![]() |
| Tembok merah Lasem Heritage di malam hari |
Setelah wawancara dengan Abdullah
Hamid selesai, aku langsung pulang ke penginapan untuk sholat dan mandi. Pada
malam harinya, aku harus mewawancarai seorang narasumber lagi. Sebenarnya,
narasumber yang satu ini bukanlah orang Lasem, melainkan seorang penulis
sekaligus peneliti perempuan yang begitu mencintai Lasem. Dialah, Agni
Malagina! Akhirnya aku dapat bertemu langsung dengan orang yang pertama kali
mengenalkanku pada Kota Cina tua di pesisir Jawa ini.
Sebelum berangkat ke Lasem, aku
telah membuat janji dengan Mbak Agni untuk bertemu di Lasem nanti. Sejujurnya,
aku bingung apa yang akan kutanyakan nanti tentang Lasem. Dia sebenarnya tidak
ada dalam daftar narasumber untuk tulisanku. Tujuan aku bertemu dengannya
hanyalah untuk bertanya padanya literatur apa saja yang dapat kugunakan untuk
menulis soal Perang Kuning, sekaligus berkenalan dengan dia tentunya.
Malam itu, kami janjian bertemu di
warung kopi yang masih menjadi satu tempat dengan bangunan Tiongkok Kecil
Heritage milik Rudy Hartono. Rudi Hartono adalah seorang pengusaha termasyur di
Lasem yang juga keturunan Tionghoa. Aku datang ke warung kopi itu dengan
ditemani Ancis. Saat kami sudah sampai dan kemudian memesan segelas kopi, Mbak
Agni belum ada di sana.
![]() |
| Menunggu Mbak Agni di warung kopi Lasem Heritage |
Mbak Agni baru muncul lima menit
kemudian. Saat pertama kali melihatku, dia sempat terkejut karena ternyata
selama ini, sebelum pertemuan ini terjadi, ia mengira aku seorang perempuan.
Ya, nama Shani cukup lazim dipakai untuk nama perempuan. Sepertinya dia tidak
sempat melihat foto profilku di WA.
Selama di Lasem, Mbak Agni
bersilaturahmi dengan para tokoh Lasem yang menjadi narasumbernya. Ada Pak
Gandor, Gus Zaim, Pak Sigit, dan juga, Mas Pop. Tak hanya sekedar menulis
tentang Lasem untuk Majalah National Geobgraphics, Mbak Agni beserta
fotografernya, Ferry Latief, dan juga rekan-rekannya yang lain mengembangkan
website yang mengangkat keunikan Lasem. Website itu bernama kesengsemlasem.com.
Pertemuanku dengan Mbak Agni malam
itu berjalan sedikit canggung. Sepertinya Mbak Agni masih punya acara lain
setelah pertemuan ini, sehingga dia memintaku langsung ke intinya saja. Aku yang
menjadi serba salah dibilangin begitu akhirnya hanya ingin meminta pendapatnya
tentang Sejarah Perang Kuning saja. Dia sanggup memberikan pendapat, hanya dia
memintaku agar namanya tidak ditulis sebagai narasumber. “Semua perkataan ini off the record aja ya. Lagi pula aku
bukanlah orang yang kompeten bicara soal Lasem. Nanti kalau soal bahan-bahan
aku kirim via e-mail,” begitulah dia memberi penjelasan padaku.
Mbak Agni kemudian memberi
pemaparan singkat tentang perang kuning. Kalau ada waktu lebih, sebenarnya aku
ingin bertanya apa yang menjadi motivasinya menulis tentang Lasem, dan apa yang
kemudian membuatnya jatuh cinta pada Lasem. Tapi apa daya, mengingat dia sedang
terburu-buru, aku tak berani untuk menanyakan itu semua.
Akhirnya wawancara terpaksa
kuakhiri. Sebenarnya dalam pertemuan itu aku ingin berbincang banyak dengan
Mbak Agni, mengingat kalaupun diajak diskusi soal Lasem, akupun siap karena
sudah membaca banyak referensi. Tapi sepertinya malam itu Mbak Agni tak ingin
berlama-lama bertemu denganku.
Sebelum berpisah, kami sempat
berbasa-basi sejenak. Mbak Agni bertanya dari mana asal kami berdua. Ketimbang
aku, dia lebih tertarik pada Ancis yang berasal dari Pulau Adonara itu. Dia
mengatakan kalau penulis dari Nusa Tenggara Timur biasanya punya seni bahasa Indonesia
yang lebih bagus dari penulis-penulis dari bagian Indonesia lainnya, sebagai
contoh Prof. Gorys Keraf.
Ketika kami semakin larut dalam
pembicaraan, justru pada saat itu Mbak Agni dipanggil Pak Rudy yang tengah
duduk di beranda Lasem Heritage. Dia sepertinya hendak memperkenalkan Mbak Agni
dengan seseorang. Kamipun akhirnya berpisah dengannya.
Aku pulang ke penginapan dengan
tangan hampa. Data yang diperoleh dari Mbak Agni untuk bahan tulisan sungguh
minim sekali. Padahal awalnya aku berharap dari diskusiku dengannya akan
melahirkan banyak informasi dan sumber referensi baru.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar