![]() |
| Nongkrong di stasiun patukan |
Aku memang suka kereta api, tapi tidak sampai tergila-gila padanya, tidak juga sampai cinta. Mengapa harus cinta? dia hanyalah sederet besi-besi rapuh yang digandeng memanjang, bukanlah jelita dengan kulit mulus tanpa noda dengan sedikit tonjolan di dada.
Mungkin ritual menuggu kereta api ini bisa dibilang sebagai pelarian. Pelarian dari rasa jenuh terhadap segala tugas makalah yang tiada guna, pelarian karena sudah bosan berada di rumah, pelarian karena tidak ada hal lain yang aku bisa kerjakan lagi. Ya mau apa lagi ? inilah yang bisa kulakukan. Setidaknya ini kulakukan dengan memegang kamera saku untuk memotret kereta yang lewat, jadi sewaktu-waktu bisa menjadi kenang-kenangan. Siapa tahu bisa jadi hobi.
Ritual ini sudah kulakukan sejak 10 tahun yang lalu. Setidaknya sekarang aku lebih sering melakukannya. Kini di sore hari, aku tidak lagi belajar Iqro' di masjid, tidak lagi main bola di lapangan, tidak lagi terpenjara di asrama, kini aku lebih banyak punya waktu luang untuk melakukan ritual itu (baca : kini aku jadi pengangguran).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar