Tampilkan postingan dengan label Virus Corona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Virus Corona. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2020

'Nyepur' Perdana di Era New Normal



Perjalanan jauh perdana di era New Normal


Di masa pandemi, protokol kesehatan adalah syarat wajib yang harus diterapkan oleh warga yang bepergian ke luar rumah. Setidaknya, mereka diwajibkan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak dengan orang di sekitar. Tapi alangkah lebih baiknya apabila kegiatan keluar itu bisa dikurangi dan melakukan segala aktivitas dari rumah: bekerja dari rumah, belajar dari rumah, liburan di rumah, dan apapun kegiatan lain yang bisa dilakukan di rumah itu akan lebih aman dari pada harus bepergian. Namun di rumah terus lama-lama bisa bikin jenuh, bosan, dan letih.

Tak terkecuali bagi diriku yang sudah berbulan-bulan harus menjalani Work From Home (WFH). Ketika hari libur pun, tak ada pilihan lain kecuali liburan di rumah. Tak ada piknik ke obyek wisata, tak ada agenda pergi ke luar kota, tak ada acara hang out bareng teman atau pacar (karena memang tidak punya pacar), tak ada acara pergi ke sebuah pertunjukan seni, dan tentu saja, tak ada kegiatan hunting foto kereta api.

Sejak pemerintah memberlakukan status gawat darurat Virus Corona pada pertengahan Maret, memang hampir tidak ada kereta api yang jalan. Namun setelah pemerintah menetapkan masa tatanan baru “new normal” pada awal Bulan Juni, penyekatan perbatasan wilayah dihapus. Obyek-obyek wisata kembali dibuka. Penduduk bisa kembali bepergian seperti saat sebelum masa pandemi dulu. Hanya saja pada saat keluar rumah, mereka harus mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Kesempatan untuk bepergian pun aku manfaatkan dengan kembali jalan-jalan naik kereta api. Selain demi menjaga kewarasan akal dan hati nurani akibat rasa jenuh yang makin memuncak, kerinduanku untuk bisa kembali menikmati perjalanan kereta api sudah tak tertahankan. Tak perlu pergi ke tempat yang jauh, cukup yang dekat-dekat saja. Asal rasa rindu ini bisa terobati, itu sudah cukup buatku. 

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Di awal Bulan September yang cerah, aku berkesempatan menjajal KA Bandara dengan rute Yogyakarta-Kebumen. Dalam perjalanan ini, aku ditemani Iqbal, karibku sejak masa SMA. Sesampainya di Kebumen nanti, rencananya kita akan hunting foto kereta api. Ya, setelah berbulan-bulan sepi, memasuki Bulan September ini jadwal perjalanan kereta bisa dikatakan hampir normal kembali.

Berpanas Ria di Jembatan Renville

Panas-panasan di Jembatan Renville demi momen kereta api

Saat kami tiba di Stasiun Yogyakarta, suasana sepi masih terasa. Memang, untuk penumpang yang ingin bepergian jarak jauh, PT Kereta Api mensyaratkan surat bebas Corona yaitu dengan minimal melampirkan bukti rapid test yang menyatakan non-reaktif. Syukur-syukur kalau bisa melampirkan hasil tes swab atau PCR yang menyatakan negatif. Di stasiun sendiri, telah tersedia layanan rapid test bagi penumpang yang ingin bepergian. Satu kali test penumpang harus membayar Rp85 ribu.

Suasana sepi masih terasa ketika kami memasuki gerbong KA Bandara. Berbeda dengan kereta api jarak jauh yang mensyaratkan surat bebas Corona, untuk naik KA Bandara ini, penumpang hanya perlu mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan pakaian lengan panjang, menggunakan masker, dan jaga jarak selama berada di dalam kereta. Selain itu, KA Bandara ini masih tergolong kereta api lokal yang jarak tempuhnya tidaklah jauh.

Pukul 8.35 pagi, KA Bandara meninggalkan Stasiun Yogyakarta menuju Kebumen. Kereta api melaju dengan kecepatan sedang, antara 70-85 km/jam. Selama perjalanan, kereta api yang kami naiki hampir tidak pernah berpapasan dengan kereta api lain kecuali KA Prameks dan KA Semen. Perjalanan itu tidak menemukan hambatan berarti. Kami tiba di Kebumen tepat waktu pukul 10.10 pagi.

Suasana Stasiun Kebumen pagi itu sungguh sepi. Tak banyak penumpang yang hendak bepergian, termasuk penumpang yang akan naik KA Bandara yang akan kembali ke Yogyakarta pada pukul 10.25. kami-pun langsung bergegas meninggalkan stasiun menuju tempat hunting pertama kami, Jembatan Renville.

Kami menuju Jembatan Renville dengan berjalan kaki. Suasana Kota Kebumen sangat sepi. Tak banyak kendaraan yang wira-wiri. Aku sendiri baru kali itu bepergian khusus untuk mengunjungi Kota Kebumen. Biasanya aku hanya numpang lewat, baik saat berkendara motor, mobil, maupun kereta api.

Lokasi Jembatan Renville sendiri hanya berjarak sekitar 1 km dari Stasiun Kebumen. Jembatan ini membentang di atas Kali Lok Ulo, salah satu sungai legendaris di Kebumen yang dulunya menjadi batas antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran.

Salah satu alasan kami mengunjungi jembatan ini adalah konstruksi bangunannya yang baru. Di sini, ada dua jembatan yang keduanya sama-sama baru menggantikan fungsi jembatan lama yang sudah dianggap uzur. Kedua jembatan baru ini tampak megah. Baru diresmikan pada Bulan April ini, tak lama setelah pandemi Corona merebak.

Di jembatan ini, kami rencana akan menunggu beberapa kereta api yang akan lewat. Menurut jadwal, di belakang KA Bandara, ada banyak perjalanan kereta api yang menurut kabar sudah dijalankan lagi. Ada KA Taksaka, ada KA Argo Lawu, KA Bogowonto, dan KA Mataram dengan tujuan Jakarta. Ada pula KA Pasundan dan Argo Wilis dengan tujuan Bandung. Dari arah barat, akan ada KA Anjasmoro tujuan Jombang dan KA Bengawan serta Fajar Utama Solo tujuan Stasiun Solo Balapan.

Tak butuh waktu lama bagi kami sampai Jembatan Renville. Baru beberapa menit, kami sudah memperoleh momen KA Taksaka, kereta api pertama kami hari itu. Kereta api ini berjalan pelan meliuk ke kanan di tikungan sebelum akhirnya melintasi Jembatan Renville sisi utara. Setelah melintasi jembatan kereta api kembali meliuk ke kiri di tikungan besar (tiber) setelah jembatan. Memang, selain karena adanya jembatan yang megah, lokasi hunting ini cukup bagus karena ada dua tikungan tempat di mana sang ular besi meliuk dengan indahnya.



KA Taksaka berjalan pelan melintasi Jembatan Renville

KA Taksaka pagi itu membawa 11 rangkaian kereta. Ditarik oleh lokomotif seri CC 206. Kereta meliuk indah melintasi tikungan setelah jembatan. Lalu menghilang di antara pepohonan.

Setelah KA Taksaka melintas, kami beranjak menuju ke sisi seberang jembatan untuk memperoleh momen kereta berikutnya. Untuk itu kami melintasi tempat penyeberangan khusus pejalan kaki yang berada di sisi salah satu jembatan kembar itu, berjalan di atas Kali Lok Ulo yang alirannya cukup tenang pagi itu. Sesampai di seberang jembatan, kami langsung mencari tempat terbaik untuk mengabadikan momen kereta api berikutnya.

Oh iya, pada kesempatan itu, tak hanya kami saja yang hunting foto kereta api di Jembatan Renville. Ada seorang railfans lain yang mengaku baru pertama kali mengunjungi lokasi hunting itu sejak jembatan baru itu selesai dibangun. Dia mengabadikan momen KA Taksaka tadi dengan sebuah kamera saku. Setidaknya kamera itu kualitasnya lebih baik dariku yang mengabadikan momen itu hanya dengan kamera hp yang kualitasnya seadanya.

Saat kami berbincang, dia sempat memberi tahuku sebuah kabar yang tidak begitu baik. Dia mendengar bahwa sejumlah perjalanan kereta api dibatalkan hari itu. Oleh pihak operator PT KAI, pembatalan perjalanan itu baru diberitahukan hanya tiga jam sebelum keberangkatan. Ada seorang temannya yang kebingungan karena terlanjur memesan tiket perjalanan kereta api yang akhirnya harus dibatalkan itu. Biaya perjalanan memang kembali 100 persen, tapi rencana perjalanan yang telah tersusun matang terpaksa harus mengalami perubahan.

Dia menyebutkan setidaknya ada tiga kereta api yang perjalanannya dibatalkan, yaitu KA Turangga, KA Malabar, dan KA Mutiara Selatan. Aku khawatir dan kemudian bertanya, lalu bagaimana dengan perjalanan kereta api lainnya? Dia berkata bahwa jadwal perjalanan lainnya tetap aman.

Mendengar kabar itu, aku bernapas lega walau sebenarnya sedikit terganggu mendengar ada jadwal perjalanan yang dibatalkan itu. Di sana kami berpisah dengan railfans itu. Railfans itu ternyata ingin melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Soka, sementara aku dan Iqbal memilih untuk tetap berada di lokasi jembatan untuk menunggu momen kereta api berikutnya.

Di pagi hari menjelang siang itu, matahari bersinar cukup terik. Aku tidak membawa topi sehingga harus menutup kepala dengan jaket sendiri. Dari ujung timur sana, kereta api tak kunjung datang. Setengah jam kami menunggu dan kereta tak kunjung datang pula. Satu jam kami masih bersabar untuk menunggu kereta yang lewat.

Karena tak kunjung ada kereta, aku mulai curiga. Aku mengecek jadwal kereta api di Stasiun Kebumen lewat internet. Dan ternyata benar, harusnya KA Argo Dwipangga sudah lewat. Harusnya pula di belakangnya, KA Mataram juga sudah lewat. Tapi kenyataannya kenapa hingga saat ini kereta-kereta itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya?

Kenyataan itu membuatku kecewa. Sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi tak satupun momen kereta api meliuk indah di jembatan yang terabadikan dengan kamera. Setelah berdiskusi sejenak, akhirnya aku dan Iqbal memutuskan menuju Stasiun Soka dan meninggalkan tempat yang makin panas itu dengan perasaan getir.

Desa Penghasil Genteng

Menyusuri rel menuju Stasiun Soka

Masjid yang ada di perkampungan tak jauh dari rel kereta sudah menyuarakan bunyi murottal. Ya, hari itu hari Jum’at. Suara murottal dinyalakan untuk menyambut para jama’ah yang datang. Sebagai seorang musafir, aku dan Iqbal tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah Sholat Jum’at. Lagi pula, belum tentu masjid-masjid di sana menerima kita yang datang dari luar kota.

Saat masa pandemi seperti ini, biasanya masjid hanya digunakan untuk warga yang tinggal di perkampungan sekitar. Karena pertimbangan itulah aku sempat berkata pada Iqbal alangkah lebih baiknya kalau kita tidak usah Sholat Jum’at saja. Kami memutuskan untuk terus berjalan menyusuri rel menuju Stasiun Soka. Siapa tahu saja dalam perjalanan nanti kami bertemu kereta api yang lewat.

Sejak aktifnya jalur ganda Kroya-Kutoarjo, Stasiun Soka menjadi stasiun mati. Lagi pula, jarak antara Stasiun Kebumen sampai Stasiun Soka tidaklah terlalu jauh. Mungkin hanya sekitar 3-4 km. Entah kenapa di zaman dulu stasiun kecil itu dibangun dengan jarak yang berdekatan dengan Stasiun Kebumen.

Dugaan awalku adalah di antara kedua stasiun itu adanya tikungan besar di barat dan timur Jembatan Renville membuat kereta api harus berjalan pelan. Karena jalurnya masih single track dan lalu lintas kereta api yang padat, maka keberadaan stasiun sebagai tempat silang yang berada tak jauh dari Stasiun Kebumen sangat diperlukan.

Tapi bisa saja dugaanku salah. Saat aku mengunjungi tempat itu, muncul dugaan baru soal alasan kenapa Stasiun Soka perlu dibangun.

Soka adalah daerah penghasil genteng. Keberadaan pabrik-pabrik produksi genteng menjamur di tempat itu. Bahkan dari pinggir rel saja, sudah terlihat bahwa pabrik genteng ada di mana-mana.

Tak hanya itu, di Soka, genteng tak hanya dijadikan sebagai material untuk atap rumah. Saking melimpahnya genteng di sana, material itu juga dimanfaatkan untuk pagar rumah, tembok, penahan tanah longsor, dan masih banyak lagi.   

Iqbal juga baru sadar kalau genteng di rumahnya bermerek Sokka yang berasal dari tempat ini. Ternyata, genteng produksi Soka telah diekspor ke berbagai tempat. Mungkin saja dulunya keberadaan stasiun kereta api di sini diperlukan untuk aktivitas pengiriman genteng yang akan dibawa ke berbagai tempat di Pulau Jawa.  

Di bawah sinar matahari yang terik, kami berjalan menyusuri rel kereta. Pohon-pohon kecil yang berada di pinggir rel sedikit bisa memberikan keteduhan pada kami. Selama perjalanan, tak sekalipun kami berjumpa kereta api. Ada apa ini? apa memang benar kalau jadwal kereta api dibatalkan semua? KA Argo Lawu tidak lewat, KA Mataram, KA Bogowonto juga telah lewat jadwalnya. KA Anjasmoro dari Pasarsenen juga tidak kelihatan. Lalu kereta apa yang nanti akan lewat?

Karena kepanasan, kami melipir dari pinggir rel dan berjalan melintasi tepi selokan yang teduh. Selokan itu airnya telah mengering. Saat kami kembali berjalan di tepi rel, Stasiun Soka sudah terlihat di kejauhan. Ternyata memang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Kebumen.

Kebetulan di dekat stasiun itu ada masjid. Orang-orang tampak berbondong-bondong menuju masjid itu untuk menunaikan Sholat Jum’at. Dari pengamatanku, ternyata masjid itu terbuka bagi orang luar. Buktinya banyak motor-motor yang terparkir di sana.

Saat tiba di masjid itu, tubuhku sudah basah oleh keringat. Aku melepas sepatuku dan segera mengambil air wudhu. Setelah itu aku segera menempati shaf di bagian serambi masjid yang masih kosong. Di sana, aku terpisah dari Iqbal yang tampaknya berada di shaf yang berjauhan dengan shaf tempatku duduk.

Dunia Bebas Virus Corona

Suasana eks-Stasiun Soka

Aku sengaja duduk di shaf paling belakang yang berada di serambi masjid demi menjauh dengan para jama’ah lainnya. Sementara itu adzan belum berkumandang. Para jama’ah masih berdatangan dari rumah-rumah di sekitar masjid. Tapi, alangkah kagetnya aku melihat mereka-mereka itu.

Dari para jama’ah yang hadir di sini, hampir semuanya tidak menggunakan masker. Selain itu, garis penanda jaga jarak tidak terpasang di lantai. Hal ini tentu saja aneh. Padahal, di tempat kerumunan seperti ini bisa saja Virus Corona menyebar dengan bebasnya. Apalagi orang-orang yang sholat berjamaah di masjid ini tak hanya dari warga sekitar, contohnya saja aku dan Iqbal yang datang dari luar kota.

Aku yang sejak berangkat dari rumah sampai berada di sini hampir tak pernah melepas masker jadi merasa terasing saat duduk di masjid ini. Mereka-mereka itu baik bapak-bapak, pemuda, maupun bocah-bocah, hampir semuanya, yah, sekitar 90 persen atau mungkin lebih tidak memakai masker.

Di masjid itu, seolah hampir tak ada seorangpun yang menyadari bahwa mereka hidup di tengah ancaman penularan Virus Corona. Satu per satu orang tertular, lalu dirawat di rumah sakit, beberapa dari mereka yang punya penyakit penyerta meninggal dunia karena Virus Corona. Para dokter ataupun tim medis yang merawat mereka berguguran satu per satu juga karena virus itu.

Berbagai klaster bermunculan di tempat-tempat keramaian, mulai dari kafe, pengajian, sekolah, pondok pesantren, perkantoran, dan tentu saja, rumah sakit. Tapi di sini, di sebuah masjid yang tak jauh dari Stasiun Soka ini, huru-hara soal Virus Corona seakan hilang ditelan bumi. Malah aku merasa diriku yang memakai masker ini terlihat aneh karena berbeda dengan kebanyakan orang.

Sebenarnya tempat apa ini? Apakah orang-orang di sini tidak tahu tentang Virus Corona dan bahayanya? Atau apakah memang tempat ini benar-benar terbebas dari virus itu? Seakan sudah ditakdirkan bahwa tempat ini akan terbebas dari wabah?

Atau jangan-jangan akulah yang sedang terjebak di sisi bumi yang lain, di mana wabah Virus Corona memang tidak ada. Inikah yang dimaksud dunia utopis itu? di mana kenyataan selalu sama bahkan lebih indah dari harapan?

Atau mungkin saja orang-orang di sini sudah terlalu lelah dirundung ketakutan terhadap Virus Corona. Mereka meyakini yang perlu ditakutkan itu hanyalah Allah, bukan virus. Ketakutan terhadap Virus Corona membuat hati mereka senantiasa dilanda kegelisahan. Oleh karena itu, marilah berserah diri pada Allah dengan datang ke masjid, maka kegelisahan akan berganti ketenangan hati dan kedamaian jiwa yang dekat dengan Sang Pencipta. Bodo amat dengan Virus Corona.

Aku sungguh penasaran dengan keadaan ini. Kenapa orang-orang di sini tak mempedulikan protokol kesehatan? Apakah memang benar bahwa ini dunia lain? Atau apakah mereka memang sudah bersikap bodo amat dengan Virus Corona? Aku memilih untuk memendam rasa penasaranku. Aku takut bahwa kenyataan di sini memang tidak seharusnya untuk aku ketahui.

Selesai Sholat Jum’at, aku dan Iqbal langsung menuju ke Stasiun Soka yang letaknya hanya selemparan batu saja dari masjid itu. Di stasiun mati itu, kami kembali bertemu dengan si railfans yang tadi kami temui di Jembatan Renville. Dari raut mukanya, tampak dia sedang kesal. Bagaimana tidak, momen kereta api yang telah dinantikannya tak kunjung lewat. Bahkan selama Sholat Jum’at tadi tak sekalipun tampak atau terdengar kereta api melintas. Padahal harusnya ada KA Pasundan, KA Kutojaya Utara, dan KA Fajar Utama Solo yang melintas.    

Di depanku dia meluapkan kekesalannya. Si railfans itu mengeluh soal banyaknya jadwal perjalanan yang dibatalkan pagi itu, soal mahalnya harga tiket kereta api sehingga hanya sedikit penumpang yang mampu membelinya pada kondisi krisis kali ini. Soal syarat rapid test beserta biaya yang harus dikeluarkan calon penumpang agar bisa melakukan perjalanan. Tak lupa dia juga membandingkan layanan kereta api dengan layanan moda transportasi bus yang banyak memberi kemudahan bagi para penumpangnya.

Aku mengiyakan saja segala keluh kesah si railfans. Kondisi seperti ini saja sudah cukup membingungkanku. Logikanya, biaya yang diperoleh dari penjualan tiket tidak bisa menutup biaya yang harus dikeluarkan pihak PT Kereta Api dalam sekali jalan, maka perjalanan itu akan dibatalkan. Tapi kenapa pembatalannya banyak sekali?

Dari situlah aku sadar bahwa kondisi masa pandemi ini belum pulih benar bagi perkeretaapian kita. Seakan kembali ke masa awal-awal pandemi dulu, aku merasa menyesal telah melakukan perjalanan ke luar kota ini. Mungkin sebaiknya aku tetap di rumah saja sampai pandemi ini benar-benar berakhir. Tapi kapan? Kapan kondisi seperti ini pulih dan kehidupan jadi normal lagi? kapan Virus Corona ini benar-benar enyah dari muka bumi ini?

Memikirkan hal ini kepalaku makin pening saja. Perutku makin keroncongan dan dahaga di mulutku makin menjadi. Tak jauh dari stasiun ada warung makan yang menjual Es Suket. Es Suket (rumput)? Apakah ini minuman khas Soka?  Suket (rumput) jenis apa yang digunakan untuk minuman ini? apakah rumput laut? Rumput liar? Atau rumput tanah yang biasa digunakan untuk bahan pembuatan genteng di tempat ini?

Karena rasa penasaranku terusik, aku mohon undur diri pada si railfans itu dan menuju ke warung makan itu dengan Iqbal. Warung makan itu letaknya persis di samping rel kereta. Kepada ibu penjual warung, aku bertanya seperti apa Es Suket itu.

Si ibu menjawab kalau Es Suket itu singkatan dari susu ketan. Oh, bilang dong dari tadi. Pikiranku yang semakin kacau bahkan membuatku berpikir macam-macam tentang suket. Kayak kambing saja, masa manusia dikasih hidangan rumput liar?

Akhirnya datang Juga

KA Bengawan Melintas Langsung Eks-Stasiun Skoa
KA Bengawan melintas langsung eks Stasiun Soka

Di warung makan itu aku menikmati hidangan makan siang beserta minuman Es Suket. Rasanya segar sekali minum es di hari yang panas ini. Selesai makan kami beristirahat sejenak di warung makan sambil menunggu siapa tahu ada kereta api yang melintas.

Akupun memberanikan diri ke pos penjaga perlintasan dan menanyakan kepada petugas di sana apakah ada kereta yang akan melintas sebentar lagi. Kebetulan sekali, petugas itu berkata sebentar lagi KA Bengawan dari Pasarsenen tujuan Solobalapan akan melintas. Hanya saja selain kereta itu, si petugas belum tahu kereta apa lagi yang akan melintas. Sebagai petugas penjaga perlintasan, dia hanya bisa menjelaskan kereta api apa akan melintas sesaat sebelumnya melalui informasi yang diberikan oleh stasiun terdekat dari sambungan handy talkie, bukan kondisi kenapa hari itu banyak perjalanan kereta api yang dibatalkan.

Tak lama kemudian, genta di pos perlintasan itu berbunyi. Sebentar lagi KA Bengawan akan melintas. Aku mempersiapkan diri di pinggir rel untuk mengabadikan momen itu.

Palang pintu akhirnya ditutup. Di jalur yang lurus itu, KA Bengawan awalnya hanya tampak seperti obyek kecil yang tak jelas apakah itu nyata atau hanya fatamorgana. Lalu perlahan obyek itu membesar, mendekat, dan memberi kepastian bahwa itu nyata.

Aku memencet tombol play video di gawaiku. Di depanku tampak si railfans yang telah kembali dari Stasiun Soka sudah siap dengan tripod-nya, meletakkan kamera saku di atasnya. Lalu KA Bengawan yang hari itu ditarik loko jenis CC 201 melintas dengan gagahnya diikuti 10 rangkaian kereta di belakang. Setelah itu kereta api menghilang di tikungan. Kondisi kini telah pulih seperti semula.

Perjalanan Pulang

Setelah KA Bengawan lewat, kami memutuskan untuk menuju Kutoarjo menggunakan bus. Dari sana rencana kami kembali ke Stasiun Yogyakarta dengan KA Prameks yang berangkat pukul 15.51.

Untuk menuju ke tempat pemberhentian bus, kami harus dulu naik becak motor dengan ongkos Rp 20.000. Lalu dari sana naik bus menuju Kutoarjo yang harga per orangnya mencapai Rp 30.000.

Di sepanjang perjalanan Soka-Kutoarjo, aku menghabiskan waktu dengan tidur. Saat itu entah mengapa kondisiku sudah amat lelah. Tak tahu bagaimana dengan Iqbal. Tak terasa, sampailah kami di Kutoarjo dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun.

Di Stasiun, sempat ada KA Joglosemarkerto yang melintas. Lalu barulah KA Prameks tiba di stasiun itu sekitar pukul setengah empat. Kami akhirnya bisa masuk ke dalam kereta. Di dalam kereta, aku bisa melanjutkan tidurku yang sempat terhenti.   

Di hadapanku, duduk seorang wanita muda yang wajahnya tertutup masker. Walaupun banyak kursi kereta yang kosong, entah mengapa dia memilih duduk di hadapanku. Wanita itu menggunakan jilbab warna hitam. Pandangannya terarah ke luar jendela. Aku hanya bisa melihat pesonanya dengan mataku yang sudah sangat letih ini.

Namun rasa lelahku sudah tak tertahan. Dengan kepala yang tersender di dinding kereta samping jendela, aku kemudian tertidur di hadapan wanita muda itu. Tidurku mungkin cukup pulas sampai-sampai saat aku terbangun, mulutku telah basah oleh air liur. Untungnya mulutku terlindung oleh masker yang tak pernah kulepas sehingga tak mengganggu pemandangan dari sang wanita muda yang misterius itu.

Tak terasa sampailah kami di Jogja. Dengan keadaan setengah sadar aku melangkahkan kaki keluar kereta. Tak lupa kami sempatkan menunaikan ibadah Salat Ashar di masjid stasiun. Setelah itu barulah kami melangkahkan kaki menuju ke luar stasiun.

Bagiku, perjalanan ini terasa agak mengecewakan. Banyak hal-hal yang tak diharapkan terjadi. Tapi Alhamdulillah kami bisa kembali dengan selamat. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa kami karena perjalanan ini.  

       

Teman perjalanan kali ini




Suasana di dalam kereta


Minggu, 28 Juni 2020

Bersepeda Keliling Bukit Prambanan





Daerah perbukitan Prambanan menyimpan banyak teka-teki. Di sana banyak ditemukan bangunan-bangunan dari zaman dulu. Ada Candi Ijo, Candi Ratu Boko, Candi Barong, ada pula penemuan-penemuan arca dan batuan candi yang belum teridentifikasi.

Menyambut New Normal

Hari Senin, 8 Juni 2020, adalah hari yang berarti bagiku. Setelah sekian lama #dirumahaja, aku akhirnya bisa sepedaan lagi. Alangkah bahagianya aku bisa kembali berpetualang dengan sepeda merah kesayanganku ini. Sebelumnya, karena sepeda merahku rusak, aku menggunakan sepeda biru muda kepunyaan adikku untuk berpetualang. Berbagai destinasi bisa kucapai dengan sepeda milik adikku seperti Candi Ijo, Mangunan, dan terakhir Borobudur.

Setelah sekian lama, aku kemudian baru terpikir untuk memperbaiki sepeda merahku. Awalnya aku kira memperbaiki sepeda itu butuh biaya mahal karena rem dan rantainya memang sudah rusak. Ternyata setelah kubawa ke bengkel sepeda dekat rumahku, mas-mas di sana berhasil memperbaiki rem dan rantai yang rusak walaupun tidak sempurna. Tapi tak apa, setelah bertahun-tahun (kemungkinan 2-3 tahun) teronggok, sepeda merahku bisa jalan lagi.

Pertama-tama, aku mencoba sepedaku dengan rute rumahku-Godean-Seyegan-lurus ke arah Jalan Magelang-Medari-Sleman-Cebongan-dan kembali ke rumahku. Selama perjalanan itu, aku tak menemui kendala berarti di sepedaku. Itu artinya, sepeda merahku kembali siap untuk diajak berpetualang.

Sayangnya saat sepedaku telah siap kembali menjelajahi jalanan negeri ini, pandemi Corona merebak. Pemerintah menyuruh rakyatnya untuk #dirumahaja. Terpaksa, aku menghabiskan hari-hari di rumah, bahkan saat kerja dan libur, aku terus berada di rumah.

Setelah hampir tiga bulan berlalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan “new normal”. Karena kebijakan itu, orang-orang bisa lagi keluar rumah, walaupun dengan mematuhi protokol kesehatan.
Jalanan kembali ramai. Entah mengapa makin banyak orang yang suka bersepeda. Mereka bersepeda berkelompok. Aku lihat dari bentuk sepeda mereka sepertinya baru-baru semua. Roda-roda sepeda mereka besar-besar. Body sepeda mereka kinclong-kinclong. Apa daya sepedaku ini yang besinya sudah banyak yang karatan. Walau begitu aku tetap pede dengan sepedaku untuk kubawa jalan jauh.

Akhirnya kesempatan itu datang juga di Hari Senin itu. Kebetulan pada hari itu jadwalku libur. Aku keluarkan sepedaku lalu aku gowes sendirian. Aku meninggalkan rumah sekitar pukul setengah enam pagi.

Tiang listrik untuk KRL
Seperti gowes-gowes sebelumnya, rencanaku berubah seiring perjalanan. Pada awalnya aku hanya ingin bersepeda melalui Jalan Godean sampai Stasiun Tugu, melewati Jalan Malioboro, lalu balik lagi ke rumah lewat Jalan Wates. Tapi di tengah jalan aku merasa rute itu sangat tidak menantang. Lalu aku ubah rencananya. Aku mampir ke Stasiun Tugu dulu, lalu meneruskan perjalanan sampai Prambanan. Ya, Prambanan! Sebuah perubahan rencana yang sangat drastis bukan?

Setelah dari Prambanan, rencananya aku akan melewati Piyungan lalu ke Bantul melewati Pleret. Lalu dari Bantul aku akan ke utara dan beristirahat sejenak di dekat Pabrik Gula Madukismo. Di sana ada rerimbunan pohon yang teduh. Saat siang hari, berteduh di sana sambil minum dawet dan melihat lori tebu lalu lalang pastilah menjadi kenikmatan yang tak terkira.

Satu hal kenapa aku harus mampir di PJL Geser Stasiun Tugu adalah karena di sana sudah terpasang tiang-tiang yang akan digunakan untuk KRL Jogja-Solo. Aku ingin melihat langsung tiang-tiang KRL itu dengan mata kepalaku sendiri. Kalau sudah jadi nanti, rute Jogja-Solo akan menjadi jaringan KRL pertama di luar jaringan KRL di wilayah Jabodetabek. Aku ingin menjadi saksi dari sejarah besar itu.     

Aku tiba di kawasan PJL Geser sekitar pukul 6 pagi. Benar saja, di sekitaran stasiun itu, tiang-tiang beton yang rencananya untuk tiang listrik KRL sudah terpasang. Wajah Stasiun Tugu telah berbeda dari sebelumnya.
Menyambut datangnya era New Normal sambil selfie :)

Setelah meninggalkan kawasan PJL Geser, aku menuju arah Prambanan melalui Jalan Solo. Perjalanan ke Prambanan cukup lancar. Aku mengendarai sepeda dengan kecepatan normal. Jalanan dari Kota Jogja menuju arah Prambanan sebenarnya sedikit menanjak. Syukurlah, aku akhirnya tiba di Stasiun Brambanan pukul 7.16 pagi. Satu jam lebih durasi perjalanan dari Stasiun Tugu.

Sama halnya dengan Stasiun Tugu, di Stasiun Brambanan juga telah terpasang tiang listrik untuk KRL. Bahkan di stasiun ini ada proyek bangunan persis di sebelah barat bangunan stasiun.  Entah bangunan apa yang nantinya akan berdiri di sana. Perkiraanku bangunan itu masih ada kaitannya dengan proyek KRL Jogja-Solo.
Suasana Stasiun Brambanan

Perlintasan di barat Stasiun Brambanan
Spot Riyadi

Setelah foto-foto sebentar, aku meninggalkan Stasiun Prambanan. Rencananya aku akan ke Candi Sojiwan dan foto-foto di sana. Tapi walau sudah ada plang menuju ke tempat itu, aku tetap tidak menemukan Candi Sojiwan. Justru aku menemukan jalan naik menuju ke atas bukit. Entah apa yang kupikirkan aku justru tertarik melalui jalan itu untuk mendaki bukit.

Jalanan bukit yang mendaki membuat aku sesekali harus menuntun sepedaku. Karena saat itu Hari Senin, tak banyak orang yang bersepeda. Aku bersepeda sendirian di jalanan beraspal yang sepi. Sesekali aku berhenti mengambil nafas karena jalanan terus menanjak. Akhirnya satu pemandangan indah terhampar di hadapanku. Tampak di bawah sana deretan candi dapat terlihat dari atas bukit, mulai dari kompleks Candi Prambanan, Candi Sojiwan, dan Candi Plaosan. Setelah mengambil foto sejenak, aku kembali meneruskan perjalanan mendaki.

Dataran Prambanan dari atas bukit
Terkapar tak kuat menanjak
Menurut Google Map, bila terus mendaki nanti aku akan menemukan situs Arca Ganesha di atas bukit. Di tengah jalan aku bertemu dengan seorang pesepeda lainnya. Saat bertemu persimpangan, aku iseng mengikuti pesepeda itu yang mengambil jalan cor desa yang menanjak curam. Di puncak tanjakan itu, tampak pesepeda itu beristirahat bersama seorang pesepeda lainnya. Di tempat mereka beristirahat ada deretan rumah joglo yang ternyata biasa dimanfaatkan sebagai spot foto selfie.

Aku kemudian menyandarkan sepedaku untuk bergabung dengan dua pesepeda yang sedang beristirahat itu. Di puncak tanjakan ini, aku bisa lihat jalan yang telah kulalui menurun curam dan di kejauhan tampak dataran Prambanan yang indah. 
Pemandangan dari puncak tanjakan


Puncak tanjakan itu sendiri merupakan sebuah perempatan. Dari sini ada tiga pilihan arah yang bisa kupilih. Dalam obrolan dengan pesepeda itu aku diberi tahu kalau belok ke kiri, aku akan menuju tempat bernama Spot Riyadi. “Apa itu Spot Riyadi?” aku bertanya pada pesepeda itu. Dia bilang aku tinggal ke sana untuk mengetahuinya. Jaraknya dari persimpangan itu juga hanya sekitar 500 meter.

Setelah meninggalkan puncak tanjakan itu, aku kemudian menuju Spot Riyadi. Jalanan menuju tempat itu merupakan jalan beton yang luas dan cukup nyaman dilalui pengendara. Dua buah truk saja mungkin bisa saling berpapasan di jalanan ini.

Suara musik dangdut terdengar sesaat sebelum aku mencapai Spot Riyadi. Aku mampir ke sebuah warung dulu untuk membeli minum air mineral. Setelah itu, barulah aku memasuki kawasan Spot Riyadi.

Seperti yang sudah kuduga, Spot Riyadi merupakan sebuah spot foto di atas bukit yang dari sana kita bisa melihat hamparan pemandangan di bawah. Bila langit cerah, pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu dapat terlihat dari sini. Saat sampai di sana, jam sudah menunjukkan pukul 8.15. Hampir satu jam setelah aku meninggalkan Stasiun Brambanan.

Dari atas Spot Riyadi, hamparan pemandangan dataran Prambanan terpampang. Tempat ini memang tempat selfie. Di dekat sana ada warung makan khusus wisatawan. Sepertinya tempat ini dikelola secara pribadi. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan tempat ini.

Tak ingin berlama-lama di sana, aku kemudian menuju ke Candi Barong. Sebelumnya aku memang belum pernah ke candi itu. Aku diberi tahu jalan menuju Candi Barong dari bapak pemilik warung tempat aku membeli air mineral. Dan aku mengikuti arahan sang bapak untuk menuju ke sana.

Sepedaku di atas Spot Riyadi
Jangan sampai lupa selfiee :)
Candi Barong

Berbeda dengan jalan ke Spot Riyadi yang tadi kulalui, jalanan Candi Barong justru menurun dan berbatu. Jalanan itu membelah sebuah perkampungan kecil di atas bukit. Awalnya, jalan menurun itu masih terasa landai. Tapi kemudian jalanan menurun curam. Aku harus menuntun sepedaku karena aku takut remku blong saat menuruni jalan itu. Belum lagi jalanan bergeronjal dan berbatu.

Tak lama setelah menuruni jalan itu, sampailah aku di pinggir sebuah dam. Bagiku, dam itu tampak eksotis karena dikelilingi pepohonan dan perbukitan, seakan aku sudah berada di negeri dongeng. Waktu aku  ke sana, tampak seorang pria sedang turun ke dam untuk mencari ikan.

Dam Dawangsari
Setelah melewati dam itu, jalanan sedikit menanjak. Tak sampai lima menit, sampailah aku di Candi Barong. Bangunan candi itu tampak begitu eksotis. Letaknya berada di tanah yang lebih tinggi dari tanah di jalan tempatku berpijak. Candi itu berdiri megah di kejauhan sana. Dari balik pagar, aku hanya bisa menyaksikan kemegahan candi yang ujung atapnya seperti menantang cakrawala.

Saat aku sampai di sana, kompleks wisata Candi Barong belum dibuka untuk umum. Aku hanya bisa berfoto selfie di depan pintu pagar. Lagi pula ada satpam penjaga yang selalu siap siaga menghalau siapapun yang berani-beraninya masuk ke kompleks wisata itu saat masa pandemi seperti ini.

Dari papan keterangan yang kubaca, Candi Barong merupakan salah satu candi yang berada di atas bukit Batur Agung yang memiliki ketinggian 199,27 mdpl. Candi ini ditemukan pada tahun 1915 oleh ilmuwan Belanda. Pada awalnya, candi ini bernama “Candi Sari Sorogedug”. Disebut Candi Barong karena adanya ornamen wajah Batara Kala yang dalam bahasa Jawa juga disebut Barongan.  

Candi Barong
Lagi-lagi Selfie
Puas memandang Candi Barong, aku kemudian memutuskan meninggalkan tempat itu. Mungkin lain waktu kalau masa pandemi sudah berlalu aku bisa masuk ke dalam. Tapi di dekat Candi Barong sebenarnya masih ada candi lain. Letaknya  tak sampai 20 meter dari kompleks Candi Barong. Candi itu bernama Dawangsari.

Karena belum berwujud bangunan, Dawangsari lebih dapat disebut situs dari pada candi. Sebagian besar penampakan di sana hanyalah batu-batuan yang berserakan dan bertumpuk. Di salah satu bagian halaman situs itu, tampak batu-batu yang ditumpuk telah menyerupai suatu bentuk seperti stupa. Entah nantinya tumpukan batu itu akan berwujud apa, hanya penyusunnya yang tahu.

Dari papan yang ada di sana, Situs Dawangsari sebenarnya sudah ditemukan pada tahun 1915. Penelitian intensif terhadap situs ini dilakukan pada tahun 1987 sampai 1989. Namun penelitian itu terbengkalai selama 11 tahun dari tahun 1989 sampai 2000. Hingga kini, pemugaran atau eskavasi di Situs Dawangsari berlum satupun yang menghasilkan wujud candi.
Situs Dawangsari
Sejarah Situs Dawangsari
Stupa?

Rantai Sepeda Lepas

Puas menjelajahi bukit dan menemukan dua situs candi serta satu spot selfie, aku memutuskan untuk mencari jalan turun dari atas bukit dan kembali ke dataran. Namun tak jauh setelah meninggalkan Candi Dawangsari aku mengalami musibah. Tak tahu mengapa tiba-tiba saja rantai sepedaku bagian depan lepas dan sulit dipasang kembali. Aku pikir awalnya ada makhluk halus yang iseng menggangguku karena aku telah tanpa izin berfoto ria di Situs Dawangsari yang mungkin saja menjadi tempat tinggal mereka.

Saat itu jalanan sepi dan sedikit menanjak. Rantai sepedaku terjepit pada bagian rangka sepeda bagian bawah. Perasaanku bercampur antara takut dan panik. Takut karena kejadian ini aku jadi terbayang hal-hal horror seperti pada video uji nyali yang aku sering lihat di YouTube, panik karena kalau sampai tak bisa memperbaiki rantai yang lepas ini, aku harus menuntun sepeda sampai ketemu bengkel sepeda. Dan kebetulannya saat itu aku sedang berada di jalanan bukit yang sepi dan pastinya sulit untuk menemukan bengkel sepeda di sana.

Dalam segala keputusasaanku, ada seorang pengendara motor yang rela menghampiriku dan bertanya apa masalah yang menimpaku. Setelah kujelaskan, dia kemudian mengarahkanku bagaimana cara yang tepat memperbaiki rantai sepeda yang lepas dan terjepit. Dengan mengikuti instruksinya, ternyata mudah saja untuk memperbaiki rantai sepeda itu. aku pun dapat kembali melanjutkan perjalanan.

Jalan Rahasia

Setelah rantai sepeda berhasil diperbaiki, aku kemudian melanjutkan perjalanan. Waktu itu aku mematikan hp karena baterai-nya sudah mau habis dan aku juga lupa membawa charge. Karena itulah aku tidak bisa mencari jalan dengan bantuan Google Maps. Praktis aku hanya menggunakan insting untuk mencari jalan turun dari bukit.

Saat itu jalan yang kulalui adalah jalan kampung ber-cor beton. Pada awalnya jalan kampung itu melintas di pinggir tebing yang kalau menghadap ke sebelah kanan akan terhampar pemandangan dataran Prambanan yang luas. Namun selang beberapa meter jalanan memasuki daerah perkampungan. Jalanan di perkampungan ini berkelok-kelok.

Pada awalnya aku mengira bahwa jalan kampung ini akan mengarah sampai ke jalan raya Tebing Breksi. Oleh karenanya aku begitu bersemangat mengikuti jalan kampung itu. Tapi setelah melewati perkampungan itu aku menemukan sebuah area kompleks yang aneh.

Area itu dibatasi sebuah pagar dan di dalam area itu tampak sebuah tebing kecil. Ada sebuah tangga batu untuk menuju ke puncak tebing itu. Dan di dalam juga terdapat sebuah lampu jalan dan sebuah papan penunjuk arah. Sebenarnya tempat apa itu?

Tempat apa ini?
Sambil menahan rasa ingin tahu, aku terus melanjutkan perjalanan. Hanya beberapa meter kemudian aku bertemu seorang bapak dan seorang ibu yang sepertinya sepasang suami isri sedang menjemur padi di tengah jalan. Aku bertanya pada mereka berdua jalan manakah yang harus aku lewati untuk turun dari bukit itu.

Bapak dan ibu itu berbeda pendapat. Sang ibu bilang kalau aku harus putar balik lagi. Tapi sang bapak bilang kalau terus mengikuti jalan ini, aku bisa turun bukit melalui jalan raya menuju obyek wisata Candi Ratu Boko. Namun untuk melewati jalur ini aku harus menerobos blokade lockdown yang belum dibuka.    

Tapi sang ibu kurang setuju. Menurutnya akan sulit untuk sampai ke jalan Candi Ratu Boko karena nantinya aku harus melalui persimpangan. Sang ibu mungkin takut kalau di persimpangan itu aku memilih jalan yang salah dan akhirnya kesasar. Lebih baik putar balik saja karena menurutnya itu akan lebih aman.

Hanya saja sang bapak sepertinya yakin kalau aku tidak akan kesasar. Dia memberi tahu padaku secara lisan bagaimana cara sampai ke jalan Candi Ratu Boko dan mana pula persimpangan yang benar. Aku memilih ikut saran sang bapak sambil terus mengingat petunjuk darinya. Sejujurnya aku juga takut kesasar. Tapi di sisi lain aku juga penasaran di manakan jalan itu akan berakhir.

Untuk dapat melanjutkan perjalanan, aku harus menembus blokade lockdown setinggi 1,5 meter. Namun ternyata aku tak bisa menyisipkan sepedaku melewati kolong blokade yang terlalu sempit dan terlalu tinggi pula kalau untuk ditembus lewat atas.

Akhirnya aku menyisipkan sepedaku ke sisi kiri jalan dengan dibantu sang bapak. Sepertinya bapak itu memang sengaja kembali menghampiriku untuk memastikan apakah aku bisa melewati blokade itu atau tidak. Di sana ada gundukan tanah kecil yang tidak terhalang oleh blokade lockdown yang sebenarnya terlalu sempit untuk dilalui sepeda. Untungnya berkat sang bapak yang membantuku mengangkat sepeda dari sisi seberang, aku bisa melewati blokade itu.

Walaupun sudah bercor beton, di sisi kiri jalan itu terdapat jurang dan memiliki turunan yang curam. Sementara di sisi kanannya, terdapat pagar yang membatasi jalan itu dengan kompleks wisata Candi Ratu Boko. Sang bapak memberi saran agar sepedaku dituntun saja saat melewati jalanan itu. Lagi pula, di tengah-tengahnya banyak ranting dan dedaunan yang berjatuhan.

Setelah sekitar 500 meter, aku kembali menemukan barikade lockdown. Barikade itu benar-benar menutup jalan sepenuhnya dan tidak ada sedikitpun celah yang bisa kulalui. Dengan beraninya aku menembus lockdown itu dengan melebar ke sisi kiri jalan.

Di sana sebenarnya tidak ada jalan. Yang ada hanyalah tanah yang tidak rata dengan pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Karena jalanan ter-lockdown, aku terpaksa melewati tempat itu. Di sana aku harus menuntun sepeda, memerosokkannya ke bagian tanah yang lebih rendah, menjatuhkannya, dan lain sebagainya. Untungnya sepedaku ini sudah banyak bagian yang rusak jadi aku sampai hati kalau harus memperlakukannya sedemikian rupa. Kalaupun ada bagian yang rusak lagi, tinggal diperbaiki saja sekalian dengan bagian-bagian yang rusak lainnya.  

Setelah melewati barikade lockdown itu, aku menemukan sebuah persimpangan. Mungkin di sinilah letak persimpangan yang dimaksud. Aku mengambil jalan ke kanan sesuai saran sang bapak. Sebenarnya kalau dipikir-pikir cukup mudah untuk menemukan jalan tembusnya. Tinggal kuturuti saja pagar batas itu sampai bertemu jalan beraspal yang mengarah ke pintu gerbang obyek wisata Candi Ratu Boko.

Dalam perjalanan menyusuri batas luar kawasan wisata itu, aku menemukan sebuah perkampungan kecil. Perkampungan itu masih berbatasan dengan kompleks wisata Candi Ratu Boko. Di perkampungan itu banyak tumpukan batu-batu candi yang belum tersusun. Karena itu aku berpikir sebenarnya kompleks percandian Ratu Boko itu sangat luas. Tak hanya candi utamanya yang banyak diketahui orang, tapi ada juga candi-candi di sekitarnya yang belum ditemukan.

Aku terus menyusuri jalan itu sampai bertemu pintu gerbang kompleks wisata itu bagi para karyawan yang bekerja di sana. Tak sampai 100 meter dari sana sampailah aku di jalan Ratu Boko yang beraspal itu. Melalui jalan itu aku turun bukit dan kembali ke dataran Prambanan dengan hamparan rumah dan pesawahannya.

Sarapan

Aku mengayuh sepeda sambil mendengarkan suara perutku yang terus memberontak minta diisi. Aku urungkan niatku untuk menjelajahi daerah Bantul karena hari sudah semakin siang. Akhirnya aku memutuskan melakukan perjalanan pulang melalui rute Berbah.

Untuk melalui rute ini aku harus berjalan kurang lebih 3 km ke selatan. Lalu ketemu persimpangan kecil belok kanan ke arah Berbah. Walaupun jalannya kecil, sebenarnya jalan itu tembus sampai Ring Road Timur lalu JEC dan kemudian masuk ke wilayah Kota Jogja.

Jalan itu melewati hamparan pesawahan yang luas. Beberapa bukit kecil terlihat di kejauhan. Aku sebenarnya ingin menjelajahi bukit-bukit kecil di sana. Konon salah satu bukit menjadi istana makhluk halus.

Tempat Kerajaan Makhluk Halus?
Selain itu di daerah itu terdapat beberapa tempat wisata dan situs sejarah seperti Lava Bantal, Candi Abang, Goa Sentono, dan Goa Jepang. Dengan melewati rute itu, tempat-tempat wisata itu bisa saja kukunjungi. Tapi hari sudah semakin panas dan aku ingin sudah tiba di rumah sebelum waktu dhuhur tiba.

Selain lapar, aku juga merasakan haus. Rasa haus ini membuatku mengayuh sepeda dengan kepayahan. Sebenarnya banyak warung yang kulewati. Tapi entah mengapa pilihanku jatuh pada jajanan es dawet keliling yang kebetulan sedang berhenti di pinggir jalan. Dengan beragam campuran bahan yang entah ku tak tahu apa saja namanya, es dawet itu terasa sangat segar. Harganya juga murah, hanya 2.000 rupiah.   

Aku tiba di daerah Pasar Berbah sekitar pukul 10.25. Aku mampir saja  salah satu angkringan untuk sarapan. Saat itu Pasar Berbah ramai oleh aktivitas pedagang dan pembeli. Tukang parkir tampak sibuk mengatur kendaraan. Para karyawan pabrik juga lalu lalang dengan seragam perusahaannya.

Saat sudah duduk di bangku dan memesan makanan, sejujurnya aku sedikit menyesal karena telah memilih angkringan itu. Di sana, jajanan-jajanan dibiarkan terbuka tanpa pengaman. Penjualnya tidak menggunakan masker, begitu pula dengan seorang pembeli di sana.

Bayangkan, apabila mereka bersin tak disengaja atau tangan mereka yang kotor penuh dengan virus menjamah makanan-makanan itu satu per satu. Bisa saja pembeli lain tertular virus dari sini. Apa lagi kemungkinan banyak karyawan pabrik dan juga petugas pasar yang makan di sini. Membayangkannya saja aku sungguh ngeri. Tapi Bismillah saja, semoga tidak terjadi apa-apa.
Setelah sarapan di angkringan itu dengan segelas jeruk hangat, dua bungkus nasi kucing, dan dua gorengan, aku melanjutkan perjalanan pulang.

Perjalanan Pulang

Hari semakin panas. Jalanan semakin padat kendaraan bermotor. Aku mengayuh sepedaku sendiri tanpa didampingi seorang teman. Bagiku sebenarnya ini tidak masalah. Lagi pula aku memang suka bersepeda jauh sendiri kecuali kalau memang ada teman yang bersedia diajak bersepeda jauh dan bersedia pula diajak rekoso bareng.

Tubuhku terbakar di bawah sinar matahari. Jalanan kota Jogja kulalui. Melewati depan Kebun Binatang Gembira Loka, melewati Nol Kilometer, melewati Jalan Wates, Gereja Gamping, Stasiun Patukan, lalu sebelum sampai rumah, aku sempatkan dulu mampir di Indomaret untuk membeli minuman Pocari Sweat.

Setelah sampai di rumah, aku segera mandi dan mencuci pakaianku. Ya, semoga aku tak tertular Virus Corona gara-gara perjalanan ini. Amin!

Sampai jumpa di perjalanan-perjalanan berikutnya !!  


Sampai jumpa pada perjalanan berikutnyaa !!

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...