Jumat, 02 Agustus 2013

Jalan-jalan ke Jatiningsih, Menoreh, dan Curug Siklothok




Waktu itu hari pertama di tahun 2013, aku dan sobatku Iqbal, melakukan sebuah perjalanan dengan Honda Supra-X merah putih kebanggaanku. Sebenarnya, tidak ada rencana matang dari tujuan perjalanan ini. Walhasil, saya sebagai seorang ‘rider’ kelimpungan menentukan destinasi yang asyik.
 Kami berangkat dari rumahku di daerah Godean, salah satu kecamatan di Kabupaten Sleman, DIY. Di pagi hari yang mulai terik itu, aku mengendarai motor dengan gejolak yang tak menentu, seperti habis kehilangan alat kelamin  (#eh). Namun tiba-tiba di tengah jalan, turunlah sebuah petunjuk dari langit (#hiperbola). Petunjuk itu berisi bahwa aku sebagai seorang manusia yang ‘’berjiwa laki’’ (maaf, bukan iklan mas) harus memacu mesin gagah perkasa ini ke arah barat. Setelah turunnya wahyu itu, hatiku mulai tenang. Kukendarai motorku ke barat dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam. Melewati beberapa persimpangan jalan, melewati pasar, melewati hamparan sawah nan hijau, dan melewati ribuan hati wanita ^_^. 

GOA MARIA JATININGSIH
Setelah setengah jam berlalu, sampailah kami di sebuah pertigaan jalan. Namun bagi kami ini bukanlah pertigaan jalan biasa. Di salah satu sudut pertigaan ini, ada plang besi warna biru penunjuk jalan ke arah kiri. Plang biru itu bertuliskan ‘’GOA MARIA JATININGSIH’’. Hatiku bertanya-tanya dan mulai bernyanyi,’’ maria ? ooh gooaa mariiaaa !!’’. Mendengar nyanyianku yang dahsyat ini, Si Iqbal hampir saja terpental dari motor (#justkidding^_^).
Aku yang mulai dihinggapi rasa penasaran akhirnya membelokkan motor ke arah jalan desa yang sudah beraspal itu. Setelah berjalan satu kilometer dari plang penunjuk tadi, akhirnya kami sampai di tempat yang dimaksud. Ternyata Goa Maria Jatiningsih adalah tempat peribadatan Umat Nasrani. Kami yang  muslim ini sebenarnya segan untuk masuk ke dalam gerbang utama situs religi itu, sumpah! Tapi setelah kami berunding sejenak, tekad kami menjadi bulat. Toh tak ada yang tahu jika aku dan Iqbal adalah seorang muslim, kecuali jika ada razia KTP, hehehe.
Oke, aku langsung memarkirkan motor lalu bersama si Iqbal melangkahkan kaki menuju pintu gerbang kawasan Goa Maria Jatiningsih yang penuh misteri ini. Setelah masuk di dalam kawasan, aku melihat seorang pria dengan pecielana kain hitam dan baju koko selutut menggunakan peci hitam di ubun-ubunnya. “Assalamualaikum Pak Ustadz !!’’, ‘’ups !’’, hampir saja aku mengucapkan kata-kata itu sebelum tanganku dicubit sama Iqbal yang berusaha mengingatkanku. Temanku yang satu ini memang cukup genit dan manja (loh kok ???).
Aku baru sadar sebenarnya pria itu bukanlah Pak Ustadz, tapi pemuka agama nasrani yang biasanya disebut ‘romo’ atau pendeta. Tapi kok dia pakai baju taqwa, dan peci ? itulah pertanyaanku yang belum terjawab hingga sekarang.
Kami meneruskan langkah menjelajahi tempat  yang masih asing bagi kami itu. Ada sebuah pendopo yang diisi banyak sekali manusia yang sedang kyusuk berdo’a. Memejamkan mata di hadapan patung Bunda Maria. Saking kyusuknya, ada beberapa orang yang sampai meneteskan air mata, ada pula yang sampai ketiduran  J.
                                 
Di sisi lain dari tempat ini, kami melihat pemandangan yang begitu indah. Aliran Sungai Progo yang begitu besar membentang di bawah sana. Setelah kusadari, ternyata lokasi Goa Maria Jatiningsih ini terletak di sebuah tebing di sisi timur Kali Progo looh (trus gua harus bilang waw gitu -_-). Lokasinya memang sangat cocok untuk bertapa bagi para pemuka agama karena ada beberapa tempat seperti goa yang memang dulunya menjadi petilasan para romo level atas. Dari tempat itu, aku sejenak menatap ke bawah tebing di mana Kali Progo mengalir tenang, menatapnya dengan tajam kalau-kalau ada pasukan Nyi Roro Kidul dari laut selatan melintas di sungai itu bersama para prajuritnya (loh kok -_-).   
                                           
Setelah puas narsis-narsisan di Goa Maria Janiningsih, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kami kembali melintasi plang besi penunjuk arah tempat tadi dan terus melaju ke arah barat bersama Supra-X ku tercinta.
     
MENOREH
Aku terus melacu motorku dengan akselerasi tinggi (iya po ?). Setelah melintasi jembatan Kali Progo yang begitu panjang, akhirnya tibalah kami di sebuah ‘bangjo’. Motor kuhentikan sejenak karena lampu menyala merah. Kutatap mataku ke depan, ke jalan yang terus melaju ke barat. Di sana ada pemandangan yang begitu megah. Deretan pegunungan hijau nan perkasa memanjang dan menjulang menyentuh awan kelabu di atasnya. Orang-orang menyebutnya ‘Pegunungan Menoreh’. Pegunungan yang menyimpan sejuta misteri yang belum terkabarkan (maaf kalimat ini terlalu didramatisasi).
‘’itulah tujuan kita!’’, aku berseru pada Iqbal sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah barat di mana pegunungan itu berada. Setelah singgah di penjual bensin eceran untuk ‘memberi makan’ motorku, kami melesat meninggalkan uang sepuluh ribu pada bapak-bapak penjual bensin tadi J.
                                             The Beauty of Menoreh
Dinaungi awan mendung di atas jalan beraspal yang kami lalui, udara terasa mulai sejuk dan tampak asri. Hamparan sawah datar mulai berubah menjadi berundak karena berada di lereng pegunungan nan permai. Aliran sungai jernih nan berbatu mulai menghiasi pemandangan. Jalanan beraspal yang kami lalui mulai menanjak. Beberapa meter jalanan mendaki sangat curam. Saking curamnya tanjakan, motorku sampai menjerit untuk berjuang mendaki. Belum lagi jalanannya bergeronjal. Aku mencoba memberi semangat dengan meng-gas motorku lebih keras. Berhasil ! motorku hebat ! kami berada di atas, di ketinggian.
 Dari atas pegunungan, Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat tampak begitu luas bersebelahan dengan Gunung Merapi yang mengepulkan asap putih pekatnya. Di dataran nan epik itu, terdapat rumahku, terdapat kampusku, terdapat kehidupan manusia yang beragam, dan terdapat wanita yang kucintai sedang menjalin kasih dengan lelaki lain (#curhat).
Kami merasa telah menaklukkan Puncak Menoreh J, walaupun setelah itu kuketahui bahwa puncak tertinggi dari pegunungan ini adalah Puncak Suroloyo, jauh di sebelah utara tempat kami berada L. Di atas pegunungan itu, jalanan mulai agak datar. Ternyata kehidupan di sana tak sesepi yang kami bayangkan. Ada pasar kambing, ada rumah penduduk, dan ada pula sekolah. Dan yang tak kalah pentingnya, daerah itu merupakan batas wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Provinsi Jawa Tengah. We’re coming central java ! ^_^

CURUG SIKLOTHOK
   Ketika kami memasuki wilayah Kabupaten Purworejo ini, jalanan menurun curam dan berkelok-kelok. Aku harus beberapa kali menekan rem depan motorku agar dapat melewati lintasan ini dengan sukses. Karena kalau ‘kebablasan’ menurun, kami akan terjun ke jurang dengan gemilang dan nyawa kamipun melayang. Pada salah satu momen ketika melewati tikungan tajam, motorku sempat out of the track dan hampir saja masuk jurang (OMG!). Untung takdir Tuhan berkata lain. Alhamdulillah, Kami masih selamat.
Kami berada tepatnya di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Pemandangan di sini cukup eksotis. Di sebelah kiri jalan yang kami lalui, aliran sungai jernih dengan bebatuan membentang dengan anggunnya. Rimbunan pohon dan suasana pegunungan nan asri makin terasa di sini.
Dan pada akhirnya tibalah kami di depan sebuah plang penunjuk jalan. Plang itu bertuliskan ‘Curug Siklothok’ dan ‘Curug Silangit’. Aku kembali dihinggapi rasa penasaran, lebih kuat dari rasa yang merasukiku ketika berada di depan plang ‘Goa Maria Janiningsih’ sebelumnya. Akupun melajukan motorku ke tempat sepasang ‘Curug’ itu berada.
Jalanan ke tempat kediaman kedua curug itu memang ekstrem. Dibutuhkan seseorang yang punya ‘mental baja’ seperti saya (sombong !). Lintasannya yang berbatu dan menanjak curam tak membuat nyaliku ciut. Ku injak pedal motorku ke gigi satu. Ku-gas starter motorku dengan keras. Lalu kurasakan jalan rusak nan terjal ini dengan pasrah. Akhirnya sampailah kami di tempat parkir kawasan Objek Wisata Curug Siklothok dan Curug Silangit.
                                             
Suasana di sana cukup semarak. Kami disambut dengan hiburan musik dangdut yang menggoyang hati. Kamipun turun dari motor dan melanjutkannya dengan berjalan kaki menuju jalan setapak yang menuju Curug Siklothok dan Curug Silangit. Setelah melangkahkan kaki sejauh satu kilometer, sampailah kami di Curug Siklothok. Guyuran air terjun tampak di depan mata. Aku tak menyia-nyiakan eksotisme ini untuk diabadikan dalam bingkai foto. Pada siang hari yang mendung itu, wisatawan banyak yang berdatangan. Maklumlah, karena waktu itu hari pertama di tahun baru 2013, hehehe
Selepas itu kami sempatkan bermain air di kali berbatu depan Curug Siklothok. Sambil menikmati lukisan alam yang tiada tara itu, kami berfoto ria. Setelah merasa puas, kami menaiki tangga batu di sebelah air terjun untuk menuju Curug Silangit.
Sayang, harapan melihat Curug Silangit sirna ketika perlahan-lahan air hujan mulai membasahi kaki menoreh. Kami yang sudah melewati tanggapun harus kembali ke pelataran parkir kawasan ini. Kecewa ? iya lah! Namun rasanya aku harus mensyukuri bila hari ini kami sudah dapat mengunjungi pesona keindahan alam Menoreh nan aduhai. Kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Purworejo.
Kami kembali melalui jalan yang sama sampai pertigaan penunjuk arah ‘Curug Siklothok’ tadi. Selanjutnya kami belok kiri. Dalam perjalanan menuju Kota Purworejo, aku sudah berani memacu motorku dengan kencang karena jalanan mulai mendatar. Selain itu aku liat para pengendara motor yang lain pada ‘ngebut’. Jadi kalau gak ikut-ikutan ‘ngebut’ kan gengsi hehehe JSelepas melewati tebing dan rimbun pohon di kaki menoreh, kami disambut dengan hamparan sawah yang luas. Ditambah lagi ada aliran sungai yang amat sangat jernih yang menggodaku untuk ‘nyebur’. Tapi aku mikir-mikir lagi soalnya aku kan gak bisa berenang hehehe.   

STASIUN PURWOREJO
Tak lama kami mengendarai motor, akhirnya kami memasuki Kota Purworejo. Sebenarnya, tak ada yang istimewa dari kota ini. Tapi ada yang kami cari di sini. Stasiun Kereta Api Purworejo. Kamipun bertanya kepada beberapa orang di pinggir jalan tentang keberadaan stasiun itu. Sekian menit kemudian, akhirnya sampailah kami di tempat yang dimaksud.
Ternyata di luar dugaanku, pintu utama stasiun ini sudah ditutup. Berarti, stasiun ini sudah mati donk! Inna lillahi ! L. Aku mengendarai motor mencari sisi lain dari stasiun ini yang bisa ditembus. Ketemu ! letaknya ada di belakang stasiun. Aku memarkirkan motor di depan sebuah warung yang lagi tutup. Yah, mungkin itulah tempat yang paling aman di sana hahaha. Kami langsung memasuki halaman Stasiun Purworejo yang sore itu tampak sepi.
Di halaman stasiun itu, hanya ada kami berdua, tiga anak kecil, dan sepasang kekasih yang sedang pacaran. Bangunan yang menjadi cagar budaya itu masih mampu berdiri kokoh di tengah kondisinya yang mati suri. Rel sepurnya sudah banyak ditumbuhi rumput liar sehingga tak layak lagi dilewati kereta api. Bangunan besi bekas pompa air di sisi barat stasiun sudah berkarat dan hanya menjadi tempat bermain para bocah nekat. Keadaan bangunan saat itu sudah sangat kontras dari sebuah artikel sebuah majalah yang aku baca empat tahun sebelumnya.  Sungguh menyedihkan L    
                                                    
PERJALANAN PULANG
Langit di atas Stasiun KA Purworejo sudah semakin sore. Terpaksa, kamipun harus meninggalkan tempat itu. Sebelum benar-benar pulang, kami mampir dahulu ke Masjid Agung Purworejo yang terletak di dekat alun-alun untuk Sholat Dhuhur dan Sholat Ashar. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan pulang, aku memacu motorku dengan kecepatan 80-90 km/jam. Sepintas aku melihat ke sisi kiri jalan. Ada sawah, ada pemukiman penduduk, dengan latar belakang pegunungan menoreh. Aku menepi ke pinggir jalan sejenak, lalu berhenti. Menatap menoreh dengan tajam. Si Iqbal yang juga terpesona dengan pemandangan itu mengulurkan tangannya ke tanganku. Dengan kamera di telapak tangannya. ‘’Oooh, aku pikir apa?’’, batinku. Aku mengabadikan Sang Menoreh dengan kamera. Dan kami melanjutkan perjalanan pulang. Ketika langit sudah gelap, kami memasuki wilayah Provinsi DIY. Selepas itu, aku memacu motor dengan kecepatan sekitar 100 km/jam. Sejam kemudian, kami sampai kembali di rumahku dengan selamat, namun dengan kondisi kelaparan akibat lupa makan selama perjalanan L. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...