HARI PAHLAWAN
(Hanya) Sebuah Opini dari Pemuda Kolot
yang Berusaha Tak Melupakan Pahlawannya
![]() |
| gambar ini diambil dari : 23djohand.blogspot.com |
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”, begitulah
kiranya Bung Karno pernah berkata. Tiap orang punya bermacam cara untuk
menghargai jasa pahlawan mereka. Entah itu pahlawan bangsa, pahlawan lapangan
hijau, pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin pahlawan cinta J. Pahlawan adalah sosok
yang rela berkorban demi orang lain. Pahlawan tak mengenal pamrih. Ayah dan ibu
adalah pahlawan bagi anak-anak di rumah. Guru yang baik adalah pahlawan bagi
murid-muridnya di sekolah. Romeo adalah pahlawan bagi Juliet, walau para
feminis tak mengakuinya.
Namun, ketika waktu menjadi serba enak, kepahlawanan mereka dilupakan.
Bayangkan ketika anak tak mengakui kasih sayang ayah ibunya, ketika murid
melupakan jasa gurunya, dan ketika Juliet tak mengakui cinta Romeo, arti
perjuangan seorang pahlawan bisa hilang tak berbekas.
Kita harus ingat, pada akhir tahun 1945, bangsa Indonesia mati-matian
mengusir kembali penjajah. Yang paling heroik adalah perjuangan arek-arek
Surabaya. Saat itu Bung Tomo melecut semangat mereka dengan berkoar di hadapan
para pejuang sebelum memulai pertempuran, ”Merdeka atau mati !”.
Atau kita juga harus ingat perjuangan para mahasiswa ketika meruntuhkan
orde baru. Dengan tangan kosong mereka nekat berkoar di hadapan para pasukan
polisi yang sewaktu-waktu bisa membabi buta. Butuh jatuhnya korban jiwa dari kalangan
mahasiswa untuk membujuk Soeharto turun dari singgasana yang telah ia nikmati
selama 32 tahun.
Tentu segala peristiwa tentang perjuangan mengusir penjajah itu tidak
akan terjadi bila mereka tidak punya keberanian, bahkan keberanian untuk mati
demi mengubah jalannya sejarah, yang selama tiga setengah abad lebih tidak memihak
mereka. Atau bisa dibayangkan kita saat ini tidak bisa menikmati demokrasi
kalau dulu para mahasiswa pesimis meruntuhkan orde baru, takut melawan maut, acuh tak acuh terhadap
kebijakan pemerintah yang menindas rakyat, dan hanya berkutat pada tugas kuliah
yang banyak.
Kini, zaman sudah serba enak. Setidaknya bagi sebagian besar pemuda yang
hidup dengan tujuan masing-masing. Teknologi sudah berkembang. Kebebasan
mengeluarkan pendapat semakin mudah dan terjamin. Walau begitu, masih banyak
hal yang perlu diperjuangkan. Tingginya angka kemiskinan, maraknya praktek KKN
di kalangan birokrasi negara, ataupun konflik antar kelompok hanyalah sekelumit
dari banyaknya masalah yang harus dibenahi bangsa ini.
Aneh rasanya ketika lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas
yang menciptakan para bibit agen perubahan semakin banyak, masalah-masalah negara
itu tak kunjung terselesaikan. Sungguh ironis
ketika ada sekelompok mahasiswa yang rela turun ke jalan untuk berdemo
menuntut hak-hak rakyat, banyak dari mahasiswa lain memandang sinis dan berkata
bahwa itu hanyalah cara kuno yang kolot. Bahkan sungguh miris melihat media social yang seharusnya
menjadi wadah bertukar pikiran kritis bagi para akademisi, mereka malah
mengumbar kegalauan hati atau membubuhkan kata-kata omong kosong tak
berarti.
Mereka mungkin lupa, mereka mungkin tak sadar, bahwa mereka bisa ada, dan
bisa hidup enak, berkat para pahlawan yang hadir di masa lalu. Siapapun itu.
Nama Aristoteles, Plato, dan para filsuf Yunani kuno lain bisa menjadi pahlawan
cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan. Bung Karno dan Bung Hatta bisa menjadi
pahlawan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Amien Rais beserta para mahasiswa lain
yang ikut berjuang bisa menjadi pahlawan reformasi. Ayah dan Ibu kita bisa
menjadi pahlawan karena rela membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga
beranjak dewasa. Bahkan teman kita sendiri, yang terkadang kita lupakan, bisa
menjadi pahlawan karena menolong kita dari kesusahan, bahkan terkadang
menasihati dan mengajak kita untuk selalu
berada di jalan yang benar.
Hari pahlawan mungkin telah
berlalu beberapa jam yang lalu. Tapi jasa-jasa dan kisah perjuangan mereka tak
boleh berlalu dalam ingatan. Mereka bisa dijadikan inspirasi untuk masa depan
kita. Mereka juga bisa dijadikan pelajaran, yang mungkin lebih penting dari
pelajaran di bangku sekolah ataupun kuliah. Di akhir tulisan ini, saya hanya
ingin mengucapkan beberapa patah kata walau dirasa terlambat.
SELAMAT HARI PAHLAWAN !!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar