![]() |
| Opa sedang menikmati sore di halaman rumahnya |
Pada H-1 sebelum pulang ke Jogja, aku
memiliki banyak waktu bebas. Aku sudah tidak punya tanggungan wawancara lagi.
Sebenarnya aku masih punya satu topik tulisan lagi tentang kuliner. Namun
mengingat di lapangan narasumbernya sulit dicari, akhirnya aku memutuskan untuk
tidak menulis tentang topik tersebut.
Pada pagi sampai siang hari, aku
tidak pergi ke mana-mana karena saat itu hujan turun deras. Praktis aku hanya menghabiskan
waktu dengan duduk termenung di beranda, memandang hujan seperti seseorang yang
merindukan kekasihnya.
Hujan mulai reda sore harinya. Aku
keluar jalan-jalan sekalian berfoto selfie bersama Ancis dan Bagus.
Saat itu jalanan masih basah.
Bahkan halaman depan bangunan di sebelah penginapan kami terendam air. Kami
berjalan keluar penginapan ke arah Lasem Heritage. Di sana kami berfoto lagi di
depan pintu gerbangnya. Lalu kami berjalan lewat depan rumah Pak Gandor, lurus
lagi melewati beberapa rumah. Di depan rumah yang berpintu biru kami berfoto
lagi. Tak sengaja kami melihat bunga yang indah di pinggir jalan. Aku meminta Bagus
untuk mengambil foto saat aku sedang mencium bunga itu. Sungguh alay benar
diriku ini.
Saat kami tengah berfoto, seorang
perempuan berusia 50-an tahun muncul dari salah satu pintu rumah. Dia menyapa
kami ramah. Kamipun membalas sapaannya. Beberapa hari lalu aku dan Ancis lewat depan rumah itu saat
hendak menuju pondok pesantren Kauman. Di sana kami melihat seorang kakek tua
tampak duduk di depan pintu. Kakek tua itu pernah aku lihat dalam salah satu
foto di tulisannya Mbak Agni. Dalam tulisannya, Mbak Agni menyebut kakek tua
itu dengan nama “Opa”.
Sore itu kami bertiga diajak
perempuan itu untuk menemui Opa. Saat kami memasuki halaman rumah itu, tampak Opa
sedang duduk di ruang tamu. Dia tampak tersenyum menyambut kedatangan kami. Dengan
suaranya yang terbata-bata, Opa mempersilahkan kami masuk rumahnya. Sementara
perempuan paruh baya itu menuntun kami masuk ke setiap ruangan. Lalu tibalah
kami di ruang belakang. Saat melihat ada kamar mandi di sana, Ancis dengan
spontan minta izin memakai kamar mandi itu untuk buang air kecil. Karena
kondisiku juga sama seperti Ancis, setelah dia keluar giliran aku yang minta
izin ke kamar mandi itu. Sungguh tak tahu diri benar kami ini ):
Perempuan paruh baya (yang, maaf,
aku lupa namanya) itu langsung menunjukkan kepada kami kamar lainnya yang ada
di rumah itu. Pada sebuah kamar yang ditunjukkan pada kami terbaring seorang
nenek, yang menurut pengakuan perempuan paruh baya itu, sudah berusia 100
tahun. Mata nenek itu terpejam. Perempuan itu membangunkan sang nenek kalau ada
tamu. Nenek itu hanya mendesah agak keras, dan kemudian memalingkan tubuhnya
lagi, seolah tak peduli dengan keberadaan kami bertiga yang sebenarnya prihatin
dengan keadaan nenek itu.
Setelah dari kamar sang nenek,
perempuan itu mengajak kami kembali ke halaman depan. Di rumah itu terdapat
seekor anjing peliharaan Opa. Opa juga ada di sana. Kami bertiga duduk
menghadap Opa, sementara perempuan itu duduk di dekat dinding, agak menghidar
dari kami.
Perempuan itu bercerita kalau
sehari-hari dia yang merawat Opa dan nenek yang terbaring di kamar itu. Dia
sendiri berasal dari Tuban, Jawa Timur. Setahun sekali dia pulang ke kampung
halamannya.
Hari hampir senja saat kami mohon
pamit kembali ke penginapan pada Opa dan perempuan paruh baya itu. Itulah
sekelumit kisah kehidupan masa tua di balik tembok pecinan Lasem yang seakan
tak pernah lekang oleh arus zaman.
![]() |
| Ancis di rumah Opa |
![]() |
| Pintu Masuk rumah Opa |
![]() |
| Menghirup aroma bunga di tepi jalan |
![]() |
| Kembali ke penginapan |





Tidak ada komentar:
Posting Komentar