Minggu, 12 Januari 2020

Ekspedisi Lasem Part 8 : Spot Swafoto Di Lasem

Foto bareng anak-anak di depan eks-jembatan kereta api Lasem


Bagi para penggemar foto selfie, ada banyak tempat di Lasem yang bisa digunakan untuk berswafoto ria. Spot yang paling utama tentu di tiga kelenteng yang menjadi ciri khas Lasem, seperti Kelenteng Cu An Kiong, Kelenteng Po An Bio, Kelenteng Gie Yong Bio, dan juga Lawang Ombo. 

Selama di Lasem, aku tidak sempat mengunjungi Lawang Ombo. Tapi aku sempat mengunjungi ketiga kelenteng itu dan berfoto di sana. Namun yang harus diperhatikan jika ingin berfoto di kelenteng adalah sopan santun. Bagaimanapun, kelenteng itu tempat ibadah, bukan tempat foto. Bila ingin mengambil foto, aku biasanya minta izin dulu sama petugas yang sedang berjaga di sana.

Selain tempat-tempat yang sudah ikonik di atas, masih banyak lagi tempat yang instagramable di Lasem. Salah satunya adalah pos ronda berbentuk kelenteng itu. Walaupun mirip kelenteng, pos ronda itu tak ada kaitannya dengan tempat ibadah umat Konghucu, jadi kita bebas berfoto ria di sana.
Masih satu deret dengan pos ronda itu, ada pula kusen pintu rumah-rumah Cina di sana. 

Warna dan motif kusen pintu itu macam-macam. Ada yang berwarna biru, merah, hijau muda, cokelat, dan masih banyak lagi. Lalu ada pula gerbang pintu rumah tua yang sepertinya sudah tak berpenghuni. Gerbang pintu tua itu terbuat dari kayu dan sudah banyak yang keropos dimakan rayap. Di Lasem, terdapat banyak rumah-rumah tua yang bagus untuk menjadi latar objek swafoto.

Lalu ada pula tembok rumah merah Lasem Heritage yang letaknya persis di samping rumah Pak Gandor. Warna merah pada tembok ini benar-benar menyala seperti pada bendera China dan Vietnam. Di sana juga ada pintu berwarna cokelat yang di tiap sisi menuju pintu itu terdapat ornamen patung berbentuk naga. Dan juga, di dekat penginapan kami, ada sebuah tembok bercat putih yang telah banyak goresan sana sini. Di sana terdapat tulisan yang bikin baper, “PINDAH OMAH LUWIH GAMPANG, TIMBANG MINDAH KENANGAN”.

Pindah omah luwih gampang timbang mindah kenangan


Tapi foto selfie yang paling berkesan bagiku adalah saat foto di depan bekas sebuah jembatan kereta api yang telah menjadi jalan kampung. Saat itu aku sama Ancis tengah blusukan menyusuri jejak rel kereta api di Lasem. Sejujurnya bekas rel itu sudah tidak ada. Aku memperikaran kalau jalan yang kami lalui dulunya bekas jalur kereta api hanya berdasarkan insting. Pedomanku hanyalah peta Lasem zaman 90-an yang terdapat di bukunya Handinoto. Dalam buku itu, jalur kereta api berbelok ke arah tenggara setelah melewati Stasiun Lasem. Di satu titik koordinat, jalur kereta api itu menyilang dengan Sungai Lasem. Pasti ada jembatan di titik persilangan itu. 

Dari peta itu aku menyimpulkan bahwa bila ada jalan ke arah tenggara di dekat Stasiun Lasem, berarti itu bekas jalur kereta api. Awalnya aku sulit menemukannya. Bahkan untuk menemukan bekas jalur itu, aku tidak menggunakan pedoman Google Maps.

Karena tidak menemukan jalur yang menyerong, dari Stasiun Lasem kami berkendara ke arah selatan. Lalu mencari jalan ke arah barat. Finally, aku menemukan jalan ke arah tenggara. Namun jalan itu terhenti di sebuah persimpangan. Aku ambil jalan itu ke arah kiri. Lalu ketemu persimpangan lagi ke kanan. Tiba-tiba saja di sebuah jalan tidak beraspal, aku menemukan plang bertuliskan “Tanah Ini Milik PT Kereta Api” dan disertai pula dengan logo PT Kereta Api. Langsung saja aku berbelok ke arah jalan tak beraspal yang membentang di belakang plang itu.

Tak sampai dua ratus meter menyusuri jalan itu, aku bertemu sebuah jembatan. Jalan tak beraspal itu menyempit saat melintasi jembatan itu. Sesuai konstruksinya, hampir dipastikan jembatan ini dulunya merupakan jembatan kereta api.

Di ujung jembatan itu, tampak sekelompok anak laki-laki sedang menikmati minuman yang dibungkus plastik. Rupanya di sana ada warung yang menjual aneka minuman instan seperti Pop Ice dan Nutrisari. Anak-anak itu menyapa kami begitu akrab, seakan kami bukan orang asing bagi mereka. kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berfoto bersama mereka. Setelah mereka pergi, giliran kami berfoto selfie sepuasnya di ujung jembatan. Akhirnya, penjelajahanku menyusuri jejak-jejak perkeretaapian di Lasem kesampaian juga.

Berpose di eks-jembatan kereta api

Bagian dalam gedung Lasem Heritage

Berpose di depan pintu Lasem Heritage


Berkenalan dengan kawan baru di pos ronda

Berdiri di depan rumah tua

Berfoto tanpa izin di depan rumah warga pecinan Lasem



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...