Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 10 : Bertemu Mbak Agni

Tembok merah Lasem Heritage di malam hari



Setelah wawancara dengan Abdullah Hamid selesai, aku langsung pulang ke penginapan untuk sholat dan mandi. Pada malam harinya, aku harus mewawancarai seorang narasumber lagi. Sebenarnya, narasumber yang satu ini bukanlah orang Lasem, melainkan seorang penulis sekaligus peneliti perempuan yang begitu mencintai Lasem. Dialah, Agni Malagina! Akhirnya aku dapat bertemu langsung dengan orang yang pertama kali mengenalkanku pada Kota Cina tua di pesisir Jawa ini.

Sebelum berangkat ke Lasem, aku telah membuat janji dengan Mbak Agni untuk bertemu di Lasem nanti. Sejujurnya, aku bingung apa yang akan kutanyakan nanti tentang Lasem. Dia sebenarnya tidak ada dalam daftar narasumber untuk tulisanku. Tujuan aku bertemu dengannya hanyalah untuk bertanya padanya literatur apa saja yang dapat kugunakan untuk menulis soal Perang Kuning, sekaligus berkenalan dengan dia tentunya.  

Malam itu, kami janjian bertemu di warung kopi yang masih menjadi satu tempat dengan bangunan Tiongkok Kecil Heritage milik Rudy Hartono. Rudi Hartono adalah seorang pengusaha termasyur di Lasem yang juga keturunan Tionghoa. Aku datang ke warung kopi itu dengan ditemani Ancis. Saat kami sudah sampai dan kemudian memesan segelas kopi, Mbak Agni belum ada di sana.

Menunggu Mbak Agni di warung kopi Lasem Heritage

Mbak Agni baru muncul lima menit kemudian. Saat pertama kali melihatku, dia sempat terkejut karena ternyata selama ini, sebelum pertemuan ini terjadi, ia mengira aku seorang perempuan. Ya, nama Shani cukup lazim dipakai untuk nama perempuan. Sepertinya dia tidak sempat melihat foto profilku di WA.

Selama di Lasem, Mbak Agni bersilaturahmi dengan para tokoh Lasem yang menjadi narasumbernya. Ada Pak Gandor, Gus Zaim, Pak Sigit, dan juga, Mas Pop. Tak hanya sekedar menulis tentang Lasem untuk Majalah National Geobgraphics, Mbak Agni beserta fotografernya, Ferry Latief, dan juga rekan-rekannya yang lain mengembangkan website yang mengangkat keunikan Lasem. Website itu bernama kesengsemlasem.com.

Pertemuanku dengan Mbak Agni malam itu berjalan sedikit canggung. Sepertinya Mbak Agni masih punya acara lain setelah pertemuan ini, sehingga dia memintaku langsung ke intinya saja. Aku yang menjadi serba salah dibilangin begitu akhirnya hanya ingin meminta pendapatnya tentang Sejarah Perang Kuning saja. Dia sanggup memberikan pendapat, hanya dia memintaku agar namanya tidak ditulis sebagai narasumber. “Semua perkataan ini off the record aja ya. Lagi pula aku bukanlah orang yang kompeten bicara soal Lasem. Nanti kalau soal bahan-bahan aku kirim via e-mail,” begitulah dia memberi penjelasan padaku.

Mbak Agni kemudian memberi pemaparan singkat tentang perang kuning. Kalau ada waktu lebih, sebenarnya aku ingin bertanya apa yang menjadi motivasinya menulis tentang Lasem, dan apa yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada Lasem. Tapi apa daya, mengingat dia sedang terburu-buru, aku tak berani untuk menanyakan itu semua.

Akhirnya wawancara terpaksa kuakhiri. Sebenarnya dalam pertemuan itu aku ingin berbincang banyak dengan Mbak Agni, mengingat kalaupun diajak diskusi soal Lasem, akupun siap karena sudah membaca banyak referensi. Tapi sepertinya malam itu Mbak Agni tak ingin berlama-lama bertemu denganku.

Sebelum berpisah, kami sempat berbasa-basi sejenak. Mbak Agni bertanya dari mana asal kami berdua. Ketimbang aku, dia lebih tertarik pada Ancis yang berasal dari Pulau Adonara itu. Dia mengatakan kalau penulis dari Nusa Tenggara Timur biasanya punya seni bahasa Indonesia yang lebih bagus dari penulis-penulis dari bagian Indonesia lainnya, sebagai contoh Prof. Gorys Keraf.

Ketika kami semakin larut dalam pembicaraan, justru pada saat itu Mbak Agni dipanggil Pak Rudy yang tengah duduk di beranda Lasem Heritage. Dia sepertinya hendak memperkenalkan Mbak Agni dengan seseorang. Kamipun akhirnya berpisah dengannya.

Aku pulang ke penginapan dengan tangan hampa. Data yang diperoleh dari Mbak Agni untuk bahan tulisan sungguh minim sekali. Padahal awalnya aku berharap dari diskusiku dengannya akan melahirkan banyak informasi dan sumber referensi baru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...