Sabtu, 14 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 12 : Malam Terakhir di Lasem

Kelenteng Cu An Kiong Lasem




Malam itu, di malam terakhir, kami bertujuh mengadakan evaluasi kegiatan selama di Lasem. Evaluasi ini diadakan atas inisiatifku sendiri, mengingat saat sudah sampai di Jogja nanti kami harus segera membuat laporan pertanggung jawaban kegiatan ini.

Kami semua berkumpul di beranda. Masing-masing anggota diminta untuk menceritakan proses liputan selama di Lasem. Sebagian dari kami liputannya memang tidak berjalan mulus. Salah satunya adalah liputan Osa tentang komunis di Lasem. Seperti dugaanku, data yang diperoleh dari liputannya hanya sedikit. Itupun hanya dari hasil wawancara dengan Pak Gandor waktu awal-awal kami di sini. 
Sementara tulisan Cipon tentang batik Lasem terkendala karena narasumbernya sedang sakit. Aku tak tahu apakah sebelum berangkat ke Lasem dia sempat menghubungi Pak Sigit Wicaksono untuk wawancara atau tidak.

Selain kedua liputan itu aku tidak tahu pasti. Mereka melaporkan hasil liputannya seolah tidak ada kendala. Kendala mungkin baru akan muncul saat mereka menuliskan hasil liputannya nanti. Di malam itu, semua kegiatan liputan sudah selesai. Saatnya siap-siap kembali ke Jogja.

Langit-langit Kelenteng Cu An Kiong Lasem
Setelah evaluasi rampung, kami semua makan malam bersama. Sekembalinya ke penginapan, aku dan Bagus langsung meminjam laptopnya Osa lalu kami main game NBA berdua saja. Teman-teman yang lain ada di ruangan berbeda dan entah apa yang sedang mereka lakukan. Osa dan Rifat pulang terlebih dahulu pada pagi-pagi buta karena malam harinya Osa harus menghadiri sebuah acara. Sementara kami yang tersisa empat orang baru akan pulang pada siang harinya.

Waktu menunjukkan hampir pukul 12 saat kami merasa sudah cukup untuk bermain. Saat itu Bagus mengajakku pergi ke luar untuk cari suasana. Aku menyetujui ajakan Bagus.

Lasem di malam hari benar-benar diselimuti kegelapan. Penerangan hanya berasal dari lampu-lampu yang terdapat di masing-masing pintu rumah. Itupun tidak bersinar semua. Suasananya terasa sedikit lebih ramai saat melintasi Pantura. Di sana bus-bus malam melaju kencang karena saat malam hari jalanan cukup lengang. Hanya sedikit mobil dan motor yang melintas.

Kami mengendarai motor menuju Kampung Babagan. Selain di daerah seputar penginapan kami, di sana juga terdapat pecinan yang menjadi sentra kerajinan batik Lasem. Di sana pula berdiri Kelenteng Gie Yong Bio yang salah satu altarnya terdapat patung Raden Panji Margono, salah satu pahlawan perang kuning Lasem.    

Malam itu, Kampung Babagan diselimuti kegelapan. Jalan-jalan sepi, dan di setiap rumah-rumah hampir tak ada penerangan. Ini mungkin karena penerangan utama mereka berada di balik tembok, bukan di luar rumah. Aku sejujurnya ketakutan. Aku tak berani melirik ke arah pinggir, atau ke arah sebuah pohon yang menjulang tinggi dari dalam tembok. Aku bahkan membayangkan, karena ini pecinan, di malam yang mencekam ini aku bisa bertemu vampir gentayangan. Kalau bertemu kutilanak atau pocong sih sudah wajar. Kalau vampir? Tentu akan menjadi cerita menarik untuk bahan tulisan liputan khusus ini.

Di belakang kemudi, bulu kudukku merinding. Kami berkendara tak tentu arah. Kami masuk dari gang ke gang, lalu berbalik arah ketika menemukan ternyata gang itu buntu. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali ke pantura. Kami berhenti pada sebuah indomaret di pinggir jalan, lalu membeli sebuah minuman kotak dan satu liter air mineral untuk teman-teman di penginapan. Di sana kami ngobrol sebentar sambil menghabiskan minuman masing-masing. Setelah itu barulah kami kembali ke penginapan.

Halaman tengah Kelenteng Cu An Kiong Lasem
Lolos dari tempat angker, untuk menuju ke tempat angker yang lain. Begitulah kondisi kami waktu itu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan hantu-hantu yang bisa muncul kapan saja. Jujur, sebelum ini, aku belum pernah melihat hantu, dan bisa jadi di Lasem inilah tempat untuk pertama kalinya aku melihat wujud hantu secara utuh dan jelas. Namun sampai menjelang subuh, tak ada satupun gangguan yang diberikan padaku yang terus terjaga di atas ranjang ini. Sampai kemudian aku baru berani bangkit dari ranjang ketika Rifat dan Osa pamit untuk pulang ke Jogja duluan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...