![]() |
| Gus Zaim di depan pintu rumahnya |
Pada hari-hari normal terutama pada
musim kemarau, Lasem merupakan kota dengan terik mataharinya yang menyengat. Di
sana langitnya biru, dan kamu bisa menatap langit itu yang menaungi hamparan
sawah hijau dengan latar Gunung Lasem dari bawah pohon yang teduh. Benar-benar
seperti lukisan pemandangan yang biasa digambar anak SD pada masa-ku dulu.
Namun selama kami menetap di Lasem,
tak sekalipun langit cerah. Walau tidak hujan sekalipun, langitnya tetap
mendung tertutup tirai awan kelabu. Cuaca-nya tidak sepanas kota-kota di
pantura lainnya seperti Semarang dan Surabaya.
Pagi itu, aku berbaring di atas
kasur, sambil berpikir siapa lagi narasumber yang akan aku wawancarai.
Sebenarnya tulisan sejarah Lasem nantinya akan banyak mengambil dari sumber
buku. Sementara wawancara narasumber hanya sebagai pelengkap saja. Tapi agar
tulisanku lebih hidup, wawancara dengan narasumber lain juga dibutuhkan. Aku
sudah mewawancarai Pak Gandor dan Mas Mahdi. Untuk Selanjutnya aku berencana
bertemu dengan Gus Zaim, untuk menanyakan soal sejarah toleransi di Lasem.
***
KH Zaim Ahmad, atau akrab dipanggil
Gus Zaim adalah pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Lasem. Selain Pak Gandor, ia
adalah salah satu orang terpandang di Lasem. Bila ada jurnalis ingin meliput
atau membuat video dokumenter tentang Lasem, Gus Zaim adalah orang yang wajib
diwawancara.
Aku pergi bersama Ancis untuk
menemui Gus Zaim. Sebenarnya Ancis-lah yang minta ditemani untuk bertemu Gus
Zaim karena dia takut pergi sendiri. Ancis sendiri akan menulis profil Gus Zaim
sebagai tokoh toleransi Lasem. Lagi pula pengalaman wawancara-nya minim,
sehingga dia butuh kudampingi yang pengalaman wawancaranya lebih banyak.
Pondok Pesantren Kauman terletak di
Desa Karangturi, Lasem. Lokasinya masih berada satu desa dengan penginapan kami
dan rumah Pak Gandor. Sebenarnya bisa saja kami ke sana dengan berjalan kaki.
Namun untuk menghemat waktu, kami pergi ke sana dengan meminjam motor KLX-nya
Cipon.
Gus Zaim menyambut kami ramah saat
kami tiba di Pondok Pesantren Kauman. Rupanya Ancis telah membuat janji
terlebih dahulu dengan Gus Zaim jauh hari sebelum kami berangkat ke Lasem. Dan
janji itu baru terwujud saat itu, saat dia dengan begitu canggungnya
memperkenalkan diri dengan Gus Zaim.
Kemudian, kami dipersilahkan duduk
di beranda rumahnya dan mengobrol dengannya di sana. Selain kami, di sana juga
ada Abdullah Hamid, seorang pengurus takmir Masjid Jami’ Lasem yang juga
seorang dosen di Universitas Terbuka. Tak lama kami duduk di beranda, seorang
gadis muda berjilbab keluar memberikan hidangan teh pada kami. Aku terpesona
dengan kecantikan gadis itu. Sayangnya gadis itu segera masuk begitu minuman
tersaji di meja. Di meja itu sendiri terdapat berbagai macam hidangan kue-kue,
snack-snack, baik yang gurih dan manis. Kami berempat duduk lesehan sembari
melakukan sesi wawancara dengan Gus Zaim.
Ancis mulai mengajukan pertanyaan
pada Gus Zaim tentang riwayat hidupnya. Gus Zaim mulai bercerita tentang
dirinya, mulai dari bangku SD, saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren
Krapyak Jogja, sampai saat ini di mana dia mengasuh para santri di Pondok
Kauman. Dia menceritakan riwayat hidupnya cukup ringkas, padat, dan jelas,
seakan ia hanya baru hidup sebentar saja. Tapi tentu itu hanyalah gambaran umum
tentang Gus Zaim.
Bicara soal Gus Zaim sebenarnya
bukanlah bicara soal riwayat hidupnya dari ia lahir hingga kini menjadi
pengasuh pondok pesantren Kauman. Tapi soal pemikirannya tentang toleransi,
pemikirannya tentang pewarisan nilai-nilai sejarah di Lasem, dan juga tentang
hubungannya dengan masyarakat Lasem. Menurutnya, masyarakat Lasem itu punya
darah campuran, baik itu Cina, Jawa, atau darah lainnya. Hal ini mengingat
dulunya Lasem adalah kota dengan pecinannya yang besar, sehingga banyak orang
keturunan Cina yang mendiami kota ini.
Sebagai orang Lasem, Gus Zaim juga
merasa ada darah Cina mengalir di tubuhnya. Bentuk penghargaannya yang tinggi
terhadap nilai-nilai Cina adalah sebuah tulisan Cina yang berada di kusen pintu
rumahnya yang tetap ia pelihara. Dulunya rumah itu ia beli dari seorang warga
keturunan Cina.
Selain menjelaskan pemikirannya
tentang toleransi, dia juga menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi
Kiayi di Lasem. Ia bercerita bagaimana hubungannya dengan masyarakat Lasem,
bagaimana ia mendidik santrinya soal toleransi, dan masih banyak lagi. Semua
yang diceritakannya itu merupakan bahan tulisan buat Ancis. Sedangkan di
sela-sela sesi wawancaranya dengan Ancis, aku menanyakan padanya soal Perang
Kuning. Dia menjelaskan di kalangan santri, perang itu dinamakan “Perang
Sabil”. Jihad melawan kompeni Belanda demi memperjuangkan agama Allah SWT.
Setelah sesi wawancara berakhir,
kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama Gus Zaim sebagai kenang-kenangan
untuk dibawa pulang ke Jogja. Setelah itu kami pamit kembali ke penginapan.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, kami berhenti begitu tertarik dengan
sebuah bangunan kecil yang dicat merah mirip bangunan kelenteng. Bangunan kecil
itu rupanya sebuah pos ronda. Saat itu juga tempat itu menjadi objek kami untuk
berswafoto ria.
![]() |
| Ancis bersama Gus Zaim di depan langgar miliknya |
![]() |
| Diriku bersama Gus Zaim, seperti bapak sama calon mantunya :) |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar