Senin, 14 Oktober 2013

Idul Adha

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa Ilaa Ha Illallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Wa lillah ilhamd

Malam itu suasana lingkungan masjid lebih ramai dari hari biasanya. Anak-anak bermain di pelataran dengan rona polos yang memancarkan kebahagiaan. Di serambi masjid, beberapa pria dewasa sibuk mendata ulang nama para Sahibul Qurban dengan buku tulis berukuran 30x15 cm. Sekitar 10 meter dari situ, berdirilah sebuah kandang kayu yang dihuni puluhan ekor kambing dan beberapa ekor sapi. Mereka berdiri tenang sembari menikmati hidangan rumput yang tersaji di hadapan mereka.

Dug, trek tek, dug, dug, tiba-tiba terdengar suara bedug yang ditabuhkan di atas becak oleh seorang pemuda dengan alat pemukulnya.  Becak itu berjalan melewati keriuhan anak-anak yang sedang bermain. Seketika saja, banyak anak-anak yang menghentikan permainan lalu mengikuti becak pembawa bedug itu berjalan. Tak lama, becak itu berhenti. Pemuda penabuh bedug itu meloncat dari atas becak lalu berseru kepada anak-anak untuk berkumpul dan membentuk barisan. Beberapa pemuda yang lain pun turut ikut serta mengatur barisan itu. Para orang tua juga tampak menuntun anak mereka. Tak butuh waktu lama, sebuah barisan yang diisi sekitar 40-an bocah terbentuk walau tak begitu rapi.

Gema takbir yang berkumandang dari toa di atas atap masjid membuyarkan keheningan sesaat di barisan anak-anak. Pemuda penabuh bedug telah kembali lagi ke tempat semula dan memukul permukaan bedug dengan sekuat tenaga. Di belakang, salah satu temannya menggenjot pedal becak dengan susah payah. Usahanya tak sia-sia. Roda berputar. Becak kembali berjalan. Para bocah mengikutinya sambil mengumandangkan takbir dengan suara kecil  mereka.  Semuanya begitu bersemangat meneriakkan asma Allah sambil berkeliling desa.

Rombongan itu berjalan di tengah kegelapan. Hanya sorot lampu kecil dari rumah-rumah warga di sepanjang jalan yang memberi penerangan bagi mereka. Tak ada lagi nyala obor karena terlalu membahayakan, atau remang-remang lampion karena terlalu mahal. Atau mungkin semua itu tidak dibutuhkan lagi karena terlalu merepotkan untuk disiapkan. Tak peduli ! yang penting gema takbir tetap berkumandang. Itulah hal yang paling penting untuk malam itu.

***

Bagi setiap manusia yang merasa dirinya muslim, Idul Adha merupakan hari besar. Di pagi keesokan harinya setelah malam takbiran, mereka semua berbondong ke tanah lapang untuk bersama-sama memanjatkan do’a kepada Yang Kuasa. Sepulangnya dari sana, mereka datang ke tempat penyembelihan hewan kurban untuk menyaksikan sapi dan kambing yang dipotong lehernya. Sadiskah ? tentu saja tidak. Sapi dan kambing kurban yang disembelih  itu tentu dengan tulus melaksanakan perintah Tuhan untuk memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Ya, itulah tugas mulia mereka di dunia ini.

Di hari yang suci itu, tiap rumah pasti kebagian daging kambing dan daging sapi, yang bisa diolah menjadi masakan ataupun uang. Sebagian sadar bahwa itu semua berkah dari Tuhan. Sebagian lagi tak mau ambil pusing dari mana kenikmatan itu berasal. Manusia yang katanya selalu ingat Tuhanpun terkadang bisa egois, tak peduli dengan manusia yang lain.



Semarak itu berlangsung selama empat hari. Setelah hari terakhir berlalu, semuanya seakan terlupakan. Lembaran suci itu ditutup sudah. Para bocah kembali masuk sekolah, kembali tersiksa dengan hujaman PR yang diberikan guru mereka. Para pemuda kembali lagi pada kebiasaan lama mereka, sibuk hura-hura sambil berbicara tentang cinta palsu. Para orang dewasa kembali ke pekerjaan biadab mereka, mecari uang (haram) demi kebahagiaan semu.       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...