![]() |
| Berkumpul di beranda penginapan |
Untuk mengenal lebih dekat sejarah
Lasem, Mas Pop mengajak kami untuk bertemu dengan teman-teman dari Komunitas
Bhre Lasem. Pertemuan itu diadakan malam hari keesokan harinya di bangunan
serba guna milik pemerintah Desa Dasun. Pada pertemuan itu, kami diperkenalkan
oleh para anggota Bhre Lasem. Komunitas itu diketuai oleh Mas Manthoya yang
berprofesi sebagai pendakwah sekaligus dalang di Lasem. Anggota Bhre Lasem
diantaranya; Mas Pop sendiri, Mas Mahdi, dan dua anggota lainnya yang aku lupa
namanya.
Untuk melengkapi bahan tulisan
Perang Kuning-ku, aku diarahkan untuk bertemu Mas Mahdi. Dalam komunitas Bhre
Lasem, Mas Mahdi menjabat sebagai sekretaris. Dokumen-dokumen hasil penemuan
bukti sejarah yang dilakukan Bhre Lasem semuanya tersimpan di rumah Mas Mahdi.
Setelah bertukar nomor handphone, kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya
keesokan harinya. Di sana ia berjanji akan memberikan sumber-sumber literasi
terkait sejarah Perang Kuning.
Aku bersama Rifat pergi ke rumah
Mas Mahdi sekitar pukul sepuluh pagi. Rumah Mas Mahdi sungguh sederhana. Waktu
kami datang, Mas Mahdi lagi memomong anaknya yang masih balita. Perbincangan
kami dengan Mas Mahdi sedikit terganggu karena anaknya yang rewel itu. Di
tengah pembicaraan, Mas Mahdi menunjukkan pada kami beberapa arsip mengenai
sejarah Lasem dan buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem.
Arsip pertama yang ia tunjukkan
adalah fotokopi buku Carita Sajarah Lasem karangan Panji Khamzah. Buku itu
sendiri ditulis dalam bahasa Jawa pada akhir abad ke-19. Fotokopi buku itu sendiri
berbahasa Jawa namun ditulis dengan aksara latin. Arsip kedua adalah tulisannya
sendiri tentang Perang Kuning. Dia menulis kisah Perang Kuning berdasarkan tiga
sumber yaitu; buku Carita Sajarah Lasem
karangan Panji Khamzah, buku Perang
Tionghoa dan Runtuhnya Negara Jawa karangan Williem Remmelink, dan satu
tesis karangan Pratiwo berjudul Historical
Reading of Lasem. Sementara arsip ketiga adalah sebuah buku saku
karangannya sendiri yang berisi foto arsitektur Masjid Jami’ Lasem beserta
keterangannya. Buku arsitektur itu nantinya digunakan untuk bahan tulisannya
Rifat.
Setelah sesi wawancara selesai,
kami beranjak pulang ke penginapan. Aku membawa fotokopian buku Carita Sejarah Lasem, sedang Rifat
membawa buku tentang arsitektur Masjid Jami’ Lasem. Saat tiba di penginapan,
hanya ada Osa dan Bagus yang tengah tertidur di atas ranjang. Ancis, Cacing,
dan Cipon entah pergi ke mana.
![]() |
| Mas Mahdi bersama dokumen penting miliknya |
***
Pada saat tidak ada jadwal
wawancara dengan narasumber, kami biasanya menghabiskan waktu di atas ranjang.
Entah itu sambil membaca buku, bermain handphone,
atau bermain game dengan Laptop.
Beruntunglah Osa membawa laptop-nya. Di dalam laptopnya ada game NBA keluaran EA Sport yang boleh
kita mainkan semaunya. Cukup mudah untuk memainkan game itu buatku yang baru pertama kali mencobanya. Hampir setiap
malam kami begadang memainkan game ini.
Atau, kami biasanya duduk-duduk di
beranda samping penginapan. Kalau hari masih terang, tempat itu benar-benar
nyaman untuk tempat kami nongkrong. Tempatnya persis di depan pohon tak berdaun
itu. Tapi kalau hari sudah gelap, aku lebih baik di dalam saja. Ada sebuah
pintu yang menghubungkan ruang tengah penginapan kami dengan halaman itu.
Kurang ajarnya, oleh teman-teman pintu itu dibiarkan terbuka bahkan pada malam
hari. Melihat itu aku biasanya segera menutup pintu itu rapat-rapat dan kalau
perlu jendela kacanya kututup dengan gorden yang menggantung di sana.
Pernah sekali sewaktu kami
nongkrong bareng Mas Pop di ruang tamu, aku melihat sekelebat bayangan putih di
luar jendela. Saat itu aku tidak merasa takut karena kondisinya ramai. Tapi
pengalaman itu dan segala hal yang ada di pikiranku mengenai tempat ini, mulai
dari soal bangunan tua sampai pohon menyeramkan yang ada di halaman samping
bangunan itu aku ceritakan pada Ancis.
Ancis tidak percaya dengan ceritaku.
Dia bilang semua yang aku ceritakan adalah bohong belaka. Malah dia balik
menyerangku dengan mengatakan bahwa aku harusnya tidak mempercayai kebohongan
itu. “Hantu itu tidak ilmiah. Selama aku kuliah di Teknobiologi tidak ada yang
tidak ilmiah. Semuanya bisa di-ilmiahkan. Selama itu tidak ilmiah maka aku
tidak bisa percaya!” begitu katanya.
Akupun mendebat-nya bahwa semua
yang di dunia ini tidak seluruhnya ilmiah, alias tidak semuanya bisa ditangkap
dengan akal sehat atau ilmu pengetahuan. Pada akhirnya kita terlibat perdebatan
sengit tentang yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah. Hampir saja aku terbawa
emosi gara-gara debat itu, namun lama-lama aku capek juga dan mengakhiri
perdebatan. Di akhir perdebatan tidak ada yang menang ataupun kalah. Karena
walaupun kita sepakat bedamai tapi di dalam hati kami tetap keukeuh pada
pendirian masing-masing.
Memang, segala aktivitas
orang-orang Lasem (dan tentu orang-orang di tempat-tempat lain) tidak semuanya
bisa diterima dengan logika ilmiah. Contohnya banyak ritual di mana-mana,
banyak kesurupan di mana-mana. Tiap tempat di seluruh penjuru dunia punya urban
legend-nya masing-masing. Hal ini mungkin juga terjadi di Lasem. Bahkan,
eksplorasi menggali jejak-jejak peninggalan zaman dulu yang dilakukan komunitas
sejarah Bhre Lasem tidak selalu menggunakan metode ilmiah.
Waktu sesi wawancara di rumahnya, Mas
Mahdi pernah cerita kalau salah satu metode pencarian jejak-jejak sejarah di
Lasem ini adalah dengan metode pemanggilan jin. Jin yang datang itu kemudian
merasuki jiwa seseorang dan melalui orang itu menceritakan sesuatu mengenai
tempat serta peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sana. Caranya kurang
lebih sama seperti di acara televisi Dua
Dunia yang tayang di Trans 7. Mendengar ceritanya membuatku agak ragu untuk
menjadikannya sebagai narasumber Sejarah Perang Kuning. Secara, metode yang ia
gunakan bukan metode ilmiah dan dia-pun juga bukan pakar sejarah, melainkan hanya
lulusan SMA yang memiliki minat besar terhadap sejarah.
Dalam konteks ilmu pengetahuan,
pendapat Ancis pantas dibenarkan. Kita tidak boleh mencampur adukkan ilmu
pengetahuan dengan ilmu ghoib. Dan itulah yang terjadi di Lasem. Mungkin saja
tulisan ringkasan Perang Kuning yang dibuat Mas Mahdi itu juga mengambil sumber
dari makhluk ghoib. Tapi siapa tahu. Lagi pula Mas Mahdi sudah bilang bahwa
sumbernya dari buku Carita Sajarah Lasem, bukunya William Remmelink, dan sebuah
thesis. Tak satupun dia menyebut makhluk ghoib sebagai sumber referensinya.
Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
![]() |
| Pohon tak berdaun di halaman penginapan |
![]() |
| Toilet yang jarang digunakan |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar