Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 20 (Final) : Akhirnya Terbit Juga

Majalah PASTI yang memuat tulisan Ekspedisi Lasem


Di tengah-tengah libur semester, aku tetap menjalankan aktivitas mengerjakan skripsi. Selain itu aku juga melakukan aktivitas lain seperti jadi Panitia Ramadhan di masjid dan juga sempat mudik ke Jakarta di pertengahan Ramadhan.

Aku sebenarnya menanti-nanti kapan Majalah PASTI terbit. Penantian itu akhirnya terbayar saat pada suatu hari di Bulan Agustus Pemimpin Redaksi kami Greg bilang majalahnya sudah terbit dan sudah bisa diambil pula. Aku langsung pergi ke penerbit, dan ambil majalah itu sama Greg untuk ditaruh di Sekre.

Kalau tidak salah, majalah itu diterbitkan sebanyak 200 eksemplar. Di dalamnya terdapat banyak tulisan teman-teman baru maupun teman-teman lama. Bahagianya aku tulisanku ditaruh di halaman pertama. Selain itu, diantara semua tulisan yang ada di majalah itu, tulisanku paling panjang. Aku menuliskannya sebanyak hampir 5.000 kata.

Namun tulisan yang terbit dari Ekspedisi PASTI hanya ada dua. Selain tulisanku ada pula tulisannya Bagus tentang pernikahan lintas agama di Lasem. Tulisannya Ancis belum rampung saat deadline, dan aku tidak tahu dengan tulisannya Rifat, Osa, Cipon, dan Cacing. Aku tak merasa bertanggung jawab atas tulisan mereka. Andai aku dipasrahi untuk bertanggung jawab atas tulisan Lasem pastilah aku akan mengejar-ngejar mereka untuk bertanya tentang progress tulisan.

Setelah menaruhnya di Sekre, aku mengambil satu majalah itu dan membawanya pulang. Di rumah aku tak henti-hentinya membaca tulisanku sendiri. aku membolak-balik halaman tulisanku, membacanya berulang-ulang, mengamati tiap kata yang aku tulis sendiri, dan kemudian aku merasa senang.

Setelah puas berkelindan dengang tulisan sendiri, aku mulai membaca tulisan lain. Ada tulisan Bagus soal pernikahan di Lasem, ada tulisan Kenia tentang Wiji Thukul, ada tulisan Bela dan Bekti tentang penghayat kepercayaan, ada tulisannya Lika dan Keceng tentang jalur pendakian Merbabu, ada tulisannya Dicha tentang Kampung Code, ada tulisannya Krise dan Ega tentang ojek difabel, ada tulisannya Lukas dan Cyntia tentang kampus, tak lupa tulisan seperti resensi film yang ditulis Greg dan resensi buku yang ditulis Ino. Dan di akhir halaman, ada cerpen karya Bram.

Sebelum pulang ke Jogja, Mas Pop minta agar ia dikirimi majalahnya kalau sudah jadi. Sayangnya, sampai saat ini, aku belum juga mengirim majalah itu. Aku sebenarnya malu, sebagai perwakilan tim, output dari ekspedisi itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kalau tahu kondisinya seperti ini, aku harusnya ngopyak-opyak mereka sepulang dari Lasem. Lagipula dalam Majalah itu aku tercatat sebagai redaktur senior. Posisi itu tidak disadari olehku karena pada waktu-waktu terakhirku di PASTI ini, aku hanya ingin srawung dan mencari teman diskusi saja.

Setelah berakhirnya Ekspedisi Lasem, aku makin jarang kumpul di Sekre dan akhirnya tidak berangkat sama sekali. Teman-teman memang banyak yang mengharapkan aku bisa ikut kumpul di sana, tapi aku saat itu memang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi di rumah dan malas keluar kalau benar-benar tidak ada kepentingan mendesak. Tulisan “Hikayat yang Menyatukan Lasem” menjadi tulisanku yang terakhir untuk PASTI.        

Jumat, 20 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 19: Kendala Menulis

Pertunjukka Barongsai di atas panggung


Dengan adanya rangkuman tentang Perang Kuning yang ditulis Mas Mahdi bukan berarti masalah penulisan beres. Aku perlu melakukan cross check dengan sumber-sumber lainnya. Atau sumber-sumber lain itu juga bisa menjadi pelengkap ceritaku. Aku kemudian mencari buku-buku lain yang ingin aku jadikan referensi. Ada bukunya Williem Remmelink tentang perang di Jawa pada abad ke-18, ada pula buku Sejarah Indonesia yang disusun oleh Kemendikbud bekerjasama dengan lembaga penelitian dari Belanda.

Untuk bisa memperoleh bukunya William Remmelink, aku harus berjuang mencarinya di Perpustakaan Pusat UGM. Bagiku yang bukan mahasiswa UGM, untuk masuk ke perpusnya aku dikenakan biaya Rp 5.000. Sayangnya aku tidak menemukan buku itu di sana. Aku justru mendapatkan buku Williem Remmelink di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Buku itu tentu saja tidak bisa dibawa pulang oleh orang yang bukan civitas akademik UGM. Akhirnya aku foto saja bagian yang ingin aku kutip. Kemudian aku tambahkan kutipan itu di bagian yang kira-kira tepat sebagai pelengkap cerita. Bagian yang aku ambil pada buku Williem Remmelink adalah pada bagian pertempuran antara pasukan kuning dengan tentara VOC di laut. Aku masukkan cerita itu di bagian inti kisah pertempuran pada perang tersebut.

***
Aku menulis dengan sangat lamban. Ada hari di mana aku begitu produktif menulis, dan ada pula hari di mana aku tidak punya mood untuk menulis sama sekali. Bahkan pernah ada waktu di mana aku menunda-nunda menulis sampai hampir satu minggu.

Tapi sebenarnya, kondisiku masih lebih mending dibandingkan kondisi teman-teman yang lain. Cacing misalnya, saat aku tak sengaja berjumpa dengannya di perpustakaan dan menanyakan progres tulisannya, dia dengan ringannya menjawab belum mulai menulis. Sementara Osa harus sampai berkonsultasi denganku untuk menemukan alur tulisan yang pas dengan data yang ia peroleh seadanya.

Intinya, aku bilang pada Osa, di balik kendala-kendala ini, hal terpenting adalah tulisan harus jadi. Sebaik atau seburuk apapun tulisanmu nanti kamu harus menyelesaikannya dulu, kataku pada Osa.

Sementara Cipon, aku tak tahu persis karena toh dia sudah punya banyak masalah di luar proyek tulisan ini. Dia harus segera menyelesaikan skripsi atau dia tidak akan memperoleh gelar sarjana.

Dalam menyelesaikan tulisanku, sebenarnya aku banyak berdiskusi dengan Ancis. Aku sering mampir ke kosannya, aku tanya progress tulisannya, dia tanya progress tulisanku. Dia dengan saksama membaca bagian awal tulisanku dan merasa kagum karena menurutnya tulisanku bagus. Benar-benar seperti tulisan jurnalisme sastrawi, katanya.

Akupun juga membaca progress tulisannya. Menurutku, masih banyak kekurangan pada tulisannya. Mulai dari diksi bahasa, cara mengutip kalimat, dan alur ceritanya sebetulnya masih kacau. Tapi ada satu hal yang membuatku kagum dengannya adalah semangatnya dalam belajar menulis.

Tidak seperti kebanyakan dari kami di PASTI yang berasal dari Prodi Ilmu Komunikasi yang sering diajarkan tentang cara menulis berita yang benar, Ancis berasal dari Prodi Teknobiologi. Tiap minggu dia sering menghabiskan waktu di Lab, membedah perut katak, dan membuat laporan ilmiah tentang hasil penelitiannya dari membedah perut katak. Tapi laporan itu tentu saja tidak ditulis untuk menjadi sebuah karya sastra, malah mungkin banyak berisi istilah-istilah biologi yang tak mudah dimengerti orang awam.     

Tapi saat masuk PASTI Ancis selalu punya antusiasme besar untuk belajar menulis. Pada masa awal-awal di PASTI, dia memang canggung dengan anggota lain karena minder belum bisa menulis. Akhirnya lebih banyak berdiskusi denganku. Dia berkata jujur padaku bahwa dia belum bisa menulis tapi ingin belajar. Di situlah awal mula kedekatan kami di PASTI.  

Dalam belajar menulis, dia mengaku banyak membaca buku tentang jurnalisme, karya-karya jurnalisme sastrawi, dan masih banyak lagi. Aku bukan bermaksud menjadi guru menulis untuknya, karena sebenarnya akupun belum merasa bisa menulis dengan benar. Akhirnya kami belajar bersama. Kami banyak berdiskusi tentang buku dan isu-isu terkini. Tak jarang kami harus debat dalam proses diskusi itu.

Begitu pula saat proses penulisan liputan khusus Lasem. Dia menulis tentang profil Gus Zaim. Kalau menurutku, sebenarnya tulisan itu cukup mudah dibuat karena datanya suda ada dan tinggal menuangkannya dalam bentuk tulisan. Beda halnya denganku yang harus melakukan riset pustaka sekali lagi agar tulisanku benar-benar terlihat pantas diterbitkan.

Pelan-pelan, hari demi hari, aku terus menulis sampai tulisanku jadi. Lalu tulisan itu aku kirim ke Pemimpin Redaksi-ku untuk diedit. Walaupun waktu proses pengerjaannya hampir mencapai dua bulan, namun pada akhirnya aku lega karena tulisanku jadi juga. Tulisan itu kuberi judul singkat “Hikayat yang Menyatukan Lasem”.  

Pertunjukkan Barongsai di atas panggung

Gubernur Ganjar Pranowo memberi sambutan

Tarian Cina

Drama Pertunjukkan Perang Kuning


Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 11 : Berkunjung Ke Rumah Opa

Opa sedang menikmati sore di halaman rumahnya

Pada H-1 sebelum pulang ke Jogja, aku memiliki banyak waktu bebas. Aku sudah tidak punya tanggungan wawancara lagi. Sebenarnya aku masih punya satu topik tulisan lagi tentang kuliner. Namun mengingat di lapangan narasumbernya sulit dicari, akhirnya aku memutuskan untuk tidak menulis tentang topik tersebut.

Pada pagi sampai siang hari, aku tidak pergi ke mana-mana karena saat itu hujan turun deras. Praktis aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk termenung di beranda, memandang hujan seperti seseorang yang merindukan kekasihnya.

Hujan mulai reda sore harinya. Aku keluar jalan-jalan sekalian berfoto selfie bersama Ancis dan Bagus.

Saat itu jalanan masih basah. Bahkan halaman depan bangunan di sebelah penginapan kami terendam air. Kami berjalan keluar penginapan ke arah Lasem Heritage. Di sana kami berfoto lagi di depan pintu gerbangnya. Lalu kami berjalan lewat depan rumah Pak Gandor, lurus lagi melewati beberapa rumah. Di depan rumah yang berpintu biru kami berfoto lagi. Tak sengaja kami melihat bunga yang indah di pinggir jalan. Aku meminta Bagus untuk mengambil foto saat aku sedang mencium bunga itu. Sungguh alay benar diriku ini.

Saat kami tengah berfoto, seorang perempuan berusia 50-an tahun muncul dari salah satu pintu rumah. Dia menyapa kami ramah. Kamipun membalas sapaannya. Beberapa hari lalu  aku dan Ancis lewat depan rumah itu saat hendak menuju pondok pesantren Kauman. Di sana kami melihat seorang kakek tua tampak duduk di depan pintu. Kakek tua itu pernah aku lihat dalam salah satu foto di tulisannya Mbak Agni. Dalam tulisannya, Mbak Agni menyebut kakek tua itu dengan nama “Opa”.

Sore itu kami bertiga diajak perempuan itu untuk menemui Opa. Saat kami memasuki halaman rumah itu, tampak Opa sedang duduk di ruang tamu. Dia tampak tersenyum menyambut kedatangan kami. Dengan suaranya yang terbata-bata, Opa mempersilahkan kami masuk rumahnya. Sementara perempuan paruh baya itu menuntun kami masuk ke setiap ruangan. Lalu tibalah kami di ruang belakang. Saat melihat ada kamar mandi di sana, Ancis dengan spontan minta izin memakai kamar mandi itu untuk buang air kecil. Karena kondisiku juga sama seperti Ancis, setelah dia keluar giliran aku yang minta izin ke kamar mandi itu. Sungguh tak tahu diri benar kami ini ):

Perempuan paruh baya (yang, maaf, aku lupa namanya) itu langsung menunjukkan kepada kami kamar lainnya yang ada di rumah itu. Pada sebuah kamar yang ditunjukkan pada kami terbaring seorang nenek, yang menurut pengakuan perempuan paruh baya itu, sudah berusia 100 tahun. Mata nenek itu terpejam. Perempuan itu membangunkan sang nenek kalau ada tamu. Nenek itu hanya mendesah agak keras, dan kemudian memalingkan tubuhnya lagi, seolah tak peduli dengan keberadaan kami bertiga yang sebenarnya prihatin dengan keadaan nenek itu.

Setelah dari kamar sang nenek, perempuan itu mengajak kami kembali ke halaman depan. Di rumah itu terdapat seekor anjing peliharaan Opa. Opa juga ada di sana. Kami bertiga duduk menghadap Opa, sementara perempuan itu duduk di dekat dinding, agak menghidar dari kami.

Perempuan itu bercerita kalau sehari-hari dia yang merawat Opa dan nenek yang terbaring di kamar itu. Dia sendiri berasal dari Tuban, Jawa Timur. Setahun sekali dia pulang ke kampung halamannya.     
Hari hampir senja saat kami mohon pamit kembali ke penginapan pada Opa dan perempuan paruh baya itu. Itulah sekelumit kisah kehidupan masa tua di balik tembok pecinan Lasem yang seakan tak pernah lekang oleh arus zaman.  

Ancis di rumah Opa

Pintu Masuk rumah Opa

Menghirup aroma bunga di tepi jalan

Kembali ke penginapan


Ekspedisi Lasem Part 10 : Bertemu Mbak Agni

Tembok merah Lasem Heritage di malam hari



Setelah wawancara dengan Abdullah Hamid selesai, aku langsung pulang ke penginapan untuk sholat dan mandi. Pada malam harinya, aku harus mewawancarai seorang narasumber lagi. Sebenarnya, narasumber yang satu ini bukanlah orang Lasem, melainkan seorang penulis sekaligus peneliti perempuan yang begitu mencintai Lasem. Dialah, Agni Malagina! Akhirnya aku dapat bertemu langsung dengan orang yang pertama kali mengenalkanku pada Kota Cina tua di pesisir Jawa ini.

Sebelum berangkat ke Lasem, aku telah membuat janji dengan Mbak Agni untuk bertemu di Lasem nanti. Sejujurnya, aku bingung apa yang akan kutanyakan nanti tentang Lasem. Dia sebenarnya tidak ada dalam daftar narasumber untuk tulisanku. Tujuan aku bertemu dengannya hanyalah untuk bertanya padanya literatur apa saja yang dapat kugunakan untuk menulis soal Perang Kuning, sekaligus berkenalan dengan dia tentunya.  

Malam itu, kami janjian bertemu di warung kopi yang masih menjadi satu tempat dengan bangunan Tiongkok Kecil Heritage milik Rudy Hartono. Rudi Hartono adalah seorang pengusaha termasyur di Lasem yang juga keturunan Tionghoa. Aku datang ke warung kopi itu dengan ditemani Ancis. Saat kami sudah sampai dan kemudian memesan segelas kopi, Mbak Agni belum ada di sana.

Menunggu Mbak Agni di warung kopi Lasem Heritage

Mbak Agni baru muncul lima menit kemudian. Saat pertama kali melihatku, dia sempat terkejut karena ternyata selama ini, sebelum pertemuan ini terjadi, ia mengira aku seorang perempuan. Ya, nama Shani cukup lazim dipakai untuk nama perempuan. Sepertinya dia tidak sempat melihat foto profilku di WA.

Selama di Lasem, Mbak Agni bersilaturahmi dengan para tokoh Lasem yang menjadi narasumbernya. Ada Pak Gandor, Gus Zaim, Pak Sigit, dan juga, Mas Pop. Tak hanya sekedar menulis tentang Lasem untuk Majalah National Geobgraphics, Mbak Agni beserta fotografernya, Ferry Latief, dan juga rekan-rekannya yang lain mengembangkan website yang mengangkat keunikan Lasem. Website itu bernama kesengsemlasem.com.

Pertemuanku dengan Mbak Agni malam itu berjalan sedikit canggung. Sepertinya Mbak Agni masih punya acara lain setelah pertemuan ini, sehingga dia memintaku langsung ke intinya saja. Aku yang menjadi serba salah dibilangin begitu akhirnya hanya ingin meminta pendapatnya tentang Sejarah Perang Kuning saja. Dia sanggup memberikan pendapat, hanya dia memintaku agar namanya tidak ditulis sebagai narasumber. “Semua perkataan ini off the record aja ya. Lagi pula aku bukanlah orang yang kompeten bicara soal Lasem. Nanti kalau soal bahan-bahan aku kirim via e-mail,” begitulah dia memberi penjelasan padaku.

Mbak Agni kemudian memberi pemaparan singkat tentang perang kuning. Kalau ada waktu lebih, sebenarnya aku ingin bertanya apa yang menjadi motivasinya menulis tentang Lasem, dan apa yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada Lasem. Tapi apa daya, mengingat dia sedang terburu-buru, aku tak berani untuk menanyakan itu semua.

Akhirnya wawancara terpaksa kuakhiri. Sebenarnya dalam pertemuan itu aku ingin berbincang banyak dengan Mbak Agni, mengingat kalaupun diajak diskusi soal Lasem, akupun siap karena sudah membaca banyak referensi. Tapi sepertinya malam itu Mbak Agni tak ingin berlama-lama bertemu denganku.

Sebelum berpisah, kami sempat berbasa-basi sejenak. Mbak Agni bertanya dari mana asal kami berdua. Ketimbang aku, dia lebih tertarik pada Ancis yang berasal dari Pulau Adonara itu. Dia mengatakan kalau penulis dari Nusa Tenggara Timur biasanya punya seni bahasa Indonesia yang lebih bagus dari penulis-penulis dari bagian Indonesia lainnya, sebagai contoh Prof. Gorys Keraf.

Ketika kami semakin larut dalam pembicaraan, justru pada saat itu Mbak Agni dipanggil Pak Rudy yang tengah duduk di beranda Lasem Heritage. Dia sepertinya hendak memperkenalkan Mbak Agni dengan seseorang. Kamipun akhirnya berpisah dengannya.

Aku pulang ke penginapan dengan tangan hampa. Data yang diperoleh dari Mbak Agni untuk bahan tulisan sungguh minim sekali. Padahal awalnya aku berharap dari diskusiku dengannya akan melahirkan banyak informasi dan sumber referensi baru. 

Ekspedisi Lasem Part 9 : Lasem Kota Santri


Masjid Jami' Lasem (foto diambil dari arsip Masjid Jami' Lasem)


Aku dan Ancis telah melupakan debat tentang hal-hal yang ilmiah dan yang ghoib. Kami sudah berbaikan walau tak satupun dari kami yang meminta maaf. Suatu hari, sepulang dari makan siang di warung, Ancis bercerita padaku. Waktu itu, ia ikut Cacing dan Cipon pergi dengan salah satu anggota Bhre Lasem. Aku sendiri lupa nama anggota Bhre Lasem itu. Yang jelas, dia mengajak tiga anggota PASTI itu untuk minum kopi bareng.

Pertama-tama Ancis bercerita tentang kopi Lasem yang ampasnya bisa digunakan sebagai tinta untuk melukis di puntung rokok. Lalu pembicaraan mengarah ke hal-hal tentang anggota Bhre Lasem itu. Dia bercerita kepada mereka bertiga kalau dia punya indra keenam sehingga dapat melihat hal-hal ghoib di sekitarnya. Bahkan, dia punya pendamping makhluk ghoib seorang gadis asal Ciamis bernama Mbak Yayuk. Mbak Yayuk selalu mengikuti ke manapun dia pergi.

Selain bercerita tentang gadis makhluk halus pendampingnya, anggota Bhre Lasem itu juga bercerita tentang penginapan kami. Katanya, toilet yang berada di belakang penginapan itu ada penunggunya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ranjang yang biasa digunakan Ancis tidur ditempati sesosok pocong. Mengetahui kenyataan itu membuat Ancis sangat ketakutan. Dia kemudian memintaku untuk selalu berada di sisinya saat dia tidur di ranjang itu. Bukannya ikut-ikutan takut, dalam hati aku merasa puas dan membatin, tuh rasain cis!

Cacing juga bercerita padaku tentang anggota Bhre Lasem itu. Dia ternyata seorang santri di sebuah pondok pesantren bernama Al-Frustasiyah, yang artinya tempat orang-orang yang frustasi. Aku cukup terkejut mendengar nama aneh pesantren itu. Cacing kemudian bercerita kalau anggota Bhre Lasem itu sebenarnya seorang gitaris band, namun sehari-hari dia tinggal di pesantren itu. Katanya, cara untuk menghilangkan rasa frustasinya adalah dengan bermain band. Kalau frustasinya sudah hilang, dia kembali ikut ngaji di pondok pesantren Al-Frustasiyah.

***

Pondok pesantren tumbuh subur di Lasem. Tak ada yang tahu pasti kapan pondok pesantren mulai tumbuh di sana. Yang jelas, adanya pondok-pondok itu ikut andil dalam menyebarkan syi’ar Islam di Lasem yang dulunya merupakan kekuasaan Majapahit. Beberapa tokoh syi’ar Islam yang terkenal di Lasem diantaranya; Sayid Abdurrohman alias Mbah Sambu, Adipati Tejokusumo alias Mbah Srimpet, dan Kyai Ali Baidawi.

Para santri di Lasem hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, mereka juga ikut memajukan sektor ekonomi Lasem dengan berjualan kopi khas Lasem. Di sebelah utara Masjid Jami’ Lasem, banyak toko-toko penjual Kopi Lasem yang rata-rata merupakan produk olahan dari pondok pesantren. Aku membeli dua bungkus kopi kemasan untuk oleh-oleh dibawa pulang. Satu bungkus kopi bubuk Lasem harganya Rp 7.000.

Kopi merupakan minuman favorit bagi masyarakat Lasem. Warung kopi di Lasem tak hanya menjadi tempat untuk minum kopi, namun juga sebagai ruang publik tempat mereka bertukar informasi, gosip, atau hanya sekedar basa-basi menjalin silaturahmi.

Setelah puas menjelajah sentra kopi di Lasem pada siang hari, sorenya aku mengunjungi halaman belakang Masjid Jami’Lasem. Di sana terdapat makam Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan Ki Ali Baidawi. Nama terakhir merupakan seorang pejuang perang sabil Lasem. Dulu, dia memimpin pasukan santri untuk menyerang Belanda. Tidak jelas apakah dia gugur dalam pertempuran itu atau tidak.

Makam itu terletak di sebuah ruangan yang berada di sebelah barat masjid. Di ruangan itu ada dua makam lagi yang aku sendiri lupa makamnya siapa saja.

Beranjak ke luar ruangan, aku menuju parkiran mobil yang terletak di barat pelataran masjid. Di sana terdapat prasasti perang sabil. Tepat di samping prasasti itu adalah deretan ruangan para pengurus masjid. Salah satu ruang itu menjadi tempat tinggal Abdullah Hamid.

Abdullah Hamid menyambutku ramah kedatanganku. Kami ngobrol di depan kantor yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus tempat ia mengajar untuk Universitas Terbuka. Di sana kami ngobrol tentang toleransi di Lasem. Menurutnya, kisah perang kuning penting untuk menjadi materi sejarah pada sekolah-sekolah di Lasem. Dia kemudian menunjukkan padaku kliping koran berupa tulisannya yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka.

Di halaman belakang masjid itu ada sebuah batu yang di atasnya terdapat papan bertuliskan huruf latin berbahasa Jawa. Kata Pak Abdullah, batu itu diperolehnya secara cuma-cuma dari Gunung Kedil. Tulisan itu dikutip langsung dari buku Babad Lasem yang isinya sebagai berikut:

Sarampunge sembahyang Jumuwahan Ing Masjid Jami’ Lasem kang diimami Kyai Ali Baidawi, nuri wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabisa nyirnakake kumpeni Walanda  

(Setelah Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Lasem yang diimami Kyai Ali Baidawi, dia menyeru kepada semua umat Islam untuk ikut perang sabil sebagai usaha mengusir kompeni Belanda)


Makam Ki Ali Baidawi

Makam para kiayi Lasem di halaman belakang Masjid Jami'

Prasasti perang sabil

Ekspedisi Lasem Part 8 : Spot Swafoto Di Lasem

Foto bareng anak-anak di depan eks-jembatan kereta api Lasem


Bagi para penggemar foto selfie, ada banyak tempat di Lasem yang bisa digunakan untuk berswafoto ria. Spot yang paling utama tentu di tiga kelenteng yang menjadi ciri khas Lasem, seperti Kelenteng Cu An Kiong, Kelenteng Po An Bio, Kelenteng Gie Yong Bio, dan juga Lawang Ombo. 

Selama di Lasem, aku tidak sempat mengunjungi Lawang Ombo. Tapi aku sempat mengunjungi ketiga kelenteng itu dan berfoto di sana. Namun yang harus diperhatikan jika ingin berfoto di kelenteng adalah sopan santun. Bagaimanapun, kelenteng itu tempat ibadah, bukan tempat foto. Bila ingin mengambil foto, aku biasanya minta izin dulu sama petugas yang sedang berjaga di sana.

Selain tempat-tempat yang sudah ikonik di atas, masih banyak lagi tempat yang instagramable di Lasem. Salah satunya adalah pos ronda berbentuk kelenteng itu. Walaupun mirip kelenteng, pos ronda itu tak ada kaitannya dengan tempat ibadah umat Konghucu, jadi kita bebas berfoto ria di sana.
Masih satu deret dengan pos ronda itu, ada pula kusen pintu rumah-rumah Cina di sana. 

Warna dan motif kusen pintu itu macam-macam. Ada yang berwarna biru, merah, hijau muda, cokelat, dan masih banyak lagi. Lalu ada pula gerbang pintu rumah tua yang sepertinya sudah tak berpenghuni. Gerbang pintu tua itu terbuat dari kayu dan sudah banyak yang keropos dimakan rayap. Di Lasem, terdapat banyak rumah-rumah tua yang bagus untuk menjadi latar objek swafoto.

Lalu ada pula tembok rumah merah Lasem Heritage yang letaknya persis di samping rumah Pak Gandor. Warna merah pada tembok ini benar-benar menyala seperti pada bendera China dan Vietnam. Di sana juga ada pintu berwarna cokelat yang di tiap sisi menuju pintu itu terdapat ornamen patung berbentuk naga. Dan juga, di dekat penginapan kami, ada sebuah tembok bercat putih yang telah banyak goresan sana sini. Di sana terdapat tulisan yang bikin baper, “PINDAH OMAH LUWIH GAMPANG, TIMBANG MINDAH KENANGAN”.

Pindah omah luwih gampang timbang mindah kenangan


Tapi foto selfie yang paling berkesan bagiku adalah saat foto di depan bekas sebuah jembatan kereta api yang telah menjadi jalan kampung. Saat itu aku sama Ancis tengah blusukan menyusuri jejak rel kereta api di Lasem. Sejujurnya bekas rel itu sudah tidak ada. Aku memperikaran kalau jalan yang kami lalui dulunya bekas jalur kereta api hanya berdasarkan insting. Pedomanku hanyalah peta Lasem zaman 90-an yang terdapat di bukunya Handinoto. Dalam buku itu, jalur kereta api berbelok ke arah tenggara setelah melewati Stasiun Lasem. Di satu titik koordinat, jalur kereta api itu menyilang dengan Sungai Lasem. Pasti ada jembatan di titik persilangan itu. 

Dari peta itu aku menyimpulkan bahwa bila ada jalan ke arah tenggara di dekat Stasiun Lasem, berarti itu bekas jalur kereta api. Awalnya aku sulit menemukannya. Bahkan untuk menemukan bekas jalur itu, aku tidak menggunakan pedoman Google Maps.

Karena tidak menemukan jalur yang menyerong, dari Stasiun Lasem kami berkendara ke arah selatan. Lalu mencari jalan ke arah barat. Finally, aku menemukan jalan ke arah tenggara. Namun jalan itu terhenti di sebuah persimpangan. Aku ambil jalan itu ke arah kiri. Lalu ketemu persimpangan lagi ke kanan. Tiba-tiba saja di sebuah jalan tidak beraspal, aku menemukan plang bertuliskan “Tanah Ini Milik PT Kereta Api” dan disertai pula dengan logo PT Kereta Api. Langsung saja aku berbelok ke arah jalan tak beraspal yang membentang di belakang plang itu.

Tak sampai dua ratus meter menyusuri jalan itu, aku bertemu sebuah jembatan. Jalan tak beraspal itu menyempit saat melintasi jembatan itu. Sesuai konstruksinya, hampir dipastikan jembatan ini dulunya merupakan jembatan kereta api.

Di ujung jembatan itu, tampak sekelompok anak laki-laki sedang menikmati minuman yang dibungkus plastik. Rupanya di sana ada warung yang menjual aneka minuman instan seperti Pop Ice dan Nutrisari. Anak-anak itu menyapa kami begitu akrab, seakan kami bukan orang asing bagi mereka. kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berfoto bersama mereka. Setelah mereka pergi, giliran kami berfoto selfie sepuasnya di ujung jembatan. Akhirnya, penjelajahanku menyusuri jejak-jejak perkeretaapian di Lasem kesampaian juga.

Berpose di eks-jembatan kereta api

Bagian dalam gedung Lasem Heritage

Berpose di depan pintu Lasem Heritage


Berkenalan dengan kawan baru di pos ronda

Berdiri di depan rumah tua

Berfoto tanpa izin di depan rumah warga pecinan Lasem



Ekspedisi Lasem Part 7 : Bertamu ke Rumah Gus Zaim




Gus Zaim di depan pintu rumahnya

Pada hari-hari normal terutama pada musim kemarau, Lasem merupakan kota dengan terik mataharinya yang menyengat. Di sana langitnya biru, dan kamu bisa menatap langit itu yang menaungi hamparan sawah hijau dengan latar Gunung Lasem dari bawah pohon yang teduh. Benar-benar seperti lukisan pemandangan yang biasa digambar anak SD pada masa-ku dulu.

Namun selama kami menetap di Lasem, tak sekalipun langit cerah. Walau tidak hujan sekalipun, langitnya tetap mendung tertutup tirai awan kelabu. Cuaca-nya tidak sepanas kota-kota di pantura lainnya seperti Semarang dan Surabaya.

Pagi itu, aku berbaring di atas kasur, sambil berpikir siapa lagi narasumber yang akan aku wawancarai. Sebenarnya tulisan sejarah Lasem nantinya akan banyak mengambil dari sumber buku. Sementara wawancara narasumber hanya sebagai pelengkap saja. Tapi agar tulisanku lebih hidup, wawancara dengan narasumber lain juga dibutuhkan. Aku sudah mewawancarai Pak Gandor dan Mas Mahdi. Untuk Selanjutnya aku berencana bertemu dengan Gus Zaim, untuk menanyakan soal sejarah toleransi di Lasem.

                                                                       ***

KH Zaim Ahmad, atau akrab dipanggil Gus Zaim adalah pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Lasem. Selain Pak Gandor, ia adalah salah satu orang terpandang di Lasem. Bila ada jurnalis ingin meliput atau membuat video dokumenter tentang Lasem, Gus Zaim adalah orang yang wajib diwawancara.

Aku pergi bersama Ancis untuk menemui Gus Zaim. Sebenarnya Ancis-lah yang minta ditemani untuk bertemu Gus Zaim karena dia takut pergi sendiri. Ancis sendiri akan menulis profil Gus Zaim sebagai tokoh toleransi Lasem. Lagi pula pengalaman wawancara-nya minim, sehingga dia butuh kudampingi yang pengalaman wawancaranya lebih banyak. 

Pondok Pesantren Kauman terletak di Desa Karangturi, Lasem. Lokasinya masih berada satu desa dengan penginapan kami dan rumah Pak Gandor. Sebenarnya bisa saja kami ke sana dengan berjalan kaki. Namun untuk menghemat waktu, kami pergi ke sana dengan meminjam motor KLX-nya Cipon.
Gus Zaim menyambut kami ramah saat kami tiba di Pondok Pesantren Kauman. Rupanya Ancis telah membuat janji terlebih dahulu dengan Gus Zaim jauh hari sebelum kami berangkat ke Lasem. Dan janji itu baru terwujud saat itu, saat dia dengan begitu canggungnya memperkenalkan diri dengan Gus Zaim.

Kemudian, kami dipersilahkan duduk di beranda rumahnya dan mengobrol dengannya di sana. Selain kami, di sana juga ada Abdullah Hamid, seorang pengurus takmir Masjid Jami’ Lasem yang juga seorang dosen di Universitas Terbuka. Tak lama kami duduk di beranda, seorang gadis muda berjilbab keluar memberikan hidangan teh pada kami. Aku terpesona dengan kecantikan gadis itu. Sayangnya gadis itu segera masuk begitu minuman tersaji di meja. Di meja itu sendiri terdapat berbagai macam hidangan kue-kue, snack-snack, baik yang gurih dan manis. Kami berempat duduk lesehan sembari melakukan sesi wawancara dengan Gus Zaim.

Ancis mulai mengajukan pertanyaan pada Gus Zaim tentang riwayat hidupnya. Gus Zaim mulai bercerita tentang dirinya, mulai dari bangku SD, saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak Jogja, sampai saat ini di mana dia mengasuh para santri di Pondok Kauman. Dia menceritakan riwayat hidupnya cukup ringkas, padat, dan jelas, seakan ia hanya baru hidup sebentar saja. Tapi tentu itu hanyalah gambaran umum tentang Gus Zaim.

Bicara soal Gus Zaim sebenarnya bukanlah bicara soal riwayat hidupnya dari ia lahir hingga kini menjadi pengasuh pondok pesantren Kauman. Tapi soal pemikirannya tentang toleransi, pemikirannya tentang pewarisan nilai-nilai sejarah di Lasem, dan juga tentang hubungannya dengan masyarakat Lasem. Menurutnya, masyarakat Lasem itu punya darah campuran, baik itu Cina, Jawa, atau darah lainnya. Hal ini mengingat dulunya Lasem adalah kota dengan pecinannya yang besar, sehingga banyak orang keturunan Cina yang mendiami kota ini.

Sebagai orang Lasem, Gus Zaim juga merasa ada darah Cina mengalir di tubuhnya. Bentuk penghargaannya yang tinggi terhadap nilai-nilai Cina adalah sebuah tulisan Cina yang berada di kusen pintu rumahnya yang tetap ia pelihara. Dulunya rumah itu ia beli dari seorang warga keturunan Cina.

Selain menjelaskan pemikirannya tentang toleransi, dia juga menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi Kiayi di Lasem. Ia bercerita bagaimana hubungannya dengan masyarakat Lasem, bagaimana ia mendidik santrinya soal toleransi, dan masih banyak lagi. Semua yang diceritakannya itu merupakan bahan tulisan buat Ancis. Sedangkan di sela-sela sesi wawancaranya dengan Ancis, aku menanyakan padanya soal Perang Kuning. Dia menjelaskan di kalangan santri, perang itu dinamakan “Perang Sabil”. Jihad melawan kompeni Belanda demi memperjuangkan agama Allah SWT.

Setelah sesi wawancara berakhir, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama Gus Zaim sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang ke Jogja. Setelah itu kami pamit kembali ke penginapan. Dalam perjalanan kembali ke penginapan, kami berhenti begitu tertarik dengan sebuah bangunan kecil yang dicat merah mirip bangunan kelenteng. Bangunan kecil itu rupanya sebuah pos ronda. Saat itu juga tempat itu menjadi objek kami untuk berswafoto ria.

Ancis bersama Gus Zaim di depan langgar miliknya


Diriku bersama Gus Zaim, seperti bapak sama calon mantunya :)


Ekspedisi Lasem Part 6 : Perdebatan Antara Yang Ilmiah Dengan Yang Ghoib



Berkumpul di beranda penginapan

Untuk mengenal lebih dekat sejarah Lasem, Mas Pop mengajak kami untuk bertemu dengan teman-teman dari Komunitas Bhre Lasem. Pertemuan itu diadakan malam hari keesokan harinya di bangunan serba guna milik pemerintah Desa Dasun. Pada pertemuan itu, kami diperkenalkan oleh para anggota Bhre Lasem. Komunitas itu diketuai oleh Mas Manthoya yang berprofesi sebagai pendakwah sekaligus dalang di Lasem. Anggota Bhre Lasem diantaranya; Mas Pop sendiri, Mas Mahdi, dan dua anggota lainnya yang aku lupa namanya.

Untuk melengkapi bahan tulisan Perang Kuning-ku, aku diarahkan untuk bertemu Mas Mahdi. Dalam komunitas Bhre Lasem, Mas Mahdi menjabat sebagai sekretaris. Dokumen-dokumen hasil penemuan bukti sejarah yang dilakukan Bhre Lasem semuanya tersimpan di rumah Mas Mahdi. Setelah bertukar nomor handphone, kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya keesokan harinya. Di sana ia berjanji akan memberikan sumber-sumber literasi terkait sejarah Perang Kuning.

Aku bersama Rifat pergi ke rumah Mas Mahdi sekitar pukul sepuluh pagi. Rumah Mas Mahdi sungguh sederhana. Waktu kami datang, Mas Mahdi lagi memomong anaknya yang masih balita. Perbincangan kami dengan Mas Mahdi sedikit terganggu karena anaknya yang rewel itu. Di tengah pembicaraan, Mas Mahdi menunjukkan pada kami beberapa arsip mengenai sejarah Lasem dan buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem.

Arsip pertama yang ia tunjukkan adalah fotokopi buku Carita Sajarah Lasem karangan Panji Khamzah. Buku itu sendiri ditulis dalam bahasa Jawa pada akhir abad ke-19. Fotokopi buku itu sendiri berbahasa Jawa namun ditulis dengan aksara latin. Arsip kedua adalah tulisannya sendiri tentang Perang Kuning. Dia menulis kisah Perang Kuning berdasarkan tiga sumber yaitu; buku Carita Sajarah Lasem karangan Panji Khamzah, buku Perang Tionghoa dan Runtuhnya Negara Jawa karangan Williem Remmelink, dan satu tesis karangan Pratiwo berjudul Historical Reading of Lasem. Sementara arsip ketiga adalah sebuah buku saku karangannya sendiri yang berisi foto arsitektur Masjid Jami’ Lasem beserta keterangannya. Buku arsitektur itu nantinya digunakan untuk bahan tulisannya Rifat.

Setelah sesi wawancara selesai, kami beranjak pulang ke penginapan. Aku membawa fotokopian buku Carita Sejarah Lasem, sedang Rifat membawa buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem. Saat tiba di penginapan, hanya ada Osa dan Bagus yang tengah tertidur di atas ranjang. Ancis, Cacing, dan Cipon entah pergi ke mana.

Mas Mahdi bersama dokumen penting miliknya

                                                                        ***

Pada saat tidak ada jadwal wawancara dengan narasumber, kami biasanya menghabiskan waktu di atas ranjang. Entah itu sambil membaca buku, bermain handphone, atau bermain game dengan Laptop. Beruntunglah Osa membawa laptop-nya. Di dalam laptopnya ada game NBA keluaran EA Sport yang boleh kita mainkan semaunya. Cukup mudah untuk memainkan game itu buatku yang baru pertama kali mencobanya. Hampir setiap malam kami begadang memainkan game ini.

Atau, kami biasanya duduk-duduk di beranda samping penginapan. Kalau hari masih terang, tempat itu benar-benar nyaman untuk tempat kami nongkrong. Tempatnya persis di depan pohon tak berdaun itu. Tapi kalau hari sudah gelap, aku lebih baik di dalam saja. Ada sebuah pintu yang menghubungkan ruang tengah penginapan kami dengan halaman itu. Kurang ajarnya, oleh teman-teman pintu itu dibiarkan terbuka bahkan pada malam hari. Melihat itu aku biasanya segera menutup pintu itu rapat-rapat dan kalau perlu jendela kacanya kututup dengan gorden yang menggantung di sana.

Pernah sekali sewaktu kami nongkrong bareng Mas Pop di ruang tamu, aku melihat sekelebat bayangan putih di luar jendela. Saat itu aku tidak merasa takut karena kondisinya ramai. Tapi pengalaman itu dan segala hal yang ada di pikiranku mengenai tempat ini, mulai dari soal bangunan tua sampai pohon menyeramkan yang ada di halaman samping bangunan itu aku ceritakan pada Ancis.

Ancis tidak percaya dengan ceritaku. Dia bilang semua yang aku ceritakan adalah bohong belaka. Malah dia balik menyerangku dengan mengatakan bahwa aku harusnya tidak mempercayai kebohongan itu. “Hantu itu tidak ilmiah. Selama aku kuliah di Teknobiologi tidak ada yang tidak ilmiah. Semuanya bisa di-ilmiahkan. Selama itu tidak ilmiah maka aku tidak bisa percaya!” begitu katanya.

Akupun mendebat-nya bahwa semua yang di dunia ini tidak seluruhnya ilmiah, alias tidak semuanya bisa ditangkap dengan akal sehat atau ilmu pengetahuan. Pada akhirnya kita terlibat perdebatan sengit tentang yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah. Hampir saja aku terbawa emosi gara-gara debat itu, namun lama-lama aku capek juga dan mengakhiri perdebatan. Di akhir perdebatan tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena walaupun kita sepakat bedamai tapi di dalam hati kami tetap keukeuh pada pendirian masing-masing.

Memang, segala aktivitas orang-orang Lasem (dan tentu orang-orang di tempat-tempat lain) tidak semuanya bisa diterima dengan logika ilmiah. Contohnya banyak ritual di mana-mana, banyak kesurupan di mana-mana. Tiap tempat di seluruh penjuru dunia punya urban legend-nya masing-masing. Hal ini mungkin juga terjadi di Lasem. Bahkan, eksplorasi menggali jejak-jejak peninggalan zaman dulu yang dilakukan komunitas sejarah Bhre Lasem tidak selalu menggunakan metode ilmiah.     

Waktu sesi wawancara di rumahnya, Mas Mahdi pernah cerita kalau salah satu metode pencarian jejak-jejak sejarah di Lasem ini adalah dengan metode pemanggilan jin. Jin yang datang itu kemudian merasuki jiwa seseorang dan melalui orang itu menceritakan sesuatu mengenai tempat serta peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sana. Caranya kurang lebih sama seperti di acara televisi Dua Dunia yang tayang di Trans 7. Mendengar ceritanya membuatku agak ragu untuk menjadikannya sebagai narasumber Sejarah Perang Kuning. Secara, metode yang ia gunakan bukan metode ilmiah dan dia-pun juga bukan pakar sejarah, melainkan hanya lulusan SMA yang memiliki minat besar terhadap sejarah.   

Dalam konteks ilmu pengetahuan, pendapat Ancis pantas dibenarkan. Kita tidak boleh mencampur adukkan ilmu pengetahuan dengan ilmu ghoib. Dan itulah yang terjadi di Lasem. Mungkin saja tulisan ringkasan Perang Kuning yang dibuat Mas Mahdi itu juga mengambil sumber dari makhluk ghoib. Tapi siapa tahu. Lagi pula Mas Mahdi sudah bilang bahwa sumbernya dari buku Carita Sajarah Lasem, bukunya William Remmelink, dan sebuah thesis. Tak satupun dia menyebut makhluk ghoib sebagai sumber referensinya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Pohon tak berdaun di halaman penginapan

Toilet yang jarang digunakan


Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...