Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata religi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 3 : Persiapan Menuju Lasem

Rapat Persiapan Menuju Lasem

Ada banyak hal yang harus kami persiapkan sebelum berangkat ke Lasem. Persiapan ini bukan hanya soal perlengkapan apa saja yang akan kami bawa. Namun lebih ke persiapan siapa saja yang akan kami wawancarai saat berada di sana. Oleh karena itu kami perlu mengadakan forum diskusi tentang Lasem. Di samping itu kami juga perlu riset dengan membaca buku-buku terkait kota itu. Untuk itu, aku membeli dua buku tentang Lasem di Penerbit Ombak berjudul Lasem Kota Tiongkok Keci karya Munawir Aziz, dan Lasem: Kota Bernuansa Cina Di Jawa Tengah karya Handinoto. Selain itu, aku juga meminjam buku berjudul Lasem Kota Dampo Awang karya Akrom Unijaya di perpustakaan kampus. 

Forum diskusi tentang Lasem diadakan seminggu sekali, tepatnya tiap Hari Rabu. Di forum itu, kami tak hanya mendiskusikan apa yang akan kami tulis, namun juga menyusun agenda kegiatan kami di Lasem nanti. Semua tentu harus dipersiapkan dengan matang, mulai dari kapan kita berangkat, berapa lama kita akan tinggal di sana, perbekalan apa saja yang harus dibawa, penginapan mana tempat kami tinggal, anggaran perjalanan, dan masih banyak lagi.  

Aku menjadi ketua tim untuk perjalanan ini sehingga aku bertanggung jawab mulai dari persiapan sampai perjalanan itu berakhir. Untuk itu, aku selalu mengingatkan teman-teman untuk datang pada forum diskusi, menanyakan apa yang akan mereka tulis, siapa saja narasumber yang akan diwawancarai. Apabila narasumbernya sedikit, tentu urusan di Lasem akan jauh lebih mudah. Tapi bila banyak, kami harus pintar-pintar menyusun jadwal untuk bertemu para narasumber dengan waktu yang terbatas.

Kami sepakat berangkat ke Lasem pada 26 Januari 2017, satu hari sebelum peringatan Tahun Baru Imlek, dan kembali ke Jogja pada tanggal 1 Februari. Semua persiapan harus sudah kelar sebelum hari keberangkatan. Pada hari tersebut, masing-masing anggota harus sudah matang dengan draft awal tulisan dan pedoman wawancaranya.

Mulanya mereka semua hadir pada forum diskusi. Mereka juga semangat memaparkan draft tulisan masing-masing. Ada yang ingin menulis tentang batik Lasem, ada yang ingin menulis tentang rumah candu, ada yang ingin menulis tentang profil seorang kiai, bahkan ada yang ingin menulis tentang jejak pembantaian komunis di Lasem. Mengenai komunis ini, aku sampai geleng-geleng kepala. Dari sumber buku dan internet yang kubaca mengenai Lasem, tak ada satupun membahas soal pembantaian komunis di sana.

Aku sendiri tak ingin terlalu banyak ikut campur mengenai tulisan mereka. Tugasku hanya menyediakan wadah forum diskusi. Masalah tulisan itu tugasnya pemimpin redaksi. Namun pada saat kami kumpul pemimpin redaksi hampir tak pernah hadir. Oleh karena itu mereka banyak mendiskusikan tulisan denganku.

Dinamika diskusi itu tidak berjalan konsisten seiring berjalannya waktu. Pada saat memasuki liburan semester, banyak para anggota yang pulang kampung. Di samping itu ada tiga anggota yang ikut KKN, termasuk pemimpin redaksi kami. Walhasil, diskusi kadang hanya dihadiri tiga orang bahkan pernah sekali diskusi tidak diadakan karena tidak satupun anggota yang hadir. 

Selama liburan semester itu, aku mengisi waktu dengan melengkapi bahan-bahan tulisanku dan menyusun pedoman wawancara. Aku sendiri akan membuat dua tulisan; satu tentang Perang Kuning dan satu lagi tentang kuliner Lasem. Selain dari dua buku yang kubeli dan satu buku pinjaman dari perpustakaan, aku menambah referensiku dari buku lain dan sumber internet.

Untuk menulis tetang Perang Kuning di Lasem, aku harus membaca tentang peristiwa Geger Pecinan di Batavia terlebih dahulu. Peristiwa itu kelak akan membangkitkan perlawanan rakyat etnis Tionghoa terhadap Belanda di seluruh Jawa, termasuk di Lasem. Sementara topik kuliner Lasem tak banyak ditemukan di buku, oleh karena itu untuk ini aku harus mencarinya di internet.

Pada H-3 keberangkatan, kami mengadakan kumpul untuk terakhir kalinya. Malam itu kami berkumpul di warung makan Kedai 24 yang terletak tak jauh dari kampus. Di sana kami mengadakan briefing dengan topik bahasan meliputi: persiapan kendaraan, kepastian tempat menginap, dan rute mana yang akan kami pilih untuk menuju Lasem. 

Di saat-saat terakhir itu aku sendiri belum mendapatkan motor yang akan kukendarai ke Lasem. Motorku sendiri tak bisa kugunakan karena plat nomornya sudah mati. Dalam keadaan darurat itu aku menelpon beberapa temanku kiranya salah satu dari mereka bisa meminjamkan motor. Akhirnya ada seorang teman baikku yang bersedia meminjamkan motornya untuk kukendarai menuju Lasem.

Dan petualangan ini dimulai.

Ekspedisi Lasem Part 2 : Sejarah Kota Pecinan Tua

Salah Satu Pintu Gerbang Rumah Penduduk di Pecinan Lasem

Lasem sebenarnya hanyalah salah satu kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Di tengah kota itu terbentang jalur pantura, jalan raya terbesar se-Pulau Jawa, tempat truk-truk tronton melintas dengan membawa berbagai macam barang-barang berat. Berjarak 12 km dari Kota Rembang ke arah timur, kota ini mungkin tak pernah terpikirkan bagi orang-orang yang sering melintasi pantura dari Semarang menuju Surabaya atau sebaliknya. 

Walaupun begitu, Lasem mempunyai sejarah panjang. Pada abad ke-14, Lasem adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Majapahit yang dipimpin seorang ratu bernama Dewi Indu. Saat memimpin Lasem, dia mendapat gelar Bhre Lasem. Kekuasaan Lasem kemudian diwariskan secara turun temurun oleh para keturunannya.

Namun, yang menarik dari sejarah Lasem sebenarnya bukan hanya itu. Tapi juga cerita tentang kedatangan keluarga Bi Nang Un yang membawa rombongan kapal dari Campa, yang kemudian tak lagi melanjutkan petualangannya mengarungi lautan untuk menetap di Lasem. Dari tangan anak Bi Nang Un yang bernama Bi Nang Ti, lahirlah Batik Lasem. Batik itu menjadi ciri khas kota Lasem dan sampai sekarang bisnisnya masih menggeliat.

Lasem terus berkembang mengikuti perubahan waktu. Ketika berada di bawah kekuasaan Mataram, kepemimpinannya diemban oleh seorang Adipati. Kondisi tersebut tak berubah sampai Belanda menduduki Lasem.

Kedatangan Belanda saat itu mendapat perlawanan sengit dari masyarakat Lasem. Perlawanan yang penuh tumpah darah itu kemudian dikenal dengan nama Perang Kuning. Pada perang itu, warga etnis Tionghoa, warga pribumi, dan kalangan santri bersatu melawan Belanda. Memang, pada akhirnya Lasem jatuh juga ke tangan Belanda. Namun kisah Perang Kuning menjadi peristiwa agung di Lasem dan diceritakan secara turun-temurun karena mengandung hikmah yang dalam tentang persatuan dan semangat perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Di masa pendudukan Belanda, Lasem menjadi tempat perdagangan opium. Oleh pemerintah Belanda sendiri perdagangan opium sebenarnya dilarang, namun masyarakat Lasem khususnya dari kalangan etnis Cina pada saat itu punya banyak cara untuk menyelundupkan obat candu itu. Bangunan yang menjadi saksi bisu kejayaan perdagangan opium di Lasem adalah Lawang Ombo. Dari kapal pengangkut barang, opium diselundupkan melalui Sungai Lasem yang kemudian dibawa ke Lawang Ombo melalui sebuah terowongan yang terhubung langsung ke sungai itu.

                                                                        ***

Aku mempunyai keinginan agar suatu saat nanti aku bisa mengunjungi Lasem. Sementara aku sedang melanjutkan aktivitas kuliahku, beberapa temanku sudah ada yang lulus. Di semester sembilan ini, aku bahkan masih harus mengambil beberapa mata kuliah sebagai syarat untuk bisa mengambil mata kuliah skripsi.

Di sela kesibukan kuliah, aku juga aktif berkecimpung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PASTI. PASTI adalah unit kegiatan bagi mahasiswa yang berminat di bidang sastra, jurnalistik, dan tulis menulis. Kami kumpul rutin tiap Hari Jum’at malam. Di awal semester ganjil, kami biasanya mengadakan diskusi untuk tema tulisan.

Oleh pemimpin redaksi, kami para anggota diberi waktu satu minggu untuk memikirkan tema tulisan. Untuk majalah kali ini, tema yang terpilih nantinya akan dipakai untuk tema liputan utama. Liputan utama itu nantinya tak hanya terdiri dari satu tulisan, namun beberapa tulisan yang masih memiliki kesamaan tema.

Tiba-tiba saja tercetus Lasem di pikiranku. Aku pikir, Lasem bisa menjadi liputan utama. Kita bisa menjelajahi tempat itu bersama-sama dan mencari apa yang menarik di sana untuk dijadikan tulisan. 

Dari tulisan Agni Malagina, Lasem tidak hanya menarik soal pecinannya, namun juga kulinernya, mitosnya, sejarahnya, tempat wisatanya, rumah candunya, dan masih banyak lagi. Alasan aku mengangkat topik ini, tema soal menyikapi perbedaan di tengah masyarakat penting diangkat di saat banyaknya konflik antar kelompok yang terjadi di Indonesia. Aku mengemukakan semua hal itu saat presentasi penentuan liputan utama seminggu kemudian. Dari banyak tema yang diusung, temaku terpilih jadi tema untuk liputan utama.

Lasem, Wait us ya!

Ekspedisi Lasem Part 1 : Berkenalan Dengan Kebudayaan Tionghoa

Lukisan Komik di Dinding Klenteng Gie Yong Bio Lasem


Ini adalah pengalamanku pada awal tahun 2017. Waktu itu, aku masih menjadi mahasiswa di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Aku banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan untuk membaca artikel-artikel majalah. Salah satu majalah yang kubaca adalah National Geographic Indonesia. Di sana aku menemukan sebuah artikel tentang Lasem yang ditulis oleh seorang akademisi dari Universitas Indonesia bernama Agni Malagina.

Aku tertarik dengan artikel itu. Dalam tulisannya, Agni bercerita tentang kunjungannya ke sebuah pecinan tua bernama Lasem dan apa yang ia jumpai di sana. Yang membuatku lebih tertarik lagi adalah foto-foto jepretan fotrogafer Ferry Latief yang menjadi pendukung ceritanya. Dalam fotonya, ada sebuah tembok merah dan di tengahnya terdapat pintu ornamen Cina. Ada juga foto sebuah kelenteng dan gang-gang jalan yang diapit oleh rumah-rumah berpagar tembok yang di depannya juga terdapat pintu berornamen Cina. Ada pula foto human interest masyarakat Lasem yang bercampur baur antara etnis Tionghoa dan etnis lainnya, dan masih banyak lagi.

Setelah membaca artikel itu, aku tertarik mengunjungi Lasem suatu saat nanti. Tapi aku bingung kapan dan bagaimana caranya. Tentu aku tak ingin menghambur-hamburkan uangku ke Lasem hanya untuk liburan. Bagiku, liburan bisa dilakukan dimanapun. Aku ingin pergi ke Lasem bukan untuk liburan, tapi untuk melihat sendiri kelenteng-kelentengnya, rumah-rumah Cina-nya, mempelajari kehidupan masyarakatnya, dan masih banyak lagi hal yang ingin kuketahui tentang kota kecil itu.

***
Kenang-kenangan bersama teman-teman KKN Ketapang

Aku awalnya tak pernah menaruh perhatian pada kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia. Teman-temanku di kampus memang banyak yang beretnis Tionghoa dan aku berteman baik dengan mereka. Namun hanya sebatas berteman. Aku tak mengenal budaya mereka lebih jauh lagi. Lagi pula dalam berteman, aku tidak terlalu peduli dari etnis dan budaya mana ia berasal.

Aku mulai menaruh perhatian pada kehidupan etnis Tionghoa saat aku KKN di Ketapang, Kalimantan Barat. Elmo dan Wiwin, dua teman kelompok KKN-ku, beretnis Tionghoa. Kebetulan saat KKN di sana, kami bertiga ditempatkan pada lingkungan yang banyak orang etnis Tionghoa-nya. Di sana hampir setiap hari kami makan siang di sebuah rumah makan vegetarian yang pemiliknya sehari-hari berkomunikasi dengan anggota keluarganya menggunakan bahasa China!

Hanya Elmo yang mengerti apa yang mereka bicarakan. Wiwin, yang walaupun beretnis Tionghoa, tidak mengerti bahasa mereka. Elmo bilang pada kami kalau itu bahasa China khek, bahasa milik Suku Hakka, salah satu suku Tionghoa yang ada di Indonesia. Elmo sendiri sebenarnya berasal dari Suku Tiochiu. Tapi di Dabo, daerah asalnya, ia tinggal di tengah masyarakat Hakka.

Bisa dikatakan, di Ketapang inilah aku berkenalan lebih dekat dengan kebudayaan Cina, terutama dari Elmo, Wiwin, dan masyarakat Tionghoa di kota itu. Baik Elmo dan Wiwin masing-masing punya nama Cina. Nama Cina Elmo adalah A Shoen, sedangkan Wiwin Tan Mei Soet.

Selain menjalani hari-hari bersama A Shoen dan Tan Mei Soet, di sana aku juga bertemu seorang ketua umat Katolik bernama A Chen, nongkrong pagi sambil minum kopi bersama Koh Doni, dan ngobrol sampai larut malam dengan seorang saudagar burung walet beretnis Tionghoa yang aku lupa namanya. Di sana pula aku mengunjungi kelenteng untuk pertama kalinya. Di samping itu saat aku keliling untuk melakukan pendataan umat, aku bertemu dengan seorang nenek-nenek yang hanya bisa berbahasa China! Untuk berkomunikasi dengan nenek itu, aku-pun harus meminta bantuan tetangganya sebagai penerjemah.  

Sekembalinya ke Jogja, aku merasa banyak pengalaman dan kenangan yang tertinggal di Ketapang. Di Jogja aku hampir tak pernah bertemu dengan Elmo dan Wiwin lagi karena kesibukan masing-masing. Saat kembali menjalani aktivitas kuliah aku kembali rajin mengunjungi perpustakaan, membaca tulisan-tulisan di majalah, hingga suatu hari aku membaca tulisan tentang Kota China Tua Lasem milik Agni Malagina itu.   

Senin, 05 Agustus 2019

Sebuah Harapan dari Lembah Merapi-Merbabu






Hari itu langit cerah tatkala kami tiba di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu. Sesuai namanya, pesantren itu berada di dataran tinggi di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pemandangan indah di tempat itu membuat  kami, rombongan yang terdiri dari 65 peserta, berebutan untuk berfoto selfie setibanya di lokasi. Dibanding dari tempat tinggal kami di Jogja, dari sini pemandangan Gunung Merapi tampak lebih dekat dan lebih nyata. 

Setelah puas berswafoto, segelas kopi arabika hangat seakan memberi ucapan selamat datang pada rombongan kami yang baru saja menempuh perjalanan sejauh 45 km dari titik awal keberangkatan di Sidoarum, Yogyakarta. Sekotak snack dihidangkan untuk memberi kami asupan energi yang terkuras karena perjalanan jauh itu. Udara sejuk pegunungan plus panorama yang indah membuat snack yang kami makan terasa jauh lebih nikmat dibanding saat kami memakannya pada tempat dan kesempatan lain.

Di sebuah gasebo kecil yang ada di pesantren itu, tampak para santri sedang berkumpul. Mereka membawa ransel dan rambut mereka dipotong tipis.

Kedai kopi milik Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu
Mekah 12.615 Km.

Madinah 12.382 Km.

Al-Aqsha 12.847 Km.

Jogja 65 Km.

Pada sebuah papan kayu tertulis informasi jarak antara pesantren itu dengan tiga tempat penting dalam Islam, ditambah lagi dengan informasi jarak dari tempat itu ke satu kota besar terdekat. “Berdirinya pesantren ini masih ada kaitannya dengan Masjidil Aqhsa,” kata dr. Rinaldi tegas. Dr. Rinaldi adalah ketua dari organisasi Sedulur Masjid Sidoarum (SMS), organisasi yang mengadakan touring ke pesantren itu. Dalam acara toring bertajuk “Seduluran Tekan Suwargo” itu, SMS mengajak 65 orang yang merupakan jama’ah masjid-masjid yang berada di Sidoarum dan sekitarnya.

Papan penanda jarak
Selain sebagai aktivis masjid, dr. Rinaldi juga aktif berkecimpung di organisasi Sahabat Al-Aqsha, salah satu organisasi yang menjadi penghubung komunikasi antara umat muslim di Indonesia dengan masyarakat yang tinggal di Palestina.

Bertempat di aula pesantren dan di hadapan para peserta rombongan, Dr Rinaldi meneruskan ceritanya. “Waktu erupsi Merapi tahun 2010, salah satu yang memberi pertolongan bagi para pengungsi di sini adalah masyarakat di Palestina dan Suriah. Mereka menitipkan uang. Dari uang yang terkumpul itulah kemudian didonasikan untuk pembangunan pondok ini. Jadi pondok ini bekerja lokal tapi berpikir global,” terang Rinaldi.

Sementara itu, Fahri Abdul Fatah, salah seorang santri Pondok Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, bercerita bahwa dulunya latar belakang dibangunnya pondok ini adalah untuk memperkuat keimanan dan keislaman para pengungsi. “Waktu tertimpa bencana, biasanya keimanan masyarakat menurun. Oleh karena itu pondok ini didirikan untuk masyarakat agar mereka tidak terpengaruh keyakinan lain,” jelas Fahri.

Pemandangan Gunung Merapi dari Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu

Seperti umumnya pesantren-pesantren yang ada di Indonesia, para santri di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk para santri yang masih kecil, mereka didaftarkan di sana oleh orang tua mereka. Sementara untuk santri pra-SMA, mereka mendaftar sendiri di sana atas dasar keinginan pribadi untuk belajar agama. Selain itu, mereka juga melihat jarang ada pesantren yang diperuntukkan khusus bagi mereka yang lulusan SMA. Oleh karena itu mereka menjatuhkan pilihan di pondok pesantren itu. Harapannya, setelah lulus dari sana mereka dapat menularkan ilmunya ke masyarakat di kampung halaman masing-masing.

Dalam kesehariannya, para santri di pesantren itu halaqoh di kelas dari pagi sampa siang pada hari Senin sampai Sabtu. Sore harinya mereka olahraga. Pada malam harinya, mereka mengikuti pelajaran tambahan. Mereka libur tiap Hari Ahad. Namun tiap sorenya di hari itu, mereka diterjunkan ke desa-desa terdekat untuk mengisi kajian agama. “Para santri di sini diterjunkan di tiap dusun-dusun sekitar untuk menjadi imam sholat dan mengisi kultum-kultum karena masyarakat sini Islam-nya belum kaffah,” terang Fahri.

Tak terasa hari semakin siang. Perbincangan dengan Fahri berakhir. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Sebelum berpisah dengan Fahri, saya sempat bertanya apa rencananya setelah lulus dari pondok pesantren itu. Pemuda asal Sragen itu menjawab ingin melanjutkan studi ke luar negeri, tapi kalau belum sempat, ia akan banyak mengadakan kegiatan yang bermanfaat di kampung halamannya. “Mengamalkan ilmu yang sudah diajarkan di sini, agar tidak hilang,” ujarnya.

Hidangan makan siang bagi para rombongan berupa sayur sup dan ayam goreng disiapkan oleh para santri di sana. Tak lama usai makan siang, Adzan Dhuhur berkumandang. Kami bergegas ke masjid yang berjarak kurang lebih 50 meter dari pesantren. Air wudhu yang dingin memberi kesegaran dan semangat bagi kami untuk beribadah dan berdo’a pada-Nya.


Peserta rombongan touring foto bersama


Rabu, 13 Maret 2019

Jalan-Jalan Bareng Jama'ah Pengajian




Pada pertengahan Januari kemarin, aku mendapat kesempatan untuk menemani para santri Pendidikan Al-Qur’an Usia Lanjut (PAUL) dan para jama’ah Pengajian Minggu Pagi bertamasya ke Semarang. Aku merasa senang karena bisa jalan-jalan gratis. Tak hanya gratis naik bus, tapi juga gratis snack dan makan siang serta gratis masuk obyek wisata yang akan dikunjungi. Dalam acara itu, aku kebagian tugas untuk menjadi seorang dokumentator. Aku menggunakan kameraku sendiri dalam menjalankan tugasku ini.

Saat aku berangkat dari rumah, hujan turun sangat deras. Matahari seakan enggan untuk memancarkan sinarnya. Sampai para peserta sudah banyak yang berkumpul di masjid-pun, hujan masih turun dengan deras. Oleh karena itu kami harus diantar menggunakan mobil menuju tempat pemberhentian bus yang berada di jalan raya. Jarak antara masjid dengan jalan raya sekitar 300 meter.

Mayoritas peserta adalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Beberapa peserta membawa anak-anak mereka yang masih remaja. Selain itu, ada pula beberapa panitia dari muda-mudi masjid yang ikut serta.
Perjalanan dari Jogja ke Semarang tidak menemui kendala berarti. Kami hampir tidak pernah kena macet sepanjang perjalanan. Para peserta dalam perjalanan itu dibagi dalam dua bus. Para santri PAUL berada di bus pertama, sedangkan para jama’ah pengajian Minggu Pagi berada di bus kedua. Aku sendiri berada di bus kedua bersama para jama’ah pengajian Minggu Pagi.

Suasana jalan yang basah selama perjalanan menuju Semarang
Para peserta mengisi waktu perjalanan dengan mendengarkan pengajian yang diputar melalui DVD Player yang terdapat di dalam bus. Karena semalam belum tidur, aku sebisa mungkin memejamkan mata walaupun tempat di mana aku duduk sungguh bukan tempat yang nyaman. Aku duduk di kursi bagian depan sendiri, persis berada di antara tempat duduk supir dan pintu masuk penumpang bagian depan. Bila aku terjaga, aku pasti akan selalu melihat kendaraan lalu lalang di depan bus. Apabila bus mengambil jalur lain untuk menyalip kendaraan, aku bisa ikut deg-degan apakah ada kendaraan dari arah berlawanan atau tidak. Hal itu tentu menjadi kendala bagiku yang harus mencuri-curi waktu buat tidur ini.

Kami berhenti sekali di pom bensin di daerah Magelang. Bus berhenti untuk memberi kesempatan pada para jama’ah untuk buang air di toilet. Setelah itu, tidak ada pemberhentian lagi sampai bus tiba di tempat kunjungan pertama kami, Obyek Wisata Fatima Zahra Semarang. Tempat ini dapat dicapai setelah kami menempuh perjalanan selama 3 jam 45 menit.

Ibu DIna islmaiyah menjelaskan tentang Hajar Aswad
Fatima Zahra didesain bagi para wisatawan yang ingin manasikhaji. Hampir semua replika bangunan-bangunan terkait haji ada di sana. Mulai dari kantor imigrasi, pertokoan di kota Makkah, Ka’bah, Jabal Rahmah, Masjid Nabawi, dll. Para peserta tamasya ini mengadakan manasik haji di sana. Kami berjalan mulai dari kantor imigrasi, melewati toko-toko, dan kemudian sampailah kami di hadapan replika Ka’bah. Di sana kami mengadakan simulasi keliling Ka’bah 7 kali dan kemudian berpindah ke jalur Sa’i. Rombongan peserta itu dipimpin oleh Ibu Hj. Dina Islamiyah. Dari Jalur Sa’i, peserta diarahkan menuju Masjid Nabawi. Tapi untuk menuju ke sana, kami harus melewati tempat terbuka yang saat itu diguyur hujan deras. Bagi yang membawa payung, mereka bisa langsung masuk ke Masjid Nabawi. Namun bagi yang tidak membawa payung, mereka harus menunggu sampai hujan reda. 

Replika Masjid Nabawi tentu tidak sebesar dan semegah Masjid Nabawi yang asli.Di dalamnya hanya terdapat barang-barang replika yang dianggap merepresentasikan barang-barang asli yang ada di tempat aslinya. Dua sisi temboknya merupakan cermin yang amat besar. Di dalam replika masjid itu, Ibu Dina Islamiyah bercerita tentang tiap bagian masjid beserta sejarahnya. Aku tak mendengarkan penjelasan dari Ibu Dina Islamiyah karena saat itu aku menjaga baterei kameraku yang sedang di-charge. 

Setelah dari Replika Masjid Nabawi, peserta diarahkan menuju ke Jabal Rahmah. Di atas replika Jabal Rahmah, para peserta rela berfoto walau hujan masih turun. Aku juga terpaksa berhujan-hujan untuk mengambil foto para peserta yang pengen narsis itu. Setelah dari Jabal Rahmah, peserta kemudian bergerak ke replika tenda-tenda di Mina. Di sana juga disediakan tempat melempar jumroh.

Selesai acara melempar jumroh, para peserta dipersilahkan untuk beristirahat. Mereka kemudian menyerbu stand jajanan yang ada di sana. Aku memesan segelas teh hangat sekaligus numpang nge-charge baterai kamera di salah satu stand jajanan. Sejujurnya aku tidak akan jajan kalau tidak demi mendapat kesempatan buat nge-charge baterai kamera di sana.

Setelah istirahat selesai, peserta kembali ke bus. Saat itu hujan telah reda. Kami beralih ke tujuan selanjutnya, Taman Maerokoco. Bila Fatima Zahra terletak di Semarang bagian selatan yang berada di daerah perbukitan, Taman Maerokoco terletak di Semarang bagian utara yang berbatasan langsung dengan laut. Bus sempat nyasar di sebuat perumahan saat menuruni bukit. Bus kemudian berbalik arah dan melewati pusat kota, melintas di depan trademark Kota Semarang diantaranya; Lawang Sewu dan Tugu Muda; melintasi perlintasan kereta api; dan kemudian barulah sampai di Taman Maerokoco.
Foto bersama di Taman Maerokoco

Taman Maerokoco berada di tengah daerah bakau. Bila kamu turun dari bus dan kemudian berjalan kaki memasuki kawasan itu, kamu akan terlebih dulu melintasi sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir sebuah sungai yang penuh sampah dan bau ikan. Lalu kamu akan memasuki kawasan Maerokoco yang pada tiap hari libur akan ramai pengunjung.

Kami sempatkan diri foto bersama terlebih dahulu sebelum memasuki Taman Maerokoco. Setelah sesi foto berakhir, kami masuk ke obyek wisata itu. Taman Maerokoco ternyata merupakan taman budaya milik pemerintah Jawa Tengah yang di dalamnya terdapat replika-replika rumah bangunan adat berbagai kabupaten di Jawa Tengah. Selain itu ada juga replika kenampakan alam yang ada di provinsi itu seperti Gunung Merapi dan Gunung Slamet.

Langit sore memayungi kami yang asyik menjelajahi tiap jengkal setapak yang ada di Maerokoco. Matahari tidak bersinar terik. Angin pantai berhembus. Di langit tampak burung-burung berterbangan. Saat itulah sesi foto dilanjutkan. Aku mengambil foto tiap peserta yang ikut dalam acara wisata itu, mulai dari para sesepuh, gerombolan ibu-ibu, bapak-bapak, pasangan suami istri, sampai para muda mudi. Spot favoritku berada di tepi danau kecil. Dan foto favoritku adalah saat para mudi-mudi duduk berjejer di tepi danau sambil menghadap kamera.

Kami kembali ke bus sekitar pukul empat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh. Awalnya tujuan kami adalah pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Kota Lama. Tapi waktu itu jalan menuju tempat itu ditutup sehingga kami harus mengubah tujuan kami menuju pusat oleh-oleh yang berada di Jalan Kaligawe.

Di sana para peserta turun dan membeli oleh-oleh. Aku membeli bungkusan bandeng presto pesanan ibuku. Bus dijadwalkan berhenti sampai jam 5. Setelah itu bus berangkat menempuh perjalanan pulang.

Perjalanan pulang
Berbeda dibandingkan perjalanan menuju Semarang, perjalanan pulang kali ini melewati jalan tol. Jalan tol yang kami lalui memiliki pemandangan eksotis. Selain itu kami juga melewati banyak jembatan panjang dan jalannya naik turun. Langit senja menaungi perjalanan kami. Lampu-lampu mobil yang lalu lalang mulai dinyalakan. Tampak dari jauh lampu rumah-rumah penduduk yang berada di kaki bukit mulai dinyalakan.

Bus sempat berhenti di daerah Jambu untuk memberi kesempatan pada peserta menunaikan Sholat Maghrib. Langit telah gelap saat bus beranjak meninggalkan Jambu. Akhirnya kami tiba kembali di titik keberangkatan pukul setengah sembilan malam. Dari sana para peserta melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.   

Berikut ini foto-foto perjalanannya!!
Berfoto bersama di depan bus
Si ibu ini emang anti mati gaya :)
Girls in action
ibuk-ibuk juga gak mau kalah action dong :)
Girls in action part 2
Ngeksis di tengah hujan
Memandang nun jauh di sana berdua





Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...