Kamis, 09 Agustus 2018

My Valentine Trip Part 7

Hamparan Samudra yang tampak dari puncak Bukit Paralayang



Aku terjebak di dalam hutan belantara dan aku ingin kembali: Kembali ke kehidupan normal seperti kehidupan orang-orang pada umumnya. Tapi untuk berbalik arah aku harus mengangkat motorku dengan hati-hati agar tidak jatuh di atas tanah berbatu, atau terperosok ke jurang, padahal di saat bersamaan aku juga harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Kalau aku terjatuh atau terperosok ke jurang, tentu tak akan ada orang yang menolongku atau langsung mengetahui keberadaanku.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, akhirnya aku berhasil berbalik arah, melewati jalan yang menurun, lalu berbelok menuju rumah yang sebelumnya kulewati. Rumah itu memiliki halaman yang luas. Beberapa motor dan sebuah mobil terparkir di sana. Aku turun dari motor bertanya kepada seseorang di mana letak Sendang Beji. Alangkah terkejutnya aku ternyata, kata orang itu, lokasi Sendang Beji berada di belakang rumah ini. Bersyukurnya aku tadi memutuskan berbalik arah dan tidak memilih jalan terus atau aku akan terjebak di hutan belantara untuk selamanya.

Aku memarkirkan motor di halaman rumah itu. Lalu melalui jalan setapak yang berada di samping rumah, aku berjalan kaki menuju Sendang Beji. Dalam beberapa langkah saja, aku sudah sampai di tepi sendang. Sendang Beji tampak seperti sebuah kolam yang ukurannya tidak terlalu besar. Kenyataan itu tentu membuatku ragu bahwa dulu tujuh bidadari pernah mandi bersama di sini.

Bangunan kecil yang berada di tengah Sendang Beji
Mata air Sendang Beji berada di tempat yang rindang. Di sekeliling sendang banyak tumbuh pohon dan tampak bunga-bunga yang mekar. Di tengah sendang terdapat sebuah bangunan kecil tempat orang atau mungkin peziarah memanjatkan do’a. Karena merupakan mata air, air di sana mengalir terus tak henti-henti. Ada dua buah bilik yang terbuat dari semen sebagai tempat para pengunjung mandi dengan air yang diambil langsung dari sendang. Air itu disalurkan melalui pipa yang menghubungkan sendang dengan bilik itu.
Mumpung berada di sana, aku berniat mandi dengan air yang dialiri langsung dari Sendang Beji. Oh iya, dalam perjalanan ini aku memang sudah menyiapkan handuk dan baju ganti sebagai persiapan jikalau aku basah-basahan di pantai. Tapi nyatanya aku nggak jadi basah-basahan di pantai.

Bilik Mandi
Aku masuk ke salah satu bilik mandi itu. Di dalamnya, ada sebuah bak besar yang bagian atasnya terus dialiri air dari sebuah pipa yang diameternya mungkin sekitar 10 cm. Sementara itu di bagian tengah bak itu, ada sebuah bolongah yang tidak ditutup sehingga air mengucur deras melewatinya dan membanjiri lantai semen. Aku melepaskan tiap helai pakaianku satu per satu, menggantungnya pada beberapa paku yang sengaja ditancapkan pada dinding pintu, lalu aku berjongkok di atas pancuran air yang berasal dari bolongan bak itu. Pancuran air inilah yang membasahi hampir semua bagian tubuh ku yang tak tertutup sehelai benangpun. Dahulu, air inilah yang juga dipakai untuk membasahi tubuh ketujuh bidadari. Kimochi! Rasanya sungguh sangat sangat nikmat sekali!

Selesai mandi aku kemudian keluar dari bilik. Tentu aku sudah kembali mengenakan pakaianku ketika keluar dari bilik agar tidak dikira orang gila J. Lalu aku mampir ke warung yang berada dekat dengan sendang untuk minum teh. Setelah itu aku meninggalkan sendang dan kembali ke motorku.  

Aku kembali mengendarai motor melintasi jalan be-cor semen, dan tak lama kemudian aku sudah sampai kembali di pertigaan. Di sana aku mengambil jalan ke kiri, menuju Bukit Paralayang.

Langit sore menaungi perjalananku menuju Bukit Paralayang. Jalanan ke tempat itu sangat menanjak. Aku berkali-kali menggunakan gigi satu agar motorku kuat menaklukkan tanjakan. Setelah melalui beberapa tanjakan, sampailah aku di tempat parkir motor Bukit Paralayang. Setelah turun dari motor, aku meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju puncak bukit. Jarak antara tempat parkir menuju puncak bukit tak sampai 100 meter. Sesampainya di puncak bukit, aku dibuat takjub dengan pemandangan yang ada di depanku.

Luasnya Samudra Hindia terhampar luas, berbatasan langsung dengan cakrawala. Dari kejauhan sinar matahari sore menyinari permukaan samudra. Sore itu langit cerah, berbanding terbaling dengan apa yang terjadi pagi tadi. Banyak orang menikmati pemandangan memukau dari puncak bukit itu. Kebanyakan dari mereka datang berpasang-pasangan. Di sana mereka duduk berdua, tertawa, bercanda, dan terkadang saling berangkulan. Aku lihat sekeliling. Di salah satu sudut, seorang cowok mengatakan sesuatu kepada cewek-nya, lalu si cewek tertawa bahagia. Di sudut lain si cowok merebahkan kepalanya di pangkuan si cewek.

Beberapa Pasangan kekasih menikmati "sore valentine"

Ya, sore itu masih menjadi bagian dari Hari Valentine. Hari kasih sayang. Hari di mana mereka membagikan cokelat kepada pasangan hidup atau pacar atau gebetan atau kekasih atau selingkuhan atau simpanan atau siapapun yang mereka sayangi. Lalu, aku, membagikan cokelat ke siapa? Siapa orang yang aku sayangi? Sayangnya untuk saat ini aku hanya dapat menjadi penonton di Hari Valentine. Mungkin tahun depan, dua tahun lagi, atau bahkan mungkin baru 10 tahun lagi jika aku punya pasangan hidup yang benar-benar setia dan aku sayangi sepenuh hati.

Hari semakin sore. Di kejauhan matahari akan tenggelam, dan langit menjadi gelap. Kegelapan langsung menyelimuti bumi, dan juga jiwaku. Di hari itu aku seketika tenggelam dalam kegelapan. Hari Valentine akan segera berakhir. Kenapa aku harus se-baper ini?
Setelah matahari tenggelam aku segera turun dari bukit. Kembali pulang ke rumah. Kembali akan mengerjakan skripsiku yang tak kunjung selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...