Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 7 : Bertamu ke Rumah Gus Zaim




Gus Zaim di depan pintu rumahnya

Pada hari-hari normal terutama pada musim kemarau, Lasem merupakan kota dengan terik mataharinya yang menyengat. Di sana langitnya biru, dan kamu bisa menatap langit itu yang menaungi hamparan sawah hijau dengan latar Gunung Lasem dari bawah pohon yang teduh. Benar-benar seperti lukisan pemandangan yang biasa digambar anak SD pada masa-ku dulu.

Namun selama kami menetap di Lasem, tak sekalipun langit cerah. Walau tidak hujan sekalipun, langitnya tetap mendung tertutup tirai awan kelabu. Cuaca-nya tidak sepanas kota-kota di pantura lainnya seperti Semarang dan Surabaya.

Pagi itu, aku berbaring di atas kasur, sambil berpikir siapa lagi narasumber yang akan aku wawancarai. Sebenarnya tulisan sejarah Lasem nantinya akan banyak mengambil dari sumber buku. Sementara wawancara narasumber hanya sebagai pelengkap saja. Tapi agar tulisanku lebih hidup, wawancara dengan narasumber lain juga dibutuhkan. Aku sudah mewawancarai Pak Gandor dan Mas Mahdi. Untuk Selanjutnya aku berencana bertemu dengan Gus Zaim, untuk menanyakan soal sejarah toleransi di Lasem.

                                                                       ***

KH Zaim Ahmad, atau akrab dipanggil Gus Zaim adalah pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Lasem. Selain Pak Gandor, ia adalah salah satu orang terpandang di Lasem. Bila ada jurnalis ingin meliput atau membuat video dokumenter tentang Lasem, Gus Zaim adalah orang yang wajib diwawancara.

Aku pergi bersama Ancis untuk menemui Gus Zaim. Sebenarnya Ancis-lah yang minta ditemani untuk bertemu Gus Zaim karena dia takut pergi sendiri. Ancis sendiri akan menulis profil Gus Zaim sebagai tokoh toleransi Lasem. Lagi pula pengalaman wawancara-nya minim, sehingga dia butuh kudampingi yang pengalaman wawancaranya lebih banyak. 

Pondok Pesantren Kauman terletak di Desa Karangturi, Lasem. Lokasinya masih berada satu desa dengan penginapan kami dan rumah Pak Gandor. Sebenarnya bisa saja kami ke sana dengan berjalan kaki. Namun untuk menghemat waktu, kami pergi ke sana dengan meminjam motor KLX-nya Cipon.
Gus Zaim menyambut kami ramah saat kami tiba di Pondok Pesantren Kauman. Rupanya Ancis telah membuat janji terlebih dahulu dengan Gus Zaim jauh hari sebelum kami berangkat ke Lasem. Dan janji itu baru terwujud saat itu, saat dia dengan begitu canggungnya memperkenalkan diri dengan Gus Zaim.

Kemudian, kami dipersilahkan duduk di beranda rumahnya dan mengobrol dengannya di sana. Selain kami, di sana juga ada Abdullah Hamid, seorang pengurus takmir Masjid Jami’ Lasem yang juga seorang dosen di Universitas Terbuka. Tak lama kami duduk di beranda, seorang gadis muda berjilbab keluar memberikan hidangan teh pada kami. Aku terpesona dengan kecantikan gadis itu. Sayangnya gadis itu segera masuk begitu minuman tersaji di meja. Di meja itu sendiri terdapat berbagai macam hidangan kue-kue, snack-snack, baik yang gurih dan manis. Kami berempat duduk lesehan sembari melakukan sesi wawancara dengan Gus Zaim.

Ancis mulai mengajukan pertanyaan pada Gus Zaim tentang riwayat hidupnya. Gus Zaim mulai bercerita tentang dirinya, mulai dari bangku SD, saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak Jogja, sampai saat ini di mana dia mengasuh para santri di Pondok Kauman. Dia menceritakan riwayat hidupnya cukup ringkas, padat, dan jelas, seakan ia hanya baru hidup sebentar saja. Tapi tentu itu hanyalah gambaran umum tentang Gus Zaim.

Bicara soal Gus Zaim sebenarnya bukanlah bicara soal riwayat hidupnya dari ia lahir hingga kini menjadi pengasuh pondok pesantren Kauman. Tapi soal pemikirannya tentang toleransi, pemikirannya tentang pewarisan nilai-nilai sejarah di Lasem, dan juga tentang hubungannya dengan masyarakat Lasem. Menurutnya, masyarakat Lasem itu punya darah campuran, baik itu Cina, Jawa, atau darah lainnya. Hal ini mengingat dulunya Lasem adalah kota dengan pecinannya yang besar, sehingga banyak orang keturunan Cina yang mendiami kota ini.

Sebagai orang Lasem, Gus Zaim juga merasa ada darah Cina mengalir di tubuhnya. Bentuk penghargaannya yang tinggi terhadap nilai-nilai Cina adalah sebuah tulisan Cina yang berada di kusen pintu rumahnya yang tetap ia pelihara. Dulunya rumah itu ia beli dari seorang warga keturunan Cina.

Selain menjelaskan pemikirannya tentang toleransi, dia juga menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi Kiayi di Lasem. Ia bercerita bagaimana hubungannya dengan masyarakat Lasem, bagaimana ia mendidik santrinya soal toleransi, dan masih banyak lagi. Semua yang diceritakannya itu merupakan bahan tulisan buat Ancis. Sedangkan di sela-sela sesi wawancaranya dengan Ancis, aku menanyakan padanya soal Perang Kuning. Dia menjelaskan di kalangan santri, perang itu dinamakan “Perang Sabil”. Jihad melawan kompeni Belanda demi memperjuangkan agama Allah SWT.

Setelah sesi wawancara berakhir, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama Gus Zaim sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang ke Jogja. Setelah itu kami pamit kembali ke penginapan. Dalam perjalanan kembali ke penginapan, kami berhenti begitu tertarik dengan sebuah bangunan kecil yang dicat merah mirip bangunan kelenteng. Bangunan kecil itu rupanya sebuah pos ronda. Saat itu juga tempat itu menjadi objek kami untuk berswafoto ria.

Ancis bersama Gus Zaim di depan langgar miliknya


Diriku bersama Gus Zaim, seperti bapak sama calon mantunya :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...