Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu
Akbar
Laa Ilaa Ha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Wa lillah ilhamd
Malam itu
suasana lingkungan masjid lebih ramai dari hari biasanya. Anak-anak bermain di pelataran
dengan rona polos yang memancarkan kebahagiaan. Di serambi masjid, beberapa
pria dewasa sibuk mendata ulang nama para Sahibul
Qurban dengan buku tulis berukuran 30x15 cm. Sekitar 10 meter dari situ, berdirilah
sebuah kandang kayu yang dihuni puluhan ekor kambing dan beberapa ekor sapi.
Mereka berdiri tenang sembari menikmati hidangan rumput yang tersaji di hadapan
mereka.
Dug, trek
tek, dug, dug, tiba-tiba terdengar suara bedug yang ditabuhkan di atas becak oleh
seorang pemuda dengan alat pemukulnya. Becak
itu berjalan melewati keriuhan anak-anak yang sedang bermain. Seketika saja, banyak
anak-anak yang menghentikan permainan lalu mengikuti becak pembawa bedug itu
berjalan. Tak lama, becak itu berhenti. Pemuda penabuh bedug itu meloncat dari atas
becak lalu berseru kepada anak-anak untuk berkumpul dan membentuk barisan. Beberapa
pemuda yang lain pun turut ikut serta mengatur barisan itu. Para orang tua juga
tampak menuntun anak mereka. Tak butuh waktu lama, sebuah barisan yang diisi
sekitar 40-an bocah terbentuk walau tak begitu rapi.
Gema takbir yang
berkumandang dari toa di atas atap masjid membuyarkan keheningan sesaat di
barisan anak-anak. Pemuda penabuh bedug telah kembali lagi ke tempat semula dan
memukul permukaan bedug dengan sekuat tenaga. Di belakang, salah satu temannya
menggenjot pedal becak dengan susah payah. Usahanya tak sia-sia. Roda berputar.
Becak kembali berjalan. Para bocah mengikutinya sambil mengumandangkan takbir
dengan suara kecil mereka. Semuanya begitu bersemangat meneriakkan asma
Allah sambil berkeliling desa.
Rombongan
itu berjalan di tengah kegelapan. Hanya sorot lampu kecil dari rumah-rumah
warga di sepanjang jalan yang memberi penerangan bagi mereka. Tak ada
lagi nyala obor karena terlalu membahayakan, atau remang-remang lampion karena
terlalu mahal. Atau
mungkin semua itu tidak dibutuhkan lagi karena terlalu merepotkan untuk
disiapkan. Tak peduli ! yang penting gema takbir tetap berkumandang. Itulah hal
yang paling penting untuk malam itu.
***
Bagi setiap manusia yang merasa dirinya muslim, Idul Adha merupakan hari besar. Di pagi keesokan harinya setelah malam takbiran, mereka semua berbondong ke tanah lapang untuk bersama-sama memanjatkan do’a kepada Yang Kuasa. Sepulangnya dari sana, mereka datang ke tempat penyembelihan hewan kurban untuk menyaksikan sapi dan kambing yang dipotong lehernya. Sadiskah ? tentu saja tidak. Sapi dan kambing kurban yang disembelih itu tentu dengan tulus melaksanakan perintah Tuhan untuk memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Ya, itulah tugas mulia mereka di dunia ini.
Di hari yang
suci itu, tiap rumah pasti kebagian daging kambing dan daging sapi, yang bisa
diolah menjadi masakan ataupun uang. Sebagian sadar bahwa itu semua berkah dari
Tuhan. Sebagian lagi tak mau ambil pusing dari mana kenikmatan itu berasal. Manusia
yang katanya selalu ingat Tuhanpun terkadang bisa egois, tak peduli dengan manusia
yang lain.
Semarak itu
berlangsung selama empat hari. Setelah hari terakhir berlalu, semuanya seakan
terlupakan. Lembaran suci itu ditutup sudah. Para bocah kembali masuk sekolah, kembali
tersiksa dengan hujaman PR yang diberikan guru mereka. Para pemuda kembali lagi
pada kebiasaan lama mereka, sibuk hura-hura sambil berbicara tentang cinta
palsu. Para orang dewasa kembali ke pekerjaan biadab mereka, mecari uang
(haram) demi kebahagiaan semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar