Waung Nite yang secara retorika
artinya ‘malam anjing’ adalah sebuah acara yang merupakan tradisi di kampusku
dalam rangka merayakan ulang tahun Prodi Ilmu Komunikasi. Iya sih, karena
namanya saja ulang tahun, jadi acara itu cuma digelar tiap satu tahun sekali
(haduh mak, mana ada ulang tahun dirayakan satu hari sekali !!). Yang aku
denger dari temen-temenku, inti acara tersebut ialah makan daging anjing. Tentu
saja sebagai seorang muslim dan lelaki yang alergi sama anjing, aku berpikir
tiga puluh tiga kali untuk datang ke acara tersebut (maaf mas, ini bukan
dzikir,,). Jangankan makan anjing, menyentuh bulunya saja aku nggak berani.
Tapi setelah dijelaskan sama salah satu temenku yang menjadi panitia acara
tersebut, kalau di acara Waung Nite nanti juga disediakan daging ayam dan sayur
mayur bagi makhluk Tuhan yang diharamkan atau mengharamkan diri makan daging
anjing.
Selain akan
mendapat jamuan makanan, di acara tersebut juga digelar pentas seni. Biasanya
dari tahun ke tahun, acara pentas seni diisi dengan pertunjukkan musik
band-band internal dari fakultas. Tapi untuk acara Waung Nite edisi kali ini, katanya ada yang
istimewa. Yaitu pertunjukkan DJ dari salah satu mahasiswa yang juga temanku,
namanya Awang.
Waung Nite edisi
kali ini mengambil tema ‘pesta pantai’. Emang kalau menurutku tema itu nggak
masuk akal, mengingat acara tersebut nantinya akan digelar di halaman parkir
gedung FISIP UAJY yang tak lain adalah halaman kampusku. Aku nggak bisa
bayangkan kalau nantinya parkiran kampusku bakal dipenuhi hamparan pasir
pantai, lalu entah dari mana ombak air lautnya datang. Mungkin panitia telah
meminta izin sama Nyi Roro Kidul untuk mengambil berliter-liter air dari laut
selatan. Atau sebelum acara dimulai, seluruh mahasiswa diwajibkan untuk berusaha
mengeluarkan air dari dalam tubuh mereka (kayak air kencing, air ludah, air
m**i, atau air yang lain) dengan semaksimal mungkin untuk membanjiri halaman
kampus. Bagiku ini jelas tidak manusiawi !. Lalu, haruskah aku memanggil
para jin-ku untuk membuat pantai di halaman parkir menjadi terwujud ?
(sory yaa,,lebainya kebablasen n geje hehe)
Lupakan dulu dengan hal-hal yang berbau
‘geje’ dan lebai, sekarang kita kembali ke topik, hehe (hush, ini ciyus
loo !!)
Sebelum acara
ini dimulai, seluruh mahasiswa dari angkatan baru diwajibkan untuk membayar iuran
sebesar 10 ribu rupiah demi kelancaran dan kesuksesanj acara ini. Dan
malangnya, aku termasuk dari mereka, jadi aku tak boleh mengelak untuk tidak
membayar iuran. Selain itu katanya,Waung nite ini acaranya angkatan baru alias
MaBa, yang dipersembahkan untuk kakak angkatan yang sudah memberi sambutan
hangat kepada angkatan baru waktu inisiasi (sejenis OSPEK untuk menyambut
mahasiswa baru). Sehingga
semua panitia, dari ketua sampai staf-stafnya, beranggotakan dari MaBa.
Tema dari acara ini adalah pesta
pantai. Jadinya sebelum acara dimulai, aku kebingungan untuk memilih pakaian
yang akan dipakai untuk acara tersebut.’’ Pesta pantai? Apakah aku harus
memakai celana pendek dengan telanjang dada? Lalu bagaimana denganyang cewek?
Apakah mereka akan mengenakan bikini? Waaaaahh, jos kalau begitu!!’’, pikiran
liarku mulai beraksi. Aku membayangkan pesta yang begitu meriah dengan berbagai
pemandangan indah.
Akhirnya kuputuskan untuk mengenakan
jersey Timnas Portugal dengan bawahan celana pendek tiga perempat dan alas kaki
berupa sandal jepit (bukan swallow), plus tak selalu lupa mengenakan celana
dalam, yang tak perlu kujelaskan apa warna dan motifnya (sampai di sini privasi
yaa, hehe). Dalam kostumku ini, aku membayangkan seorang Cristiano
Ronaldo sedang bermain bola di tepi pantai, hehe.
Aku berangkat pagi menjelang siang hari
sekitar jam 10-an ke kampus dengan temanku cewek. Di sela-sela perjalanan ke
kampus, kita sempatkan untuk ngobrol tentang acara ‘Waung Nite’ malam nanti. Di
tengah obrolan, aku sempatkan untuk bertanya padanya pakaian apa yang akan dia
kenakan untuk pesta pantai malam nanti. Ternyata dia bingung mau pake kostum
apa. Padahal diam-diam aku berharap dia sudah menyiapkan satu set bikini untuk
acara tersebut (maaf banget agak ngeres dikit, mudah-mudahan dia nggak baca
tulisan ini, amin!)
Sementara aku berangkat ke kampus
dengan baju hem motif batik seperti biasa dengan baju ganti yang sudah disimpan
di tas untuk acara nanti malam, dikarenakan siang harinya habis Sholat Jum’at
aku harus mengikuti mata kuliah Pengantar Ekonomi di kampus. Ketika melewati
halaman kampus, aku sudah melihat para kuli alias M3 (Mas Mas Macho.red) mulai
membangun panggung dan tenda dengan kharisma dan jiwa merah mereka. Sementara
itu, sebagian dari panitia meletakkan kursi sofa panjang untuk acara nanti
malam.
Selesai kuliah, aku menunggu datangnya malam
di kontrakkan temanku, namanya Jodi. Malamnya, aku dan dia berangkat bersama ke
kampus untuk acara tersebut. Ketika kita sampai disana, ternyata acara sudah
dimulai. Tampak para panitia memakai drees
code berupa hem motif bunga-bunga khas Hawaii. Namun apesnya, dugaanku
selama ini terhadap acara tersebut melenceng. Tampak tak ada hamparan pasir dan
deburan ombak. Para cowok tidak ada yang bertelanjang dada. Dan yang paling
mengecewakan tentu saja, tidak ada satupun cewek yang mengenakan bikini!
Padahal sudah ada papan pembatas agar acara tersebut dan cewek-cewek yang
mengenakan bikini tidak dilihat sama orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan
kampus (huh sial!).
Acara intipun dimulai. Sang Host,
yang diisi dua orang yang ternyata sudah berteman lama, Awang dan Ipam, mulai
memandu jalannya acara. Acara tersebut dibuka dengan penampilan salah satu band
dari MaBa. Mereka membawakan lagu ‘You are my everything’ dan ‘tak pernah
setengah hati’. Lalu dilanjutkan dengan penampilan band yang lain dengan lagu
yang masih asing di telingaku.
Di sela-sela pertunjukkan band itu,
ada sesi pembagian doorprize. Di sesi
ini, Host menunjuk beberapa penonton atau hadirin maju ke depan panggung untuk
melakukan sesuatu, yang menurutku sangat ‘geje’. Ada salah satu anak dari MaBa
dipanggil untuk maju ke depan panggung, namanya Roland. Pertama-tama, dia
ditanya namanya, dia menjawab namanya adalah Wiro Sableng. Haah,,dia berusaha
gokil di tengah ke’geje’an yang diciptakan duo host itu. Lalu dia suruh
bercerita kesan-kesan di acara itu. Dia hanya diam tak sanggup berbicara dan
tersenyum simpul ke arah duo host tersebut.
Bahkan
ke’geje’an itu aku alami sendiri setelah secara mengejutkan aku ditarik oleh
Awang untuk maju ke depan panggung. Aku kaget, aku grogi, lalu jantungku
berguncang hebat. Aku tidak siap menjadi tatapan para hadirin (yang mungkin
menatapku dengan sinis bahkan dengan penuh nafsu) lalu aku disuruh melakukan
hal yang gak jelas. Di depan panggung, aku ditanya namaku. Aku menjawab
seadanya, namaku Shani. Setelah itu umur, kuberitahu kalau umurku saat itu
adalah 17 tahun. Setelah itu aku ditanya udah punya pacar atau belum. Aku
bilang pada mereka kalau aku belum punya pacar dan nggak mau pacaran. ‘’kenapa
gak mau pacaran ?’’, si Ipam melontarkan pertanyaan yang semakin
membingungkanku. ‘’karena pacaran itu nggak bebas’’, aku menjawab jujur.
Sialnya, ocehan mereka terhadapku
tidak cukup sampai di situ. Habis aku menjawab pertanyaanku mereka malah
menjelaskan kalau pacaran malah pacaran itu bebas, bebas pegang-pegangan, bebas
ciuman, bebas main-mainan, pokoknya jawabannya ngawur dan semakin membuat
suasana makin geje. Habis itu si Ipam memberikan mic-nya kepadaku untuk
meng-feedback pernyataan mereka. Aku menjelaskan opiniku dengan panjang lebar.
Namun belum sampai satu paragraph, mereka mengakhiri pernyataanku dengan
menganggap aku ini seorang pak dosen yang sedang berceramah. Spontan saja
diriku salah tingkah. Merasa serba salah terhadap apa yang kukatakan, yang
mungkin hadirin penonton menganggap ceramahku ini gak jelas dan garing.
Setelah itu, si Awang menyuruhku
untuk duduk lagi. Ini tidak adil !! bahkan mereka lupa memberiku doorprize-nya.
Padahal aku sudah bersusah payah melawan rasa gugupku untuk maju ke depan
panggung dan menjadi obyek pandangan para hadirin. Protesku dalam hati ini
tidak dihiraukan oleh mereka (ya iyalah! protes kok dalam hati, mana bisa
kedengaran?-_-). lalu acara mereka lanjutkan dengan penampilan band
selanjutnya.
Ketika sudah sampai pertengahan
acara, tampiilah sebuah band reagge yang memang disewa untuk acara tersebut. Band
itu tentu saja membawakan music reagge yang menurutku, enak didengar, walaupun
aku masih asing dengan lagunya. Selain itu, pembawaan vokalis band itu yang
komunikatif. Dia mengajak para hadirin untuk menyanyi dan menari bersama.
Walhasil, banyak penonton yang mulai beranjak dari tempat mereka untuk menari
di depan panggung. Namun tidak dengan aku, karena masih canggung untuk
mempertunjukkan goyangan tubuhku di depan umum, aku hanya bisa menonton mereka.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggupun
dimulai. Sebuah penampilan DJ dari seorang DJ-ers dengan nama panggung Awingsky
atau nama lengkap Yohanes Awang Dwi Saputra atau aku biasa memanggilnya Awang.
Dia beralih posisi dari seorang host menjadi DJ dan mulai memainkan musiknya di
atas panggung. Para hadirin penontonpun mulai turun ke depan panggung
menari-nari dengan tarian yang, kalau menurutku, buruk. Bahkan lebih buruk dari
penari ronggeng terburuk sekalipun.
Pertama-tama
para panitia dengan baju hawaii-nya berjejer di tempat paling dekat dengan panggung.
Aku memperhatikan mereka dengan seksama. Sebenarnya bukan apa-apa sih, soalnya
salah satu dari mereka yang menari ada cewek cantik yang aku suka. Selain
mengenakan dress code panitia, dia memakai topi merah unik di kepalanya dan
sepatu kets merah kesayangannya. Dia terlihat ceria menari dengan
teman-temannya. Dia
tampak mempesona dengan tariannya yang sederhana namun penuh penghayatan. ‘’Andai
suatu saat nanti aku bisa menari dengannya’’, gumanku dalam hati.
Para penonton
semakin banyak yang mulai bergoyang. Bahkan beberapa dari mereka ada yang
melakukan goyangan yang liar. Pertama-tama aku melihat dua pasangan
cewek-cowok, menggoyangkan tubuh mereka ke samping kiri-kanan dengan
tegak-bungkuk, secara cepat dan bersamaan. Entah apa nama dari goyangan tersebut.
Yang pasti aku menilai goyangan itu cukup menantang dan liar.
Lalu sekelompok cowok, para mahasiswa dari
angkatan atas, maju dan bergoyang di depan panggung. Beberapa dari mereka tampak
membawa botol bir dan meminumnya di depan panggung. Makin banyak mereka minum
bir, goyangan mereka semakin menggila.
Sekilas kemudian
bagian tempat parkir itu sudah menjadi ‘lautan bergoyang’. Para mahasiswa yang
tadinya hanya duduk di kursi dan sofa yang tersedia, mulai berani berdiri untuk
menunjukkan aksi mereka. Mereka menari dengan gaya sesuai selera personal. Mereka
ingin menunjukkan eksistensi di pesta itu. ‘Aku menari maka aku menikmati pesta
ini’’, mungkin itulah yang ada di benak sebagian besar mahasiswa malam itu.
Pesta malam itu
ditutup dengan lagu ‘’Fireworks’’-nya Katy Perry, dengan pengaturan irama oleh
DJ Awingsky. Bersamaan dengan lagu itu pula, beberapa kembang api dilontarkan
ke angkasa, menandai akan berakhirnya gegap gempita pada malam itu. Bukannya pudar,
para hadirin semakin bersemangat menyambut pesta kembang api itu.
Pada akhir
acara, para panitia maju ke depan panggung untuk memberi ucapan terima kasih
kepada seluruh hadirin yang telah bersedia mengikuti acara itu. Setelah itu,
tidak ada lagi musik yang diputar. Hampir semua hadirin mahasiswa meninggalkan
acara tersebut. Hanya menyisakan panitia-panitia dan beberapa mahasiswa yang
asyik saling berbicara atau sekedar menghabiskan rokok. Mereka sepertinya akan
berada di kampus hingga dini hari atau bahkan hingga fajar tiba.
…………………………………………
Bagiku, ini
adalah pengalaman baru. Mengikuti pesta dengan penuh kebebasan. Pesta yang
tidak pernah aku rasakan ketika masih SMA. Merasakan kehidupan Glamour ala
perkotaan, ala anak muda jaman sekarang. Aku merasakan gaya hidup yang berubah
180 derajat dibanding saat masih di asrama, ketika masih terkekang dengan
banyak peraturan. Semoga dari acara ini aku dapat mengambil banyak pelajaran
dengan memperoleh dampak positif-nya, bukan dampak negatif-nya. AMIN !
………..SEKIAN…………
aminn
BalasHapus