Selasa, 19 Juni 2012

Salah Bawa Berkas



Pada hari jum’at yang cerah, aku ditugaskan oleh kelas untuk mengirim berkas formulir semua teman sekelas untuk pembuatan KTAM (Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah).  hari itu aku berhasrat ingin tampil beda dari biasanya. Aku ingin tampil lebih elegan. Kalau biasanya aku berpergian dengan mengenakan kaos, celana training, dan dipadukan dengan sandal sebagai alas kaki, hari itu aku memakai kaos polo ditutup dengan jas warna hitam yang tidak dikancingi.

Untuk bawahannya, aku memakai celana  jeans warna hitam dan sepatu bercorak hitam putih dan kaos kaki sebagai alas kaki.  Pokoknya dengan tampilan itu aku merasa ‘’cool  abizz  ‘’.  Aku berangkat dari rumah pukul  10 pagi. Memang agak siang, sampai-sampai aku dimarahi ibuku karena itu tidak sesuai dengan rencana awalku. “katanya mau berangkat  jam delapan?” Tanya ibuku. “iya bu, tapi ini nanggung soalnya udah mau Jum’atan”, jawabku. “Kamu ini gimana ! jadi orang gak konsisten gimana mau sukses, hah! Mau jadi apa kamu besarnya kalau sekarang saja omongannya gak bias dipercaya?” ibu memarahi aku dengan sejadi-jadinya. Habis itu aku langsung bereaksi cepat.

Segera saja aku ambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Sekitar 2 menit kemudian aku selesai mandi. Segera pakai baju, jaket, celana, kaos kaki, lalu sepatu. Oya, aku tidak lupa memakai celana dalam. Aku Siap !!!!. “Berkasnya sudah dimasukin”, Tanya ibu. “Semuanya beres, bos”, jawabku sambil mengacungkan jari jempol dan menunjukkan gigi berseri-seri sehingga sepersekian detik muncul sinar berkilauan di salah satu gigiku.

Setelah pamit dengan semua orang yang ada di rumah, aku berangkat  ke Kantor PP Muhammadiyah. aku berangkat naik bus kota. Sepanjang perjalanan, dengan fashion yang seperti ini, diriku serasa seperti seorang professional muda yang  sudah banyak mengisi seminar di mana-mana yang akan mengikuti kongres youth confederation of nation. Waaww, its amazing but its not real.

Akhirnya, aku tiba di Bundaran Kampus UGM, tempat pemberhentianku. Seturunnya dari bus, aku jalan kaki sekitar 500 meter. Tentu saja rasa lelah tidak begitu terasa karena dengan style yang seperti ini, aku merasa sebagai anak muda yang berjalan dengan penuh wibawa. Sampailah aku di depan kantor PP Muhammadiyah. sebagai siswa yang bersekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, yang notabene merupakan sekolah kader persyarikatan. Jadi, sudah kodratnya bila aku berada di sini.

Aku datang ke sini mengatasnamakan almamater dan nama baik saya sendiri. Tanpa ragu sedikitpun, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung. Baru setengah langkah, aku kaget. Ternyata di dalam gedung itu lantainya sudah dipasang karpet bershaf-shaf yang ternyata dipakai untuk ibadah sholat jum’at. Aku tidak habis pikir. “Ini kantor atau masjid?” batinku. Spontan saja aku kebingungan. “Bagaimana caranya aku masuk kantor ini?”. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu orang di situ. “Misi pak mau tanya, kalau mau mengumpulkan formulir untuk pembuatan KTAM di mana ya pak?”, aku bertanya dengan sopan dan panjang lebar. “oh ini masuk lalu naik tangga ke lantai tiga, habis itu langsung menuju bagian keuangan”,bapak itu menjelaskan. “o iya pak, terima kasih ya pak!”jawabku disertai senyum manis yang sudah menjadi cirri khasku.

 Ketika aku hampir berlalu, seketika saja bapak itu berkata, ”dek, sepatunya dilepas saja!”. What? Sepatuku dilepas? Padahal aku sudah bela-belain datang  kesini pake sepatu! Tapi mau gimana lagi? Lantai gedung sudah dipasang karpet. Walaupun bisa seandainya sepatuku dilepas lalu dibawa lalu dipakai lagi di tangga, namun aku pikir cara itu tidak sopan. langsung saja aku melepas sepasang sepatuku.

 Kaus kaki juga terpaksa kulepas karena baunya seperti gas beracun yang digunakan Aldof Hitler untuk membunuh ratusan orang-orang Yahudi di dalam ruangan gelap pada zamannya. Jujur saja,  aku nggak mau nasib orang-orang di kantor itu sama seperti nasib orang-orang Yahudi  yang dibunuh Hitler. Selain karena mereka Muslim dan bukan Yahudi, aku nggak mau masuk penjara gara-gara membunuh mereka, walaupun sebenarnya tidak sengaja. Akhirnya harga diri yang kupertaruhkan. “Saya rasa, keputusan ini adalah keputusan yang bijaksana karena saya masih menyayangi mereka sebagai wujud persaudaraan seiman dan seagama”,tekadku sambil mengepalkan tangan di dada.

Setelah aku melepaskan sepatu dan kaus kakiku, akhirnya aku bertelanjang kaki alias Nyeker. Hilanglah sebagian dari kewibawaanku. Aku berjalan menaiki tangga hingga akhirnya tiba di lantai tiga. Sesampainya di sana, aku langsung mencari ruang bagian keuangan seperti apa yang diperintahkan oleh bapak tadi. Tidak butuh  waktu lama, aku sampai di depan ruang bagian keuangan.

Dengan perasaan sedikit malu karena bertelanjang kaki, aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum”, ujarku. “Wa’alaikumussalam Warohmatullah, silahkan masuk”, jawab suara dari dalam ruangan. Aku buka pintunya. Tampak di sana ada dua orang bapak-bapak dan seorang mbak-mbak berjilbab yang kira-kira berumur 20-an tahun. Aku nilai dia memang cantik. Langsung saja bapak itu menyuruh aku untuk menuju ke mbak-mbak itu.

Aku pun langsung menuju kearah mbak-mbak itu dan bertanya,”misi mbak, kalau mau nyerahin berkas formulir untuk pembuatan KTAM di mana ya mbak?”. “Monggo mas duduk dulu”,jawabnya disertai senyuman manisnya. Mendengar suaranya yang halus dan melihat  wajahnya yang manis, hatiku yang tadinya agak dongkol  berubah menjadi  sejuk, sejuknya serasa berada di padang rumput di pinggiran danau kecil yang dihiasi beribu-ribu bunga tulip dengan angin sepoi-sepoi  di lembah Gunung Semeru.

“ Mas, mas, mas”, suara halusnya memecah lamunanku. “Mas, bisa minta berkas formulirnya?”katanya. Langsung saja aku membuka tasku dan merogohnya mengambil berkas warna hijau. “Ini mbak dicek dulu”, segera saja Dia mengecek berkas itu. Tidak lama mengecek dia tiba-tiba tertawa pelan. ”maaf mas ini isinya bukan formulirnya”,pintanya. Sekilas aku melihat berkas itu sekaligus tulisan lembaran-lembaran kertas itu berisi poin-poin yang tiap poin berisi angka-angka lalu dibawahnya ada sub-poin yang terdiri dari A,B,C,D,dan E. “Ini kan kumpulan soal-soal Matematikaku!”.

Seketika juga aku ingat kalau soal-soal ini aku masukkan ke berkas warna hijau, warnanya sama seperti berkas tempat aku memasukkan formulir-formulir itu. Mati Aku!! Aku melihat mbak-mbaknya menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa. Harga diriku hilang seketika. Aku menjerit dalam hati. Apa yng harus aku lakukan ???? dalam keadaan terdesak seperti ini  aku tetap tidak boleh menyerah.

“Coba tadi aku masukkin kaus kakiku ke dalam tas, mungkin ketika dalam keadaan seperti ini aku bisa mengeluarkan kaus kakiku sebentar dan dalam sekejap bisa membuat mbak-mbak ini pingsan lalu lupa ingatan”, aku berasumsi dalam hati. Oya Aku punya ide! Cling! Tiba-tiba saja di atas kepalaku sudah ada lampu yang menyala. Segera saja aku merebut berkas itu dari tangan mbak-mbaknya lalu menjelaskan opiniku,”maaf mbak, tadi teman saya salah nyerahin berkasnya ke saya, harap maklum ya mbak, maafkan teman saya”. Aku mengatasnamakan temanku agar harga diriku tidak mati seketika.  Mbak-mbaknya mengangguk walaupun sebenarnya dia masih terheran-heran memandang muka saya yang masih kebingungan. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung keluar dari ruangan itu menahan rasa malu. Selamatlah harga diriku.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku berbuat kesalahan, aku mencoba lupakan semua kejadian memalukan yang pernah menimpa diriku.  Namun,sekarang aku punya prinsip baru. Pada dasarnya  membuat kesalahan itu wajar. Jangan pernah lupakan kesalahan-kesalahanmu sob, karena  kesalahan itu ibarat seorang ibu yang sedang melahirkan. Ketika melahirkan seorang ibu menahan rasa sakit yang tidak terkira. Namun hasilnya, ketika sang bayi dapat lahir dengan selamat, sang ibu pasti mencucurkan air mata tanda sangat bahagia. Sama halnya sebagai sebuah kesalahan.

Pasti tidak enak rasanya bila kita berbuat salah. Namun, dari kesalahan itu bisa diambil pelajaran agar kita berhasil meraih cita-cita kita di masa depan. So, kesalahan itu bukan untuk ditakuti tapi untuk menjadi tambahan ilmu bagi kita. Kan Rosulullah saw pernah bersabda yang artinya,”Tuntutlah ilmu dari dalam kandungan ibu sampai liang lahat!”. Therefore, mari berjalan bersama-sama untuk menggapai masa depan kita dan jangan saling menyalahkan serta percayalah, You’ll never walk alone

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...