Waktu itu hari pertama
di tahun 2013, aku dan sobatku Iqbal, melakukan sebuah perjalanan dengan Honda
Supra-X merah putih kebanggaanku. Sebenarnya, tidak ada rencana matang dari
tujuan perjalanan ini. Walhasil, saya sebagai seorang ‘rider’ kelimpungan
menentukan destinasi yang asyik.
Kami berangkat dari rumahku di daerah Godean,
salah satu kecamatan di Kabupaten Sleman, DIY. Di pagi hari yang mulai terik
itu, aku mengendarai motor dengan gejolak yang tak menentu, seperti habis kehilangan
alat kelamin (#eh). Namun tiba-tiba di
tengah jalan, turunlah sebuah petunjuk dari langit (#hiperbola). Petunjuk itu
berisi bahwa aku sebagai seorang manusia yang ‘’berjiwa laki’’ (maaf, bukan
iklan mas) harus memacu mesin gagah perkasa ini ke arah barat. Setelah turunnya
wahyu itu, hatiku mulai tenang. Kukendarai motorku ke barat dengan kecepatan
rata-rata 70 km/jam. Melewati beberapa persimpangan jalan, melewati pasar, melewati
hamparan sawah nan hijau, dan melewati ribuan hati wanita ^_^.
GOA MARIA JATININGSIH
Setelah setengah jam
berlalu, sampailah kami di sebuah pertigaan jalan. Namun bagi kami ini bukanlah
pertigaan jalan biasa. Di salah satu sudut pertigaan ini, ada plang besi warna
biru penunjuk jalan ke arah kiri. Plang biru itu bertuliskan ‘’GOA MARIA
JATININGSIH’’. Hatiku bertanya-tanya dan mulai bernyanyi,’’ maria ? ooh gooaa
mariiaaa !!’’. Mendengar nyanyianku yang dahsyat ini, Si Iqbal
hampir saja terpental dari motor (#justkidding^_^).
Aku yang mulai dihinggapi rasa penasaran akhirnya membelokkan motor ke arah
jalan desa yang sudah beraspal itu. Setelah berjalan satu kilometer dari plang
penunjuk tadi, akhirnya kami sampai di tempat yang dimaksud. Ternyata Goa Maria
Jatiningsih adalah tempat peribadatan Umat Nasrani. Kami yang muslim ini sebenarnya segan untuk masuk ke
dalam gerbang utama situs religi itu, sumpah! Tapi setelah kami berunding
sejenak, tekad kami menjadi bulat. Toh tak ada yang tahu jika aku dan Iqbal
adalah seorang muslim, kecuali jika ada razia KTP, hehehe.
Oke, aku langsung memarkirkan motor lalu bersama si Iqbal melangkahkan kaki
menuju pintu gerbang kawasan Goa Maria Jatiningsih yang penuh misteri ini.
Setelah masuk di dalam kawasan, aku melihat seorang pria dengan pecielana kain
hitam dan baju koko selutut menggunakan peci hitam di ubun-ubunnya.
“Assalamualaikum Pak Ustadz !!’’, ‘’ups !’’, hampir saja aku mengucapkan
kata-kata itu sebelum tanganku dicubit sama Iqbal yang berusaha mengingatkanku.
Temanku yang satu ini memang cukup genit dan manja (loh kok ???).
Aku baru sadar sebenarnya pria itu bukanlah Pak Ustadz, tapi pemuka agama
nasrani yang biasanya disebut ‘romo’ atau pendeta. Tapi kok dia pakai baju
taqwa, dan peci ? itulah pertanyaanku yang belum terjawab hingga sekarang.
Kami meneruskan langkah menjelajahi
tempat yang masih asing bagi kami itu.
Ada sebuah pendopo yang diisi banyak sekali manusia yang sedang kyusuk berdo’a.
Memejamkan mata di hadapan patung Bunda Maria. Saking kyusuknya, ada beberapa orang yang sampai
meneteskan air mata, ada pula yang sampai ketiduran J.
Di sisi lain dari tempat ini, kami
melihat pemandangan yang begitu indah. Aliran Sungai Progo yang begitu besar membentang di bawah
sana. Setelah kusadari, ternyata lokasi Goa Maria Jatiningsih ini terletak di
sebuah tebing di sisi timur Kali Progo looh (trus gua harus bilang waw gitu
-_-). Lokasinya memang sangat cocok untuk bertapa bagi para pemuka agama karena
ada beberapa tempat seperti goa yang memang dulunya menjadi petilasan para romo
level atas. Dari tempat itu, aku sejenak menatap ke bawah tebing di mana Kali
Progo mengalir tenang, menatapnya dengan tajam kalau-kalau ada pasukan Nyi Roro
Kidul dari laut selatan melintas di sungai itu bersama para prajuritnya (loh
kok -_-).
Setelah puas
narsis-narsisan di Goa Maria Janiningsih, akhirnya kami putuskan untuk
melanjutkan perjalanan. Kami kembali melintasi plang besi penunjuk arah tempat
tadi dan terus melaju ke arah barat bersama Supra-X ku tercinta.
MENOREH
Aku terus melacu
motorku dengan akselerasi tinggi (iya po ?). Setelah melintasi jembatan Kali
Progo yang begitu panjang, akhirnya tibalah kami di sebuah ‘bangjo’. Motor
kuhentikan sejenak karena lampu menyala merah. Kutatap mataku ke depan, ke
jalan yang terus melaju ke barat. Di sana ada pemandangan yang begitu megah.
Deretan pegunungan hijau nan perkasa memanjang dan menjulang menyentuh awan
kelabu di atasnya. Orang-orang menyebutnya ‘Pegunungan Menoreh’. Pegunungan
yang menyimpan sejuta misteri yang belum terkabarkan (maaf kalimat ini terlalu
didramatisasi).
‘’itulah
tujuan kita!’’, aku berseru pada Iqbal sembari mengacungkan jari telunjuk ke
arah barat di mana pegunungan itu berada. Setelah singgah di penjual bensin
eceran untuk ‘memberi makan’ motorku, kami melesat meninggalkan uang sepuluh
ribu pada bapak-bapak penjual bensin tadi J.
The
Beauty of Menoreh
Dinaungi awan mendung
di atas jalan beraspal yang kami lalui, udara terasa mulai sejuk dan tampak
asri. Hamparan sawah datar mulai berubah menjadi berundak karena berada di
lereng pegunungan nan permai. Aliran sungai jernih nan berbatu mulai
menghiasi pemandangan. Jalanan beraspal yang kami lalui mulai menanjak. Beberapa meter jalanan mendaki sangat
curam. Saking curamnya tanjakan, motorku sampai menjerit untuk berjuang
mendaki. Belum lagi jalanannya bergeronjal. Aku mencoba memberi semangat dengan
meng-gas motorku lebih keras. Berhasil ! motorku hebat ! kami berada
di atas, di ketinggian.
Dari atas pegunungan, Nagari Ngayogyakarto
Hadiningrat tampak begitu luas bersebelahan dengan Gunung Merapi yang
mengepulkan asap putih pekatnya. Di dataran nan epik itu, terdapat rumahku,
terdapat kampusku, terdapat kehidupan manusia yang beragam, dan terdapat wanita
yang kucintai sedang menjalin kasih dengan lelaki lain (#curhat).
Kami merasa telah menaklukkan Puncak Menoreh J, walaupun setelah itu kuketahui bahwa puncak
tertinggi dari pegunungan ini adalah Puncak Suroloyo, jauh di sebelah utara
tempat kami berada L. Di
atas pegunungan itu, jalanan mulai agak datar. Ternyata kehidupan di sana tak
sesepi yang kami bayangkan. Ada pasar kambing, ada rumah penduduk, dan ada pula sekolah. Dan yang tak
kalah pentingnya, daerah itu merupakan batas wilayah Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta dengan Provinsi Jawa Tengah. We’re
coming central java ! ^_^
CURUG SIKLOTHOK
Ketika
kami memasuki wilayah Kabupaten Purworejo ini, jalanan menurun curam dan
berkelok-kelok. Aku harus beberapa kali menekan rem depan motorku agar dapat
melewati lintasan ini dengan sukses. Karena kalau ‘kebablasan’ menurun, kami
akan terjun ke jurang dengan gemilang dan nyawa kamipun melayang. Pada salah
satu momen ketika melewati tikungan tajam, motorku sempat out of the track dan hampir saja masuk jurang (OMG!). Untung takdir
Tuhan berkata lain. Alhamdulillah,
Kami masih selamat.
Kami berada tepatnya di
Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Pemandangan di
sini cukup eksotis. Di sebelah kiri jalan yang kami lalui, aliran sungai jernih
dengan bebatuan membentang dengan anggunnya. Rimbunan pohon
dan suasana pegunungan nan asri makin terasa di sini.
Dan pada akhirnya
tibalah kami di depan sebuah plang penunjuk jalan. Plang itu bertuliskan ‘Curug
Siklothok’ dan ‘Curug Silangit’. Aku kembali dihinggapi rasa penasaran, lebih kuat
dari rasa yang merasukiku ketika berada di depan plang ‘Goa Maria Janiningsih’
sebelumnya. Akupun melajukan motorku ke tempat sepasang ‘Curug’ itu berada.
Suasana di sana cukup semarak. Kami disambut dengan hiburan musik dangdut yang menggoyang
hati. Kamipun turun dari motor dan melanjutkannya dengan berjalan kaki menuju
jalan setapak yang menuju Curug Siklothok dan Curug Silangit. Setelah
melangkahkan kaki sejauh satu kilometer, sampailah kami di Curug Siklothok. Guyuran
air terjun tampak di depan mata. Aku tak menyia-nyiakan eksotisme ini untuk
diabadikan dalam bingkai foto. Pada siang hari yang mendung itu, wisatawan
banyak yang berdatangan. Maklumlah, karena waktu itu hari pertama di tahun baru
2013, hehehe
Selepas itu kami
sempatkan bermain air di kali berbatu depan Curug Siklothok. Sambil menikmati
lukisan alam yang tiada tara itu, kami berfoto ria. Setelah merasa puas, kami
menaiki tangga batu di sebelah air terjun untuk menuju Curug Silangit.
Sayang, harapan melihat
Curug Silangit sirna ketika perlahan-lahan air hujan mulai membasahi kaki
menoreh. Kami yang sudah melewati tanggapun harus kembali ke pelataran parkir
kawasan ini. Kecewa ? iya lah! Namun rasanya aku harus mensyukuri bila hari ini
kami sudah dapat mengunjungi pesona keindahan alam Menoreh nan aduhai. Kami
melanjutkan perjalanan menuju Kota Purworejo.
Kami kembali melalui
jalan yang sama sampai pertigaan penunjuk arah ‘Curug Siklothok’ tadi.
Selanjutnya kami belok kiri. Dalam perjalanan menuju Kota Purworejo, aku sudah
berani memacu motorku dengan kencang karena jalanan mulai mendatar. Selain
itu aku liat para pengendara motor yang lain pada ‘ngebut’. Jadi kalau gak
ikut-ikutan ‘ngebut’ kan gengsi hehehe J. Selepas melewati tebing dan rimbun pohon di kaki menoreh,
kami disambut dengan hamparan sawah yang luas. Ditambah lagi ada aliran sungai
yang amat sangat jernih yang menggodaku untuk ‘nyebur’. Tapi aku mikir-mikir
lagi soalnya aku kan gak bisa berenang hehehe.
STASIUN PURWOREJO
Tak lama kami
mengendarai motor, akhirnya kami memasuki Kota Purworejo. Sebenarnya, tak ada
yang istimewa dari kota ini. Tapi ada yang kami cari di sini. Stasiun Kereta
Api Purworejo. Kamipun bertanya kepada beberapa orang di pinggir jalan tentang
keberadaan stasiun itu. Sekian menit kemudian, akhirnya sampailah kami di
tempat yang dimaksud.
Ternyata di luar dugaanku, pintu utama stasiun ini sudah ditutup. Berarti,
stasiun ini sudah mati donk! Inna lillahi ! L. Aku
mengendarai motor mencari sisi lain dari stasiun ini yang bisa ditembus. Ketemu ! letaknya ada di
belakang stasiun. Aku memarkirkan motor di depan sebuah warung yang lagi tutup.
Yah, mungkin itulah tempat yang paling aman di sana hahaha. Kami langsung
memasuki halaman Stasiun Purworejo yang sore itu tampak sepi.
Di
halaman stasiun itu, hanya ada kami berdua, tiga anak kecil, dan sepasang
kekasih yang sedang pacaran. Bangunan yang menjadi cagar budaya itu masih mampu
berdiri kokoh di tengah kondisinya yang mati suri. Rel sepurnya sudah banyak
ditumbuhi rumput liar sehingga tak layak lagi dilewati kereta api. Bangunan
besi bekas pompa air di sisi barat stasiun sudah berkarat dan hanya menjadi
tempat bermain para bocah nekat. Keadaan bangunan saat itu sudah sangat kontras
dari sebuah artikel sebuah majalah yang aku baca empat tahun sebelumnya. Sungguh menyedihkan L
Langit di atas Stasiun KA Purworejo sudah semakin sore. Terpaksa, kamipun harus
meninggalkan tempat itu. Sebelum benar-benar pulang, kami mampir dahulu ke
Masjid Agung Purworejo yang terletak di dekat alun-alun untuk Sholat Dhuhur dan
Sholat Ashar. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan pulang, aku memacu
motorku dengan kecepatan 80-90 km/jam. Sepintas aku melihat ke sisi kiri jalan.
Ada sawah, ada pemukiman penduduk, dengan latar belakang pegunungan menoreh.
Aku menepi ke pinggir jalan sejenak, lalu berhenti. Menatap menoreh dengan
tajam. Si Iqbal yang juga terpesona dengan pemandangan itu mengulurkan
tangannya ke tanganku. Dengan kamera di telapak tangannya. ‘’Oooh, aku pikir
apa?’’, batinku. Aku mengabadikan Sang Menoreh dengan kamera. Dan kami
melanjutkan perjalanan pulang. Ketika langit sudah gelap, kami memasuki wilayah
Provinsi DIY. Selepas itu, aku memacu motor dengan kecepatan sekitar 100
km/jam. Sejam kemudian, kami sampai kembali di rumahku dengan selamat, namun
dengan kondisi kelaparan akibat lupa makan selama perjalanan L.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar