Kendaraan yang kami naiki
memasuki kawasan hutan jati. Jalanan yang kami lewati mulai bergeronjal dan
menanjak. Pohon-pohon jati yang tumbuh di pinggir jalan menghalangi kami dari
sinar matahari. Setelah beberapa kilometer, pemandangan hutan jati itu
menghilang dan berganti pemandangan sebuah wilayah ladang yang cukup luas.
Dari atas bukit, ladang itu terlihat meriah. Bunyi berbagai macam alat berat yang berada di bawah sana terdengar sangat nyaring. Dari atas bukit itu pula tampak ratusan kerangka menara yang disusun dari potongan kayu jati menyebar di segala penjuru wilayah ladang itu. Semakin mendekat, bau minyak mentah tercium cukup menyengat. Sampai di sana, banyak dijumpai orang yang mengenakan sepatu boots dan pakaian kotor yang lusuh. Bisa ditebak, wilayah ladang itu merupakan tambang minyak.
Namun, tambang minyak itu tidak seperti di tempat-tempat lainnya. Minyak di sana masih ditambang secara tradisional. Peralatan yang paling canggih hanyalah sebuah rig yang disanggah menara setinggi 14 meter yang berfungsi menggali tanah sampai kedalaman tertentu di mana terdapat kandungan minyak. Biasanya, kandungan minyak di tempat itu ditemukan di kedalaman 200-300 meter. Selain itu, para pekerja di sana tidak dilengkapi alat keselamatan kerja yang memadai. sebagai contoh, mereka tidak dilengkapi masker untung melindungi dari bau menyengat ataupun tali pengaman saat membetulkan posisi katrol yang ada di bagian atas menara rig. Bahkan, banyak dijumpai penambang yang merokok padahal tumpahan minyak menyebar di mana-mana.
Tambang minyak itu terletak di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, Jawa Timur. Dulunya, tambang itu merupakan peninggalan Belanda. Menurut laporan yang dikeluarkan tim penelitian bisnis militer Bojonegoro pada tahun 2004, kandungan minyak di tempat itu awalnya ditemukan seorang sarjana asal Belanda bernama Adrian Stoop pada tahun 1893. Setelah itu, penjajah Belanda menggali banyak sumur guna menambang minyak di tempat itu. setelah penjajah Belanda pergi, tambang itu menjadi milik umum. Siapapun yang punya modal boleh memiliki salah satu bekas sumur peninggalan Belanda dan menambang minyak di situ.
Saat ini, ada sekitar 215 sumur di tambang itu. Jumlah itu belum termasuk puluhan titik sumur yang masih digali dengan Rig. Muhammad Al Bahr adalah salah satu pemilik sumur minyak itu. Di tempat itu, pria paruh baya itu memiliki 12 sumur dan mempekerjakan 5 sampai 6 penambang di setiap sumurnya. Saat kami temui, Muhammad sedang duduk minum kopi di warung yang biasa menjadi tempat para penambang berkumpul. Di sana dia sedang berkumpul dan berbincang dengan para penambang. “Aktivitas di sini tidak pernah berhenti. 24 jam non stop dan tidak ada hari libur”, ujar Muhammad. “Di sini kalau malam lampu-lampu menyala”.
Para penambang di tempat ini merupakan pekerja keras. Mereka bekerja seharian penuh di bawah sinar matahari yang menyengat siang itu. Namun bagi Karno (32) yang merupakan salah satu penambang di tempat itu, bekerja di sana sebenarnya tidak terlalu melelahkan. “Saya kerja dari jam 8-9 pagi terus istirahat satu jam, terus kerja lagi satu jam, begitu seterusnya sampai sore”, kata Karno.
Waktu kami temui, Karno sedang beristirahat di gubug. Setiap lokasi sumur di tempat itu dilengkapi gubuk kecil tempat para penambang beristirahat. Di lokasi sumur itu, Karno bekerja sebagai pengendali mesin diesel yang berfungsi menggerakkan besi panjang yang bentuknya seperti pensil raksasa. Orang sana biasa menyebut besi panjang itu dengan nama “timba”. Timba digerakkan untuk masuk ke dalam sumur dan mengangkut minyak dari dalam tanah. Sesampainya di permukaan, minyak yang masih bercampur dengan air di dalam timba ditumpahkan di atas tanah yang sudah dicor dengan semen dan selanjutnya dialirkan menuju bak penampungan. Seseorang ditempatkan di sebuah pos kecil yang beratap seng ukuran 1 x 1 meter untuk mengarahkan minyak yang masih tercecer di lantai semen ke saluran yang menuju bak penampungan dengan tongkat besi sepajang 2 meter.
Selain Karno, ada pula Bambang Sutrisno (27), yang juga bekerja di lokasi sumur yang sama. Bambang bertugas mengangkat minyak mentah yang disimpan di bak penampungan berukuran 2 x 2 meter ke dalam kotak penyimpanan yang cukup besar bernama bul. Di dalam bak itu, minyak mentah masih bercampur dengan air. Para penambang di sana biasa menyebut minyak mentah itu dengan nama Lantung. Satu bul yang terisi penuh dengan Lantung dihargai 3 juta rupiah.
Dalam satu hari, penambang di lokasi sumur itu paling banyak sanggup mengisi minyak ke dalam empat bul. Satu bul dibayar dengan 200 ribu rupiah. Empat bul 800 ribu. Jumlah itu masih dibagi lagi dengan banyak orang yang bekerja pada saat itu. Tapi menurut Bambang, jumlah itu sudah dinilai sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau kerja di sini itu prinsipnya bukan untuk kebutuhan sehari-hari, tapi buat kaya”, ujar Bambang. Sebelum bekerja di tambang minyak, Bambang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan. Kemudian dia beralih sebagai penambang karena diajak teman. Menurutnya, banyak teman-temannya yang tadinya pengangguran mendapat pekerjaan sebagai penambang di tambang minyak itu.
Sama seperti Bambang dan banyak pekerja lainnya, Kustono juga bekerja di tambang itu karena diajak teman. Hanya saja, pekerjaan yang dilakukan Kustono berbeda. Dia bertugas menyuling minyak mentah atau lantung menjadi minyak tanah dan solar. Di Wonocolo, tempat penyulingan hanya ada tujuh, jauh lebih sedikit dari jumlah sumur yang ada.
Tapi di tempat itulah sering terjadi kecelakaan kerja. “Di sini sudah sering terjadi kebakaran mas”, ujar Kustono. Kebakaran yang terjadi di tempat penyulingan disebabkan banyak hal. Menurut Kustono, biasanya kebakaran terjadi ketika minyak mentah yang dipanaskan di dalam tong masih terdapat kandungan air. Selain itu, uap dari hasil pembakaran minyak mentah yang telah menjadi solar ataupun minyak tanah itu rentan terbakar bila terkena api.
“Dulu di sini ada teman yang tak sengaja membuang putung rokok ke dalam tong, seketika saja api langsung menjalar ke mana-mana”, ungkap Kustono.
Selama bekerja empat tahun di tempat penyulingan, Kustono tidak pernah sekalipun terkena luka bakar. Nasibnya masih lebih beruntung dibanding penyuling lain yang bekerja di ladang minyak itu. Menurut Kustono, beberapa tahun lalu pernah ada penyuling yang terkena luka bakar sampai tujuh puluh persen. Tapi mujurnya, nyawanya masih selamat.
Sebagai penyuling minyak mentah, Kustono berpenghasilan seratus ribu rupiah per hari. Uang itu dibayar oleh para penyetor minyak tanah ataupun solar yang datang langsung dari pangkalan. Bagi bapak satu anak itu, biaya itu sudah dianggap lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tapi tidak semua penambang di sana sudah mendapat bayaran dari hasil jerih payahnya.
Suryadi adalah pria paruh baya yang belum genap setahun bekerja di tempat itu. Dia didatangkan langsung dari Bandung khusus untuk pengoperasian alat penggali tanah bernama Longyear 38. Menurut Suryadi, Longyear 38 merupakan alat milik bosnya yang tinggal di Bandung yang disewa oleh perusahaan persekutuan bernama Bojonegoro Tehknik Utama (BTU) untuk menggali salah satu titik minyak di tambang Wonocolo. Suryadi pun ikut “disewa” untuk membantu Longyear 38 menemukan minyak di dasar bumi. Tapi sudah 3 bulan ini Suryadi, dan para pekerja lainnya yang disewa oleh BTU belum mendapat gaji.
“BTU itu bukan Bojonegoro Tehknik Utama, tapi Badan Tenaga Utang”, ujar Suryadi dengan logat Sundanya.
Setelah bertemu Suryadi, kami mengakhiri kunjungan ke tempat itu. Langit yang pada siang hari cukup cerah kini mulai mendung. Sebelum pergi, kami memandang ke seluruh penjuru ladang minyak itu dari atas bukit untuk terakhir kalinya.
NB : Foto Menyusul yaa ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar