Jumat, 05 April 2013

Waung Nite



Waung Nite yang secara retorika artinya ‘malam anjing’ adalah sebuah acara yang merupakan tradisi di kampusku dalam rangka merayakan ulang tahun Prodi Ilmu Komunikasi. Iya sih, karena namanya saja ulang tahun, jadi acara itu cuma digelar tiap satu tahun sekali (haduh mak, mana ada ulang tahun dirayakan satu hari sekali !!). Yang aku denger dari temen-temenku, inti acara tersebut ialah makan daging anjing. Tentu saja sebagai seorang muslim dan lelaki yang alergi sama anjing, aku berpikir tiga puluh tiga kali untuk datang ke acara tersebut (maaf mas, ini bukan dzikir,,). Jangankan makan anjing, menyentuh bulunya saja aku nggak berani. Tapi setelah dijelaskan sama salah satu temenku yang menjadi panitia acara tersebut, kalau di acara Waung Nite nanti juga disediakan daging ayam dan sayur mayur bagi makhluk Tuhan yang diharamkan atau mengharamkan diri makan daging anjing.
Selain akan mendapat jamuan makanan, di acara tersebut juga digelar pentas seni. Biasanya dari tahun ke tahun, acara pentas seni diisi dengan pertunjukkan musik band-band internal dari fakultas. Tapi untuk acara Waung Nite edisi kali ini, katanya ada yang istimewa. Yaitu pertunjukkan DJ dari salah satu mahasiswa yang juga temanku, namanya Awang.
Waung Nite edisi kali ini mengambil tema ‘pesta pantai’. Emang kalau menurutku tema itu nggak masuk akal, mengingat acara tersebut nantinya akan digelar di halaman parkir gedung FISIP UAJY yang tak lain adalah halaman kampusku. Aku nggak bisa bayangkan kalau nantinya parkiran kampusku bakal dipenuhi hamparan pasir pantai, lalu entah dari mana ombak air lautnya datang. Mungkin panitia telah meminta izin sama Nyi Roro Kidul untuk mengambil berliter-liter air dari laut selatan. Atau sebelum acara dimulai, seluruh mahasiswa diwajibkan untuk berusaha mengeluarkan air dari dalam tubuh mereka (kayak air kencing, air ludah, air m**i, atau air yang lain) dengan semaksimal mungkin untuk membanjiri halaman kampus. Bagiku ini jelas tidak manusiawi !. Lalu, haruskah aku memanggil para jin-ku untuk membuat pantai di halaman parkir menjadi terwujud ? (sory yaa,,lebainya kebablasen n geje hehe)   
Lupakan dulu dengan hal-hal yang berbau ‘geje’ dan lebai, sekarang kita kembali ke topik, hehe (hush, ini ciyus loo !!)
Sebelum acara ini dimulai, seluruh mahasiswa dari angkatan baru diwajibkan untuk membayar iuran sebesar 10 ribu rupiah demi kelancaran dan kesuksesanj acara ini. Dan malangnya, aku termasuk dari mereka, jadi aku tak boleh mengelak untuk tidak membayar iuran. Selain itu katanya,Waung nite ini acaranya angkatan baru alias MaBa, yang dipersembahkan untuk kakak angkatan yang sudah memberi sambutan hangat kepada angkatan baru waktu inisiasi (sejenis OSPEK untuk menyambut mahasiswa baru). Sehingga semua panitia, dari ketua sampai staf-stafnya, beranggotakan dari MaBa.
Tema dari acara ini adalah pesta pantai. Jadinya sebelum acara dimulai, aku kebingungan untuk memilih pakaian yang akan dipakai untuk acara tersebut.’’ Pesta pantai? Apakah aku harus memakai celana pendek dengan telanjang dada? Lalu bagaimana denganyang cewek? Apakah mereka akan mengenakan bikini? Waaaaahh, jos kalau begitu!!’’, pikiran liarku mulai beraksi. Aku membayangkan pesta yang begitu meriah dengan berbagai pemandangan indah.
Akhirnya kuputuskan untuk mengenakan jersey Timnas Portugal dengan bawahan celana pendek tiga perempat dan alas kaki berupa sandal jepit (bukan swallow), plus tak selalu lupa mengenakan celana dalam, yang tak perlu kujelaskan apa warna dan motifnya (sampai di sini privasi yaa, hehe). Dalam kostumku ini, aku membayangkan seorang Cristiano Ronaldo sedang bermain bola di tepi pantai, hehe.
Aku berangkat pagi menjelang siang hari sekitar jam 10-an ke kampus dengan temanku cewek. Di sela-sela perjalanan ke kampus, kita sempatkan untuk ngobrol tentang acara ‘Waung Nite’ malam nanti. Di tengah obrolan, aku sempatkan untuk bertanya padanya pakaian apa yang akan dia kenakan untuk pesta pantai malam nanti. Ternyata dia bingung mau pake kostum apa. Padahal diam-diam aku berharap dia sudah menyiapkan satu set bikini untuk acara tersebut (maaf banget agak ngeres dikit, mudah-mudahan dia nggak baca tulisan ini, amin!)
Sementara aku berangkat ke kampus dengan baju hem motif batik seperti biasa dengan baju ganti yang sudah disimpan di tas untuk acara nanti malam, dikarenakan siang harinya habis Sholat Jum’at aku harus mengikuti mata kuliah Pengantar Ekonomi di kampus. Ketika melewati halaman kampus, aku sudah melihat para kuli alias M3 (Mas Mas Macho.red) mulai membangun panggung dan tenda dengan kharisma dan jiwa merah mereka. Sementara itu, sebagian dari panitia meletakkan kursi sofa panjang untuk acara nanti malam.
 Selesai kuliah, aku menunggu datangnya malam di kontrakkan temanku, namanya Jodi. Malamnya, aku dan dia berangkat bersama ke kampus untuk acara tersebut. Ketika kita sampai disana, ternyata acara sudah dimulai. Tampak para panitia memakai drees code berupa hem motif bunga-bunga khas Hawaii. Namun apesnya, dugaanku selama ini terhadap acara tersebut melenceng. Tampak tak ada hamparan pasir dan deburan ombak. Para cowok tidak ada yang bertelanjang dada. Dan yang paling mengecewakan tentu saja, tidak ada satupun cewek yang mengenakan bikini! Padahal sudah ada papan pembatas agar acara tersebut dan cewek-cewek yang mengenakan bikini tidak dilihat sama orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan kampus (huh sial!).
Acara intipun dimulai. Sang Host, yang diisi dua orang yang ternyata sudah berteman lama, Awang dan Ipam, mulai memandu jalannya acara. Acara tersebut dibuka dengan penampilan salah satu band dari MaBa. Mereka membawakan lagu ‘You are my everything’ dan ‘tak pernah setengah hati’. Lalu dilanjutkan dengan penampilan band yang lain dengan lagu yang masih asing di telingaku.
Di sela-sela pertunjukkan band itu, ada sesi pembagian doorprize. Di sesi ini, Host menunjuk beberapa penonton atau hadirin maju ke depan panggung untuk melakukan sesuatu, yang menurutku sangat ‘geje’. Ada salah satu anak dari MaBa dipanggil untuk maju ke depan panggung, namanya Roland. Pertama-tama, dia ditanya namanya, dia menjawab namanya adalah Wiro Sableng. Haah,,dia berusaha gokil di tengah ke’geje’an yang diciptakan duo host itu. Lalu dia suruh bercerita kesan-kesan di acara itu. Dia hanya diam tak sanggup berbicara dan tersenyum simpul ke arah duo host tersebut.
  Bahkan ke’geje’an itu aku alami sendiri setelah secara mengejutkan aku ditarik oleh Awang untuk maju ke depan panggung. Aku kaget, aku grogi, lalu jantungku berguncang hebat. Aku tidak siap menjadi tatapan para hadirin (yang mungkin menatapku dengan sinis bahkan dengan penuh nafsu) lalu aku disuruh melakukan hal yang gak jelas. Di depan panggung, aku ditanya namaku. Aku menjawab seadanya, namaku Shani. Setelah itu umur, kuberitahu kalau umurku saat itu adalah 17 tahun. Setelah itu aku ditanya udah punya pacar atau belum. Aku bilang pada mereka kalau aku belum punya pacar dan nggak mau pacaran. ‘’kenapa gak mau pacaran ?’’, si Ipam melontarkan pertanyaan yang semakin membingungkanku. ‘’karena pacaran itu nggak bebas’’, aku menjawab jujur.
Sialnya, ocehan mereka terhadapku tidak cukup sampai di situ. Habis aku menjawab pertanyaanku mereka malah menjelaskan kalau pacaran malah pacaran itu bebas, bebas pegang-pegangan, bebas ciuman, bebas main-mainan, pokoknya jawabannya ngawur dan semakin membuat suasana makin geje. Habis itu si Ipam memberikan mic-nya kepadaku untuk meng-feedback pernyataan mereka. Aku menjelaskan opiniku dengan panjang lebar. Namun belum sampai satu paragraph, mereka mengakhiri pernyataanku dengan menganggap aku ini seorang pak dosen yang sedang berceramah. Spontan saja diriku salah tingkah. Merasa serba salah terhadap apa yang kukatakan, yang mungkin hadirin penonton menganggap ceramahku ini gak jelas dan garing.
Setelah itu, si Awang menyuruhku untuk duduk lagi. Ini tidak adil !! bahkan mereka lupa memberiku doorprize-nya. Padahal aku sudah bersusah payah melawan rasa gugupku untuk maju ke depan panggung dan menjadi obyek pandangan para hadirin. Protesku dalam hati ini tidak dihiraukan oleh mereka (ya iyalah! protes kok dalam hati, mana bisa kedengaran?-_-). lalu acara mereka lanjutkan dengan penampilan band selanjutnya.
Ketika sudah sampai pertengahan acara, tampiilah sebuah band reagge yang memang disewa untuk acara tersebut. Band itu tentu saja membawakan music reagge yang menurutku, enak didengar, walaupun aku masih asing dengan lagunya. Selain itu, pembawaan vokalis band itu yang komunikatif. Dia mengajak para hadirin untuk menyanyi dan menari bersama. Walhasil, banyak penonton yang mulai beranjak dari tempat mereka untuk menari di depan panggung. Namun tidak dengan aku, karena masih canggung untuk mempertunjukkan goyangan tubuhku di depan umum, aku hanya bisa menonton mereka.
  Akhirnya acara yang ditunggu-tunggupun dimulai. Sebuah penampilan DJ dari seorang DJ-ers dengan nama panggung Awingsky atau nama lengkap Yohanes Awang Dwi Saputra atau aku biasa memanggilnya Awang. Dia beralih posisi dari seorang host menjadi DJ dan mulai memainkan musiknya di atas panggung. Para hadirin penontonpun mulai turun ke depan panggung menari-nari dengan tarian yang, kalau menurutku, buruk. Bahkan lebih buruk dari penari ronggeng terburuk sekalipun.
Pertama-tama para panitia dengan baju hawaii-nya berjejer di tempat paling dekat dengan panggung. Aku memperhatikan mereka dengan seksama. Sebenarnya bukan apa-apa sih, soalnya salah satu dari mereka yang menari ada cewek cantik yang aku suka. Selain mengenakan dress code panitia, dia memakai topi merah unik di kepalanya dan sepatu kets merah kesayangannya. Dia terlihat ceria menari dengan teman-temannya. Dia tampak mempesona dengan tariannya yang sederhana namun penuh penghayatan. ‘’Andai suatu saat nanti aku bisa menari dengannya’’, gumanku dalam hati.
Para penonton semakin banyak yang mulai bergoyang. Bahkan beberapa dari mereka ada yang melakukan goyangan yang liar. Pertama-tama aku melihat dua pasangan cewek-cowok, menggoyangkan tubuh mereka ke samping kiri-kanan dengan tegak-bungkuk, secara cepat dan bersamaan. Entah apa nama dari goyangan tersebut. Yang pasti aku menilai goyangan itu cukup menantang dan liar.
 Lalu sekelompok cowok, para mahasiswa dari angkatan atas, maju dan bergoyang di depan panggung. Beberapa dari mereka tampak membawa botol bir dan meminumnya di depan panggung. Makin banyak mereka minum bir, goyangan mereka semakin menggila.  
Sekilas kemudian bagian tempat parkir itu sudah menjadi ‘lautan bergoyang’. Para mahasiswa yang tadinya hanya duduk di kursi dan sofa yang tersedia, mulai berani berdiri untuk menunjukkan aksi mereka. Mereka menari dengan gaya sesuai selera personal. Mereka ingin menunjukkan eksistensi di pesta itu. ‘Aku menari maka aku menikmati pesta ini’’, mungkin itulah yang ada di benak sebagian besar mahasiswa malam itu.
Pesta malam itu ditutup dengan lagu ‘’Fireworks’’-nya Katy Perry, dengan pengaturan irama oleh DJ Awingsky. Bersamaan dengan lagu itu pula, beberapa kembang api dilontarkan ke angkasa, menandai akan berakhirnya gegap gempita pada malam itu. Bukannya pudar, para hadirin semakin bersemangat menyambut pesta kembang api itu.  
Pada akhir acara, para panitia maju ke depan panggung untuk memberi ucapan terima kasih kepada seluruh hadirin yang telah bersedia mengikuti acara itu. Setelah itu, tidak ada lagi musik yang diputar. Hampir semua hadirin mahasiswa meninggalkan acara tersebut. Hanya menyisakan panitia-panitia dan beberapa mahasiswa yang asyik saling berbicara atau sekedar menghabiskan rokok. Mereka sepertinya akan berada di kampus hingga dini hari atau bahkan hingga fajar tiba.
…………………………………………
Bagiku, ini adalah pengalaman baru. Mengikuti pesta dengan penuh kebebasan. Pesta yang tidak pernah aku rasakan ketika masih SMA. Merasakan kehidupan Glamour ala perkotaan, ala anak muda jaman sekarang. Aku merasakan gaya hidup yang berubah 180 derajat dibanding saat masih di asrama, ketika masih terkekang dengan banyak peraturan. Semoga dari acara ini aku dapat mengambil banyak pelajaran dengan memperoleh dampak positif-nya, bukan dampak negatif-nya. AMIN !

………..SEKIAN…………

1 komentar:

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...