Pertama-tama Ancis bercerita
tentang kopi Lasem yang ampasnya bisa digunakan sebagai tinta untuk melukis di
puntung rokok. Lalu pembicaraan mengarah ke hal-hal tentang anggota Bhre Lasem
itu. Dia bercerita kepada mereka bertiga kalau dia punya indra keenam sehingga
dapat melihat hal-hal ghoib di sekitarnya. Bahkan, dia punya pendamping makhluk
ghoib seorang gadis asal Ciamis bernama Mbak Yayuk. Mbak Yayuk selalu mengikuti
ke manapun dia pergi.
Selain bercerita tentang gadis makhluk
halus pendampingnya, anggota Bhre Lasem itu juga bercerita tentang penginapan
kami. Katanya, toilet yang berada di belakang penginapan itu ada penunggunya. Dan
yang lebih mengejutkan lagi, ranjang yang biasa digunakan Ancis tidur ditempati
sesosok pocong. Mengetahui kenyataan itu membuat Ancis sangat ketakutan. Dia
kemudian memintaku untuk selalu berada di sisinya saat dia tidur di ranjang
itu. Bukannya ikut-ikutan takut, dalam hati aku merasa puas dan membatin, tuh rasain cis!
Cacing juga bercerita padaku
tentang anggota Bhre Lasem itu. Dia ternyata seorang santri di sebuah pondok
pesantren bernama Al-Frustasiyah, yang artinya tempat orang-orang yang
frustasi. Aku cukup terkejut mendengar nama aneh pesantren itu. Cacing kemudian
bercerita kalau anggota Bhre Lasem itu sebenarnya seorang gitaris band, namun
sehari-hari dia tinggal di pesantren itu. Katanya, cara untuk menghilangkan
rasa frustasinya adalah dengan bermain band. Kalau frustasinya sudah hilang,
dia kembali ikut ngaji di pondok pesantren Al-Frustasiyah.
***
Pondok pesantren tumbuh subur di
Lasem. Tak ada yang tahu pasti kapan pondok pesantren mulai tumbuh di sana.
Yang jelas, adanya pondok-pondok itu ikut andil dalam menyebarkan syi’ar Islam
di Lasem yang dulunya merupakan kekuasaan Majapahit. Beberapa tokoh syi’ar
Islam yang terkenal di Lasem diantaranya; Sayid Abdurrohman alias Mbah Sambu,
Adipati Tejokusumo alias Mbah Srimpet, dan Kyai Ali Baidawi.
Para santri di Lasem hidup
berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, mereka juga ikut memajukan sektor
ekonomi Lasem dengan berjualan kopi khas Lasem. Di sebelah utara Masjid Jami’
Lasem, banyak toko-toko penjual Kopi Lasem yang rata-rata merupakan produk
olahan dari pondok pesantren. Aku membeli dua bungkus kopi kemasan untuk
oleh-oleh dibawa pulang. Satu bungkus kopi bubuk Lasem harganya Rp 7.000.
Kopi merupakan minuman favorit bagi
masyarakat Lasem. Warung kopi di Lasem tak hanya menjadi tempat untuk minum
kopi, namun juga sebagai ruang publik tempat mereka bertukar informasi, gosip,
atau hanya sekedar basa-basi menjalin silaturahmi.
Setelah puas menjelajah sentra kopi
di Lasem pada siang hari, sorenya aku mengunjungi halaman belakang Masjid
Jami’Lasem. Di sana terdapat makam Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan Ki Ali
Baidawi. Nama terakhir merupakan seorang pejuang perang sabil Lasem. Dulu, dia
memimpin pasukan santri untuk menyerang Belanda. Tidak jelas apakah dia gugur
dalam pertempuran itu atau tidak.
Makam itu terletak di sebuah
ruangan yang berada di sebelah barat masjid. Di ruangan itu ada dua makam lagi
yang aku sendiri lupa makamnya siapa saja.
Beranjak ke luar ruangan, aku
menuju parkiran mobil yang terletak di barat pelataran masjid. Di sana terdapat
prasasti perang sabil. Tepat di samping prasasti itu adalah deretan ruangan
para pengurus masjid. Salah satu ruang itu menjadi tempat tinggal Abdullah
Hamid.
Abdullah Hamid menyambutku ramah
kedatanganku. Kami ngobrol di depan kantor yang menjadi tempat tinggalnya
sekaligus tempat ia mengajar untuk Universitas Terbuka. Di sana kami ngobrol
tentang toleransi di Lasem. Menurutnya, kisah perang kuning penting untuk
menjadi materi sejarah pada sekolah-sekolah di Lasem. Dia kemudian menunjukkan padaku
kliping koran berupa tulisannya yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka.
Di halaman belakang masjid itu ada
sebuah batu yang di atasnya terdapat papan bertuliskan huruf latin berbahasa
Jawa. Kata Pak Abdullah, batu itu diperolehnya secara cuma-cuma dari Gunung
Kedil. Tulisan itu dikutip langsung dari buku Babad Lasem yang isinya sebagai berikut:
Sarampunge sembahyang Jumuwahan Ing Masjid Jami’ Lasem kang diimami Kyai
Ali Baidawi, nuri wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabisa
nyirnakake kumpeni Walanda
(Setelah Sholat Jum’at di Masjid
Jami’ Lasem yang diimami Kyai Ali Baidawi, dia menyeru kepada semua umat Islam
untuk ikut perang sabil sebagai usaha mengusir kompeni Belanda)
![]() |
| Makam Ki Ali Baidawi |
![]() |
| Makam para kiayi Lasem di halaman belakang Masjid Jami' |
![]() |
| Prasasti perang sabil |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar