Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 11 : Berkunjung Ke Rumah Opa

Opa sedang menikmati sore di halaman rumahnya

Pada H-1 sebelum pulang ke Jogja, aku memiliki banyak waktu bebas. Aku sudah tidak punya tanggungan wawancara lagi. Sebenarnya aku masih punya satu topik tulisan lagi tentang kuliner. Namun mengingat di lapangan narasumbernya sulit dicari, akhirnya aku memutuskan untuk tidak menulis tentang topik tersebut.

Pada pagi sampai siang hari, aku tidak pergi ke mana-mana karena saat itu hujan turun deras. Praktis aku hanya menghabiskan waktu dengan duduk termenung di beranda, memandang hujan seperti seseorang yang merindukan kekasihnya.

Hujan mulai reda sore harinya. Aku keluar jalan-jalan sekalian berfoto selfie bersama Ancis dan Bagus.

Saat itu jalanan masih basah. Bahkan halaman depan bangunan di sebelah penginapan kami terendam air. Kami berjalan keluar penginapan ke arah Lasem Heritage. Di sana kami berfoto lagi di depan pintu gerbangnya. Lalu kami berjalan lewat depan rumah Pak Gandor, lurus lagi melewati beberapa rumah. Di depan rumah yang berpintu biru kami berfoto lagi. Tak sengaja kami melihat bunga yang indah di pinggir jalan. Aku meminta Bagus untuk mengambil foto saat aku sedang mencium bunga itu. Sungguh alay benar diriku ini.

Saat kami tengah berfoto, seorang perempuan berusia 50-an tahun muncul dari salah satu pintu rumah. Dia menyapa kami ramah. Kamipun membalas sapaannya. Beberapa hari lalu  aku dan Ancis lewat depan rumah itu saat hendak menuju pondok pesantren Kauman. Di sana kami melihat seorang kakek tua tampak duduk di depan pintu. Kakek tua itu pernah aku lihat dalam salah satu foto di tulisannya Mbak Agni. Dalam tulisannya, Mbak Agni menyebut kakek tua itu dengan nama “Opa”.

Sore itu kami bertiga diajak perempuan itu untuk menemui Opa. Saat kami memasuki halaman rumah itu, tampak Opa sedang duduk di ruang tamu. Dia tampak tersenyum menyambut kedatangan kami. Dengan suaranya yang terbata-bata, Opa mempersilahkan kami masuk rumahnya. Sementara perempuan paruh baya itu menuntun kami masuk ke setiap ruangan. Lalu tibalah kami di ruang belakang. Saat melihat ada kamar mandi di sana, Ancis dengan spontan minta izin memakai kamar mandi itu untuk buang air kecil. Karena kondisiku juga sama seperti Ancis, setelah dia keluar giliran aku yang minta izin ke kamar mandi itu. Sungguh tak tahu diri benar kami ini ):

Perempuan paruh baya (yang, maaf, aku lupa namanya) itu langsung menunjukkan kepada kami kamar lainnya yang ada di rumah itu. Pada sebuah kamar yang ditunjukkan pada kami terbaring seorang nenek, yang menurut pengakuan perempuan paruh baya itu, sudah berusia 100 tahun. Mata nenek itu terpejam. Perempuan itu membangunkan sang nenek kalau ada tamu. Nenek itu hanya mendesah agak keras, dan kemudian memalingkan tubuhnya lagi, seolah tak peduli dengan keberadaan kami bertiga yang sebenarnya prihatin dengan keadaan nenek itu.

Setelah dari kamar sang nenek, perempuan itu mengajak kami kembali ke halaman depan. Di rumah itu terdapat seekor anjing peliharaan Opa. Opa juga ada di sana. Kami bertiga duduk menghadap Opa, sementara perempuan itu duduk di dekat dinding, agak menghidar dari kami.

Perempuan itu bercerita kalau sehari-hari dia yang merawat Opa dan nenek yang terbaring di kamar itu. Dia sendiri berasal dari Tuban, Jawa Timur. Setahun sekali dia pulang ke kampung halamannya.     
Hari hampir senja saat kami mohon pamit kembali ke penginapan pada Opa dan perempuan paruh baya itu. Itulah sekelumit kisah kehidupan masa tua di balik tembok pecinan Lasem yang seakan tak pernah lekang oleh arus zaman.  

Ancis di rumah Opa

Pintu Masuk rumah Opa

Menghirup aroma bunga di tepi jalan

Kembali ke penginapan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...