Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 6 : Perdebatan Antara Yang Ilmiah Dengan Yang Ghoib



Berkumpul di beranda penginapan

Untuk mengenal lebih dekat sejarah Lasem, Mas Pop mengajak kami untuk bertemu dengan teman-teman dari Komunitas Bhre Lasem. Pertemuan itu diadakan malam hari keesokan harinya di bangunan serba guna milik pemerintah Desa Dasun. Pada pertemuan itu, kami diperkenalkan oleh para anggota Bhre Lasem. Komunitas itu diketuai oleh Mas Manthoya yang berprofesi sebagai pendakwah sekaligus dalang di Lasem. Anggota Bhre Lasem diantaranya; Mas Pop sendiri, Mas Mahdi, dan dua anggota lainnya yang aku lupa namanya.

Untuk melengkapi bahan tulisan Perang Kuning-ku, aku diarahkan untuk bertemu Mas Mahdi. Dalam komunitas Bhre Lasem, Mas Mahdi menjabat sebagai sekretaris. Dokumen-dokumen hasil penemuan bukti sejarah yang dilakukan Bhre Lasem semuanya tersimpan di rumah Mas Mahdi. Setelah bertukar nomor handphone, kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya keesokan harinya. Di sana ia berjanji akan memberikan sumber-sumber literasi terkait sejarah Perang Kuning.

Aku bersama Rifat pergi ke rumah Mas Mahdi sekitar pukul sepuluh pagi. Rumah Mas Mahdi sungguh sederhana. Waktu kami datang, Mas Mahdi lagi memomong anaknya yang masih balita. Perbincangan kami dengan Mas Mahdi sedikit terganggu karena anaknya yang rewel itu. Di tengah pembicaraan, Mas Mahdi menunjukkan pada kami beberapa arsip mengenai sejarah Lasem dan buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem.

Arsip pertama yang ia tunjukkan adalah fotokopi buku Carita Sajarah Lasem karangan Panji Khamzah. Buku itu sendiri ditulis dalam bahasa Jawa pada akhir abad ke-19. Fotokopi buku itu sendiri berbahasa Jawa namun ditulis dengan aksara latin. Arsip kedua adalah tulisannya sendiri tentang Perang Kuning. Dia menulis kisah Perang Kuning berdasarkan tiga sumber yaitu; buku Carita Sajarah Lasem karangan Panji Khamzah, buku Perang Tionghoa dan Runtuhnya Negara Jawa karangan Williem Remmelink, dan satu tesis karangan Pratiwo berjudul Historical Reading of Lasem. Sementara arsip ketiga adalah sebuah buku saku karangannya sendiri yang berisi foto arsitektur Masjid Jami’ Lasem beserta keterangannya. Buku arsitektur itu nantinya digunakan untuk bahan tulisannya Rifat.

Setelah sesi wawancara selesai, kami beranjak pulang ke penginapan. Aku membawa fotokopian buku Carita Sejarah Lasem, sedang Rifat membawa buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem. Saat tiba di penginapan, hanya ada Osa dan Bagus yang tengah tertidur di atas ranjang. Ancis, Cacing, dan Cipon entah pergi ke mana.

Mas Mahdi bersama dokumen penting miliknya

                                                                        ***

Pada saat tidak ada jadwal wawancara dengan narasumber, kami biasanya menghabiskan waktu di atas ranjang. Entah itu sambil membaca buku, bermain handphone, atau bermain game dengan Laptop. Beruntunglah Osa membawa laptop-nya. Di dalam laptopnya ada game NBA keluaran EA Sport yang boleh kita mainkan semaunya. Cukup mudah untuk memainkan game itu buatku yang baru pertama kali mencobanya. Hampir setiap malam kami begadang memainkan game ini.

Atau, kami biasanya duduk-duduk di beranda samping penginapan. Kalau hari masih terang, tempat itu benar-benar nyaman untuk tempat kami nongkrong. Tempatnya persis di depan pohon tak berdaun itu. Tapi kalau hari sudah gelap, aku lebih baik di dalam saja. Ada sebuah pintu yang menghubungkan ruang tengah penginapan kami dengan halaman itu. Kurang ajarnya, oleh teman-teman pintu itu dibiarkan terbuka bahkan pada malam hari. Melihat itu aku biasanya segera menutup pintu itu rapat-rapat dan kalau perlu jendela kacanya kututup dengan gorden yang menggantung di sana.

Pernah sekali sewaktu kami nongkrong bareng Mas Pop di ruang tamu, aku melihat sekelebat bayangan putih di luar jendela. Saat itu aku tidak merasa takut karena kondisinya ramai. Tapi pengalaman itu dan segala hal yang ada di pikiranku mengenai tempat ini, mulai dari soal bangunan tua sampai pohon menyeramkan yang ada di halaman samping bangunan itu aku ceritakan pada Ancis.

Ancis tidak percaya dengan ceritaku. Dia bilang semua yang aku ceritakan adalah bohong belaka. Malah dia balik menyerangku dengan mengatakan bahwa aku harusnya tidak mempercayai kebohongan itu. “Hantu itu tidak ilmiah. Selama aku kuliah di Teknobiologi tidak ada yang tidak ilmiah. Semuanya bisa di-ilmiahkan. Selama itu tidak ilmiah maka aku tidak bisa percaya!” begitu katanya.

Akupun mendebat-nya bahwa semua yang di dunia ini tidak seluruhnya ilmiah, alias tidak semuanya bisa ditangkap dengan akal sehat atau ilmu pengetahuan. Pada akhirnya kita terlibat perdebatan sengit tentang yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah. Hampir saja aku terbawa emosi gara-gara debat itu, namun lama-lama aku capek juga dan mengakhiri perdebatan. Di akhir perdebatan tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena walaupun kita sepakat bedamai tapi di dalam hati kami tetap keukeuh pada pendirian masing-masing.

Memang, segala aktivitas orang-orang Lasem (dan tentu orang-orang di tempat-tempat lain) tidak semuanya bisa diterima dengan logika ilmiah. Contohnya banyak ritual di mana-mana, banyak kesurupan di mana-mana. Tiap tempat di seluruh penjuru dunia punya urban legend-nya masing-masing. Hal ini mungkin juga terjadi di Lasem. Bahkan, eksplorasi menggali jejak-jejak peninggalan zaman dulu yang dilakukan komunitas sejarah Bhre Lasem tidak selalu menggunakan metode ilmiah.     

Waktu sesi wawancara di rumahnya, Mas Mahdi pernah cerita kalau salah satu metode pencarian jejak-jejak sejarah di Lasem ini adalah dengan metode pemanggilan jin. Jin yang datang itu kemudian merasuki jiwa seseorang dan melalui orang itu menceritakan sesuatu mengenai tempat serta peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sana. Caranya kurang lebih sama seperti di acara televisi Dua Dunia yang tayang di Trans 7. Mendengar ceritanya membuatku agak ragu untuk menjadikannya sebagai narasumber Sejarah Perang Kuning. Secara, metode yang ia gunakan bukan metode ilmiah dan dia-pun juga bukan pakar sejarah, melainkan hanya lulusan SMA yang memiliki minat besar terhadap sejarah.   

Dalam konteks ilmu pengetahuan, pendapat Ancis pantas dibenarkan. Kita tidak boleh mencampur adukkan ilmu pengetahuan dengan ilmu ghoib. Dan itulah yang terjadi di Lasem. Mungkin saja tulisan ringkasan Perang Kuning yang dibuat Mas Mahdi itu juga mengambil sumber dari makhluk ghoib. Tapi siapa tahu. Lagi pula Mas Mahdi sudah bilang bahwa sumbernya dari buku Carita Sajarah Lasem, bukunya William Remmelink, dan sebuah thesis. Tak satupun dia menyebut makhluk ghoib sebagai sumber referensinya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Pohon tak berdaun di halaman penginapan

Toilet yang jarang digunakan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...