Senin, 10 November 2014

Hari Pahlawan

HARI PAHLAWAN

(Hanya) Sebuah Opini dari Pemuda Kolot yang Berusaha Tak Melupakan Pahlawannya

gambar ini diambil dari : 23djohand.blogspot.com 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”, begitulah kiranya Bung Karno pernah berkata. Tiap orang punya bermacam cara untuk menghargai jasa pahlawan mereka. Entah itu pahlawan bangsa, pahlawan lapangan hijau, pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin pahlawan cinta J. Pahlawan adalah sosok yang rela berkorban demi orang lain. Pahlawan tak mengenal pamrih. Ayah dan ibu adalah pahlawan bagi anak-anak di rumah. Guru yang baik adalah pahlawan bagi murid-muridnya di sekolah. Romeo adalah pahlawan bagi Juliet, walau para feminis tak mengakuinya.
Namun, ketika waktu menjadi serba enak, kepahlawanan mereka dilupakan. Bayangkan ketika anak tak mengakui kasih sayang ayah ibunya, ketika murid melupakan jasa gurunya, dan ketika Juliet tak mengakui cinta Romeo, arti perjuangan seorang pahlawan bisa hilang tak berbekas.
Kita harus ingat, pada akhir tahun 1945, bangsa Indonesia mati-matian mengusir kembali penjajah. Yang paling heroik adalah perjuangan arek-arek Surabaya. Saat itu Bung Tomo melecut semangat mereka dengan berkoar di hadapan para pejuang sebelum memulai pertempuran, ”Merdeka atau mati !”.
Atau kita juga harus ingat perjuangan para mahasiswa ketika meruntuhkan orde baru. Dengan tangan kosong mereka nekat berkoar di hadapan para pasukan polisi yang sewaktu-waktu bisa membabi buta. Butuh jatuhnya korban jiwa dari kalangan mahasiswa untuk membujuk Soeharto turun dari singgasana yang telah ia nikmati selama 32 tahun.
Tentu segala peristiwa tentang perjuangan mengusir penjajah itu tidak akan terjadi bila mereka tidak punya keberanian, bahkan keberanian untuk mati demi mengubah jalannya sejarah, yang selama tiga setengah abad lebih tidak memihak mereka. Atau bisa dibayangkan kita saat ini tidak bisa menikmati demokrasi kalau dulu para mahasiswa pesimis meruntuhkan orde baru,  takut melawan maut, acuh tak acuh terhadap kebijakan pemerintah yang menindas rakyat, dan hanya berkutat pada tugas kuliah yang banyak.
Kini, zaman sudah serba enak. Setidaknya bagi sebagian besar pemuda yang hidup dengan tujuan masing-masing. Teknologi sudah berkembang. Kebebasan mengeluarkan pendapat semakin mudah dan terjamin. Walau begitu, masih banyak hal yang perlu diperjuangkan. Tingginya angka kemiskinan, maraknya praktek KKN di kalangan birokrasi negara, ataupun konflik antar kelompok hanyalah sekelumit dari banyaknya masalah yang harus dibenahi bangsa ini.
Aneh rasanya ketika lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas yang menciptakan para bibit agen perubahan semakin banyak, masalah-masalah negara itu tak kunjung terselesaikan. Sungguh ironis  ketika ada sekelompok mahasiswa yang rela turun ke jalan untuk berdemo menuntut hak-hak rakyat, banyak dari mahasiswa lain memandang sinis dan berkata bahwa itu hanyalah cara kuno yang kolot. Bahkan sungguh  miris melihat media social yang seharusnya menjadi wadah bertukar pikiran kritis bagi para akademisi, mereka malah mengumbar kegalauan hati atau membubuhkan kata-kata omong kosong tak berarti.   
Mereka mungkin lupa, mereka mungkin tak sadar, bahwa mereka bisa ada, dan bisa hidup enak, berkat para pahlawan yang hadir di masa lalu. Siapapun itu. Nama Aristoteles, Plato, dan para filsuf Yunani kuno lain bisa menjadi pahlawan cikal bakal lahirnya ilmu pengetahuan. Bung Karno dan Bung Hatta bisa menjadi pahlawan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Amien Rais beserta para mahasiswa lain yang ikut berjuang bisa menjadi pahlawan reformasi. Ayah dan Ibu kita bisa menjadi pahlawan karena rela membimbing dan mendidik kita dari kecil hingga beranjak dewasa. Bahkan teman kita sendiri, yang terkadang kita lupakan, bisa menjadi pahlawan karena menolong kita dari kesusahan, bahkan terkadang menasihati  dan mengajak kita untuk selalu berada di jalan yang benar.
 Hari pahlawan mungkin telah berlalu beberapa jam yang lalu. Tapi jasa-jasa dan kisah perjuangan mereka tak boleh berlalu dalam ingatan. Mereka bisa dijadikan inspirasi untuk masa depan kita. Mereka juga bisa dijadikan pelajaran, yang mungkin lebih penting dari pelajaran di bangku sekolah ataupun kuliah. Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan beberapa patah kata walau dirasa terlambat.


SELAMAT HARI PAHLAWAN !!    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...