Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2021

Menikmati Teh Pagi di Menoreh

 


Jam masih menunjukkan pukul 06.30 pagi waktu aku berangkat dari rumah menuju Kebun Teh Nglinggo. Ini kali kedua aku ke sana. Sebelumnya aku pernah ke perkebunan teh itu tahun 2017. Waktu itu aku ke sana bersama rombongan teman-teman kampus dalam rangka mengerjakan proyek untuk tugas mata kuliah. 

Pagi itu di hari Minggu yang cerah, aku pergi ke Nglinggo dengan motor Honda Vario pamanku. Kebetulan motor pamanku dititipkan di rumahku dan aku diizinkan memakainya kemanapun aku suka. 

Sewaktu aku berangkat, jalanan masih lengang. Setelah melewati jembatan Sungai Progo yang eksotis, aku melintasi jalan menanjak dan berkelok di antara perbukitan. Pemandangan indah yang tersaji selama perjalanan, plus harus berkonsentrasi melintasi jalan yang penuh kelokan, membuat perjalanan tidak terasa lama. 

Pemandangan di sepanjang jalan


Setelah 15 kilometer menyusuri jalan perbukitan itu, akhirnya aku tiba di persimpangan menuju Kebun Teh Nglinggo. Dari persimpangan itu, Kebun Teh Nglinggo tinggal 2 kilometer lagi. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku tiba di Nglinggo setelah 4 tahun lebih tidak mengunjungi tempat itu.

Ini pertama kali bagiku datang ke Kebun Teh Nglinggo dengan tujuan untuk berwisata. Hanya saja aku datang sendirian tanpa ada seorang pun yang menemani. Tapi itu tak jadi soal buatku. Mau sendiri atau bareng-bareng, toh aku menikmatinya.

Kabut tipis menyambut kedatanganku di Nglinggo. Saat aku tiba, suasana tempat wisata itu telah ramai pengunjung. Bahkan tampak pula ada yang mendirikan tenda. Sepertinya mereka sengaja datang pagi-pagi untuk melihat matahari terbit atau mungkin juga menginap semalaman di sana sambil menikmati malam minggu.

Perbukitan yang diselimuti kabut tipis


Aku memarkirkan motor di salah satu kedai di sana. Datang jauh-jauh ke Nglinggo, aku memang memiliki tujuan khusus untuk menikmati minuman teh khas daerah itu, apalagi kalau teh itu masih segar dan diambil dari kebunnya langsung.

Seorang lelaki kira-kira berusia 50-an tahun menyambutku ramah. Dia pemilik kedai itu. Di sana aku memesan segelas teh dan mendoan goreng. Tak lama setelah aku datang, sepasang muda mudi ikut mampir ke kedai sederhana itu. Sembari menikmati suguhan masing-masing, berempat kami terlibat perbincangan ringan.

“Pak, kalau jalan lurus ke arah sana ke mana?” tanyaku penasaran dengan jalan kecil beraspal yang berada depan kedai itu. Jalan itu merupakan jalan yang kulewati dari persimpangan jalan Jogja-Samigaluh tadi, lalu melewati tengah-tengah kebun teh, hingga akhirnya melewati depan kedai itu. Seteah itu, jalan itu lurus terus entah menuju mana. Untuk menjawab rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya pada bapak itu.

Sang bapak menjelaskan kalau jalan itu mengarah ke Puncak Suroloyo dan bisa tembus ke Kalibawang maupun Kawasan Borobudur. Uniknya lagi, jalan itu juga menjadi batas dua wilayah provinsi. Sisi kanan jalan masuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan sisi kiri jalan masuk Provinsi Jawa Tengah. Kedai teh yang aku singgahi berada di sisi kiri jalan.

“Namanya ‘Jalan Punggung Menoreh’. Jalan ini tepat berada di bagian tertinggi perbukitan Menoreh. Nanti kalau sampeyan terus lewati jalan ini kanan kirinya jurang,” kata bapak itu.

Jalan Punggung Menoreh


Oh iya, bapak penjaga warung itu namanya Pak To. Pak To bercerita, dia membuka kedai itu tahun 2015 bersamaan dengan dibukanya Kebun Teh Nglinggo untuk wisata. Pak To mengatakan kalau ia sebenarnya asli Grobogan, Jawa Tengah. Sebelum menetap di Nglinggo, dia merantau ke berbagai kota, menyambung hidup sebagai pekerja proyek. Saat bekerja di Jakarta, ia bertemu dengan istrinya sekarang. Ia menetap di Nglinggo bersama istrinya sejak tahun 2002.

Selain menjajakan makanan siap saji, Pak To juga menjual teh dan kopi kemasan yang ia olah sendiri. Satu kemasan teh ia jual dengan harga Rp10.000, sedangkan satu kemasan kopi ia jual Rp20.000

“Kopi di sini sedikit ada aroma-aroma cengkehnya karena ditanam berdampingan dengan tanaman cengkeh. Dari zaman dulu masyarakat Nglinggo memang banyak yang bertani kopi dan cengkeh. Kalau teh belum lama, baru sekitar tahun 1990-an,” kata Pak To.        

Berbincang-bincang sambil menikmati hidangan pagi ala Pak To

  

Setelah hampir sejam berbincang-bincang, aku minta izin pada Pak To untuk jalan-jalan di sekitar Kebun Teh Nglinggo. Di sana terdapat banyak lokasi yang disulap menjadi tempat wisata. Kepemilikan tempat itu ada yang dipegang sebuah perusahaan, ada pula yang perorangan. Aku kurang paham kalau soal beginian. Tapi waktu di kedai tadi, Pak To menunjukkan sebuah bukit berbentuk piramida yang di sampingnya ada semacam kafe cukup besar. Kata Pak To, tempat itu dikembangkan oleh Erix Soekamti, salah satu personel band Endank Soekamti, dan pengelolaannya dilakukan oleh warga sekitar.

Selain itu, ada pula gardu pandang yang terlihat dari kedai. Aku berniat menuju gardu pandang yang letaknya berada di salah satu puncak bukit itu. Tapi saat sampai di pintu loket, aku harus membayar Rp10.000 untuk bisa masuk. Karena aku tak bawa banyak uang, akhirnya aku urungkan niat untuk menuju ke sana.

Tepat sebelum pintu masuk, ada sebuah jalan setapak bercor semen yang khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki. Aku penasaran jalan ini menuju ke mana. Aku ikuti jalan setapak itu melewati di antara tebing dan jurang. Saat itu, tak ada orang lain selain aku yang berjalan kaki melintasi jalan itu. Aku penasaran, ke manakah jalan ini menuju?

Aku terus ikuti jalan setapak itu cukup jauh hingga jalan cor semen berganti dengan jalan tanah. Karena rasa penasaranku mengalahkan keraguanku, aku tetap susuri jalan tanah itu. Di satu titik aku berhenti sejenak untuk memilih apakah aku akan tetap lanjut atau balik saja. Semakin jauh suasana semakin sepi. Jalan itupun mulai masuk menuju hutan pinus. Aku juga mulai membayangkan hal-hal yang berbahaya di depan sana. Bagaimana kalau nanti aku tersengat serangga beracun? Bagaimana kalau aku digigit ular kobra? Bagaimana kalau nanti aku tersesat dan tidak menemukan jalan pulang? Kalau itu terjadi, siapa yang menolongku?

Menelusuri jalan setapak


Tapi saat aku diselimuti keraguan, di belakangku ada pasangan muda-mudi (bukan muda-mudi yang kujumpai di kedai tadi) yang sepertinya juga penasaran dengan jalan tersembunyi ini. Aku pun ikut berjalan di belakang muda-mudi itu. Di satu titik, kami bertemu dengan persimpangan dan pasangan ini memilih berbelok ke kiri. Di titik ini kami berpisah karena aku memilih jalan lurus. Tapi tak jauh aku berjalan aku menemukan sebuah persimpangan lagi yang lebih besar.

Aku memutuskan untuk belok ke kiri. Harapannya jalan itu akan mengantarku balik ke kawasan wisata Kebun Teh Nglinggo. Aku berpikir kalau mengambil arah lurus atau ke kiri, aku akan semakin jauh masuk ke hutan. Jalan yang kulalui kali ini lebih besar dari pada jalan setapak sebelumnya. Setidaknya jalan ini cukup untuk dilalui motor. Karena hanya jalan tanah yang licin dan berlumpur, mungkin hanya motor offroad yang bisa melalui jalan ini

Jalan "offroad" di tengah hutan pinus


Aku berjalan seorang diri melalui jalan itu. Di sekelilingku pohon-pohon pinus menjulang tinggi dan aku juga mendengar suara kicau burung yang saling bersahutan. Tak berapa jauh menyusuri jalan itu, aku sampai di sebuah tempat bernama “Borobudur Highland”.  

“Borobudur Highland” tampak seperti sebuah resort tersembunyi di tengah hutan pinus. Saat aku tiba di sana, beberapa gadis sedang bermain di atas ayunan gantung yang terbuat dari tali. Di resort itu pula terdapat sebuah bangunan aneh berbentuk telur raksasa yang entah untuk apa fungsinya. Ada pula tempat bersantai yang dilengkapi dengan bangku panjang, meja, dan colokan listrik. Tempat itu hanya dilindungi dengan kain tenda yang terikat di bagian atasnya.

Saat aku datang,  gadis-gadis kecil pergi meninggalkan tempat itu. Aku harap kepergian mereka bukan karena takut akan kedatanganku. Tak ingin berlama-lama, aku pun juga beranjak meninggalkan tempat itu, mengikuti jalan setapak beralas kayu yang sebelumnya juga dilalui para gadis itu. Tak jauh, sampailah aku di sebuah tempat wisata. Di sana ada banyak orang. Aku tak tahu persis tempat wisata seperti apa itu. Mungkin masih bagian dari Borobudur Highland.

Di tempat itu, ada sebuah plang yang menarik perhatianku dan juga para pengunjung yang lain. Plang itu memberi keterangan bahwa, lokasi tempat plang itu berdiri persis berada di tengah-tengah batas tiga wilayah kabupaten; Kulonprogo di sebelah kiri plang, Magelang di sebelah kanan plang, dan Purworejo di belakang plang. Kalau sebelumnya aku datang dari arah kanan plang dan sekarang berada di sebelah kiri plang, itu artinya aku telah berjalan melintasi perbatasan provinsi.

Plang lintas kabupaten lintas provinsi


Tak ingin berlama-lama di sana, aku berjalan mengikuti rombongan wisatawan yang tampaknya hendak meninggalkan tempat wisata itu. Mereka dipandu oleh seorang pemandu wisata yang sepertinya seorang warga asli. Di tengah perjalanan mereka asyik bercengkrama. Sementara aku hanya diam mendengar percakapan mereka. Aku takut ketahuan karena aku bukan bagian dari rombongan wisata itu.

Tak butuh waktu lama, aku akhirnya tiba di jalan utama yang membelah kawasan wisata itu. Aku menyusuri jalan itu naik sampai kembali ke Kedai Pak To. Kepadanya aku menceritakan pengalamanku menjelajahi jalan offroad di tengah hutan pinus itu.

Pak To mengatakan kalau jalan offroad itu cukup panjang melintasi hutan pinus sejauh 5 kilometer sebelum berakhir di sebuah desa yang berada di Kecamatan Bener, Purworejo. Biasanya jalan itu digunakan untuk balapan khusus motor offroad.

Saat aku tiba kembali di kedai Pak To, di dalam sudah banyak rombongan wisatawan sekitar 8 orang. Semuanya laki-laki. Salah satu anggota rombongan mengatakan padaku kalau mereka datang dari Purworejo. Aku pun kembali memesan teh hangat pada Pak To. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 9.30 pagi. Sebelum melanjutkan perjalanan aku menyempatkan waktu ngobrol sebentar sama rombongan itu dan juga Pak To.

Menjelang pukul 10.30, aku pamit pada Pak To untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum itu aku menyempatkan diri untuk membeli teh dan kopi sachet-nya untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Setelah dari kedai Pak To aku akan melanjutkan perjalanan melintasi “jalan punggung Menoreh” hingga Borobudur. Melintasi jalan persis di atas perbukitan Menoreh yang kanan-kirinya diapit jurang yang amat dalam.    

Pak To berpose di depan warungnya

     

Jumat, 06 November 2020

Bersepeda Pagi ke Kamijoro

Sepedaku di tepi Bendungan Kamijoro


Pagi itu adalah hari Minggu yang tidak berbeda dari Hari Minggu biasanya. Hanya saja di kesempatan itu, aku sudah mempunyai rencana untuk sepedaan ke Bendungan Kamijoro.

Bendungan Kamijoro merupakan sebuah bendungan besar yang dibangun di atas aliran Sungai Progo. Secara administratif, letaknya berada di Kaliwiru, Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Berdasarkan Google Maps, jaraknya 12 km dari rumahku.

Jarak itu sebenarnya tidak terlampau jauh bagiku yang sudah sering sepedaan jauh. Aku pernah merasakan jerih payah naik bukit saat sepedaan ke Mangunan. Aku juga pernah sepedaan ke Borobudur yang menjadi rute terjauhku. Perjalanan ke Kamijoro seharusnya bukan jadi perkara yang sulit.

Aku berangkat dari rumah pukul 05.15 pagi. Pada saat itu udara masih segar. Aku memutuskan untuk pergi melalui sebuah jalan tembus yang sudah aku pantau di Google Maps. Di aplikasi itu, aku menemukan jaringan rute yang menurutku menjadi rute tercepat menuju Kamijoro. Hanya saja rute ini lewat desa-desa dan perbukitan sehingga sedikit rumit dibandingkan kalau lewat jalan utama.

Untuk bisa sampai ke rute ini, aku terlebih dahulu melintasi Jalan Wates ke arah barat dari Pasar Buah Gamping. Setelah melewati pom bensin Ambarketawang, ada perempatan lampu merah dan di sini aku berbelok ke arah kiri atau ke arah selatan. Jalan desa yang akan aku tempuh dimulai dari sini. Namun ternyata pilihanku untuk melewati jalan ini untuk sampai di Bendungan Kamijoro merupakan pilihan yang kurang tepat.

Tersesat di Hutan

Pada awalnya, jalan yang aku lewati ini adalah jalan beraspal mulus dengan pemandangannya yang bagus. Di kiri kanan terhampar persawahan dengan kabut pagi yang masih menyelimuti kawasan itu. Sementara itu di ujung jalan sana tampak sebuah perbukitan yang tidak terlalu tinggi siap menanti untuk didaki. Memang, jalan tembus ini mengharuskanku untuk melalui kawasan perbukitan itu daripada harus memutar jauh.

Menepi sejenak di pinggir jalan


Tak butuh waktu lama, jalanan mulai menanjak mendaki bukit. Tapi aku masih bisa mengayuh sepedaku untuk melalui jalan yang menanjak itu. Tiba di puncak tanjakan, ada sebuah persimpangan. Aku kebingungan untuk memilih jalan yang harus kulalui. Jalan ke arah kiri merupakan terusan dari jalan mulus itu. Sedangkan jalan lurus justru merupakan jalan desa yang aspalnya sudah banyak berlubang.

Aku kembali melihat Google Maps. Dan dari sini aku disarankan lurus terus melewati jalan desa itu.

Oh iya, sekedar informasi. Dalam perjalanan ini aku tidak dapat menggunakan semua fitur yang ada di Google Maps. Karena keterbatasan kuota, aku tidak bisa menggunakan fitur navigasi yang ada di aplikasi ini. Sehingga dalam mengetahui arah jalan, aku hanya melihat jaringan-jaringan jalan yang ada di sana sambil menganalisis kira-kira mana jalan yang harus kupilih untuk tiba di Kamijoro.

Tapi saat aku berhenti di persimpangan berikutnya, aku menemukan titik lokasiku yang terpantau di GPS sepertinya kurang tepat. Oleh karena itulah selain mengandalkan GPS, aku juga mengandalkan insting untuk menemukan jalan yang kira-kira tepat.

Untuk bisa mencapai Kamijoro, aku memilih jalan yang menuju ke arah selatan. Karena tidak punya kompas, posisi matahari aku jadikan patokan mana barat, timur, selatan, dan utara. Tapi nyatanya jalan itu biasanya tak pernah lurus ke selatan. Pasti di suatu titik, jalanan itu akan berbelok entah sedikit ke barat, timur, bahkan ada pula yang berputar ke utara. Selain itu karena di atas bukit, kontur jalan sedikit naik turun. Apabila tanjakannya curam, aku harus turun dan menuntun sepedaku hingga ke puncak tanjakan.

Walaupun berada di atas bukit, di sana masih banyak dijumpai rumah-rumah dan perkampungan penduduk. Bahkan di sana ada beberapa proyek perumahan yang baru selesai atau dalam proses pembangunan. Sesekali aku melihat GPS untuk mengecek keberadaanku. Aku berharap bisa segera menemukan jalan utama yang mengarah ke Bendungan Kamijoro. Tapi jalan yang aku pilih ternyata membuatku makin masuk ke tempat terpencil. Setelah melewati sebuah peternakan ayam yang bau, jalan desa yang sepi itu berubah jadi jalan setapak beralaskan tanah. Di kanan kiri yang tampak hanyalah semak belukar gersang dan pepohonan. Jalan setapak itu kira-kira hanya mampu dilewati pejalan kaki dan pesepeda yang tanahnya diselimuti oleh daun-daun yang berguguran.

Sambil menuntun sepeda, aku melewati kawasan yang sunyi itu. Yang terdengar dari sana hanyalah suara jangkrik. Sementara suara kendaraan bermotor hanya terdengar sayup-sayup di kejauhan. Di sana ada sebuah tangga di sisi kiri jalan yang mengarah ke tempat yang lebih tinggi. Sebenarnya aku penasaran ke mana tangga itu menuju, tapi aku takut kalau menaikinya malah membuatku semakin tersesat dan tak bisa keluar di tempat terasing ini.

Setelah beberapa meter, aku melihat sebuah rumah kecil di tempat yang lebih rendah. Letaknya berada di sisi kanan jalan. Tak jauh dari sana, jalan setapak itu berakhir di sebuah jalan berpasir besar namun memiliki tanjakannya curam. Aku kemudian berbelok ke arah kiri di mana jalan berpasir itu menanjak. Dari sana, aku bisa melihat lalu lalang kendaraan di puncak tanjakan itu.

Pemandangan dari puncak tanjakan


Tak mudah untuk mencapai puncak tanjakan. Tak hanya pasir, jalan menanjak itu juga dipenuhi batu kerikil. Apalagi, aku harus mencapai puncak dengan menuntun sepedaku sambil dengan susah payah melangkahkan kaki di tengah pasir dan batu yang tebal itu.

Pesona Bendungan Kamijoro

Singkat cerita, sampailah aku di puncak tanjakan. Di sana, ada sebuah jalan beraspal yang lumayan sering dilalui motor. Karena kelelahan mendaki, aku mampir dulu di toko kelontong terdekat untuk membeli minuman isotonik. Aku sempatkan diri bertanya pada seorang penduduk setempat ke mana arah Bendungan Kamijoro. Setelah itu, barulah aku melanjutkan perjalanan menyusuri jalan beraspal itu.

Jalan beraspal yang kulalui itu memiliki kontur menurun. Aku bisa memacu sepeda dengan kecepatan tinggi. Tak terasa, sampailah aku di persimpangan Tugu Gentong. Dari sana, Bendungan Kamijoro masih berjarak 6,2 kilometer lagi.               

Matahari kian meninggi. Setelah melewati Tugu Gentong, kontur jalan naik turun tak menentu seperti suasana hati ini. Terkadang jalanan menanjak sehingga aku harus menggenjot pedal lebih keras lagi. Untungnya tanjakan itu tak terlalu curam dan aspalnya cukup mulus, sehingga aku tak perlu turun dari sepeda untuk menaklukan tanjakan itu.

Selain jalanan yang naik turun, tak ada hambatan berarti di rute Tugu Gentong-Bendungan Kamijoro. Tak terasa, sampailah aku di persimpangan jalan raya Sedayu-Pajangan. Dari sini, Bendungan Kamijoro hanya tinggal beberapa kilometer lagi.

Saat hampir tiba di lokasi, aku sempat kebablasan. Seharusnya aku berbelok ke arah kanan menuju jalan desa yang mengarah ke bendungan. Tapi aku malah jalan terus. Terpaksalah aku berbalik arah sekitar 500 meter untuk sampai di jalan kecil itu. Sebelum masuk ke kawasan bendungan, ada sebuah pos jaga di mana pengunjung harus membayar retribusi seikhlasnya. Setelah itu, barulah aku tiba di kawasan wisata itu. Ternyata di sana banyak pedagang yang kebanyakan ibu-ibu berjualan jajanan khas daerah setempat. Rombongan pesepeda-pun tampak bersliweran hendak melanjutkan perjalanan setelah singgah di tempat wisata itu.

Di depanku, terbentang jembatan panjang yang di bawahnya mengalir Sungai Progo yang cukup besar. Besarnya Sungai Progo di sana mengingatkanku pada Sungai Pawan yang membelah Kota Ketapang, lokasi penempatan KKN-ku sewaktu kuliah dulu.

Pesona Bendungan Kamijoro


Aku jadi ingat memori itu. Waktu itu aku baru pulang setelah sesi wawancara dengan seorang narasumber. Sebelum kembali ke Pastoran yang menjadi tempat tinggalku bersama dua anggota tim KKN-ku selama di Ketapang, aku mampir dulu di sebuah gazebo di tepi Sungai Pawan. Saat itu senja. Langit Kota Ketapang yang cerah tampak berwarna kuning bercampur merah beludru. Bersamaan dengan itu lampu-lampu rumah penduduk mulai dinyalakan. Beberapa perahu motor melintas.

Suasana seperti itu tak pernah kudapatkan selama aku tinggal di Jawa. Di gazebo itu, aku duduk sendiri. Memandang pesona keindahan Sungai Pawan. Di langit senja, sekelompok burung beterbangan mengepakkan sayap-sayap kebebasan. Hari kemudian beranjak gelap. Yang tampak selain beberapa lampu rumah penduduk di seberang sungai adalah kerlap-kerlip lampu kendaraan yang melintasi Jembatan Pawan I. Jembatan itu membentang panjang di atas Sungai Pawan yang cukup luas.     

Mungkin terlalu berlebihan bila menyamakan Sungai Progo yang ada di depan mataku ini dengan Sungai Pawan. Luasnya sungai di Jawa tak bisa disamakan begitu saja dengan luasnya sungai di Kalimantan. Di Kalimantan, sungai menjadi jalur transportasi menuju ke pedalaman. Walaupun dulu konon katanya beberapa sungai di Jawa menjadi rute lalu-lintas kapal ke pedalaman, tapi kini sudah banyak sungai yang mengalami pendangkalan akibat proses sedimentasi, sehingga tak bisa dilewati kapal lagi.

Letak lokasi Taman Wisata Bendungan Kamijoro berada di seberang Sungai Progo. Untuk menuju ke sana aku menyeberangi jembatan sempit yang panjangnya mungkin sekitar 70 meter ini. Di lokasi wisata itu, sudah banyak orang berfoto di depan sebuah tulisan besar “Bendungan Kamijoro”. Tak mau kalah, akupun juga berfoto selfie di depan tulisan itu. Saat aku tiba di sana, matahari sudah bersinar terik. Jam menunjukan pukul 07.20 pagi. Sebelum beranjak dari bendungan, aku mampir sejenak di salah satu warung makan yang terdapat di tempat wisata itu untuk sarapan pagi.

Selfie dulu


Di sana, aku memesan semangkuk soto daging dan minuman teh hangat. Kalau tidak salah, total jumlah harganya Rp14 ribu. Sementara itu daya baterai ponsel-ku tinggal 10 persen. Sebenarnya aku mau sekalian mengisi baterai di warung itu. Tapi ponsel itu malah aku gunakan untuk melihat Google Maps guna memutuskan kira-kira ke mana aku akan pergi selanjutnya.

Sesek Temben

Ke mana selanjutnya? Aku sendiri bingung. Awalnya aku punya rencana pergi ke arah selatan. Lalu sampai daerah Brosot aku berbelok ke arah barat menuju Kota Wates. Dari Wates beranjak ke utara menuju Nanggulan. Dari Nanggulan barulah menuju ke timur ke arah Godean dan akhirnya tiba di rumah.  

Tapi mengingat kondisiku yang sudah sedikit lelah dan sinar matahari yang semakin menyengat pula, aku ragu dengan keputusan ini. Lagi pula dari Kamijoro ternyata jarak Brosot masih jauh, yakni sekitar 11 km. Dari Brosot, Wates berjarak 12 km. Dan dari Wates, Nanggulan berjarak 17 km. Dari hitung-hitungan jarak itu, aku sadar bahwa rencana perjalanan seperti ini bakal menyiksa jiwa ragaku.

Akhirnya, aku teralihkan perhatiannya pada sebuah jalan di Google Maps yang dinamakan "Jalan Kawasan Industri". Letaknya berada di sebelah barat jalan Sentolo-Brosot. Jika dilihat dari Google Maps, jaringan jalan itu tampak lurus dan tak berkelok-kelok dibandingkan dengan Jalan Sentolo-Brosot. Untuk sampai di jalan itu aku harus melewati jalan desa menuju ke arah barat.

Keluar dari Taman Bendungan Kamijoro ke arah barat, aku langsung menemukan jalan Sentolo-Brosot. Sebenarnya aku bisa saja melewati rute ini menuju ke arah Sentolo. Dari Kamijoro, Sentolo berjarak 9,4 km ke arah barat laut dengan jalan yang berkelok-kelok dan kemungkinan menanjak. Tapi aku lihat di Google Map, walaupun menuju ke arah yang sama, Jalan Kawasan Industri tidak berkelok-kelok. Penasaran dengan jalan itu, aku mencari jalan desa ke arah barat sesuai Google Maps. Namun ternyata jalan yang aku pilih ini salah. Jalan itu berakhir pada sebuah jalan berbatu yang di depannya ada tulisan “jalan buntu”.

Karena itulah aku kembali ke ruas jalan Sentolo-Brosot dan bersepeda ke arah selatan. Aku hanya bisa pasrah saja menerima kenyataan harus bersepeda ke arah Brosot sejauh 11 km Tak seperti dugaanku, jalan itu menanjak curam. Aku harus menuntun sepedaku menuju puncak tanjakan. Setelah mencapai puncak, jalan ganti menurun curam. Aku merasa dikerjai. Brosot masih jauh, tapi medan jalan yang harus kuhadapi sesulit ini.

Syukurnya ternyata aku tak harus melanjutkan perjalanan menuju Brosot. Tak jauh dari turunan itu, ada plang kecil ke arah kiri yang menunjuk arah ke Bantul. Aku heran karena pastilah jalan itu akan berakhir di Sungai Progo yang luas. Di Google Maps sendiri tak tampak ada jaringan jalan yang membentang di atas Sungai Progo di tempat itu. Mungkin di sana nanti akan ada perahu yang membawa orang maupun kendaraan seperti motor dan pesepeda menyeberangi Sungai Progo.

Tapi dugaanku salah. Ketika Sungai Progo sudah tampak, ternyata di atasnya membentang sebuah jembatan bambu (sesek) yang panjang. Masyarakat setempat menyebutnya Sesek Temben. Sebelum melintasi jembatan itu, ada sebuah pos yang harus aku lalui. Awalnya aku mengira kalau di pos itu aku bakalan ditarik biaya retribusi agar bisa melintasi jembatan. Makanya aku menyiapkan sejumlah uang receh. Tapi ternyata beberapa orang yang entah sedang nongkrong atau sedang berjaga di sana mempersilahkanku melintas tanpa meminta biaya apapun.

Sesek Temben




Pos sebelum melintasi Sesek Temben

Sampai di seberang sungai, aku kembali tiba di jalan raya Sedayu-Pajangan. Dari sana, aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga ke arah barat menuju Pajangan. Sampai di Pajangan, aku berbelok ke arah utara melintasi jalan raya Pajangan-Kasihan. Sesampainya di Simpang Diponegoro, aku berbelok ke arah kanan menuju Kota Bantul. Sebenarnya aku bisa saja ambil lurus tapi kontur jalan di sana naik turun bukit. 

Di tengah sengatan sinar matahari, aku menyusuri Jalan Bantul dan berbelok melewati rute Kasongan-Madukismo-Lapangan Kasihan-UMY-Pasar Gamping-Patukan, dan akhirnya pukul 9.30 aku sudah sampai di rumah dengan selamat.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya yaa ☺

x

Sabtu, 10 Oktober 2020

'Nyepur' Perdana di Era New Normal



Perjalanan jauh perdana di era New Normal


Di masa pandemi, protokol kesehatan adalah syarat wajib yang harus diterapkan oleh warga yang bepergian ke luar rumah. Setidaknya, mereka diwajibkan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak dengan orang di sekitar. Tapi alangkah lebih baiknya apabila kegiatan keluar itu bisa dikurangi dan melakukan segala aktivitas dari rumah: bekerja dari rumah, belajar dari rumah, liburan di rumah, dan apapun kegiatan lain yang bisa dilakukan di rumah itu akan lebih aman dari pada harus bepergian. Namun di rumah terus lama-lama bisa bikin jenuh, bosan, dan letih.

Tak terkecuali bagi diriku yang sudah berbulan-bulan harus menjalani Work From Home (WFH). Ketika hari libur pun, tak ada pilihan lain kecuali liburan di rumah. Tak ada piknik ke obyek wisata, tak ada agenda pergi ke luar kota, tak ada acara hang out bareng teman atau pacar (karena memang tidak punya pacar), tak ada acara pergi ke sebuah pertunjukan seni, dan tentu saja, tak ada kegiatan hunting foto kereta api.

Sejak pemerintah memberlakukan status gawat darurat Virus Corona pada pertengahan Maret, memang hampir tidak ada kereta api yang jalan. Namun setelah pemerintah menetapkan masa tatanan baru “new normal” pada awal Bulan Juni, penyekatan perbatasan wilayah dihapus. Obyek-obyek wisata kembali dibuka. Penduduk bisa kembali bepergian seperti saat sebelum masa pandemi dulu. Hanya saja pada saat keluar rumah, mereka harus mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Kesempatan untuk bepergian pun aku manfaatkan dengan kembali jalan-jalan naik kereta api. Selain demi menjaga kewarasan akal dan hati nurani akibat rasa jenuh yang makin memuncak, kerinduanku untuk bisa kembali menikmati perjalanan kereta api sudah tak tertahankan. Tak perlu pergi ke tempat yang jauh, cukup yang dekat-dekat saja. Asal rasa rindu ini bisa terobati, itu sudah cukup buatku. 

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Di awal Bulan September yang cerah, aku berkesempatan menjajal KA Bandara dengan rute Yogyakarta-Kebumen. Dalam perjalanan ini, aku ditemani Iqbal, karibku sejak masa SMA. Sesampainya di Kebumen nanti, rencananya kita akan hunting foto kereta api. Ya, setelah berbulan-bulan sepi, memasuki Bulan September ini jadwal perjalanan kereta bisa dikatakan hampir normal kembali.

Berpanas Ria di Jembatan Renville

Panas-panasan di Jembatan Renville demi momen kereta api

Saat kami tiba di Stasiun Yogyakarta, suasana sepi masih terasa. Memang, untuk penumpang yang ingin bepergian jarak jauh, PT Kereta Api mensyaratkan surat bebas Corona yaitu dengan minimal melampirkan bukti rapid test yang menyatakan non-reaktif. Syukur-syukur kalau bisa melampirkan hasil tes swab atau PCR yang menyatakan negatif. Di stasiun sendiri, telah tersedia layanan rapid test bagi penumpang yang ingin bepergian. Satu kali test penumpang harus membayar Rp85 ribu.

Suasana sepi masih terasa ketika kami memasuki gerbong KA Bandara. Berbeda dengan kereta api jarak jauh yang mensyaratkan surat bebas Corona, untuk naik KA Bandara ini, penumpang hanya perlu mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan pakaian lengan panjang, menggunakan masker, dan jaga jarak selama berada di dalam kereta. Selain itu, KA Bandara ini masih tergolong kereta api lokal yang jarak tempuhnya tidaklah jauh.

Pukul 8.35 pagi, KA Bandara meninggalkan Stasiun Yogyakarta menuju Kebumen. Kereta api melaju dengan kecepatan sedang, antara 70-85 km/jam. Selama perjalanan, kereta api yang kami naiki hampir tidak pernah berpapasan dengan kereta api lain kecuali KA Prameks dan KA Semen. Perjalanan itu tidak menemukan hambatan berarti. Kami tiba di Kebumen tepat waktu pukul 10.10 pagi.

Suasana Stasiun Kebumen pagi itu sungguh sepi. Tak banyak penumpang yang hendak bepergian, termasuk penumpang yang akan naik KA Bandara yang akan kembali ke Yogyakarta pada pukul 10.25. kami-pun langsung bergegas meninggalkan stasiun menuju tempat hunting pertama kami, Jembatan Renville.

Kami menuju Jembatan Renville dengan berjalan kaki. Suasana Kota Kebumen sangat sepi. Tak banyak kendaraan yang wira-wiri. Aku sendiri baru kali itu bepergian khusus untuk mengunjungi Kota Kebumen. Biasanya aku hanya numpang lewat, baik saat berkendara motor, mobil, maupun kereta api.

Lokasi Jembatan Renville sendiri hanya berjarak sekitar 1 km dari Stasiun Kebumen. Jembatan ini membentang di atas Kali Lok Ulo, salah satu sungai legendaris di Kebumen yang dulunya menjadi batas antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran.

Salah satu alasan kami mengunjungi jembatan ini adalah konstruksi bangunannya yang baru. Di sini, ada dua jembatan yang keduanya sama-sama baru menggantikan fungsi jembatan lama yang sudah dianggap uzur. Kedua jembatan baru ini tampak megah. Baru diresmikan pada Bulan April ini, tak lama setelah pandemi Corona merebak.

Di jembatan ini, kami rencana akan menunggu beberapa kereta api yang akan lewat. Menurut jadwal, di belakang KA Bandara, ada banyak perjalanan kereta api yang menurut kabar sudah dijalankan lagi. Ada KA Taksaka, ada KA Argo Lawu, KA Bogowonto, dan KA Mataram dengan tujuan Jakarta. Ada pula KA Pasundan dan Argo Wilis dengan tujuan Bandung. Dari arah barat, akan ada KA Anjasmoro tujuan Jombang dan KA Bengawan serta Fajar Utama Solo tujuan Stasiun Solo Balapan.

Tak butuh waktu lama bagi kami sampai Jembatan Renville. Baru beberapa menit, kami sudah memperoleh momen KA Taksaka, kereta api pertama kami hari itu. Kereta api ini berjalan pelan meliuk ke kanan di tikungan sebelum akhirnya melintasi Jembatan Renville sisi utara. Setelah melintasi jembatan kereta api kembali meliuk ke kiri di tikungan besar (tiber) setelah jembatan. Memang, selain karena adanya jembatan yang megah, lokasi hunting ini cukup bagus karena ada dua tikungan tempat di mana sang ular besi meliuk dengan indahnya.



KA Taksaka berjalan pelan melintasi Jembatan Renville

KA Taksaka pagi itu membawa 11 rangkaian kereta. Ditarik oleh lokomotif seri CC 206. Kereta meliuk indah melintasi tikungan setelah jembatan. Lalu menghilang di antara pepohonan.

Setelah KA Taksaka melintas, kami beranjak menuju ke sisi seberang jembatan untuk memperoleh momen kereta berikutnya. Untuk itu kami melintasi tempat penyeberangan khusus pejalan kaki yang berada di sisi salah satu jembatan kembar itu, berjalan di atas Kali Lok Ulo yang alirannya cukup tenang pagi itu. Sesampai di seberang jembatan, kami langsung mencari tempat terbaik untuk mengabadikan momen kereta api berikutnya.

Oh iya, pada kesempatan itu, tak hanya kami saja yang hunting foto kereta api di Jembatan Renville. Ada seorang railfans lain yang mengaku baru pertama kali mengunjungi lokasi hunting itu sejak jembatan baru itu selesai dibangun. Dia mengabadikan momen KA Taksaka tadi dengan sebuah kamera saku. Setidaknya kamera itu kualitasnya lebih baik dariku yang mengabadikan momen itu hanya dengan kamera hp yang kualitasnya seadanya.

Saat kami berbincang, dia sempat memberi tahuku sebuah kabar yang tidak begitu baik. Dia mendengar bahwa sejumlah perjalanan kereta api dibatalkan hari itu. Oleh pihak operator PT KAI, pembatalan perjalanan itu baru diberitahukan hanya tiga jam sebelum keberangkatan. Ada seorang temannya yang kebingungan karena terlanjur memesan tiket perjalanan kereta api yang akhirnya harus dibatalkan itu. Biaya perjalanan memang kembali 100 persen, tapi rencana perjalanan yang telah tersusun matang terpaksa harus mengalami perubahan.

Dia menyebutkan setidaknya ada tiga kereta api yang perjalanannya dibatalkan, yaitu KA Turangga, KA Malabar, dan KA Mutiara Selatan. Aku khawatir dan kemudian bertanya, lalu bagaimana dengan perjalanan kereta api lainnya? Dia berkata bahwa jadwal perjalanan lainnya tetap aman.

Mendengar kabar itu, aku bernapas lega walau sebenarnya sedikit terganggu mendengar ada jadwal perjalanan yang dibatalkan itu. Di sana kami berpisah dengan railfans itu. Railfans itu ternyata ingin melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Soka, sementara aku dan Iqbal memilih untuk tetap berada di lokasi jembatan untuk menunggu momen kereta api berikutnya.

Di pagi hari menjelang siang itu, matahari bersinar cukup terik. Aku tidak membawa topi sehingga harus menutup kepala dengan jaket sendiri. Dari ujung timur sana, kereta api tak kunjung datang. Setengah jam kami menunggu dan kereta tak kunjung datang pula. Satu jam kami masih bersabar untuk menunggu kereta yang lewat.

Karena tak kunjung ada kereta, aku mulai curiga. Aku mengecek jadwal kereta api di Stasiun Kebumen lewat internet. Dan ternyata benar, harusnya KA Argo Dwipangga sudah lewat. Harusnya pula di belakangnya, KA Mataram juga sudah lewat. Tapi kenyataannya kenapa hingga saat ini kereta-kereta itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya?

Kenyataan itu membuatku kecewa. Sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi tak satupun momen kereta api meliuk indah di jembatan yang terabadikan dengan kamera. Setelah berdiskusi sejenak, akhirnya aku dan Iqbal memutuskan menuju Stasiun Soka dan meninggalkan tempat yang makin panas itu dengan perasaan getir.

Desa Penghasil Genteng

Menyusuri rel menuju Stasiun Soka

Masjid yang ada di perkampungan tak jauh dari rel kereta sudah menyuarakan bunyi murottal. Ya, hari itu hari Jum’at. Suara murottal dinyalakan untuk menyambut para jama’ah yang datang. Sebagai seorang musafir, aku dan Iqbal tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah Sholat Jum’at. Lagi pula, belum tentu masjid-masjid di sana menerima kita yang datang dari luar kota.

Saat masa pandemi seperti ini, biasanya masjid hanya digunakan untuk warga yang tinggal di perkampungan sekitar. Karena pertimbangan itulah aku sempat berkata pada Iqbal alangkah lebih baiknya kalau kita tidak usah Sholat Jum’at saja. Kami memutuskan untuk terus berjalan menyusuri rel menuju Stasiun Soka. Siapa tahu saja dalam perjalanan nanti kami bertemu kereta api yang lewat.

Sejak aktifnya jalur ganda Kroya-Kutoarjo, Stasiun Soka menjadi stasiun mati. Lagi pula, jarak antara Stasiun Kebumen sampai Stasiun Soka tidaklah terlalu jauh. Mungkin hanya sekitar 3-4 km. Entah kenapa di zaman dulu stasiun kecil itu dibangun dengan jarak yang berdekatan dengan Stasiun Kebumen.

Dugaan awalku adalah di antara kedua stasiun itu adanya tikungan besar di barat dan timur Jembatan Renville membuat kereta api harus berjalan pelan. Karena jalurnya masih single track dan lalu lintas kereta api yang padat, maka keberadaan stasiun sebagai tempat silang yang berada tak jauh dari Stasiun Kebumen sangat diperlukan.

Tapi bisa saja dugaanku salah. Saat aku mengunjungi tempat itu, muncul dugaan baru soal alasan kenapa Stasiun Soka perlu dibangun.

Soka adalah daerah penghasil genteng. Keberadaan pabrik-pabrik produksi genteng menjamur di tempat itu. Bahkan dari pinggir rel saja, sudah terlihat bahwa pabrik genteng ada di mana-mana.

Tak hanya itu, di Soka, genteng tak hanya dijadikan sebagai material untuk atap rumah. Saking melimpahnya genteng di sana, material itu juga dimanfaatkan untuk pagar rumah, tembok, penahan tanah longsor, dan masih banyak lagi.   

Iqbal juga baru sadar kalau genteng di rumahnya bermerek Sokka yang berasal dari tempat ini. Ternyata, genteng produksi Soka telah diekspor ke berbagai tempat. Mungkin saja dulunya keberadaan stasiun kereta api di sini diperlukan untuk aktivitas pengiriman genteng yang akan dibawa ke berbagai tempat di Pulau Jawa.  

Di bawah sinar matahari yang terik, kami berjalan menyusuri rel kereta. Pohon-pohon kecil yang berada di pinggir rel sedikit bisa memberikan keteduhan pada kami. Selama perjalanan, tak sekalipun kami berjumpa kereta api. Ada apa ini? apa memang benar kalau jadwal kereta api dibatalkan semua? KA Argo Lawu tidak lewat, KA Mataram, KA Bogowonto juga telah lewat jadwalnya. KA Anjasmoro dari Pasarsenen juga tidak kelihatan. Lalu kereta apa yang nanti akan lewat?

Karena kepanasan, kami melipir dari pinggir rel dan berjalan melintasi tepi selokan yang teduh. Selokan itu airnya telah mengering. Saat kami kembali berjalan di tepi rel, Stasiun Soka sudah terlihat di kejauhan. Ternyata memang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Kebumen.

Kebetulan di dekat stasiun itu ada masjid. Orang-orang tampak berbondong-bondong menuju masjid itu untuk menunaikan Sholat Jum’at. Dari pengamatanku, ternyata masjid itu terbuka bagi orang luar. Buktinya banyak motor-motor yang terparkir di sana.

Saat tiba di masjid itu, tubuhku sudah basah oleh keringat. Aku melepas sepatuku dan segera mengambil air wudhu. Setelah itu aku segera menempati shaf di bagian serambi masjid yang masih kosong. Di sana, aku terpisah dari Iqbal yang tampaknya berada di shaf yang berjauhan dengan shaf tempatku duduk.

Dunia Bebas Virus Corona

Suasana eks-Stasiun Soka

Aku sengaja duduk di shaf paling belakang yang berada di serambi masjid demi menjauh dengan para jama’ah lainnya. Sementara itu adzan belum berkumandang. Para jama’ah masih berdatangan dari rumah-rumah di sekitar masjid. Tapi, alangkah kagetnya aku melihat mereka-mereka itu.

Dari para jama’ah yang hadir di sini, hampir semuanya tidak menggunakan masker. Selain itu, garis penanda jaga jarak tidak terpasang di lantai. Hal ini tentu saja aneh. Padahal, di tempat kerumunan seperti ini bisa saja Virus Corona menyebar dengan bebasnya. Apalagi orang-orang yang sholat berjamaah di masjid ini tak hanya dari warga sekitar, contohnya saja aku dan Iqbal yang datang dari luar kota.

Aku yang sejak berangkat dari rumah sampai berada di sini hampir tak pernah melepas masker jadi merasa terasing saat duduk di masjid ini. Mereka-mereka itu baik bapak-bapak, pemuda, maupun bocah-bocah, hampir semuanya, yah, sekitar 90 persen atau mungkin lebih tidak memakai masker.

Di masjid itu, seolah hampir tak ada seorangpun yang menyadari bahwa mereka hidup di tengah ancaman penularan Virus Corona. Satu per satu orang tertular, lalu dirawat di rumah sakit, beberapa dari mereka yang punya penyakit penyerta meninggal dunia karena Virus Corona. Para dokter ataupun tim medis yang merawat mereka berguguran satu per satu juga karena virus itu.

Berbagai klaster bermunculan di tempat-tempat keramaian, mulai dari kafe, pengajian, sekolah, pondok pesantren, perkantoran, dan tentu saja, rumah sakit. Tapi di sini, di sebuah masjid yang tak jauh dari Stasiun Soka ini, huru-hara soal Virus Corona seakan hilang ditelan bumi. Malah aku merasa diriku yang memakai masker ini terlihat aneh karena berbeda dengan kebanyakan orang.

Sebenarnya tempat apa ini? Apakah orang-orang di sini tidak tahu tentang Virus Corona dan bahayanya? Atau apakah memang tempat ini benar-benar terbebas dari virus itu? Seakan sudah ditakdirkan bahwa tempat ini akan terbebas dari wabah?

Atau jangan-jangan akulah yang sedang terjebak di sisi bumi yang lain, di mana wabah Virus Corona memang tidak ada. Inikah yang dimaksud dunia utopis itu? di mana kenyataan selalu sama bahkan lebih indah dari harapan?

Atau mungkin saja orang-orang di sini sudah terlalu lelah dirundung ketakutan terhadap Virus Corona. Mereka meyakini yang perlu ditakutkan itu hanyalah Allah, bukan virus. Ketakutan terhadap Virus Corona membuat hati mereka senantiasa dilanda kegelisahan. Oleh karena itu, marilah berserah diri pada Allah dengan datang ke masjid, maka kegelisahan akan berganti ketenangan hati dan kedamaian jiwa yang dekat dengan Sang Pencipta. Bodo amat dengan Virus Corona.

Aku sungguh penasaran dengan keadaan ini. Kenapa orang-orang di sini tak mempedulikan protokol kesehatan? Apakah memang benar bahwa ini dunia lain? Atau apakah mereka memang sudah bersikap bodo amat dengan Virus Corona? Aku memilih untuk memendam rasa penasaranku. Aku takut bahwa kenyataan di sini memang tidak seharusnya untuk aku ketahui.

Selesai Sholat Jum’at, aku dan Iqbal langsung menuju ke Stasiun Soka yang letaknya hanya selemparan batu saja dari masjid itu. Di stasiun mati itu, kami kembali bertemu dengan si railfans yang tadi kami temui di Jembatan Renville. Dari raut mukanya, tampak dia sedang kesal. Bagaimana tidak, momen kereta api yang telah dinantikannya tak kunjung lewat. Bahkan selama Sholat Jum’at tadi tak sekalipun tampak atau terdengar kereta api melintas. Padahal harusnya ada KA Pasundan, KA Kutojaya Utara, dan KA Fajar Utama Solo yang melintas.    

Di depanku dia meluapkan kekesalannya. Si railfans itu mengeluh soal banyaknya jadwal perjalanan yang dibatalkan pagi itu, soal mahalnya harga tiket kereta api sehingga hanya sedikit penumpang yang mampu membelinya pada kondisi krisis kali ini. Soal syarat rapid test beserta biaya yang harus dikeluarkan calon penumpang agar bisa melakukan perjalanan. Tak lupa dia juga membandingkan layanan kereta api dengan layanan moda transportasi bus yang banyak memberi kemudahan bagi para penumpangnya.

Aku mengiyakan saja segala keluh kesah si railfans. Kondisi seperti ini saja sudah cukup membingungkanku. Logikanya, biaya yang diperoleh dari penjualan tiket tidak bisa menutup biaya yang harus dikeluarkan pihak PT Kereta Api dalam sekali jalan, maka perjalanan itu akan dibatalkan. Tapi kenapa pembatalannya banyak sekali?

Dari situlah aku sadar bahwa kondisi masa pandemi ini belum pulih benar bagi perkeretaapian kita. Seakan kembali ke masa awal-awal pandemi dulu, aku merasa menyesal telah melakukan perjalanan ke luar kota ini. Mungkin sebaiknya aku tetap di rumah saja sampai pandemi ini benar-benar berakhir. Tapi kapan? Kapan kondisi seperti ini pulih dan kehidupan jadi normal lagi? kapan Virus Corona ini benar-benar enyah dari muka bumi ini?

Memikirkan hal ini kepalaku makin pening saja. Perutku makin keroncongan dan dahaga di mulutku makin menjadi. Tak jauh dari stasiun ada warung makan yang menjual Es Suket. Es Suket (rumput)? Apakah ini minuman khas Soka?  Suket (rumput) jenis apa yang digunakan untuk minuman ini? apakah rumput laut? Rumput liar? Atau rumput tanah yang biasa digunakan untuk bahan pembuatan genteng di tempat ini?

Karena rasa penasaranku terusik, aku mohon undur diri pada si railfans itu dan menuju ke warung makan itu dengan Iqbal. Warung makan itu letaknya persis di samping rel kereta. Kepada ibu penjual warung, aku bertanya seperti apa Es Suket itu.

Si ibu menjawab kalau Es Suket itu singkatan dari susu ketan. Oh, bilang dong dari tadi. Pikiranku yang semakin kacau bahkan membuatku berpikir macam-macam tentang suket. Kayak kambing saja, masa manusia dikasih hidangan rumput liar?

Akhirnya datang Juga

KA Bengawan Melintas Langsung Eks-Stasiun Skoa
KA Bengawan melintas langsung eks Stasiun Soka

Di warung makan itu aku menikmati hidangan makan siang beserta minuman Es Suket. Rasanya segar sekali minum es di hari yang panas ini. Selesai makan kami beristirahat sejenak di warung makan sambil menunggu siapa tahu ada kereta api yang melintas.

Akupun memberanikan diri ke pos penjaga perlintasan dan menanyakan kepada petugas di sana apakah ada kereta yang akan melintas sebentar lagi. Kebetulan sekali, petugas itu berkata sebentar lagi KA Bengawan dari Pasarsenen tujuan Solobalapan akan melintas. Hanya saja selain kereta itu, si petugas belum tahu kereta apa lagi yang akan melintas. Sebagai petugas penjaga perlintasan, dia hanya bisa menjelaskan kereta api apa akan melintas sesaat sebelumnya melalui informasi yang diberikan oleh stasiun terdekat dari sambungan handy talkie, bukan kondisi kenapa hari itu banyak perjalanan kereta api yang dibatalkan.

Tak lama kemudian, genta di pos perlintasan itu berbunyi. Sebentar lagi KA Bengawan akan melintas. Aku mempersiapkan diri di pinggir rel untuk mengabadikan momen itu.

Palang pintu akhirnya ditutup. Di jalur yang lurus itu, KA Bengawan awalnya hanya tampak seperti obyek kecil yang tak jelas apakah itu nyata atau hanya fatamorgana. Lalu perlahan obyek itu membesar, mendekat, dan memberi kepastian bahwa itu nyata.

Aku memencet tombol play video di gawaiku. Di depanku tampak si railfans yang telah kembali dari Stasiun Soka sudah siap dengan tripod-nya, meletakkan kamera saku di atasnya. Lalu KA Bengawan yang hari itu ditarik loko jenis CC 201 melintas dengan gagahnya diikuti 10 rangkaian kereta di belakang. Setelah itu kereta api menghilang di tikungan. Kondisi kini telah pulih seperti semula.

Perjalanan Pulang

Setelah KA Bengawan lewat, kami memutuskan untuk menuju Kutoarjo menggunakan bus. Dari sana rencana kami kembali ke Stasiun Yogyakarta dengan KA Prameks yang berangkat pukul 15.51.

Untuk menuju ke tempat pemberhentian bus, kami harus dulu naik becak motor dengan ongkos Rp 20.000. Lalu dari sana naik bus menuju Kutoarjo yang harga per orangnya mencapai Rp 30.000.

Di sepanjang perjalanan Soka-Kutoarjo, aku menghabiskan waktu dengan tidur. Saat itu entah mengapa kondisiku sudah amat lelah. Tak tahu bagaimana dengan Iqbal. Tak terasa, sampailah kami di Kutoarjo dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun.

Di Stasiun, sempat ada KA Joglosemarkerto yang melintas. Lalu barulah KA Prameks tiba di stasiun itu sekitar pukul setengah empat. Kami akhirnya bisa masuk ke dalam kereta. Di dalam kereta, aku bisa melanjutkan tidurku yang sempat terhenti.   

Di hadapanku, duduk seorang wanita muda yang wajahnya tertutup masker. Walaupun banyak kursi kereta yang kosong, entah mengapa dia memilih duduk di hadapanku. Wanita itu menggunakan jilbab warna hitam. Pandangannya terarah ke luar jendela. Aku hanya bisa melihat pesonanya dengan mataku yang sudah sangat letih ini.

Namun rasa lelahku sudah tak tertahan. Dengan kepala yang tersender di dinding kereta samping jendela, aku kemudian tertidur di hadapan wanita muda itu. Tidurku mungkin cukup pulas sampai-sampai saat aku terbangun, mulutku telah basah oleh air liur. Untungnya mulutku terlindung oleh masker yang tak pernah kulepas sehingga tak mengganggu pemandangan dari sang wanita muda yang misterius itu.

Tak terasa sampailah kami di Jogja. Dengan keadaan setengah sadar aku melangkahkan kaki keluar kereta. Tak lupa kami sempatkan menunaikan ibadah Salat Ashar di masjid stasiun. Setelah itu barulah kami melangkahkan kaki menuju ke luar stasiun.

Bagiku, perjalanan ini terasa agak mengecewakan. Banyak hal-hal yang tak diharapkan terjadi. Tapi Alhamdulillah kami bisa kembali dengan selamat. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa kami karena perjalanan ini.  

       

Teman perjalanan kali ini




Suasana di dalam kereta


Minggu, 28 Juni 2020

Bersepeda Keliling Bukit Prambanan





Daerah perbukitan Prambanan menyimpan banyak teka-teki. Di sana banyak ditemukan bangunan-bangunan dari zaman dulu. Ada Candi Ijo, Candi Ratu Boko, Candi Barong, ada pula penemuan-penemuan arca dan batuan candi yang belum teridentifikasi.

Menyambut New Normal

Hari Senin, 8 Juni 2020, adalah hari yang berarti bagiku. Setelah sekian lama #dirumahaja, aku akhirnya bisa sepedaan lagi. Alangkah bahagianya aku bisa kembali berpetualang dengan sepeda merah kesayanganku ini. Sebelumnya, karena sepeda merahku rusak, aku menggunakan sepeda biru muda kepunyaan adikku untuk berpetualang. Berbagai destinasi bisa kucapai dengan sepeda milik adikku seperti Candi Ijo, Mangunan, dan terakhir Borobudur.

Setelah sekian lama, aku kemudian baru terpikir untuk memperbaiki sepeda merahku. Awalnya aku kira memperbaiki sepeda itu butuh biaya mahal karena rem dan rantainya memang sudah rusak. Ternyata setelah kubawa ke bengkel sepeda dekat rumahku, mas-mas di sana berhasil memperbaiki rem dan rantai yang rusak walaupun tidak sempurna. Tapi tak apa, setelah bertahun-tahun (kemungkinan 2-3 tahun) teronggok, sepeda merahku bisa jalan lagi.

Pertama-tama, aku mencoba sepedaku dengan rute rumahku-Godean-Seyegan-lurus ke arah Jalan Magelang-Medari-Sleman-Cebongan-dan kembali ke rumahku. Selama perjalanan itu, aku tak menemui kendala berarti di sepedaku. Itu artinya, sepeda merahku kembali siap untuk diajak berpetualang.

Sayangnya saat sepedaku telah siap kembali menjelajahi jalanan negeri ini, pandemi Corona merebak. Pemerintah menyuruh rakyatnya untuk #dirumahaja. Terpaksa, aku menghabiskan hari-hari di rumah, bahkan saat kerja dan libur, aku terus berada di rumah.

Setelah hampir tiga bulan berlalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan “new normal”. Karena kebijakan itu, orang-orang bisa lagi keluar rumah, walaupun dengan mematuhi protokol kesehatan.
Jalanan kembali ramai. Entah mengapa makin banyak orang yang suka bersepeda. Mereka bersepeda berkelompok. Aku lihat dari bentuk sepeda mereka sepertinya baru-baru semua. Roda-roda sepeda mereka besar-besar. Body sepeda mereka kinclong-kinclong. Apa daya sepedaku ini yang besinya sudah banyak yang karatan. Walau begitu aku tetap pede dengan sepedaku untuk kubawa jalan jauh.

Akhirnya kesempatan itu datang juga di Hari Senin itu. Kebetulan pada hari itu jadwalku libur. Aku keluarkan sepedaku lalu aku gowes sendirian. Aku meninggalkan rumah sekitar pukul setengah enam pagi.

Tiang listrik untuk KRL
Seperti gowes-gowes sebelumnya, rencanaku berubah seiring perjalanan. Pada awalnya aku hanya ingin bersepeda melalui Jalan Godean sampai Stasiun Tugu, melewati Jalan Malioboro, lalu balik lagi ke rumah lewat Jalan Wates. Tapi di tengah jalan aku merasa rute itu sangat tidak menantang. Lalu aku ubah rencananya. Aku mampir ke Stasiun Tugu dulu, lalu meneruskan perjalanan sampai Prambanan. Ya, Prambanan! Sebuah perubahan rencana yang sangat drastis bukan?

Setelah dari Prambanan, rencananya aku akan melewati Piyungan lalu ke Bantul melewati Pleret. Lalu dari Bantul aku akan ke utara dan beristirahat sejenak di dekat Pabrik Gula Madukismo. Di sana ada rerimbunan pohon yang teduh. Saat siang hari, berteduh di sana sambil minum dawet dan melihat lori tebu lalu lalang pastilah menjadi kenikmatan yang tak terkira.

Satu hal kenapa aku harus mampir di PJL Geser Stasiun Tugu adalah karena di sana sudah terpasang tiang-tiang yang akan digunakan untuk KRL Jogja-Solo. Aku ingin melihat langsung tiang-tiang KRL itu dengan mata kepalaku sendiri. Kalau sudah jadi nanti, rute Jogja-Solo akan menjadi jaringan KRL pertama di luar jaringan KRL di wilayah Jabodetabek. Aku ingin menjadi saksi dari sejarah besar itu.     

Aku tiba di kawasan PJL Geser sekitar pukul 6 pagi. Benar saja, di sekitaran stasiun itu, tiang-tiang beton yang rencananya untuk tiang listrik KRL sudah terpasang. Wajah Stasiun Tugu telah berbeda dari sebelumnya.
Menyambut datangnya era New Normal sambil selfie :)

Setelah meninggalkan kawasan PJL Geser, aku menuju arah Prambanan melalui Jalan Solo. Perjalanan ke Prambanan cukup lancar. Aku mengendarai sepeda dengan kecepatan normal. Jalanan dari Kota Jogja menuju arah Prambanan sebenarnya sedikit menanjak. Syukurlah, aku akhirnya tiba di Stasiun Brambanan pukul 7.16 pagi. Satu jam lebih durasi perjalanan dari Stasiun Tugu.

Sama halnya dengan Stasiun Tugu, di Stasiun Brambanan juga telah terpasang tiang listrik untuk KRL. Bahkan di stasiun ini ada proyek bangunan persis di sebelah barat bangunan stasiun.  Entah bangunan apa yang nantinya akan berdiri di sana. Perkiraanku bangunan itu masih ada kaitannya dengan proyek KRL Jogja-Solo.
Suasana Stasiun Brambanan

Perlintasan di barat Stasiun Brambanan
Spot Riyadi

Setelah foto-foto sebentar, aku meninggalkan Stasiun Prambanan. Rencananya aku akan ke Candi Sojiwan dan foto-foto di sana. Tapi walau sudah ada plang menuju ke tempat itu, aku tetap tidak menemukan Candi Sojiwan. Justru aku menemukan jalan naik menuju ke atas bukit. Entah apa yang kupikirkan aku justru tertarik melalui jalan itu untuk mendaki bukit.

Jalanan bukit yang mendaki membuat aku sesekali harus menuntun sepedaku. Karena saat itu Hari Senin, tak banyak orang yang bersepeda. Aku bersepeda sendirian di jalanan beraspal yang sepi. Sesekali aku berhenti mengambil nafas karena jalanan terus menanjak. Akhirnya satu pemandangan indah terhampar di hadapanku. Tampak di bawah sana deretan candi dapat terlihat dari atas bukit, mulai dari kompleks Candi Prambanan, Candi Sojiwan, dan Candi Plaosan. Setelah mengambil foto sejenak, aku kembali meneruskan perjalanan mendaki.

Dataran Prambanan dari atas bukit
Terkapar tak kuat menanjak
Menurut Google Map, bila terus mendaki nanti aku akan menemukan situs Arca Ganesha di atas bukit. Di tengah jalan aku bertemu dengan seorang pesepeda lainnya. Saat bertemu persimpangan, aku iseng mengikuti pesepeda itu yang mengambil jalan cor desa yang menanjak curam. Di puncak tanjakan itu, tampak pesepeda itu beristirahat bersama seorang pesepeda lainnya. Di tempat mereka beristirahat ada deretan rumah joglo yang ternyata biasa dimanfaatkan sebagai spot foto selfie.

Aku kemudian menyandarkan sepedaku untuk bergabung dengan dua pesepeda yang sedang beristirahat itu. Di puncak tanjakan ini, aku bisa lihat jalan yang telah kulalui menurun curam dan di kejauhan tampak dataran Prambanan yang indah. 
Pemandangan dari puncak tanjakan


Puncak tanjakan itu sendiri merupakan sebuah perempatan. Dari sini ada tiga pilihan arah yang bisa kupilih. Dalam obrolan dengan pesepeda itu aku diberi tahu kalau belok ke kiri, aku akan menuju tempat bernama Spot Riyadi. “Apa itu Spot Riyadi?” aku bertanya pada pesepeda itu. Dia bilang aku tinggal ke sana untuk mengetahuinya. Jaraknya dari persimpangan itu juga hanya sekitar 500 meter.

Setelah meninggalkan puncak tanjakan itu, aku kemudian menuju Spot Riyadi. Jalanan menuju tempat itu merupakan jalan beton yang luas dan cukup nyaman dilalui pengendara. Dua buah truk saja mungkin bisa saling berpapasan di jalanan ini.

Suara musik dangdut terdengar sesaat sebelum aku mencapai Spot Riyadi. Aku mampir ke sebuah warung dulu untuk membeli minum air mineral. Setelah itu, barulah aku memasuki kawasan Spot Riyadi.

Seperti yang sudah kuduga, Spot Riyadi merupakan sebuah spot foto di atas bukit yang dari sana kita bisa melihat hamparan pemandangan di bawah. Bila langit cerah, pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu dapat terlihat dari sini. Saat sampai di sana, jam sudah menunjukkan pukul 8.15. Hampir satu jam setelah aku meninggalkan Stasiun Brambanan.

Dari atas Spot Riyadi, hamparan pemandangan dataran Prambanan terpampang. Tempat ini memang tempat selfie. Di dekat sana ada warung makan khusus wisatawan. Sepertinya tempat ini dikelola secara pribadi. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan tempat ini.

Tak ingin berlama-lama di sana, aku kemudian menuju ke Candi Barong. Sebelumnya aku memang belum pernah ke candi itu. Aku diberi tahu jalan menuju Candi Barong dari bapak pemilik warung tempat aku membeli air mineral. Dan aku mengikuti arahan sang bapak untuk menuju ke sana.

Sepedaku di atas Spot Riyadi
Jangan sampai lupa selfiee :)
Candi Barong

Berbeda dengan jalan ke Spot Riyadi yang tadi kulalui, jalanan Candi Barong justru menurun dan berbatu. Jalanan itu membelah sebuah perkampungan kecil di atas bukit. Awalnya, jalan menurun itu masih terasa landai. Tapi kemudian jalanan menurun curam. Aku harus menuntun sepedaku karena aku takut remku blong saat menuruni jalan itu. Belum lagi jalanan bergeronjal dan berbatu.

Tak lama setelah menuruni jalan itu, sampailah aku di pinggir sebuah dam. Bagiku, dam itu tampak eksotis karena dikelilingi pepohonan dan perbukitan, seakan aku sudah berada di negeri dongeng. Waktu aku  ke sana, tampak seorang pria sedang turun ke dam untuk mencari ikan.

Dam Dawangsari
Setelah melewati dam itu, jalanan sedikit menanjak. Tak sampai lima menit, sampailah aku di Candi Barong. Bangunan candi itu tampak begitu eksotis. Letaknya berada di tanah yang lebih tinggi dari tanah di jalan tempatku berpijak. Candi itu berdiri megah di kejauhan sana. Dari balik pagar, aku hanya bisa menyaksikan kemegahan candi yang ujung atapnya seperti menantang cakrawala.

Saat aku sampai di sana, kompleks wisata Candi Barong belum dibuka untuk umum. Aku hanya bisa berfoto selfie di depan pintu pagar. Lagi pula ada satpam penjaga yang selalu siap siaga menghalau siapapun yang berani-beraninya masuk ke kompleks wisata itu saat masa pandemi seperti ini.

Dari papan keterangan yang kubaca, Candi Barong merupakan salah satu candi yang berada di atas bukit Batur Agung yang memiliki ketinggian 199,27 mdpl. Candi ini ditemukan pada tahun 1915 oleh ilmuwan Belanda. Pada awalnya, candi ini bernama “Candi Sari Sorogedug”. Disebut Candi Barong karena adanya ornamen wajah Batara Kala yang dalam bahasa Jawa juga disebut Barongan.  

Candi Barong
Lagi-lagi Selfie
Puas memandang Candi Barong, aku kemudian memutuskan meninggalkan tempat itu. Mungkin lain waktu kalau masa pandemi sudah berlalu aku bisa masuk ke dalam. Tapi di dekat Candi Barong sebenarnya masih ada candi lain. Letaknya  tak sampai 20 meter dari kompleks Candi Barong. Candi itu bernama Dawangsari.

Karena belum berwujud bangunan, Dawangsari lebih dapat disebut situs dari pada candi. Sebagian besar penampakan di sana hanyalah batu-batuan yang berserakan dan bertumpuk. Di salah satu bagian halaman situs itu, tampak batu-batu yang ditumpuk telah menyerupai suatu bentuk seperti stupa. Entah nantinya tumpukan batu itu akan berwujud apa, hanya penyusunnya yang tahu.

Dari papan yang ada di sana, Situs Dawangsari sebenarnya sudah ditemukan pada tahun 1915. Penelitian intensif terhadap situs ini dilakukan pada tahun 1987 sampai 1989. Namun penelitian itu terbengkalai selama 11 tahun dari tahun 1989 sampai 2000. Hingga kini, pemugaran atau eskavasi di Situs Dawangsari berlum satupun yang menghasilkan wujud candi.
Situs Dawangsari
Sejarah Situs Dawangsari
Stupa?

Rantai Sepeda Lepas

Puas menjelajahi bukit dan menemukan dua situs candi serta satu spot selfie, aku memutuskan untuk mencari jalan turun dari atas bukit dan kembali ke dataran. Namun tak jauh setelah meninggalkan Candi Dawangsari aku mengalami musibah. Tak tahu mengapa tiba-tiba saja rantai sepedaku bagian depan lepas dan sulit dipasang kembali. Aku pikir awalnya ada makhluk halus yang iseng menggangguku karena aku telah tanpa izin berfoto ria di Situs Dawangsari yang mungkin saja menjadi tempat tinggal mereka.

Saat itu jalanan sepi dan sedikit menanjak. Rantai sepedaku terjepit pada bagian rangka sepeda bagian bawah. Perasaanku bercampur antara takut dan panik. Takut karena kejadian ini aku jadi terbayang hal-hal horror seperti pada video uji nyali yang aku sering lihat di YouTube, panik karena kalau sampai tak bisa memperbaiki rantai yang lepas ini, aku harus menuntun sepeda sampai ketemu bengkel sepeda. Dan kebetulannya saat itu aku sedang berada di jalanan bukit yang sepi dan pastinya sulit untuk menemukan bengkel sepeda di sana.

Dalam segala keputusasaanku, ada seorang pengendara motor yang rela menghampiriku dan bertanya apa masalah yang menimpaku. Setelah kujelaskan, dia kemudian mengarahkanku bagaimana cara yang tepat memperbaiki rantai sepeda yang lepas dan terjepit. Dengan mengikuti instruksinya, ternyata mudah saja untuk memperbaiki rantai sepeda itu. aku pun dapat kembali melanjutkan perjalanan.

Jalan Rahasia

Setelah rantai sepeda berhasil diperbaiki, aku kemudian melanjutkan perjalanan. Waktu itu aku mematikan hp karena baterai-nya sudah mau habis dan aku juga lupa membawa charge. Karena itulah aku tidak bisa mencari jalan dengan bantuan Google Maps. Praktis aku hanya menggunakan insting untuk mencari jalan turun dari bukit.

Saat itu jalan yang kulalui adalah jalan kampung ber-cor beton. Pada awalnya jalan kampung itu melintas di pinggir tebing yang kalau menghadap ke sebelah kanan akan terhampar pemandangan dataran Prambanan yang luas. Namun selang beberapa meter jalanan memasuki daerah perkampungan. Jalanan di perkampungan ini berkelok-kelok.

Pada awalnya aku mengira bahwa jalan kampung ini akan mengarah sampai ke jalan raya Tebing Breksi. Oleh karenanya aku begitu bersemangat mengikuti jalan kampung itu. Tapi setelah melewati perkampungan itu aku menemukan sebuah area kompleks yang aneh.

Area itu dibatasi sebuah pagar dan di dalam area itu tampak sebuah tebing kecil. Ada sebuah tangga batu untuk menuju ke puncak tebing itu. Dan di dalam juga terdapat sebuah lampu jalan dan sebuah papan penunjuk arah. Sebenarnya tempat apa itu?

Tempat apa ini?
Sambil menahan rasa ingin tahu, aku terus melanjutkan perjalanan. Hanya beberapa meter kemudian aku bertemu seorang bapak dan seorang ibu yang sepertinya sepasang suami isri sedang menjemur padi di tengah jalan. Aku bertanya pada mereka berdua jalan manakah yang harus aku lewati untuk turun dari bukit itu.

Bapak dan ibu itu berbeda pendapat. Sang ibu bilang kalau aku harus putar balik lagi. Tapi sang bapak bilang kalau terus mengikuti jalan ini, aku bisa turun bukit melalui jalan raya menuju obyek wisata Candi Ratu Boko. Namun untuk melewati jalur ini aku harus menerobos blokade lockdown yang belum dibuka.    

Tapi sang ibu kurang setuju. Menurutnya akan sulit untuk sampai ke jalan Candi Ratu Boko karena nantinya aku harus melalui persimpangan. Sang ibu mungkin takut kalau di persimpangan itu aku memilih jalan yang salah dan akhirnya kesasar. Lebih baik putar balik saja karena menurutnya itu akan lebih aman.

Hanya saja sang bapak sepertinya yakin kalau aku tidak akan kesasar. Dia memberi tahu padaku secara lisan bagaimana cara sampai ke jalan Candi Ratu Boko dan mana pula persimpangan yang benar. Aku memilih ikut saran sang bapak sambil terus mengingat petunjuk darinya. Sejujurnya aku juga takut kesasar. Tapi di sisi lain aku juga penasaran di manakan jalan itu akan berakhir.

Untuk dapat melanjutkan perjalanan, aku harus menembus blokade lockdown setinggi 1,5 meter. Namun ternyata aku tak bisa menyisipkan sepedaku melewati kolong blokade yang terlalu sempit dan terlalu tinggi pula kalau untuk ditembus lewat atas.

Akhirnya aku menyisipkan sepedaku ke sisi kiri jalan dengan dibantu sang bapak. Sepertinya bapak itu memang sengaja kembali menghampiriku untuk memastikan apakah aku bisa melewati blokade itu atau tidak. Di sana ada gundukan tanah kecil yang tidak terhalang oleh blokade lockdown yang sebenarnya terlalu sempit untuk dilalui sepeda. Untungnya berkat sang bapak yang membantuku mengangkat sepeda dari sisi seberang, aku bisa melewati blokade itu.

Walaupun sudah bercor beton, di sisi kiri jalan itu terdapat jurang dan memiliki turunan yang curam. Sementara di sisi kanannya, terdapat pagar yang membatasi jalan itu dengan kompleks wisata Candi Ratu Boko. Sang bapak memberi saran agar sepedaku dituntun saja saat melewati jalanan itu. Lagi pula, di tengah-tengahnya banyak ranting dan dedaunan yang berjatuhan.

Setelah sekitar 500 meter, aku kembali menemukan barikade lockdown. Barikade itu benar-benar menutup jalan sepenuhnya dan tidak ada sedikitpun celah yang bisa kulalui. Dengan beraninya aku menembus lockdown itu dengan melebar ke sisi kiri jalan.

Di sana sebenarnya tidak ada jalan. Yang ada hanyalah tanah yang tidak rata dengan pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Karena jalanan ter-lockdown, aku terpaksa melewati tempat itu. Di sana aku harus menuntun sepeda, memerosokkannya ke bagian tanah yang lebih rendah, menjatuhkannya, dan lain sebagainya. Untungnya sepedaku ini sudah banyak bagian yang rusak jadi aku sampai hati kalau harus memperlakukannya sedemikian rupa. Kalaupun ada bagian yang rusak lagi, tinggal diperbaiki saja sekalian dengan bagian-bagian yang rusak lainnya.  

Setelah melewati barikade lockdown itu, aku menemukan sebuah persimpangan. Mungkin di sinilah letak persimpangan yang dimaksud. Aku mengambil jalan ke kanan sesuai saran sang bapak. Sebenarnya kalau dipikir-pikir cukup mudah untuk menemukan jalan tembusnya. Tinggal kuturuti saja pagar batas itu sampai bertemu jalan beraspal yang mengarah ke pintu gerbang obyek wisata Candi Ratu Boko.

Dalam perjalanan menyusuri batas luar kawasan wisata itu, aku menemukan sebuah perkampungan kecil. Perkampungan itu masih berbatasan dengan kompleks wisata Candi Ratu Boko. Di perkampungan itu banyak tumpukan batu-batu candi yang belum tersusun. Karena itu aku berpikir sebenarnya kompleks percandian Ratu Boko itu sangat luas. Tak hanya candi utamanya yang banyak diketahui orang, tapi ada juga candi-candi di sekitarnya yang belum ditemukan.

Aku terus menyusuri jalan itu sampai bertemu pintu gerbang kompleks wisata itu bagi para karyawan yang bekerja di sana. Tak sampai 100 meter dari sana sampailah aku di jalan Ratu Boko yang beraspal itu. Melalui jalan itu aku turun bukit dan kembali ke dataran Prambanan dengan hamparan rumah dan pesawahannya.

Sarapan

Aku mengayuh sepeda sambil mendengarkan suara perutku yang terus memberontak minta diisi. Aku urungkan niatku untuk menjelajahi daerah Bantul karena hari sudah semakin siang. Akhirnya aku memutuskan melakukan perjalanan pulang melalui rute Berbah.

Untuk melalui rute ini aku harus berjalan kurang lebih 3 km ke selatan. Lalu ketemu persimpangan kecil belok kanan ke arah Berbah. Walaupun jalannya kecil, sebenarnya jalan itu tembus sampai Ring Road Timur lalu JEC dan kemudian masuk ke wilayah Kota Jogja.

Jalan itu melewati hamparan pesawahan yang luas. Beberapa bukit kecil terlihat di kejauhan. Aku sebenarnya ingin menjelajahi bukit-bukit kecil di sana. Konon salah satu bukit menjadi istana makhluk halus.

Tempat Kerajaan Makhluk Halus?
Selain itu di daerah itu terdapat beberapa tempat wisata dan situs sejarah seperti Lava Bantal, Candi Abang, Goa Sentono, dan Goa Jepang. Dengan melewati rute itu, tempat-tempat wisata itu bisa saja kukunjungi. Tapi hari sudah semakin panas dan aku ingin sudah tiba di rumah sebelum waktu dhuhur tiba.

Selain lapar, aku juga merasakan haus. Rasa haus ini membuatku mengayuh sepeda dengan kepayahan. Sebenarnya banyak warung yang kulewati. Tapi entah mengapa pilihanku jatuh pada jajanan es dawet keliling yang kebetulan sedang berhenti di pinggir jalan. Dengan beragam campuran bahan yang entah ku tak tahu apa saja namanya, es dawet itu terasa sangat segar. Harganya juga murah, hanya 2.000 rupiah.   

Aku tiba di daerah Pasar Berbah sekitar pukul 10.25. Aku mampir saja  salah satu angkringan untuk sarapan. Saat itu Pasar Berbah ramai oleh aktivitas pedagang dan pembeli. Tukang parkir tampak sibuk mengatur kendaraan. Para karyawan pabrik juga lalu lalang dengan seragam perusahaannya.

Saat sudah duduk di bangku dan memesan makanan, sejujurnya aku sedikit menyesal karena telah memilih angkringan itu. Di sana, jajanan-jajanan dibiarkan terbuka tanpa pengaman. Penjualnya tidak menggunakan masker, begitu pula dengan seorang pembeli di sana.

Bayangkan, apabila mereka bersin tak disengaja atau tangan mereka yang kotor penuh dengan virus menjamah makanan-makanan itu satu per satu. Bisa saja pembeli lain tertular virus dari sini. Apa lagi kemungkinan banyak karyawan pabrik dan juga petugas pasar yang makan di sini. Membayangkannya saja aku sungguh ngeri. Tapi Bismillah saja, semoga tidak terjadi apa-apa.
Setelah sarapan di angkringan itu dengan segelas jeruk hangat, dua bungkus nasi kucing, dan dua gorengan, aku melanjutkan perjalanan pulang.

Perjalanan Pulang

Hari semakin panas. Jalanan semakin padat kendaraan bermotor. Aku mengayuh sepedaku sendiri tanpa didampingi seorang teman. Bagiku sebenarnya ini tidak masalah. Lagi pula aku memang suka bersepeda jauh sendiri kecuali kalau memang ada teman yang bersedia diajak bersepeda jauh dan bersedia pula diajak rekoso bareng.

Tubuhku terbakar di bawah sinar matahari. Jalanan kota Jogja kulalui. Melewati depan Kebun Binatang Gembira Loka, melewati Nol Kilometer, melewati Jalan Wates, Gereja Gamping, Stasiun Patukan, lalu sebelum sampai rumah, aku sempatkan dulu mampir di Indomaret untuk membeli minuman Pocari Sweat.

Setelah sampai di rumah, aku segera mandi dan mencuci pakaianku. Ya, semoga aku tak tertular Virus Corona gara-gara perjalanan ini. Amin!

Sampai jumpa di perjalanan-perjalanan berikutnya !!  


Sampai jumpa pada perjalanan berikutnyaa !!

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...