Minggu, 28 Juni 2015

Sekre Pasti

Jam di layar komputer menunjukkan angka 19.30. Hari sudah gelap. Tapi saya masih berada di Sekre PASTI. Sendiri. Mengerjakan tugas kuliah yang akan dikumpulkan esok hari.

Sekre PASTI sebenarnya hanyalah ruangan seluas 5 x 5 meter yang terdapat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Ruangan itu menjadi tempat di mana saya menghabiskan libur panjang. Di saat libur panjang, gedung Pusgiwa sepi ditinggal banyak Mahasiswa yang pulang kampung. Jadi saya yang asli Yogya bisa menikmati lingkungan Gedung Pusgiwa secara eksklusif. Selain itu, Sekre PASTI biasa saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Terkadang saya menginap di Sekre PASTI untuk mengerjakan tugas-tugas itu.
         
Sebagai bagian dari gedung Pusgiwa dan UAJY, Sekre PASTI punya sejarah yang panjang. Kata Masboi, dosen saya yang merupakan pendiri PASTI, dulu Sekre PASTI adalah tempat mengumpulkan para aktivis mahasiswa UAJY sebelum bergerak melakukan demo anti orde baru. Kini, di saat orde baru telah runtuh, Sekre PASTI sering digunakan sebagai tempat “nongkrong” mahasiswa. Tak jarang, mereka kumpul sampai menjelang tengah malam. Di saat demikian, tak jarang mereka berkumpul hanya untuk (maaf) mabuk-mabukan.
            
Sebagai pendiri PASTI, Masboi menyayangkan hal tersebut. PASTI sendiri merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang jurnalisme. Dulu, PASTI sangat gencar mengangkat isu kebijakan universitas sebagai laporan utama. Laporan itu biasanya diterbitkan dalam bentuk majalah atau Koran Selembar (KoBar).
            
Menurut Made Widyasa, salah satu alumni PASTI yang sempat menjadi anggota pada periode 2008-2010, pada masa jabatannya PASTI rutin mencetak majalah tiga bukan sekali. Selain itu, di masa itu PASTI tak pernah absen menerbitkan laporan khusus mengenai acara inisiasi. Tak jarang mereka harus lembur sampai larut malam di Sekre PASTI untuk merampungkan laporan. Selain itu, Sekre PASTI juga menjadi tempat beberapa mahasiswa mengadu kekecewaan mereka terhadap dosen. Di saat itu selalu ada satu – dua anggota PASTI yang berada di sekre yang siap mendengar keluhan mereka.

Tapi kini, terhitung mulai dari tahun 2012-2015, Majalah PASTI belum terbit sama sekali. UKM ini seakan mati suri walau setiap Jum’at malam selalu ada kumpul rutin. Di lain itu, sekre PASTI selalu kosong terutama pada jam-jam kuliah.

Menurut salah satu teman yang juga anggota PASTI, ketiadaaan majalah itu disebabkan karena pimpinannya sangat idealis dalam menerapkan model jurnalisme sastrawi pada setiap laporan. Laporan Jurnalisme sastrawi memang mulai digunakan PASTI sekitar tahun 2011. Jurnalisme sastrawi sendiri adalah salah satu genre laporan jurnalistik yang awalnya dikembangkan oleh Tom Wolfe.  Pada awalnya, Tom Wolfe menyebut genre ini dengan nama New Journalism dengan sesuatu yang baru berupa peristiwa yang digambarkan adegan per adegan, reportase yang menyeluruh, menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan penuh dengan detail.

Di Indonesia, genre Jurnalisme Sastrawi dikembangkan oleh Andreas Harsono yang juga merupakan pendiri Yayasan Pantau. Untuk itu, ia mendirikan Majalah Pantau yang berisi laporan jurnalisme sastrawi. Namun, umur majalah itu tidak lama. Diterbitkan pada 2001, majalah ini harus gulung tikar pada 2003 gara-gara omset penjualan tidak sebanding dengan bayaran para kontributor handal yang tinggi.

Para senior PASTI pernah berkata bahwa Andreas Harsono pernah berkunjung ke Sekre PASTI. Saya berasumsi hal itulah yang membuat mereka mengukuhkan jurnalisme sastrawi sebagai genre laporan sampai saat ini. Hanya saja ketentuan itu membuat proses pematangan tema dan pembuatan tulisan akan lebih lama. Hal ini dikarenakan jurnalisme sastrawi butuh riset yang dalam, butuh narasumber yang banyak, butuh dana peliputan yang tak sedikit, dan lain sebagainya. Sayangnya, banyak anggota PASTI terutama yang baru tidak siap dengan persyaratan tersebut. Akibatnya banyak dari mereka yang akhirnya memutuskan keluar dari PASTI.

Kini, para anggota PASTI yang aktif kurang lebih ada 10 orang, termasuk saya. Dari jumlah itu, sebagian besar adalah anggota baru yang masuk pada 2014 silam. Sebagian besar dari mereka juga telah membuat laporan tulisan. Kini tinggal proses cetak majalah yang belum kelar. Dana memang sudah ada, tinggal tunggu eksekusinya selesai.


Untuk periode tahun depan, banyak program yang telah disusun. Mulai dari pembuatan Web, buletin, majalah, sampai pelatihan jurnalistik. Mulai tahun depan pula, semua tulisan yang dimuat dalam majalah ataupun buletin tidak lagi harus bergenre jurnalisme sastrawi. Semoga dengan banyaknya kegiatan itu, dinamika di sekre PASTI akan bergairah kembali seperti di masa-masa sebelumnya. Amin      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...