Kamis, 03 Juli 2014

Ritual

Nongkrong di stasiun patukan
Sore hari yang aku jalani di setiap akhir pekan adalah sore hari yang samar : menunggu kereta api datang tanpa ada harapan lain selain itu, termasuk harapan untuk masa depan. Perlu diketahui, "Aku menunggu kereta api datang", bukan berarti aku menunggu seseorang, seperti lirik-lirik yang biasa dibuat oleh pujangga. Entah mengapa hal itu sudah menjadi candu bagiku yang pernah menyebut diri sendiri sebagai 'orang aneh'.

Aku memang suka kereta api, tapi tidak sampai tergila-gila padanya, tidak juga sampai cinta. Mengapa harus cinta? dia hanyalah sederet besi-besi rapuh yang digandeng memanjang, bukanlah jelita dengan kulit mulus tanpa noda dengan sedikit tonjolan di dada.

Mungkin ritual menuggu kereta api ini bisa dibilang sebagai pelarian. Pelarian dari rasa jenuh terhadap segala tugas makalah yang tiada guna, pelarian karena sudah bosan berada di rumah, pelarian karena tidak ada hal lain yang aku bisa kerjakan lagi. Ya mau apa lagi ? inilah yang bisa kulakukan. Setidaknya ini kulakukan dengan memegang kamera saku untuk memotret kereta yang lewat, jadi sewaktu-waktu bisa menjadi kenang-kenangan. Siapa tahu bisa jadi hobi.

Ritual ini sudah kulakukan sejak 10 tahun yang lalu. Setidaknya sekarang aku lebih sering melakukannya. Kini di sore hari, aku tidak lagi belajar Iqro' di masjid, tidak lagi main bola di lapangan, tidak lagi terpenjara di asrama, kini aku lebih banyak punya waktu luang untuk melakukan ritual itu (baca : kini aku jadi pengangguran).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...