Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 9 : Lasem Kota Santri


Masjid Jami' Lasem (foto diambil dari arsip Masjid Jami' Lasem)


Aku dan Ancis telah melupakan debat tentang hal-hal yang ilmiah dan yang ghoib. Kami sudah berbaikan walau tak satupun dari kami yang meminta maaf. Suatu hari, sepulang dari makan siang di warung, Ancis bercerita padaku. Waktu itu, ia ikut Cacing dan Cipon pergi dengan salah satu anggota Bhre Lasem. Aku sendiri lupa nama anggota Bhre Lasem itu. Yang jelas, dia mengajak tiga anggota PASTI itu untuk minum kopi bareng.

Pertama-tama Ancis bercerita tentang kopi Lasem yang ampasnya bisa digunakan sebagai tinta untuk melukis di puntung rokok. Lalu pembicaraan mengarah ke hal-hal tentang anggota Bhre Lasem itu. Dia bercerita kepada mereka bertiga kalau dia punya indra keenam sehingga dapat melihat hal-hal ghoib di sekitarnya. Bahkan, dia punya pendamping makhluk ghoib seorang gadis asal Ciamis bernama Mbak Yayuk. Mbak Yayuk selalu mengikuti ke manapun dia pergi.

Selain bercerita tentang gadis makhluk halus pendampingnya, anggota Bhre Lasem itu juga bercerita tentang penginapan kami. Katanya, toilet yang berada di belakang penginapan itu ada penunggunya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ranjang yang biasa digunakan Ancis tidur ditempati sesosok pocong. Mengetahui kenyataan itu membuat Ancis sangat ketakutan. Dia kemudian memintaku untuk selalu berada di sisinya saat dia tidur di ranjang itu. Bukannya ikut-ikutan takut, dalam hati aku merasa puas dan membatin, tuh rasain cis!

Cacing juga bercerita padaku tentang anggota Bhre Lasem itu. Dia ternyata seorang santri di sebuah pondok pesantren bernama Al-Frustasiyah, yang artinya tempat orang-orang yang frustasi. Aku cukup terkejut mendengar nama aneh pesantren itu. Cacing kemudian bercerita kalau anggota Bhre Lasem itu sebenarnya seorang gitaris band, namun sehari-hari dia tinggal di pesantren itu. Katanya, cara untuk menghilangkan rasa frustasinya adalah dengan bermain band. Kalau frustasinya sudah hilang, dia kembali ikut ngaji di pondok pesantren Al-Frustasiyah.

***

Pondok pesantren tumbuh subur di Lasem. Tak ada yang tahu pasti kapan pondok pesantren mulai tumbuh di sana. Yang jelas, adanya pondok-pondok itu ikut andil dalam menyebarkan syi’ar Islam di Lasem yang dulunya merupakan kekuasaan Majapahit. Beberapa tokoh syi’ar Islam yang terkenal di Lasem diantaranya; Sayid Abdurrohman alias Mbah Sambu, Adipati Tejokusumo alias Mbah Srimpet, dan Kyai Ali Baidawi.

Para santri di Lasem hidup berdampingan dengan masyarakat. Bahkan, mereka juga ikut memajukan sektor ekonomi Lasem dengan berjualan kopi khas Lasem. Di sebelah utara Masjid Jami’ Lasem, banyak toko-toko penjual Kopi Lasem yang rata-rata merupakan produk olahan dari pondok pesantren. Aku membeli dua bungkus kopi kemasan untuk oleh-oleh dibawa pulang. Satu bungkus kopi bubuk Lasem harganya Rp 7.000.

Kopi merupakan minuman favorit bagi masyarakat Lasem. Warung kopi di Lasem tak hanya menjadi tempat untuk minum kopi, namun juga sebagai ruang publik tempat mereka bertukar informasi, gosip, atau hanya sekedar basa-basi menjalin silaturahmi.

Setelah puas menjelajah sentra kopi di Lasem pada siang hari, sorenya aku mengunjungi halaman belakang Masjid Jami’Lasem. Di sana terdapat makam Mbah Sambu, Mbah Srimpet, dan Ki Ali Baidawi. Nama terakhir merupakan seorang pejuang perang sabil Lasem. Dulu, dia memimpin pasukan santri untuk menyerang Belanda. Tidak jelas apakah dia gugur dalam pertempuran itu atau tidak.

Makam itu terletak di sebuah ruangan yang berada di sebelah barat masjid. Di ruangan itu ada dua makam lagi yang aku sendiri lupa makamnya siapa saja.

Beranjak ke luar ruangan, aku menuju parkiran mobil yang terletak di barat pelataran masjid. Di sana terdapat prasasti perang sabil. Tepat di samping prasasti itu adalah deretan ruangan para pengurus masjid. Salah satu ruang itu menjadi tempat tinggal Abdullah Hamid.

Abdullah Hamid menyambutku ramah kedatanganku. Kami ngobrol di depan kantor yang menjadi tempat tinggalnya sekaligus tempat ia mengajar untuk Universitas Terbuka. Di sana kami ngobrol tentang toleransi di Lasem. Menurutnya, kisah perang kuning penting untuk menjadi materi sejarah pada sekolah-sekolah di Lasem. Dia kemudian menunjukkan padaku kliping koran berupa tulisannya yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka.

Di halaman belakang masjid itu ada sebuah batu yang di atasnya terdapat papan bertuliskan huruf latin berbahasa Jawa. Kata Pak Abdullah, batu itu diperolehnya secara cuma-cuma dari Gunung Kedil. Tulisan itu dikutip langsung dari buku Babad Lasem yang isinya sebagai berikut:

Sarampunge sembahyang Jumuwahan Ing Masjid Jami’ Lasem kang diimami Kyai Ali Baidawi, nuri wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabisa nyirnakake kumpeni Walanda  

(Setelah Sholat Jum’at di Masjid Jami’ Lasem yang diimami Kyai Ali Baidawi, dia menyeru kepada semua umat Islam untuk ikut perang sabil sebagai usaha mengusir kompeni Belanda)


Makam Ki Ali Baidawi

Makam para kiayi Lasem di halaman belakang Masjid Jami'

Prasasti perang sabil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...