![]() |
| Kelenteng Cu An Kiong Lasem |
Malam itu, di malam terakhir, kami bertujuh
mengadakan evaluasi kegiatan selama di Lasem. Evaluasi ini diadakan atas inisiatifku
sendiri, mengingat saat sudah sampai di Jogja nanti kami harus segera membuat
laporan pertanggung jawaban kegiatan ini.
Kami semua berkumpul di beranda.
Masing-masing anggota diminta untuk menceritakan proses liputan selama di
Lasem. Sebagian dari kami liputannya memang tidak berjalan mulus. Salah satunya
adalah liputan Osa tentang komunis di Lasem. Seperti dugaanku, data yang
diperoleh dari liputannya hanya sedikit. Itupun hanya dari hasil wawancara
dengan Pak Gandor waktu awal-awal kami di sini.
Sementara tulisan Cipon tentang
batik Lasem terkendala karena narasumbernya sedang sakit. Aku tak tahu apakah
sebelum berangkat ke Lasem dia sempat menghubungi Pak Sigit Wicaksono untuk
wawancara atau tidak.
Selain kedua liputan itu aku tidak
tahu pasti. Mereka melaporkan hasil liputannya seolah tidak ada kendala.
Kendala mungkin baru akan muncul saat mereka menuliskan hasil liputannya nanti.
Di malam itu, semua kegiatan liputan sudah selesai. Saatnya siap-siap kembali
ke Jogja.
![]() |
| Langit-langit Kelenteng Cu An Kiong Lasem |
Setelah evaluasi rampung, kami
semua makan malam bersama. Sekembalinya ke penginapan, aku dan Bagus langsung
meminjam laptopnya Osa lalu kami main game NBA berdua saja. Teman-teman yang
lain ada di ruangan berbeda dan entah apa yang sedang mereka lakukan. Osa dan
Rifat pulang terlebih dahulu pada pagi-pagi buta karena malam harinya Osa harus
menghadiri sebuah acara. Sementara kami yang tersisa empat orang baru akan
pulang pada siang harinya.
Waktu menunjukkan hampir pukul 12
saat kami merasa sudah cukup untuk bermain. Saat itu Bagus mengajakku pergi ke
luar untuk cari suasana. Aku menyetujui ajakan Bagus.
Lasem di malam hari benar-benar
diselimuti kegelapan. Penerangan hanya berasal dari lampu-lampu yang terdapat
di masing-masing pintu rumah. Itupun tidak bersinar semua. Suasananya terasa
sedikit lebih ramai saat melintasi Pantura. Di sana bus-bus malam melaju
kencang karena saat malam hari jalanan cukup lengang. Hanya sedikit mobil dan
motor yang melintas.
Kami mengendarai motor menuju
Kampung Babagan. Selain di daerah seputar penginapan kami, di sana juga
terdapat pecinan yang menjadi sentra kerajinan batik Lasem. Di sana pula
berdiri Kelenteng Gie Yong Bio yang salah satu altarnya terdapat patung Raden
Panji Margono, salah satu pahlawan perang kuning Lasem.
Malam itu, Kampung Babagan
diselimuti kegelapan. Jalan-jalan sepi, dan di setiap rumah-rumah hampir tak
ada penerangan. Ini mungkin karena penerangan utama mereka berada di balik
tembok, bukan di luar rumah. Aku sejujurnya ketakutan. Aku tak berani melirik
ke arah pinggir, atau ke arah sebuah pohon yang menjulang tinggi dari dalam
tembok. Aku bahkan membayangkan, karena ini pecinan, di malam yang mencekam ini
aku bisa bertemu vampir gentayangan. Kalau bertemu kutilanak atau pocong sih
sudah wajar. Kalau vampir? Tentu akan menjadi cerita menarik untuk bahan
tulisan liputan khusus ini.
Di belakang kemudi, bulu kudukku
merinding. Kami berkendara tak tentu arah. Kami masuk dari gang ke gang, lalu
berbalik arah ketika menemukan ternyata gang itu buntu. Setelah itu aku
memutuskan untuk kembali ke pantura. Kami berhenti pada sebuah indomaret di
pinggir jalan, lalu membeli sebuah minuman kotak dan satu liter air mineral
untuk teman-teman di penginapan. Di sana kami ngobrol sebentar sambil
menghabiskan minuman masing-masing. Setelah itu barulah kami kembali ke
penginapan.
Lolos dari tempat angker, untuk
menuju ke tempat angker yang lain. Begitulah kondisi kami waktu itu.
Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan hantu-hantu yang bisa
muncul kapan saja. Jujur, sebelum ini, aku belum pernah melihat hantu, dan bisa
jadi di Lasem inilah tempat untuk pertama kalinya aku melihat wujud hantu
secara utuh dan jelas. Namun sampai menjelang subuh, tak ada satupun gangguan
yang diberikan padaku yang terus terjaga di atas ranjang ini. Sampai kemudian
aku baru berani bangkit dari ranjang ketika Rifat dan Osa pamit untuk pulang ke
Jogja duluan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar