepas. Kami terpaksa harus menepi. Padahal di sisi jalan tidak ada bangunan, hanya samar-samar tampak pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sementara jalan di depan menurun. Dengan pelan-pelan, kami kemudian menyusuri jalan sampai menemukan sebuah rumah makan yang tutup di sisi kiri jalan. Kami menepi dan berteduh untuk sementara waktu di situ.

Kami beristirahat di bagian depan rumah makan yang tutup itu. Hujan masih turun gerimis. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Kami berdiskusi tentang langkah apa yang harus diambil dalam situasi yang darurat ini. Cipon mengeluarkan hp-nya untuk melihat GPS. Tapi di sana sinyal cukup lemah. Sehingga yang muncul pada tampilan GPS hanyalah garis jalan-jalan utama. Sementara keterangan bangunan-bangunan di sekitarnya tidak keluar.

Kami akhirnya memutuskan untuk mencari bengkel motor setelah bertanya pada seseorang yang kebetulan berjalan di dekat situ. Katanya, bengkel motor tak jauh dari sana. Letaknya berada di kanan jalan. Tak jauh dari rumah makan yang tutup itu, akhirnya kami sampai di bengkel motor yang dimaksud. Aku merasa sedikit lega walaupun bengkel itu lebih merupakan tempat tambal ban. Tapi tak lama berada di sana kami sudah menerima kenyataan motornya Cacing tidak bisa dibetulkan di bengkel itu. Di tengah kegelapan malam, di tempat antah berantah itu, kami belum juga menemukan titik terang.

Padahal aku sudah bilang pada ibuku kalau malam ini aku akan tiba di rumah, menyantap teh hangat, kemudian bisa tidur nyenyak lagi di kamarku yang lama kutinggalkan. Tapi apa daya, saat itu kami masih terjebak di hutan. Perjalanan pulang ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Aku iri sama Rifat dan Osa yang bisa sampai di Jogja dalam waktu 6 jam saja tanpa suatu kendala apapun. Aku berteriak dalam hati. Tak bisakah masalah ini segera berakhir?


Narsis di Tengah Hutan


Ekspedisi Lasem Part 14 : Rumah Masa Kecil Pram




Hujan perlahan-lahan reda saat kami hampir memasuki Kota Blora. Sebelum tiba di pusat kota, kami berhenti dulu di sebuah Indomaret. Di sana kami membeli minuman, beristirahat, dan melihat peta untuk mengetahui jalan menuju tempat tujuan kami di kota itu. Di sana, sesuai yang sudah direncanakan Cipon dan Cacing, kami akan mampir di rumah Pram. Pram di sini adalah Pramoedya Ananta Toer, seorang novelis besar negeri ini.

Pramodya Ananta Toer sebenarnya sudah meninggal tahun 2006 silam. Sepeninggal Pram, Aku berpikir rumah itu  kemudian menjadi semacam museum sastra yang memajang karya-karya beliau dan foto-fotonya selama masa perjuangan hidup. Sepertinya kunjungan ke rumah novelis besar itu akan menjadi kunjungan yang menarik.

Kami melintasi pusat Kota Blora saat langit beranjak gelap. Melintasi jalan di tengah kota yang dibuat satu arah. Setelah itu tibalah kami di sebuah rumah sederhana yang halamannya cukup luas. Di sana ada seorang kakek tua, yang begitu tahu kami hendak menuju rumah itu, langsung menyuruh kami untuk memarkirkan motor di halaman. Kakek tua itu tampak baru saja habis mencabut rumput yang tumbuh di halaman rumah itu, lalu menyuruh kami masuk.

Oleh sang kakek, kami disuruh mengisi buku tamu terlebih dahulu. Hari itu, kami menjadi tamu kedua yang datang berkunjung. Dari daftar buku itu, tamu kunjungan kebanyakan berasal dari luar kota seperti Purwodadi, Solo, dan Yogyakarta.

Awalnya aku pikir kakek itu seperti semacam orang yang dipasrahi untuk merawat rumah itu. Tampilannya lusuh seperti buruh tani, dan memegang sebilah cangkul. Ya, dia memang sehari-hari mengurusi rumah itu, sekaligus si empunya rumah itu. Nama kakek itu Soesilo, adik kandung Pram itu sendiri.

Aku baru tahu kalau dia adik Pram dari sebuah buku yang ia tunjukkan pada kami semua. Buku itu (yang aku lupa judulnya apa) ditulis oleh dia sendiri, Soesilo Toer. Berbeda dengan Pram yang banyak menulis novel, Soesilo banyak menulis soal refkeksi kehidupannya dan kehidupan kakaknya, kritik terhadap fenomena yang terjadi sehari-hari. Persamaan antara Soesilo dengan Pram adalah sama-sama produktif menghasilkan buku. Di ruang tamu rumahnya yang tak terlalu luas itu, terdapat tumpukan-tumpukan buku karyanya.

Di rumah itu, Soesilo sempat berbagi pengalaman hidupnya kepada kami semua. Dia bercerita masa-masa sulitnya menjalani kehidupan di ibukota, lalu menjalani kuliah di Rusia, sampai beberapa kali berurusan dengan aparat penegak hukum. Bagaimanapun juga, walaupun saat ini, menurut pengakuannya sendiri, kerjaannya hanya sebagai rektor alias ngorek-ngorek barang kotor, tapi sebenarnya dia bukan orang yang main-main. Kalau tidak percaya bisa lihat saja sendiri profil singkatnya di Wikipedia.org.

Selama ngobrol dengan kami, dia bicara secara blak-blakan. Dia sering menghujat-hujat pemerintah dan banyak kata-kata kotor lainnya seputar wanita. Selain itu, dia juga menjelaskan harapan-harapannya pada kami bahwa di samping mengorek-ngorek barang kotor, dia tetap ingin terus menghasilkan karya. Aku hanya menanggapinya dengan berucap singkat, “semangat pak” yang ditanggapi oleh yang lain dengan tatapan aneh padaku. Sepertinya mereka juga tak percaya datang ke rumah Pram dan dijamu langsung oleh adiknya sendiri yang sebenarnya juga seorang penulis produktif yang berpendidikan tinggi itu.

Tahu kami akan menempuh perjalanan jauh ke Jogja, Soesilo itu sebenarnya menawarkan kami tempat menginap. Menurutku akan seru jadinya apabila semalaman kami ngobrol dengan kakek tua satu ini. Mungkin dia akan menceritakan pengalamannya tinggal di Rusia semalaman. Tapi Cipon kurang setuju dengan penawaran ini. Tanpa perundingan, kami sepakat untuk meneruskan perjalanan.

Waktu kami hendak melanjutkan perjalanan, jam telah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Hujan telah reda. Kami melipat mantel untuk dimasukkan ke dalam jok terlebih dahulu, dan kemudian mengucapkan selamat tinggal kepada Pak Soesilo Toer.
    

Ekspedisi Lasem Part 13 : Makam Raden Ajeng Kartini



Berfoto di depan patung RA Kartini

Mendekati tengah hari, Rifat mengirim sebuah pesan WhatsApp di grup kalau dia sudah tiba di Jogja. Saat itu kami berlima masih di Lasem. Aku sedikit terkejut mengetahui bahwa perjalanan Lasem-Jogja sebenarnya tidak terlalu lama, cukup ditempuh dalam waktu 6 jam. Sehingga kalau kami berangkat siang ini, kemungkinan malam hari aku sudah tiba di rumah yang kurindukan.

Sebelum pulang kami terlebih dahulu bersih-bersih penginapan. Kami menyapu dan membuang sampah-sampah. Tak lupa kami membersihkan sprei, melipat selimut, dan merapikan tempat tidur agar terlihat rapi. Kami berusaha penginapan ini bersih kembali seperti sedia kala.

Pukul dua siang hujan gerimis turun. Saat itu pintu depan dibuka dan rombongan pengunjung masuk. Dalam rombongan itu juga ada Mas Pop yang bertugas sebagai pemandu. Beberapa anggota rombongan itu menyapa kami dengan senyum dan kemudian mendengarkan Mas Pop yang sepertinya sedang menjelaskan tentang penginapan kami. Rasanya Mas Pop belum pernah menjelaskan pada kami tentang penginapan tempat kami menginap. Ya sudahlah, sepertinya sudah terlambat, aku sudah begitu merindukan Jogja.

Berdo'a di depan makam
Saat itu pula, untuk pertama kalinya selama kami berada di Lasem, bangunan yang berada di samping penginapan dibuka. Ternyata bangunan itu adalah sebuah museum. Koleksinya berupa benda-benda peninggalan zaman dulu seperti mesin tenun, alat masak, alat-alat untuk membatik, perangko, foto-foto keluarga, dan juga ada alat penumbuk padi.

Saat aku keluar dari dalam bangunan itu, di teras depan ada dua orang cewek. Aku berkenalan dengan mereka berdua. Mereka adalah dua mahasiswi Universitas Indonesia yang tertarik dengan Lasem. Sambil menunggu yang lain siap untuk berangkat, aku menceritakan pengalamanku selama lima hari berada di Lasem secara singkat kepada dua cewek itu.

Sebelum berangkat, kami berlima menyempatkan diri untuk berfoto dengan Mas Pop di halaman museum. Setelah itu kami pamit kepada Mas Pop dan kedua cewek yang baru kukenal itu. Lalu satu per satu motor kami melewati pintu gerbang. Awal dari perjalanan pulang yang panjang ini.

Kami mampir dulu pada sebuah pom bensin tak jauh dari pusat kota Lasem. Jam saat itu menunjukkan pukul setengah empat sore. Dengan kelompok yang terdiri dari tiga motor, kami melintasi pantura yang banyak dilalui kendaraan-kendaraan besar. Sementara itu langit di atas kami gelap. Sejauh mata memandang sampai ke horizon di ujung selatan dan barat, langit hitam pekat. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun deras.

Saat kami tiba di Kota Rembang, hujan belum juga turun. Sementara langit masih gelap. Di sini kami berbelok ke arah selatan menuju Blora, meninggalkan jalan pantura yang menuju ke arah Kota Pati, Kudus, dan Semarang. Di Rembang ini, kami harus berhenti sebentar karena ada sedikit masalah dengan motor KLX-nya Cacing. Aku menyarankannya untuk mencari bengkel terdekat. Namun Cacing menolak saranku karena dia merasa motornya masih baik-baik saja.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Blora. Kalau sepanjang pantura dari Lasem sampai Rembang jalannya lurus dan mendatar, jalan menuju Blora ini perlahan-lahan naik dan mulai berkelok. Ditambah lagi, ternyata di beberapa tempat jalanan ini masih banyak yang berlubang. Hujan gerimis mulai turun, lalu agak deras. Kami belum memakai mantel. Sampai akhirnya di suatu tempat kami ada plang besar penunjuk arah menuju makam RA Kartini.

Siapa yang tidak kenal RA Kartini? Kami menyempatkan diri untuk ziarah ke makam pahlawan nasional itu. Dari jalan utama Rembang-Blora, makam itu letaknya berada di sebelah barat jalan. Kendaraan yang hendak menuju ke sana harus melewati sebuah tanjakan curam sebelum sampai di lokasi parkiran makam. Bangunan makam sudah terlihat dari parkiran itu.

Saat kami tiba di sana, makam itu hening. Sepertinya hanya kami pengunjung yang berziarah ke makam itu. Tak bisa dibayangkan bahwa yang bersemayam di sana adalah salah satu pahlawan besar negeri ini, yang namanya dikenang dalam sebuah lagu dan menjadi lagu wajib siswa sekolah, yang tanggal lahirnya diperingati secara khusus setiap tahunnya.

Kami memarkirkan motor dan kemudian masuk ke dalam makam. Di depan makam RA Kartini kami berdo’a untuk arwahnya. Di sebelah makam RA Kartini, juga terdapat makam suaminya, yaitu Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan anak semata wayangnya, Soesalit Djojo Adhiningrat. Tidak bisa dibayangkan, walau usianya hanya sampai 25 tahun, namun jasanya bagi bangsa ini sungguh luar biasa, sehingga ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Sekembalinya dari makam, kami kembali ke motor masing-masing untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami mengenakan mantel, karena hujan bertambah deras. Selepas meninggalkan tempat parkir, kami melintasi jalan yang menurun curam sebelum tiba lagi ke jalan raya Rembang-Blora. Hujan kali ini disertai angin. Sementara kami harus melintasi jalanan berkelok dan berlubang, dengan beberapa lubang yang tidak terlihat karena tertutup genangan air. Tak terasa kami sudah berada di tengah Perbukitan Kendeng yang banyak ditumbuhi pohon jati itu.       


Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...