Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2020

Novel Kehidupan

(Pexels/Elina Krima)


Gedung sekolah kami jadi satu dengan gedung asrama. Saat jam belajar malam hari selepas Isya’, kami biasanya keluar dari kamar asrama masing-masing dan belajar di gedung sekolah ini. Gedung sekolah kami terdiri dari empat lantai. Aku biasanya belajar di lantai empat karena tempat itu paling sepi.

Teman-teman yang lain kebanyakan belajar di lantai satu, lantai dua, atau paling mentok lantai tiga. Bisa dibilang, akulah yang biasanya belajar di lantai empat seorang diri. Memang, untuk menuju ke sana, aku harus mengeluarkan tenaga ekstra. Itulah kenapa banyak santri yang enggan untuk rela capek-capek belajar di lantai empat.

Dari sini, aku bisa melihat pemandangan kota. Kendaraan bermotor saling bergantian melintas di persimpangan, lampu gedung-gedung tinggi berkedip, orang-orang berjalan kaki, dan samar-samar di ujung sana deretan perbukitan bisa terlihat. Kapan waktu aku juga melihat indahnya bulan purnama dari atas sini.

Lorong lantai empat benar-benar sepi. Mungkin banyak orang takut ke sini karena hal-hal menakutkan bisa saja terjadi tiba-tiba. Sekolahku berdiri tahun 1926. Dulunya sebelum gedung ini berdiri, sekolahku masih menggunakan gedung lama yang memiliki dua lantai. Namun pada tahun 2006, gedung lama itu banyak mengalami kerusakan akibat gempa. Dengan alasan keamanan, akhirnya gedung lama diruntuhkan dan didirikanlah gedung baru yang lebih megah.     

Konon waktu masih memakai gedung lama, bila malam tiba sering terdengar suara langkah sepatu yang katanya itu merupakan suara langkah dari arwah seorang serdadu Belanda. Urban legend di sekolahku itu masih terpelihara sampai sekarang. Beberapa penghuni asrama mengaku pernah mendengar suara itu malam hari pada beberapa titik di lingkungan asrama dan gedung sekolahku.

Selama belajar di sini, aku biasanya menyalakan salah satu lampu lorong dan tentunya lampu di tangga menuju lantai empat juga aku nyalakan. Namun suatu hari, saat aku tiba di lantai empat, sudah ada seorang santri lain tiba di sana duluan. Dia teman sekamarku. Namanya Wildan. Dia tampak memandang langit, seakan sedang menerawang hari esok yang tak menentu. Saat itu langit cerah, penuh bintang-bintang.

Aku hanya menyapanya sebentar. Lalu duduk agak jauh dari posisinya. Sambil membaca-baca buku pelajaran sesekali aku curi pandang ke arahnya. Dia terlihat sedang bersenandung sambil wajahnya tetap menengadah ke langit.

Aku teruskan membaca. Aku suka pelajaran sejarah. Walaupun esok hari tak ada pelajaran itu, buku sejarah tetap kubawa dan kubaca sepanjang jam belajar itu.

Saat aku sudah membaca sekitar lima halaman, aku curi pandang ke dia lagi. Wildan masih memandang langit dan masih pula bersenandung. Dia sadar sedang kuperhatikan. Lalu dia memintaku mendekat ke arahnya.

“Mendekatlah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan,” ujarnya lirih. Awalnya aku sungkan juga Tapi aku perlahan mendekat dan duduk berhadapan dengannya. Pandanganku mengarah padanya namun pandangannya masih menengadah ke langit.

“Emang ada apa?” tanyaku.

“Kamu bisa bantu aku?”

“Hmm, bantu apa dulu?”

“Cukup duduk dan dengarkanlah. Aku hanya ingin bercerita. Kamu membantuku dengan cukup duduk di situ saja dan mendengar ceritaku. Mungkin sewaktu-waktu aku bisa meminta pendapatmu.”

“Oh, oke. Baiklah. Tapi waktu kita terbatas. Maksudku, jam sepuluh aku harus balik ke kamar. Aku ingin tidur. Kalau kurang tidur atau tidur kemalaman aku akan merasa tidak fit keesokan harinya dan tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik.”

“Beri aku waktu setengah jam untuk bercerita.”

Lalu aku menyanggupinya. Bagaimanapun tidak seperti biasa-biasanya. Malam itu dia memintaku duduk dan mendengarkannya bercerita. Di kelas, Wildan adalah orang yang supel, pandai bergaul, semua orang menyenanginya. Tentu mudah baginya untuk bergabung dengan kelompok belajar teman-teman lainnya di lantai satu, dua, atau tiga. Tak perlulah dia berada di sini, di lantai empat. Lantai empat yang selama ini hanya jadi milikku seorang.

“Sebelum bercerita, aku ingin bertanya padamu. Kenapa kamu memilih belajar di sini, sendiri pula. Teman-teman yang lain belajar bersama, yah, kalau memang benar-benar belajar. Tapi setidaknya mereka bersama. Sedangkan kamu, sendiri pula di sini. Apakah kamu tak ingin bergabung dengan mereka? apakah kamu tak suka pada mereka? kalau memang begitu bilang saja! Kita terbuka di sini. Tak akan ada yang dengar. Hanya ada aku dan kamu di sini. Dan mungkin hembusan angin malam ini juga bisa jadi saksi. Jadi kalau ada masalah, katakanlah!”

Aku awalnya bingung mau jawab apa. Orang satu ini benar-benar membingungkan. Awalnya minta dengarkan bercerita, tapi kemudian malah minta aku yang beri penjelasan kenapa aku suka belajar di sini, sendiri pula! Bagiku, tak ada pentingnya dia tahu urusanku belajar di sini sendiri. Mau belajar di mana terserah aku selama tak ada peraturan dilarang belajar sendiri! lagi pula dengan belajar sendiri aku merasakan suasana yang lebih kondusif. Lebih tenang. Ilmu dan wawasan bisa masuk ke kepalaku dengan mudahnya. Tak peduli apa kata orang, tak peduli apa gunjingan orang. Aku akan terus berada di sini.

Setelah aku menjelaskan alasanku kepadanya, suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk turun, kembali ke kamar bersama. Saat tiba di kamar, teman-teman tampak sudah tidur semua. Lampu sudah dimatikan.

Keesokan paginya, aku melihat Wildan tampak seperti hari-hari biasa. Di kelasku, dia adalah salah satu siswa yang pintar, walaupun bukan yang nomor satu. Duduknya di kursi paling depan di deretan tengah. Aku sendiri juga duduk di kursi paling depan, namun di deretan paling kiri. Nilai-nilaiku masih berada di bawah nilai-nilanya.

Aku dan Wildan tinggal pada salah satu kamar di asrama kami. Di kamar kami ada 13 anak lainnya. Karena tinggal di kamar yang sama, pada dasarnya kami berteman baik. Hubungan kami juga tidak sebegitu berjarak. Hanya saja kami memang jarang menghabiskan waktu bersama. Bila sore hari, kami mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang berbeda.

Namun malam itu, tampak dia dia kembali berada di lantai empat, dan kemudian memintaku untuk duduk di sampingnya.

“Masih ingat dengan permintaanku kemarin?” tanya Wildan padaku. Aku mengangguk. Dia sepertinya benar-benar ingin bercerita kali ini. Waktu sedikit lebih panjang karena ini masih jam belajar. Tapi untuk kali ini mungkin sebaiknya aku mengorbankan jam belajarku untuk mendengarkan ceritanya. Aku juga penasaran hal apa yang akan diceritakan anak satu ini.

“Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apa cita-citamu?” tanya Wildan padaku.

“Penulis novel,” jawabku. Setiap orang-orang bertanya apa cita-citaku, aku selalu memberi jawaban itu tanpa pernah memberikan jawaban yang lain.

“Sebenarnya aku juga ingin bercita-cita menjadi penulis novel,”

Jawabannya sedikit membuatku terkejut. Tak pernah terbayang kalau kami memiliki cita-cita yang sama.  

“Suka baca novel juga dong?” tanyaku.

“Tidak sama sekali.”

“Lalu apa buku yang suka kamu baca?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana mau jadi penulis novel kalau tidak membaca? Bagaimana kamu tahu bagaimana membuat cerita yang bagus kalau tidak suka membaca?” Di sini aku sedikit terbawa emosi. Aku kira dia hanya ingin main-main denganku dengan meniru apa cita-citaku.

 “Kukira tak perlu rajin membaca kalau ingin jadi penulis hebat. Yang kamu perlukan hanya merenung.”

“Merenung sambil melihat langit?”

“Ya, tepat sekali. Seperti apa yang aku lakukan ini. Di langit kau bisa melihat bintang-bintang. Di sana ada banyak bintang. Tiap bintang punya galaksinya sendiri. Matahari hanyalah satu dari sekian banyak bintang itu dan punya galaksinya sendiri. Di dalamnya ada sembilan planet yang mengelilinginya, salah satunya Bumi.

Maksudku, aku ingin menyampaikan padamu bahwa kemungkinan ada Bumi-Bumi lain pada galaksi-galaksi lain di sana. Di sana pula kemungkinan ada makhluk-makhluk lain seperti kita ini. Makanya aku sedikit percaya kalau makhluk seperti alien itu mungkin benar adanya.

Intinya, yang ingin aku sampaikan di sini adalah, tak perlu membaca buku untuk menulis cerita. Novel itu bercerita tentang kehidupan. Kita hanya perlu melihat kehidupan itu sendiri. Apa yang ada di depan kita, di depan mata kita, ya itulah kehidupan. Tak perlu baca buku lain, novel lain. Cukup kita baca kehidupan itu sendiri. Kita lihat apa yang ada di sekitar kita, lalu kita tuliskan. Lalu jadilah apa yang namanya novel. “Novel Kehidupan”, novel yang bicara jujur soal kehidupan,” jelasnya.

“Lalu kira-kira novel seperti apa yang akan kamu tulis dari hasilmu melihat bintang-bintang di langit?” Tanyaku.

“Tidak ada”

“Lalu?”

“Tidak ada. Aku tidak bersungguh-sungguh ingin menulis novel. Aku hanya bercanda kalau aku ingin menjadi novelis,” katanya sambil tertawa. Sial, aku kena jebakannya.

“Tapi, karena kamu ingin menjadi penulis novel, aku punya permintaan buatmu,” ujarnya.

“Permintaan apa?”

“Tulislah novel tentang diriku. Tentang kehidupanku. Segalanya yang kamu ketahui tentangku tulislah. Walaupun kamu tak tahu banyak tentangku, tapi kamu tentu tak membutuhkannya. Tak perlu tahu banyak kalau menulis novel, kan? Yang pelu kamu miliki hanyalah khayalan. Berkhayallah tentang diriku sebanyak-banyaknya. Maksudku, kamu bisa berkhayal tentang bagaimana masa depanku. Besok aku akan jadi apa. Tantangan seperti apa yang akan aku hadapi, cobaan seperti apa yang akan aku alami, seperti apa suksesku nanti? Secantik apa jodohku kelak? Akan jadi apa saudara-saudaraku? Seperti apa musuh bebuyutanku. Terserah. Semua itu terserah kamu. Tapi tolong buatlah novel tentang diriku.”

Semua permintaan itu terdengar aneh buatku. Tapi aku mengiyakannya. Walau bagaimanapun, aku memang bercita-cita sebagai seorang novelis. Aku harus punya banyak karya, aku harus menggali ide sebanyak-banyaknya. Tapi tetang Wildan, akan aku tulis seperti apa novel tentangnya nanti? Apakah dia akan tersinggung kalau aku menulis cerita tentang sesuatu yang buruk-buruk pada sosoknya? Sebagai pembunuh bayaran misalnya, atau sebagai seorang Playboy, misalnya. Sejujurnya permintaannya terdengar aneh buatku.

***
Kejadian itu telah sepuluh tahun berlalu. Kini aku adalah seorang novelis. Telah banyak novel yang aku buat. Aku mulai produktif menulis novel sejak masuk kuliah. Di sela-sela aktivitas kuliah, aku rajin menulis karya sastra baik itu puisi, cerita pendek, dan tentu saja novel. Di antara novel-novelku ada satu novel yang bercerita tentang Wildan. Aku menjadikan namanya sebagai tokoh dalam novel itu begitu pula dengan sifat-sifatnya yang kukenal selama kita masih tinggal bareng di asrama.

Dalam novel itu, aku bercerita tentang Wildan yang bercita-cita ingin menjadi seorang novelis, tapi dia tidak suka membaca dan menulis. Satu-satunya hobi yang ia miliki adalah memandang langit di malam penuh bintang. Tiap malam dia memandang bintang dan membayangkan ada kehidupan lain di sana. Ia membayangkan tiap-tiap kehidupan yang ada di langit sebagai novelnya sendiri. Di balik bintang-bintang itu ia bisa menemukan sebuah cerita.

Ia memandang bintang-bintang itu sama halnya seperti orang yang membaca buku, membaca novel. Dari sanalah ia menuliskan novel versi dirinya sendiri. Novel yang tidak pernah dipublikasikan. Novel yang hanya ada dalam pikirannya sendiri. Itulah yang ia sebut di kemudian hari sebagai “Novel Kehidupan.”

Setelah sepuluh tahun berlalu, bagaimana kabar Wildan sendiri? apakah dia benar-benar menjadi seorang mahasiswa sekaligus filsuf setengah waras yang terus mendengung-dengungkan soal “Novel Kehidupan” yang hanya ada di pikirannya itu?

Sayangnya dia telah tiada. Tak lama setelah upacara perpisahan sekolah kami, dia mengalami sebuah kecelakaan. Pada malam hari, motor yang ditumpanginya tertabrak sebuah bus yang melaju kencang secara ugal-ugalan di jalan raya. Saat itulah aku bersumpah tak akan pernah melupakan pertemuan kami malam itu di lantai empat gedung sekolah. Karya novelku yang juga berjudul “Novel Kehidupan” itu seutuhnya aku dedikasikan untuk almarhum Wildan.

Sabtu, 07 Januari 2017

Kapan Wisuda ?

(Sumber: ruangmahasiswa.com)

Kalau ngomongin kapan aku akan wisuda kuliah, aku akan memberikan satu jawaban yang sama: Agustus 2017. Sebuah jawaban yang sebenarnya kuucapkan dengan ragu-ragu. Percaya atau tidak, aku sendiri merasa ragu untuk bisa menyelesaikan studi sesuai janji tersebut, sementara sampai detik inipun aku masih belum mulai menyusun skripsiku sama sekali. Padahal, sudah banyak tuntutan padaku untuk segera mengakhiri studi. Mulai dari ancaman akan disusul angkatan bawah sampai pada yang paling keras yaitu tuntutan dari orang tua yang merasa terbebani untuk terus-menerus membiayai kuliahku.

Aku harus mengakui, selama ini aku menjalani kuliah tidak dengan keseriusan. IPK-ku pun bisa dibilang pas-pasan.

Sementara itu di lain tempat, banyak teman-teman seangkatanku yang telah wisuda. Meninggalkan hiruk pikuk kampus dan memulai kehidupan yang baru dengan label seorang sarjana. Mereka telah lebih dulu memasuki apa yang disebut dengan “dunia yang sebenarnya”, di saat aku masih berpikiran naif bahwa segala teori kritis yang kupelajari selama 4 tahun kuliah bisa memberikan solusi atas segala permasalahan di muka bumi ini.
Rasanya aku harus segera bangkit. Rasanya aku harus menemukan alasan kenapa aku harus segera lulus. Segera menyusul mereka untuk memasuki “dunia yang sebenarnya”. Walaupun sampai saat ini aku tak tahu apa-apa tentangnya.      



   

Senin, 10 November 2014

Hari Pahlawan

HARI PAHLAWAN

(Hanya) Sebuah Opini dari Pemuda Kolot yang Berusaha Tak Melupakan Pahlawannya

gambar ini diambil dari : 23djohand.blogspot.com 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”, begitulah kiranya Bung Karno pernah berkata. Tiap orang punya bermacam cara untuk menghargai jasa pahlawan mereka. Entah itu pahlawan bangsa, pahlawan lapangan hijau, pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin pahlawan cinta J. Pahlawan adalah sosok yang rela berkorban demi orang lain. Pahlawan tak mengenal pamrih. Ayah dan ibu adalah pahlawan bagi anak-anak di rumah. Guru yang baik adalah pahlawan bagi murid-muridnya di sekolah. Romeo adalah pahlawan bagi Juliet, walau para feminis tak mengakuinya.
Namun, ketika waktu menjadi serba enak, kepahlawanan mereka dilupakan. Bayangkan ketika anak tak mengakui kasih sayang ayah ibunya, ketika murid melupakan jasa gurunya, dan ketika Juliet tak mengakui cinta Romeo, arti perjuangan seorang pahlawan bisa hilang tak berbekas.
Kita harus ingat, pada akhir tahun 1945, bangsa Indonesia mati-matian mengusir kembali penjajah. Yang paling heroik adalah perjuangan arek-arek Surabaya. Saat itu Bung Tomo melecut semangat mereka dengan berkoar di hadapan para pejuang sebelum memulai pertempuran, ”Merdeka atau mati !”.
Atau kita juga harus ingat perjuangan para mahasiswa ketika meruntuhkan orde baru. Dengan tangan kosong mereka nekat berkoar di hadapan para pasukan polisi yang sewaktu-waktu bisa membabi buta. Butuh jatuhnya korban jiwa dari kalangan mahasiswa untuk membujuk Soeharto turun dari singgasana yang telah ia nikmati selama 32 tahun.
Tentu segala peristiwa tentang perjuangan mengusir penjajah itu tidak akan terjadi bila mereka tidak punya keberanian, bahkan keberanian untuk mati demi mengubah jalannya sejarah, yang selama tiga setengah abad lebih tidak memihak mereka. Atau bisa dibayangkan kita saat ini tidak bisa menikmati demokrasi kalau dulu para mahasiswa pesimis meruntuhkan orde baru,  takut melawan maut, acuh tak acuh terhadap kebijakan pemerintah yang menindas rakyat, dan hanya berkutat pada tugas kuliah yang banyak.
Kini, zaman sudah serba enak. Setidaknya bagi sebagian besar pemuda yang hidup dengan tujuan masing-masing. Teknologi sudah berkembang. Kebebasan mengeluarkan pendapat semakin mudah dan terjamin. Walau begitu, masih banyak hal yang perlu diperjuangkan. Tingginya angka kemiskinan, maraknya praktek KKN di kalangan birokrasi negara, ataupun konflik antar kelompok hanyalah sekelumit dari banyaknya masalah yang harus dibenahi bangsa ini.
Aneh rasanya ketika lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas yang menciptakan para bibit agen perubahan semakin banyak, masalah-masalah negara itu tak kunjung terselesaikan. Sungguh ironis  ketika ada sekelompok mahasiswa yang rela turun ke jalan untuk berdemo menuntut hak-hak rakyat, banyak dari mahasiswa lain memandang sinis dan berkata bahwa itu hanyalah cara kuno yang kolot. Bahkan sungguh  miris melihat media social yang seharusnya menjadi wadah bertukar pikiran kritis bagi para akademisi, mereka malah mengumbar kegalauan hati atau membubuhkan kata-kata omong kosong tak berarti.   
Mereka mungkin lupa, mereka mungkin tak sadar, bahwa mereka bisa ada, dan bisa hidup enak, berkat para pahlawan yang hadir di masa lalu. Siapapun itu. Nama Aristoteles, Plato, dan para filsuf Yunani kuno lain bisa menjadi pahlawan cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan. Bung Karno dan Bung Hatta bisa menjadi pahlawan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Amien Rais beserta para mahasiswa lain yang ikut berjuang bisa menjadi pahlawan reformasi. Ayah dan Ibu kita bisa menjadi pahlawan karena rela membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga beranjak dewasa. Bahkan teman kita sendiri, yang terkadang kita lupakan, bisa menjadi pahlawan karena menolong kita dari kesusahan, bahkan terkadang menasihati  dan mengajak kita untuk selalu berada di jalan yang benar.
 Hari pahlawan mungkin telah berlalu beberapa jam yang lalu. Tapi jasa-jasa dan kisah perjuangan mereka tak boleh berlalu dalam ingatan. Mereka bisa dijadikan inspirasi untuk masa depan kita. Mereka juga bisa dijadikan pelajaran, yang mungkin lebih penting dari pelajaran di bangku sekolah ataupun kuliah. Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan beberapa patah kata walau dirasa terlambat.


SELAMAT HARI PAHLAWAN !!    

Senin, 14 Oktober 2013

Idul Adha

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa Ilaa Ha Illallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Wa lillah ilhamd

Malam itu suasana lingkungan masjid lebih ramai dari hari biasanya. Anak-anak bermain di pelataran dengan rona polos yang memancarkan kebahagiaan. Di serambi masjid, beberapa pria dewasa sibuk mendata ulang nama para Sahibul Qurban dengan buku tulis berukuran 30x15 cm. Sekitar 10 meter dari situ, berdirilah sebuah kandang kayu yang dihuni puluhan ekor kambing dan beberapa ekor sapi. Mereka berdiri tenang sembari menikmati hidangan rumput yang tersaji di hadapan mereka.

Dug, trek tek, dug, dug, tiba-tiba terdengar suara bedug yang ditabuhkan di atas becak oleh seorang pemuda dengan alat pemukulnya.  Becak itu berjalan melewati keriuhan anak-anak yang sedang bermain. Seketika saja, banyak anak-anak yang menghentikan permainan lalu mengikuti becak pembawa bedug itu berjalan. Tak lama, becak itu berhenti. Pemuda penabuh bedug itu meloncat dari atas becak lalu berseru kepada anak-anak untuk berkumpul dan membentuk barisan. Beberapa pemuda yang lain pun turut ikut serta mengatur barisan itu. Para orang tua juga tampak menuntun anak mereka. Tak butuh waktu lama, sebuah barisan yang diisi sekitar 40-an bocah terbentuk walau tak begitu rapi.

Gema takbir yang berkumandang dari toa di atas atap masjid membuyarkan keheningan sesaat di barisan anak-anak. Pemuda penabuh bedug telah kembali lagi ke tempat semula dan memukul permukaan bedug dengan sekuat tenaga. Di belakang, salah satu temannya menggenjot pedal becak dengan susah payah. Usahanya tak sia-sia. Roda berputar. Becak kembali berjalan. Para bocah mengikutinya sambil mengumandangkan takbir dengan suara kecil  mereka.  Semuanya begitu bersemangat meneriakkan asma Allah sambil berkeliling desa.

Rombongan itu berjalan di tengah kegelapan. Hanya sorot lampu kecil dari rumah-rumah warga di sepanjang jalan yang memberi penerangan bagi mereka. Tak ada lagi nyala obor karena terlalu membahayakan, atau remang-remang lampion karena terlalu mahal. Atau mungkin semua itu tidak dibutuhkan lagi karena terlalu merepotkan untuk disiapkan. Tak peduli ! yang penting gema takbir tetap berkumandang. Itulah hal yang paling penting untuk malam itu.

***

Bagi setiap manusia yang merasa dirinya muslim, Idul Adha merupakan hari besar. Di pagi keesokan harinya setelah malam takbiran, mereka semua berbondong ke tanah lapang untuk bersama-sama memanjatkan do’a kepada Yang Kuasa. Sepulangnya dari sana, mereka datang ke tempat penyembelihan hewan kurban untuk menyaksikan sapi dan kambing yang dipotong lehernya. Sadiskah ? tentu saja tidak. Sapi dan kambing kurban yang disembelih  itu tentu dengan tulus melaksanakan perintah Tuhan untuk memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Ya, itulah tugas mulia mereka di dunia ini.

Di hari yang suci itu, tiap rumah pasti kebagian daging kambing dan daging sapi, yang bisa diolah menjadi masakan ataupun uang. Sebagian sadar bahwa itu semua berkah dari Tuhan. Sebagian lagi tak mau ambil pusing dari mana kenikmatan itu berasal. Manusia yang katanya selalu ingat Tuhanpun terkadang bisa egois, tak peduli dengan manusia yang lain.



Semarak itu berlangsung selama empat hari. Setelah hari terakhir berlalu, semuanya seakan terlupakan. Lembaran suci itu ditutup sudah. Para bocah kembali masuk sekolah, kembali tersiksa dengan hujaman PR yang diberikan guru mereka. Para pemuda kembali lagi pada kebiasaan lama mereka, sibuk hura-hura sambil berbicara tentang cinta palsu. Para orang dewasa kembali ke pekerjaan biadab mereka, mecari uang (haram) demi kebahagiaan semu.       

Minggu, 22 September 2013

Mimpi 21 Tahun

sumber : www.republika.co.id
Indonesia !!! Indonesia !!! gemuruh teriakan berkumandang dari puluhan ribu manusia yang memadati Gelora Delta Sidoarjo malam itu. Letupan petasan semakin menyorakkan pesta besar yang seakan segan untuk diakhiri. Di tengah lapangan hijau, belasan pemuda bangsa baru saja ditasbihkan sebagai pahlawan. Ya, mereka telah mengharumkan nama Indonesia, atau lebih tepatnya mereka telah mengakhiri segala ironi yang terjadi pada sepak bola tanah air.
Bukanlah nama besar macam striker maut Bambang Pamungkas, gelandang enerjik Ponaryo Astaman, ataupun sayap lincah Elie Aiboy. Ketiga nama tersebut saat itu mungkin hanya terpaku di depan layar TV melihat pahlawan sebenarnya mengangkat tropy. Di dalam hati mereka mungkin saja boleh berbangga. Segala penantian yang bahkan tidak bisa mereka raih kini telah tercapai. Bukan oleh mereka, tapi para pemuda bangsa di bawah usia 19 tahun-lah yang melakukannya.
Kembali ke stadion. Di tengah lapangan hijau, para pahlawan muda itu bersorak sorai bahagia. Beberapa dari mereka bahkan sampai meneteskan air mata. Beberapa lagi barangkali tak percaya, pengorbanan yang sudah dilakukan tak hanya berarti bagi pacar mereka, tapi seluruh bangsa Indonesia. Mereka telah membangkitkan harapan pada sepak bola tanah air. Dahaga puasa gelar selama 21 tahun selesai sudah.  Inilah era baru sepak bola Indonesia. ‘’A dream was become a true’’
Terima kasih para pahlawan muda. Terima kasih para pemain timnas Indonesia U-19. Kalian akan selalu dikenang di hati jutaan rakyat Indonesia.


MERDEKAA !!!!!!

Sabtu, 13 April 2013

Suara Azan

Allahu Akbar, Allahu Akbar !
Allahu Akbar, Allahu Akbar !

Suara itu bergema dari arah Masjid. Panggilan Tuhan bagi umat manusia yang masih percaya bahwa Dia masih ada. Itulah suara Azan. Yang makin hari makin diacuhkan. Suara yang malang. Gema yang tak bermakna, hanya omong kosong. Ironis ! Itulah yang mereka pikirkan. Seruan Tuhan telah dilupakan. Apa yang telah diperbuat oleh manusia? tentu Tuhan akan sakit hati merasakan ini semua. Tuhan telah dikhianati, kemudian Dia akan berseru, ''Dasar manusia-manusia tak tahu diri!''. Sayang, Dia telah menakdirkan tak ada rasul lagi setelah Muhammad. Bagi-Nya, semuanya telah sempurna. Tak ada lagi yang harus dikatakan oleh-Nya untuk umat manusia. Namun sekarang Dia ingin mengutuk ciptaan-Nya sendiri, tapi tak bisa. Manusia terlalu pintar untuk beralasan. Manusia berkata,''Wahai Tuhan, Engkau tidak pernah memberi tahu kepada kami bahwa kami telah dikutuk. Apakah Engkau masih adil kepada kami?''. Tuhan yang Maha Mendengar pun menjawab, ''Ketahuilah bahwa Aku telah memberi tahu melalui Firman-firman-Ku yang kuturunkan kepada salah satu dari segolongan di antara kalian!''. Namun sayangnya, manusia tidak pernah bisa mendengar perkataan Tuhan. Mereka yang merasa tak kunjung mendapat jawaban dari-Nya merasa Dia telah tiada. ''Hore ! Tuhan sudah mati ! Tuhan sudah mati !'', manusia bersorak gembira. Jadi, tak ada yang harus ditakutkan bila mereka berdosa, karena tak ada yang bisa menghukum mereka. Tak ada yang harus dilakukan bila mereka mendengar panggilan Tuhan, karena mereka percaya Tuhan itu tidak ada !

Selasa, 15 November 2011

What' s your mind ?

"Semakin banyak kamu mencari-cari alasan, semakin besar peluangmu untuk gagal, semakin banyak kamu belajar dari kesalahan, semakin besar peluangmu untuk meraih KEBERHASILAN !!

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...