Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2020

Novel Kehidupan

(Pexels/Elina Krima)


Gedung sekolah kami jadi satu dengan gedung asrama. Saat jam belajar malam hari selepas Isya’, kami biasanya keluar dari kamar asrama masing-masing dan belajar di gedung sekolah ini. Gedung sekolah kami terdiri dari empat lantai. Aku biasanya belajar di lantai empat karena tempat itu paling sepi.

Teman-teman yang lain kebanyakan belajar di lantai satu, lantai dua, atau paling mentok lantai tiga. Bisa dibilang, akulah yang biasanya belajar di lantai empat seorang diri. Memang, untuk menuju ke sana, aku harus mengeluarkan tenaga ekstra. Itulah kenapa banyak santri yang enggan untuk rela capek-capek belajar di lantai empat.

Dari sini, aku bisa melihat pemandangan kota. Kendaraan bermotor saling bergantian melintas di persimpangan, lampu gedung-gedung tinggi berkedip, orang-orang berjalan kaki, dan samar-samar di ujung sana deretan perbukitan bisa terlihat. Kapan waktu aku juga melihat indahnya bulan purnama dari atas sini.

Lorong lantai empat benar-benar sepi. Mungkin banyak orang takut ke sini karena hal-hal menakutkan bisa saja terjadi tiba-tiba. Sekolahku berdiri tahun 1926. Dulunya sebelum gedung ini berdiri, sekolahku masih menggunakan gedung lama yang memiliki dua lantai. Namun pada tahun 2006, gedung lama itu banyak mengalami kerusakan akibat gempa. Dengan alasan keamanan, akhirnya gedung lama diruntuhkan dan didirikanlah gedung baru yang lebih megah.     

Konon waktu masih memakai gedung lama, bila malam tiba sering terdengar suara langkah sepatu yang katanya itu merupakan suara langkah dari arwah seorang serdadu Belanda. Urban legend di sekolahku itu masih terpelihara sampai sekarang. Beberapa penghuni asrama mengaku pernah mendengar suara itu malam hari pada beberapa titik di lingkungan asrama dan gedung sekolahku.

Selama belajar di sini, aku biasanya menyalakan salah satu lampu lorong dan tentunya lampu di tangga menuju lantai empat juga aku nyalakan. Namun suatu hari, saat aku tiba di lantai empat, sudah ada seorang santri lain tiba di sana duluan. Dia teman sekamarku. Namanya Wildan. Dia tampak memandang langit, seakan sedang menerawang hari esok yang tak menentu. Saat itu langit cerah, penuh bintang-bintang.

Aku hanya menyapanya sebentar. Lalu duduk agak jauh dari posisinya. Sambil membaca-baca buku pelajaran sesekali aku curi pandang ke arahnya. Dia terlihat sedang bersenandung sambil wajahnya tetap menengadah ke langit.

Aku teruskan membaca. Aku suka pelajaran sejarah. Walaupun esok hari tak ada pelajaran itu, buku sejarah tetap kubawa dan kubaca sepanjang jam belajar itu.

Saat aku sudah membaca sekitar lima halaman, aku curi pandang ke dia lagi. Wildan masih memandang langit dan masih pula bersenandung. Dia sadar sedang kuperhatikan. Lalu dia memintaku mendekat ke arahnya.

“Mendekatlah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan,” ujarnya lirih. Awalnya aku sungkan juga Tapi aku perlahan mendekat dan duduk berhadapan dengannya. Pandanganku mengarah padanya namun pandangannya masih menengadah ke langit.

“Emang ada apa?” tanyaku.

“Kamu bisa bantu aku?”

“Hmm, bantu apa dulu?”

“Cukup duduk dan dengarkanlah. Aku hanya ingin bercerita. Kamu membantuku dengan cukup duduk di situ saja dan mendengar ceritaku. Mungkin sewaktu-waktu aku bisa meminta pendapatmu.”

“Oh, oke. Baiklah. Tapi waktu kita terbatas. Maksudku, jam sepuluh aku harus balik ke kamar. Aku ingin tidur. Kalau kurang tidur atau tidur kemalaman aku akan merasa tidak fit keesokan harinya dan tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik.”

“Beri aku waktu setengah jam untuk bercerita.”

Lalu aku menyanggupinya. Bagaimanapun tidak seperti biasa-biasanya. Malam itu dia memintaku duduk dan mendengarkannya bercerita. Di kelas, Wildan adalah orang yang supel, pandai bergaul, semua orang menyenanginya. Tentu mudah baginya untuk bergabung dengan kelompok belajar teman-teman lainnya di lantai satu, dua, atau tiga. Tak perlulah dia berada di sini, di lantai empat. Lantai empat yang selama ini hanya jadi milikku seorang.

“Sebelum bercerita, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu memilih belajar di sini, sendiri pula. Teman-teman yang lain belajar bersama, yah, kalau memang benar-benar belajar. Tapi setidaknya mereka bersama. Sedangkan kamu, sendiri pula di sini. Apakah kamu tak ingin bergabung dengan mereka? apakah kamu tak suka pada mereka? kalau memang begitu bilang saja! Kita terbuka di sini. Tak akan ada yang dengar. Hanya ada aku dan kamu di sini. Dan mungkin hembusan angin malam ini juga bisa jadi saksi. Jadi kalau ada masalah, katakanlah!”

Aku awalnya bingung mau jawab apa. Orang satu ini benar-benar membingungkan. Awalnya minta dengarkan bercerita, tapi kemudian malah minta aku yang beri penjelasan kenapa aku suka belajar di sini, sendiri pula! Bagiku, tak ada pentingnya dia tahu urusanku belajar di sini sendiri. Mau belajar di mana terserah aku selama tak ada peraturan dilarang belajar sendiri! lagi pula dengan belajar sendiri aku merasakan suasana yang lebih kondusif. Lebih tenang. Ilmu dan wawasan bisa masuk ke kepalaku dengan mudahnya. Tak peduli apa kata orang, tak peduli apa gunjingan orang. Aku akan terus berada di sini.

Setelah aku menjelaskan alasanku kepadanya, suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk turun, kembali ke kamar bersama. Saat tiba di kamar, teman-teman tampak sudah tidur semua. Lampu sudah dimatikan.

Keesokan paginya, aku melihat Wildan tampak seperti hari-hari biasa. Di kelasku, dia adalah salah satu siswa yang pintar, walaupun bukan yang nomor satu. Duduknya di kursi paling depan di deretan tengah. Aku sendiri juga duduk di kursi paling depan, namun di deretan paling kiri. Nilai-nilaiku masih berada di bawah nilai-nilanya.

Aku dan Wildan tinggal pada salah satu kamar di asrama kami. Di kamar kami ada 13 anak lainnya. Karena tinggal di kamar yang sama, pada dasarnya kami berteman baik. Hubungan kami juga tidak sebegitu berjarak. Hanya saja kami memang jarang menghabiskan waktu bersama. Bila sore hari, kami mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang berbeda.

Namun malam itu, tampak dia dia kembali berada di lantai empat, dan kemudian memintaku untuk duduk di sampingnya.

“Masih ingat dengan permintaanku kemarin?” tanya Wildan padaku. Aku mengangguk. Dia sepertinya benar-benar ingin bercerita kali ini. Waktu sedikit lebih panjang karena ini masih jam belajar. Tapi untuk kali ini mungkin sebaiknya aku mengorbankan jam belajarku untuk mendengarkan ceritanya. Aku juga penasaran hal apa yang akan diceritakan anak satu ini.

“Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apa cita-citamu?” tanya Wildan padaku.

“Penulis novel,” jawabku. Setiap orang-orang bertanya apa cita-citaku, aku selalu memberi jawaban itu tanpa pernah memberikan jawaban yang lain.

“Sebenarnya aku juga ingin bercita-cita menjadi penulis novel,”

Jawabannya sedikit membuatku terkejut. Tak pernah terbayang kalau kami memiliki cita-cita yang sama.  

“Suka baca novel juga dong?” tanyaku.

“Tidak sama sekali.”

“Lalu apa buku yang suka kamu baca?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana mau jadi penulis novel kalau tidak membaca? Bagaimana kamu tahu bagaimana membuat cerita yang bagus kalau tidak suka membaca?” Di sini aku sedikit terbawa emosi. Aku kira dia hanya ingin main-main denganku dengan meniru apa cita-citaku.

 “Kukira tak perlu rajin membaca kalau ingin jadi penulis hebat. Yang kamu perlukan hanya merenung.”

“Merenung sambil melihat langit?”

“Ya, tepat sekali. Seperti apa yang aku lakukan ini. Di langit kau bisa melihat bintang-bintang. Di sana ada banyak bintang. Tiap bintang punya galaksinya sendiri. Matahari hanyalah satu dari sekian banyak bintang itu dan punya galaksinya sendiri. Di dalamnya ada sembilan planet yang mengelilinginya, salah satunya Bumi.

Maksudku, aku ingin menyampaikan padamu bahwa kemungkinan ada Bumi-Bumi lain pada galaksi-galaksi lain di sana. Di sana pula kemungkinan ada makhluk-makhluk lain seperti kita ini. Makanya aku sedikit percaya kalau makhluk seperti alien itu mungkin benar adanya.

Intinya, yang ingin aku sampaikan di sini adalah, tak perlu membaca buku untuk menulis cerita. Novel itu bercerita tentang kehidupan. Kita hanya perlu melihat kehidupan itu sendiri. Apa yang ada di depan kita, di depan mata kita, ya itulah kehidupan. Tak perlu baca buku lain, novel lain. Cukup kita baca kehidupan itu sendiri. Kita lihat apa yang ada di sekitar kita, lalu kita tuliskan. Lalu jadilah apa yang namanya novel. “Novel Kehidupan”, novel yang bicara jujur soal kehidupan,” jelasnya.

“Lalu kira-kira novel seperti apa yang akan kamu tulis dari hasilmu melihat bintang-bintang di langit?” Tanyaku.

“Tidak ada”

“Lalu?”

“Tidak ada. Aku tidak bersungguh-sungguh ingin menulis novel. Aku hanya bercanda kalau aku ingin menjadi novelis,” katanya sambil tertawa. Sial, aku kena jebakannya.

“Tapi, karena kamu ingin menjadi penulis novel, aku punya permintaan buatmu,” ujarnya.

“Permintaan apa?”

“Tulislah novel tentang diriku. Tentang kehidupanku. Segalanya yang kamu ketahui tentangku tulislah. Walaupun kamu tak tahu banyak tentangku, tapi kamu tentu tak membutuhkannya. Tak perlu tahu banyak kalau menulis novel, kan? Yang pelu kamu miliki hanyalah khayalan. Berkhayallah tentang diriku sebanyak-banyaknya. Maksudku, kamu bisa berkhayal tentang bagaimana masa depanku. Besok aku akan jadi apa. Tantangan seperti apa yang akan aku hadapi, cobaan seperti apa yang akan aku alami, seperti apa suksesku nanti? Secantik apa jodohku kelak? Akan jadi apa saudara-saudaraku? Seperti apa musuh bebuyutanku. Terserah. Semua itu terserah kamu. Tapi tolong buatlah novel tentang diriku.”

Semua permintaan itu terdengar aneh buatku. Tapi aku mengiyakannya. Walau bagaimanapun, aku memang bercita-cita sebagai seorang novelis. Aku harus punya banyak karya, aku harus menggali ide sebanyak-banyaknya. Tapi tetang Wildan, akan aku tulis seperti apa novel tentangnya nanti? Apakah dia akan tersinggung kalau aku menulis cerita tentang sesuatu yang buruk-buruk pada sosoknya? Sebagai pembunuh bayaran misalnya, atau sebagai seorang Playboy, misalnya. Sejujurnya permintaannya terdengar aneh buatku.

***
Kejadian itu telah sepuluh tahun berlalu. Kini aku adalah seorang novelis. Telah banyak novel yang aku buat. Aku mulai produktif menulis novel sejak masuk kuliah. Di sela-sela aktivitas kuliah, aku rajin menulis karya sastra baik itu puisi, cerita pendek, dan tentu saja novel. Di antara novel-novelku ada satu novel yang bercerita tentang Wildan. Aku menjadikan namanya sebagai tokoh dalam novel itu begitu pula dengan sifat-sifatnya yang kukenal selama kita masih tinggal bareng di asrama.

Dalam novel itu, aku bercerita tentang Wildan yang bercita-cita ingin menjadi seorang novelis, tapi dia tidak suka membaca dan menulis. Satu-satunya hobi yang ia miliki adalah memandang langit di malam penuh bintang. Tiap malam dia memandang bintang dan membayangkan ada kehidupan lain di sana. Ia membayangkan tiap-tiap kehidupan yang ada di langit sebagai novelnya sendiri. Di balik bintang-bintang itu ia bisa menemukan sebuah cerita.

Ia memandang bintang-bintang itu sama halnya seperti orang yang membaca buku, membaca novel. Dari sanalah ia menuliskan novel versi dirinya sendiri. Novel yang tidak pernah dipublikasikan. Novel yang hanya ada dalam pikirannya sendiri. Itulah yang ia sebut di kemudian hari sebagai “Novel Kehidupan.”

Setelah sepuluh tahun berlalu, bagaimana kabar Wildan sendiri? apakah dia benar-benar menjadi seorang mahasiswa sekaligus filsuf setengah waras yang terus mendengung-dengungkan soal “Novel Kehidupan” yang hanya ada di pikirannya itu?

Sayangnya dia telah tiada. Tak lama setelah upacara perpisahan sekolah kami, dia mengalami sebuah kecelakaan. Pada malam hari, motor yang ditumpanginya tertabrak sebuah bus yang melaju kencang secara ugal-ugalan di jalan raya. Saat itulah aku bersumpah tak akan pernah melupakan pertemuan kami malam itu di lantai empat gedung sekolah. Karya novelku yang juga berjudul “Novel Kehidupan” itu seutuhnya aku dedikasikan untuk almarhum Wildan.

Senin, 22 April 2019

Mei Si Pendiam


Saat sore hari, perpus kampus telah sepi. Gerombolan mahasiswa yang biasanya mengerjakan tugas kelompok di dalam perpus sudah bubar. Para pencari buku pinjaman juga tak sebanyak pada siang hari tadi. Sementara itu semburat kuning mulai muncul pada langit di balik jendela. Suhu ruangan terasa makin dingin.

Aku berjalan melewati rak-rak yang di sana berjejer rapi berrmacam buku. Dari rak yang berisi buku sejarah sampai rak yang berisi buku arsitektur.
Perjalananku terhenti tatkala aku sampai di meja belajar persegi seluas 2 x 2 meter. Dua buah kursi berdiri pada masing-masing sisi meja. Tapi yang menarik perhatianku bukanlah kursi-kursi itu. Melainkan dia yang duduk sendiri dan tampak serius dengan buku yang sedang ia baca.                                                                       
***

Aku pertama kali bertemu dengan Mei di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa. Waktu itu dia masih anggota baru. Aku sudah menjadi anggota di sana setahun sebelumnya. Saat perkenalan anggota baru, Mei datang dengan mengenakan kemeja kotak-kotak yang lengan panjangnya digulung. Untuk bawahannya dia mengenakan celana jeans. Selain itu, dia menggunakan kacamata dan rambutnya dikucir ponytail.

Tapi pada periode tersebut, dia tidak aktif di Pers Mahasiswa. Kadang-kadang ia datang, tapi seringnya ia absen. Bila datangpun, ia langsung pulang saat rapat telah selesai di saat kami masih melanjutkan nongkrong dan ngobrol sambil menikmati jamuan malam.

Di periode berikutnya, Mei terpilih sebagai sekretaris. Aku heran mengapa dia bisa dipilih untuk jabatan setinggi itu. Padahal dia tidak terlalu sering ikut kumpul rutin yang diadakan seminggu sekali. Keraguanku ternyata benar, ia masih terlihat canggung dengan anggota lainnya saat menjalankan tugas pertamanya. Terpaksa ia harus dibantu Pemimpin Umum untuk menuliskan nama para anggota baru yang hadir.

Selain itu, dia orangnya super pendiam. Tentu aku di sini tidak ingin mendiskreditkan para pendiam. Tapi dia, lebih dari pendiam, kalau lebih detailnya, seorang acuh tak acuh yang tidak pernah bicara. Bila kami sedang rapat di dalam ruang sekre, dia selalu bermain-main dengan laptop-nya seolah ada jurang pemisah antara dunianya dengan dunia di mana kami sedang rapat. Hampir tak pernah sekalipun dia menyapa teman-temannya, bahkan dengan sesama cewek sekalipun.

Pernah suatu hari aku bertemu dengan Mei di lobby perpus. Dia tampak asyik dengan Laptopnya. Air mukanya tampak serius, mungkin lagi mengerjakan tugas. Setelan pakaiannya saat itu membuatku sedikit terkejut. Dia mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan bawahan rok kain hitam sebatas lutut. Penampilannya itu membuatnya tampak seperti anak sekolahan pada waktu hari Jum’at, di mana para siswanya diwajibkan untuk mengenakan seragam batik.

Aku berjalan mendekat. Dan kemudian menyapa Mei.

“Hai, lagi ngapain?”

“Eh, kakak,” Mei tampak kaget dengan kehadiranku. “Ini aku lagi nyari bahan buat tugas.”

“Kamu nanti berangkat rapat, kan?”

“Iya kak.”

Mei kembali fokus ke layar laptopnya. Aku kemudian berlalu darinya. Setelah itu kami bertemu di rapat pers mahasiswa.

                                                                        ***

Mei langsung pamit pulang setelah rapat selesai. Di tengah hembusan asap rokok yang baunya makin menusuk itu mereka membicarakan berbagai macam topik. Mulai dari politik, pelanggaran HAM, musik, sampai menggosipi teman sendiri.

Saat itu, cewek-cewek yang biasanya ikut nongkrong setelah rapat satu oer satu pamit undur diri. Maka tinggallah para cowok termasuk diriku yang duduk mengelilingi sebuah meja. Kemudian seorang anggota berinisiatif menariki uang. Satu per satu anggota mengeluarkan uangnya. Setelah uang terkumpul, si penarik uang menuju motornya sendiri dan pergi. Tak sampai lima belas menit kemudian dia kembali dengan sebuah botol plastik yang telah diisi cairan. Perjamuan malam itu dimulai.  

“Mukanya kayak aku pernah lihat di film Japanese.”

“Japanese Sexy Teacher?”

“Dia buka kancing bajunya satu-satu. Terus kelihatan beha-nya sambil digoyang-goyanginnya susunya sendiri.”

“Punya-nya besar juga.”

“Yuk kita sedot isinya.”

“Ikkeh, ikkeh.”

Aku seperti biasa hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Apabila mereka tertawa, aku ikutan tertawa. Apabila mereka diam, aku ikutan diam.  

Cewek yang mereka bicarakan itu tak lain adalah Mei, si gadis Tionghoa berkacamata dengan rambut ponytail dan super pendiam itu.
***

Sepuluh bulan telah berlalu. Tak terasa, satu periode kepengurusan hampir berakhir dan akan berganti dengan periode kepengurusan yang baru. Majalah yang menjadi proyek utama kami selama satu periode sudah terbit. Sebagian besar dari tulisan kami dimuat di majalah itu. Kebetulan tulisanku dimuat di halaman pertama. Jadi bila halaman pertama dibuka, langsung muncul tulisanku.

Mei tidak menulis untuk majalah kali ini. Dia tidak datang pada pertemuan pertama dan begitu pula pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Namun saat hari di mana majalah sudah terbit itu, dia datang lagi. Waktu aku datang, dia sudah berada di dalam ruang sekre, sibuk dengan laptopnya. Sementara beberapa anggota yang lain berkumpul di luar ruangan sekre. Selain itu ada pula anggota yang langsung pulang setelah mengambil majalah. Aku lihat dia telah memegang salah satu majalah dan membacanya. Akupun juga ikut mengambil satu majalah, dan membacanya di sudut ruangan lain yang berjauhan dari tempat dia duduk.

Saat aku sedang asyik membaca tulisanku sendiri dan membolak-baliknya untuk membacanya dari awal lagi, tahu-tahu Mei sudah menghampiriku. Kemudian dia menyodorkan majalah yang ia baca dan memperlihatkannya padaku. Aku terkejut. Belum sempat aku menjawab sapaannya, dia melanjutkan.

“Tulisan kakak lumayan bagus tapi masih ada bagian yang membuat aku bingung.”
Suara itu bergema di telingaku seakan ada tawon yang menyengat telingaku. Dia sudah membaca tulisanku. Dia peduli tulisanku.

                                                                        ***

Setelah mendengar kata-kata Mei, aku langsung memintanya mengoreksi tulisanku. “Nih tolong kamu corat-coret tulisanku mana bagian yang bikin kamu bingung,” aku berkata padanya. “Nanti kalau sudah selesai bilang aku ya.”

Bagaimanapun, cukup jarang dia menghampiri seseorang untuk diajak bicara. Tapi saat itu, tanpa ada tanda-tanda, dia menghampiriku. Seakan ada magnet dalam dirinya yang membuatnya mendekat. Awalnya aku tak percaya. Tapi segera kuyakinkan kalau ini bukan mimpi. Dan yang lebih tak percaya lagi, dia telah membaca tulisanku. Padahal sebenarnya apa pedulinya dia terhadap tulisanku? Di saat teman-teman yang lain hanya peduli dengan tulisannya masing-masing?    

Dia datang lagi pada pertemuan selanjutnya. Aku langsung menghampirinya dan menanyakannya apakah tulisanku sudah dikoreksi atau belum. Dia mengaku belum mengoreksi tulisanku karena banyak tugas yang harus ia kerjakan. Dia meminta maaf, dan aku menjawab tak apa-apa.

Saat itu rapat telah selesai. Para anggota yang lain lanjut nongkrong sambil merokok di luar ruangan. Sementara Mei dan aku tetap di dalam ruangan. Kami kali ini duduk berhadapan.

“Kak, aku mulai saat ini baru mau belajar nulis lagi. Selama ini aku sibuk ngerjain tugas kuliah. Makanya jarang ikut kumpul,” dia tiba-tiba menberikan penjelasan tanpa ditanya.

“Ngomong-ngomong, tulisan kakak bagus. Aku mau belajar dari kakak.”

“Iya kah?,” tanyaku untuk memastikan apakah ia jujur atau sekedar memuji.

“Iya, sebenarnya di kos, kalau ada waktu luang, aku suka buat cerpen. Aku juga lagi menyusun cerita novel. Nanti kalau ada waktu, kakak baca ya?”

“Oke, tapi ngomong-ngomong, kamu nulis novel tentang apa?”

“Tentang kehidupan sehari-hari saja kak.”

“Misalnya?” tanyaku penasaran.

“Waktu masih SMA banyak cowok naksir sama adikku. Diantara mereka ada yang akhirnya memberanikan diri nembak. Walaupun dia terima, tapi biasanya belum ada sebulan, langsung diputusin. Padahal cowoknya itu udah rela ngasih apa saja buat dia. Boneka, tempat pensil, gantungan kunci, dan banyak lagi hadiah yang akhirnya cuma jadi barang pajangan di kamarnya. Terus biasanya cowok yang jadi pacarnya itu langsung dimusuhin cowok-cowok yang juga naksir sama dia. Tapi walaupun sudah jelas cuma akan dimanfaatin dan akan mendapatkan banyak musuh, pasti ada saja cowok yang nembak.”

Baru kali ini Mei bicara begitu banyak padaku. Aku hanya mendengar apa yang ia katakan. Aku tak ingin kesempatan langka untuk berbicara lama dengan Mei hilang begitu saja.
“Kamu sudah pernah pacaran?” tanyaku.

“Belum kak. Kakak gimana?”

“Sama, belum pernah juga.”

“Kenapa kak? Emang belum pernah nemu yang cocok sama kakak?”

“Ya pasti ada, tapi aku memilih untuk tidak pacaran,” aku menjawab tegas.

“Oh gitu ya, aku juga kak. soalnya ada seorang teman asramaku yang dulunya pintar, tapi sejak masuk kuliah dan mulai kenal sama cowok, dia nggak lagi berkembang. Waktu kami ketemu lagi, dia sudah nggak kelihatan lagi pintarnya. Topik obrolannya membosankan. Yang ada cuma ngomongin orang, habis itu mengeluh gini mengeluh gitu. Akhirnya cowoknya selingkuhin dia. Dia tambah mengeluh. ‘Enak ya, jadi cewek cantik kayak dia,’ katanya iri. Padahal waktu SMA dia termasuk cantik dan populer di sekolah. Semua guru kenal dia. Ikut cerdas cermat ke mana-mana. Tapi sekarang malah nggak jadi apa-apa.”

“Sama juga kayak orang yang ngelahirin aku. Secara biologis dia ibu kandungku. Tapi dia ninggalin aku sama papaku dan pergi sama cowok lain. Dia fotografer. Tapi foto-fotonya jelek, biasa-biasa saja.” Kemudian Mei menunjukkan foto karya ibu kandungnya kepadaku yang menurutnya biasa-biasa saja itu.

“Gara-gara ditinggal dia sekarang papaku suka bawa cewek ke rumah. Tiap hari cewek yang datang selalu berbeda dan baru pulang keesokan paginya,” dia melanjutkan cerita.

“Maaf ya kak kalau aku curhat banyak kayak gini.”

“Nggak apa-apa. Lagian kan curhat itu perlu untuk membuat kondisi kita lebih baik. Kadang-kadang aku juga suka curhat sama temanku juga kok kalau lagi galau,” jawabku.

“Iya kak. Curhat bisa membuat kondisi kita lebih baik. Aku setuju. Kalau begitu aku mau balik ke kos dulu ya kak. Sebelum jam 10 pintu gerbang sudah ditutup.”

Aku menganggukkan kepala untuk mempersilahkan dia balik ke kost. Dia kemudian berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruangan sekre. Setelah dia berlalu, aku kemudian ikut keluar dan bergabung dengan teman-teman yang lain.
Aku langsung dihujani pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan saat bergabung dengan mereka.

“Kamu tadi sama Mei ngapain aja?”

“Kok bisa sih waktu dia keluar mukanya merah gitu kayak habis nangis?”

Sejak saat itu aku mulai dikait-kaitkan dengan Mei. Tapi sebenarnya kesempatanku bertemu dia begitu jarang. Paling tidak seminggu sekali aku bertemu dia di sekre. Habis rapat dia biasanya ngobrol denganku di dalam. Aku tak peduli bagaimana teman-teman melihat kami. Kami asyik membicarakan banyak topik seperti novel, game, buku-buku pengetahuan, dan film. Ia ternyata telah membaca banyak buku, bermain banyak game, dan juga telah menonton banyak film. Rekomendasi-rekomendasinya yang ia berikan padaku sungguh banyak sampai aku harus mencatatnya pada selembar kertas. Satu buku novel berbahasa Inggris setebal 300 halaman saja ia bisa selesaikan dalam waktu sehari. Dan juga, ia sudah membuat sebuah game. Walaupun hanya game sederhana, tapi aku tertarik dengan konsep game yang ia jelaskan padaku. Game itu,  game petualangan menyelamatkan tuan putri yang terjebak di dunia yang lain.

Obrolan kami tak pernah habis. Aku kagum dengannya karena dia tertarik akan banyak hal dan tahu banyak hal pula. Ia bercerita tentang temannya yang pintar sampai seorang dosennya yang unik. Kehidupan sehari-harinya ia ceritakan pula. Saat itu aku baru tahu, di balik kepribadiannya yang super pendiam dan tampak kaku saat berbicara, tapi di dalam dirinya terdapat sebuah dunia yang penuh keajaiban. Dia bermain-main dalam dunianya sendiri. Tapi teman-teman yang lain tak pernah tahu itu. Rahasia-rahasia dunianya hanya ia berikan padaku, dan aku merasa pantas mendapatkannya.

Sekian

Si Anak Toilet

Si Anak Toilet keluar dari toilet saat bel masuk kelas berbunyi. Waktu istirahat telah berakhir. Pelajaran kembali dimulai. Ia masuk ke dalam kelas dengan baju seragam putihnya yang basah di bagian perut sebelah kiri.

Tapi saat itu ibu guru yang akan mengajar tak segera masuk ke kelas. Si Anak Toilet dengan resah menunggu. Kalau dia memang tidak datang, lebih baik kelas diakhiri saja dan aku bisa pulang, batin Si Anak Toilet. Waktu itu semua siswa-siswi sudah berada di kelas. Pintu kelas pun sudah ditutup.
Bila guru belum datang, para siswa biasanya berjalan dari satu meja ke meja lain, mengobrol dengan sesama siswa lain, tertawa-tawa, dan kadang sampai membuat kegaduhan. Lain halnya dengan para siswi. Mereka duduk di bangku mereka sendiri-sendiri. Ada yang mengobrol dengan teman semeja, ada pula yang mengobrol dengan teman di belakang bangku mereka yang juga siswi. Sementara itu Si Anak Toilet duduk sendiri di bangkunya sambil memainkan pensil dan penghapus di atas meja meniru adegan pemain bola yang sedang menggiring bola di atas lapangan. 

“Hey kamu, sini”, panggil Curut dengan suara keras kepada Si Anak Toilet. Suaranya terdengar seperti curut yang sedang berteriak. Si Anak Toilet menoleh ke arah Curut. “Cepetan sini, ada yang mau ngomong sama kamu”, Curut kembali memanggilnya diikuti dengan senyum licik khas curut.

Perasaan takut yang luar biasa entah mengapa menyelimuti Si Anak Toilet dalam sekejap. Curut menunggu di mejanya. Di sana ia duduk bersama Buaya Kurus. Dan kalau mereka berdua sudah duduk bersama dan meminta Si Anak Toilet untuk menghampiri mereka, hampir dipastikan 99,99% mereka akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.

Walau bagaimanapun, kejadian yang buruk hampir selalu menimpa Si Anak Toilet di kelas, minimal dua hari sekali. Pelakunya biasanya dua orang siswa bernama Curut dan Buaya Kurus. Terkadang perbuatan yang mereka lakukan membuat Si Anak Toilet menangis. Kalau sudah begitu, mereka biasanya segera meminta maaf dan satu atau dua hari kemudian mereka kembali melakukan perbuatan buruk lagi, kemudian meminta maaf lagi. Begitulah seterusnya di hari-hari berikutnya. Hingga pada suatu hari, mereka berdua sudah merasa lelah untuk meminta maaf. Karena itulah mereka menyalahkan Si Anak Toilet sebagai anak yang lembek dan cengeng.

Si Anak Toilet sendiri sudah tahu satu tempat yang paling aman untuk menjauh dari perlakuan buruk Curut dan Buaya Kurus. Setiap jam istirahat atau saat ada jam pelajaran kosong, dia selalu pergi ke toilet dan berlama-lama mengurung diri di sana. Terkadang ia melakukannya sambil buang air besar, merasakan sensasi nikmat saat tinja keluar melewati celah-celah anus, lalu bokong, dan “plung”, sang tinja melompat dengan indah ke permukaan jamban.

Tiap hari Si Anak Toilet berharap bisa buang air besar di toilet sekolah saat jam istirahat tiba. Alasannya, biar sesi berlama-lama di dalam toilet tidak terasa membosankan. Walau bagaimanapun, momen yang seperti itu tidak akan datang tiap hari. Kalau momen itu tidak datang, dia hanya bisa berdiri mematung di sana. Untungnya toilet di sekolah itu bersih. Jadi ia selalu merasa nyaman. Di dalam toilet itu, ia sering berpikir bagaimana caranya agar mendapatkan hari-hari yang menyenangkan di sekolah. Ia takut melaporkan perlakuan buruk Curut dan Buaya Kurus kepada guru ataupun orang tuanya. Kalau mereka tahu aku melapor, sesuatu yang lebih buruk pasti bakal menimpaku. Kalau ayah ibuku sampai tahu aku cuma jadi anak yang lemah di sekolah karena tak berani melawan, mereka malu punya anak laki-laki yang lemah dan tak punya harga diri, begitulah yang ada di benak Si Anak Toilet.

Di dalam toilet itulah ia sering mengungkapkan segala pikiran dan isi hatinya sendiri. Pada tahun pertama bersekolah, ia jatuh cinta kepada Mawar Merah. Bagi Si Anak Toilet (dan mungkin juga seluruh siswa dan siswi yang sekelas dengannya), Mawar Merah adalah gadis yang begitu sempurna. Sudah cantik, pintar, dan selalu dipilih untuk menjadi ketua kelas. Di kelas, gadis itu selalu menjadi ranking satu. Di mata Si Anak Toilet, Mawar Merah selalu terlihat cantik dan manis tak peduli raut muka apa yang ia tampakkan dan seragam apa yang ia kenakan. Si Anak Toilet selalu membayangkan ada saat di mana ia bisa berada dekat atau bisa bersenang-senang bersama gadis itu. Tapi ia tahu, khalayan seperti itu terlalu berlebihan dan mungkin hanya akan terjadi dalam mimpi basahnya.

Ada dua alasan utama kenapa Si Anak Toilet tak berani mengungkapkan perasaan cintanya pada Mawar Merah. Pertama, sekolah itu menerapkan peraturan di mana seorang siswa dan siswi tak boleh berduaan apalagi sampai berpacaran. Kedua, Si Anak Toilet sadar diri kalau posisinya dengan posisi Mawar Merah bak langit dan bumi. Mawar Merah adalah sosok gadis ideal yang pasti banyak siswa maupun siswi yang berjuang mati-matian hanya untuk bisa berteman dengannya. Sementara Si Anak Toilet tahu bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Selama tahun pertamanya ketika mereka sekelas, Si Anak Toilet hanya pernah sekali saling sapa dengan gadis itu dan ia mengenang momen itu sebagai salah satu momen terbaik dalam hidupnya.   

Saat menginjak tahun kedua, Si Anak Toilet tak lagi sekelas dengan Mawar Merah. Gadis itu telah pindah ke kelas unggulan yang dihuni oleh kumpulan siswa-siswi terunggul di sekolah itu. Kenyataan itu tak membuat Si Anak Toilet bersedih. Kalau berjalan menuju kelasnya, ia selalu lewat di depan kelasnya Mawar Merah dan kalau beruntung, ia bisa melihat gadis itu bercengkrama dengan siswa-siswi unggul lainnya. Hal inilah yang membuat Si Anak Toilet merasa bangga karena telah jatuh cinta pada salah satu siswi unggul di sekolah itu.

Tapi kebanggaan itu hilang begitu saja setelah Si Anak Toilet tahu kalau Mawar Merah sudah berpacaran dengan Buaya Kurus. Perasaan jatuh cinta kepada gadis itu juga hilang begitu saja seperti rumus matematika di papan tulis yang dihapus dengan seenaknya oleh siswa lain. Dunia ini memang sangat sangat tidak adil, protes Si Anak Toilet dari dalam hati sambil memandang ke arah jamban, seolah ia percaya bahwa hanya jamban yang dapat mengerti segala pikiran dan isi hatinya.

Setelah bel berakhirnya istirahat berbunyi, Si Anak Toilet langsung keluar dari toilet, berjalan menaiki tangga menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Dalam perjalanannya ke kelas, ia melewati kelasnya Mawar Merah, tetapi ia sudah tidak peduli lagi dengan gadis itu. Di koridor yang menuju ke kelasnya itu, biasanya banyak siswa nongkrong di depan kelas-kelas mereka sambil menunggu guru mereka datang. Si Anak Toilet berjalan melewati mereka. Salah seorang siswa tiba-tiba menariknya dan menunjukkan pada siswa lain sambil mengatakan kalau dia punya kemiripan dengan siswa lain itu. Hal itu membuat siswa lain itu menjadi jengkel bukan main. Bagi kebanyakan siswa atau siswi, disama-samakan dengan Si Anak Toilet merupakan perbuatan yang sungguh hina dan kelewat batas.

Ketika sampai di dalam kelas, Si Anak Toilet langsung menuju ke bangkunya dan duduk sendiri di sana. Tak ada siswa lain yang mendekat padanya, dan tak pula ia mempunyai niat untuk menghampiri meja siswa lain dan berinteraksi dengan mereka. Di kelas itu, ia menjauh dari dan dijauhi oleh teman-teman sekelasnya secara bersamaan. Tentu ia akan kesulitan mendapat kelompok jika ada tugas yang dikerjakan secara berkelompok. Kalau ada tuntutan tugas yang seperti itu, ia harus mencari kelompok yang bersedia menerimanya. Tapi tak ada kelompok yang bersedia menerima. Tiap kelompok meminta kelompok lainnya untuk menerima Si Anak Toilet sebagai anggota kelompok. Tapi masing-masing pihak kelompok menolaknya dengan mentah-mentah, seolah mereka saling melempar sebuah benda sial ke arah satu sama lain. Dan di akhir permainan, satu kelompok yang kalah harus menerima keberadaan benda sial itu.  

Dan pada akhirnya Si Anak Toilet mendapatkan kelompok.

***
Ketika semua siswa dan siswi sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Curut memanggil Si Anak Toilet.

“Hey kamu, sini, ada orang yang mau ngomong sama kamu”.

Si Anak Toilet dengan langkah ragu dan was-was berjalan menuju ke meja Curut dan Buaya Kurus. Mereka menunggu di bangkunya masing-masing yang berjejer di deretan paling belakang. Ketika Si Anak Toilet datang, mereka mengambil satu bangku lagi yang entah dari mana dan meminta siswa itu duduk. Dari raut majah mereka tampak senyum licik seperti senyum seorang pemburu yang tahu bahwa mangsanya telah masuk dalam jebakan. Si Anak Toilet bisa melihat senyuman itu. Di sini Curut terlihat lebih tenang dan tak tergesa-gesa.   

“Orang ini mau bicara sama kamu”, ujar Curut sambil menyodorkan telepon seluler kepada Si Anak Toilet. Orang yang mau bicara dengan aku? Tapi siapa?, katanya dalam hati dicampur rasa cemas. Diapun segera menerima telepon seluler itu dan berbicara dengan orang yang dimaksud.

“Halo”, orang itu menyapanya duluan.

“Iya?”

“Alex mana?”

“Alex?”

“Iya, Alex”

Si Anak Toilet bingung. Alex? Alex siapa? Seingatnya, ia tidak pernah punya teman bernama Alex. Di sekolahnya pun ia tidak pernah tahu ada seorang siswa atau siswi bernama Alex. Sekeras ia mengingat, gambaran wujud makhluk bernama Alex tak muncul juga. Akhirnya ia menyerah.“Alex??”

“Eh elu kalau ngomong biasa aja dong!”, orang itu mengancam. Diancam seperti itu membuat Si Anak Toilet ketakutan. Keringat yang muncul entah dari mana membasahi tubuhnya di balik baju seragam. Seluruh tubuhnya gemetar.

“Ini aku udah biasa aja kok”, kata Si Anak Toilet lirih, gemetar, dan ketakutan.

“Elu temennya si Alex kan??!”

 “Temen??”

“Elu kalo ngomong biasa aja dong! gue udah panas nih! Eh nama elu siapa??”

Si Anak Toilet menyebut namanya dengan pasrah.

“Rumah elu di mana??”

Setelah sempat ragu beberapa detik, Si Anak Toilet akhirnya menyebut daerah tempatnya tinggal.    

“Karena elu temennya Alex, entar gue datengin rumah elu. Gue obrak-abrik rumah elu, keluarga elu sekalian!”.

Si Anak Toilet kaget mendapat ancaman yang menakutkan itu. Ia langsung membayangkan rumahnya dan keluarganya. Dia punya ayah dan ibu yang menyayanginya. Diapun menyayangi mereka juga. Dia punya adik perempuan yang imut dan cantik. Tiap akhir pekan mereka selalu berekreasi bersama dengan mobil mereka. Pergi ke pegunungan, pergi ke pantai, pergi ke tempat sanak saudara yang jauh, ataupun makan makanan enak di restoran kecil. Secara umum, mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Namun dalam sekejap, keluarganya beserta kebahagiaan yang telah terjalin sejak lama itu akan hancur berkeping-keping, seperti sebuah guci kuno peninggalan sebuah kerajaan bersejarah rusak dan hancur di tangan orang yang tak mengerti betapa benda itu memiliki sejarah yang panjang.

Membayangkan nasib naas bakal menimpa keluarganya, Si Anak Toilet menjadi sangat takut dan sedih. Ia pun memohon kepada orang itu agar jangan melakukan hal itu. Tapi sudah terlambat, orang itu sudah berhenti berbicara. Percakapan itu langsung terputus. Si Anak Toilet hanya bisa menangis.
Tangisan itu mengundang perhatian segelintir siswa di kelas itu. Tapi sesungguhnya tak ada orang yang benar-benar bersimpati kepada Si Anak Toilet. Ketika seorang siswa bertanya pada Curut dan Buaya Kurus mengapa anak itu menangis, dua siswa itu menjelaskan, dan  penjelasan mereka membuat siswa yang bertanya itu langsung pergi, dengan mimik wajah yang mengisyaratkan sudah menerima dengan wajar penjelasan yang diberikan dua siswa itu.

Sepulang sekolah setelah mendapat telepon dari orang tak dikenal yang mencari seseorang bernama Alex, Si Anak Toilet bertekad untuk selalu berada di rumah. Bila orang itu datang dan hendak mengobrak-abrik rumahku, aku akan mengajaknya bicara baik-baik dan berkata bahwa aku tak mengenal Alex. Setelah itu dia akan pergi dan rumahku serta kehidupan keluargaku akan baik-baik saja, begitulah kata yang diucapkan dalam hatinya. Oleh karena itulah ia kemudian pura-pura sakit agar bisa selalu berada di rumah.       

Berpura-pura sakit adalah bakat lain yang dimiliki Si Anak Toilet selain memiliki ketahanan yang kuat untuk mengurung diri di toilet dalam waktu yang lama. Di hari berikutnya, ia tampak begitu lemas. Badannya hangat. Raut mukanya mengekspresikan wajah yang dapat membuat orang merasa kasihan. Ia pun dibawa ke dokter oleh ibunya. Oleh dokter, ia diberi obat dan diberi rekomendasi untuk istirahat di rumah selama tiga hari dengan surat izin dokter. Tapi setelah tiga hari, tak ada tanda bahwa kondisinya membaik. Oleh karena itu ibunya memberikan waktu istirahat tambahan untuknya selama tiga hari lagi. Di hari kelima, guru wali kelasnya datang ke rumahnya untuk menjenguknya dan memberinya paket buah-buahan yang dibelinya dari uang iuran siswa-siswi sekelas sebagai rasa empati. Guru wali kelasnya itu menyapa Si Anak Toilet, tersenyum padanya, menunjukkan rasa perhatiannya secara pribadi.  

Setelah seminggu beristirahat di rumah, Si Anak Toilet tak mampu untuk berpura-pura sakit lagi. Ia pun harus kembali bersekolah. Tapi selama seminggu itu, orang yang mengancam akan menghancurkan rumah dan keluarganya itu tidak datang. Ia pun kembali menjalani hari-hari di sekolah seperti semula, mengikuti pelajaran seperti semula, dan mengurung diri di toilet saat jam istirahat seperti semula. Tapi ancaman dari orang yang berbicara dengannya melalui telepon seluler itu masih menghantuinya, sampai kelak seseorang yang kemudian menjadi sahabatnya memberi tahunya akan satu hal penting.

***

Banyak orang yang sudah tahu bahwa suara orang tak dikenal yang berbicara dengan Si Anak Toilet melalui telepon seluler dan mecari seseorang bernama Alex itu hanyalah rekaman suara biasa. Rekaman yang bisa  di-download gratis di internet. Tapi Si Anak Toilet tidak tahu akan hal ini. Dia bukanlah orang yang pantas untuk mengetahui segala bentuk tipu daya dalam hidup. Dia terlalu polos untuk mengarungi kejamnya kehidupan dunia.

Kota Pelajar, 28 Agustus 2017

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...