![]() |
| Foto bareng anak-anak di depan eks-jembatan kereta api Lasem |
Bagi para penggemar foto selfie,
ada banyak tempat di Lasem yang bisa digunakan untuk berswafoto ria. Spot yang
paling utama tentu di tiga kelenteng yang menjadi ciri khas Lasem, seperti
Kelenteng Cu An Kiong, Kelenteng Po An Bio, Kelenteng Gie Yong Bio, dan juga
Lawang Ombo.
Selama di Lasem, aku tidak sempat mengunjungi Lawang Ombo. Tapi
aku sempat mengunjungi ketiga kelenteng itu dan berfoto di sana. Namun yang
harus diperhatikan jika ingin berfoto di kelenteng adalah sopan santun.
Bagaimanapun, kelenteng itu tempat ibadah, bukan tempat foto. Bila ingin
mengambil foto, aku biasanya minta izin dulu sama petugas yang sedang berjaga
di sana.
Selain tempat-tempat yang sudah
ikonik di atas, masih banyak lagi tempat yang instagramable di Lasem. Salah satunya adalah pos ronda berbentuk
kelenteng itu. Walaupun mirip kelenteng, pos ronda itu tak ada kaitannya dengan
tempat ibadah umat Konghucu, jadi kita bebas berfoto ria di sana.
Masih satu deret dengan pos ronda
itu, ada pula kusen pintu rumah-rumah Cina di sana.
Warna dan motif kusen pintu
itu macam-macam. Ada yang berwarna biru, merah, hijau muda, cokelat, dan masih
banyak lagi. Lalu ada pula gerbang pintu rumah tua yang sepertinya sudah tak
berpenghuni. Gerbang pintu tua itu terbuat dari kayu dan sudah banyak yang
keropos dimakan rayap. Di Lasem, terdapat banyak rumah-rumah tua yang bagus
untuk menjadi latar objek swafoto.
Lalu ada pula tembok rumah merah
Lasem Heritage yang letaknya persis di samping rumah Pak Gandor. Warna merah
pada tembok ini benar-benar menyala seperti pada bendera China dan Vietnam. Di
sana juga ada pintu berwarna cokelat yang di tiap sisi menuju pintu itu
terdapat ornamen patung berbentuk naga. Dan juga, di dekat penginapan kami, ada
sebuah tembok bercat putih yang telah banyak goresan sana sini. Di sana
terdapat tulisan yang bikin baper, “PINDAH OMAH LUWIH GAMPANG, TIMBANG MINDAH
KENANGAN”.
![]() |
| Pindah omah luwih gampang timbang mindah kenangan |
Tapi foto selfie yang paling
berkesan bagiku adalah saat foto di depan bekas sebuah jembatan kereta api yang
telah menjadi jalan kampung. Saat itu aku sama Ancis tengah blusukan menyusuri
jejak rel kereta api di Lasem. Sejujurnya bekas rel itu sudah tidak ada. Aku
memperikaran kalau jalan yang kami lalui dulunya bekas jalur kereta api hanya
berdasarkan insting. Pedomanku hanyalah peta Lasem zaman 90-an yang terdapat di
bukunya Handinoto. Dalam buku itu, jalur kereta api berbelok ke arah tenggara
setelah melewati Stasiun Lasem. Di satu titik koordinat, jalur kereta api itu
menyilang dengan Sungai Lasem. Pasti ada jembatan di titik persilangan
itu.
Dari peta itu aku menyimpulkan
bahwa bila ada jalan ke arah tenggara di dekat Stasiun Lasem, berarti itu bekas
jalur kereta api. Awalnya aku sulit menemukannya. Bahkan untuk menemukan bekas
jalur itu, aku tidak menggunakan pedoman Google Maps.
Karena tidak menemukan jalur yang menyerong,
dari Stasiun Lasem kami berkendara ke arah selatan. Lalu mencari jalan ke arah
barat. Finally, aku menemukan jalan ke arah tenggara. Namun jalan itu terhenti
di sebuah persimpangan. Aku ambil jalan itu ke arah kiri. Lalu ketemu
persimpangan lagi ke kanan. Tiba-tiba saja di sebuah jalan tidak beraspal, aku
menemukan plang bertuliskan “Tanah Ini Milik PT Kereta Api” dan disertai pula
dengan logo PT Kereta Api. Langsung saja aku berbelok ke arah jalan tak
beraspal yang membentang di belakang plang itu.
Tak sampai dua ratus meter
menyusuri jalan itu, aku bertemu sebuah jembatan. Jalan tak beraspal itu
menyempit saat melintasi jembatan itu. Sesuai konstruksinya, hampir dipastikan
jembatan ini dulunya merupakan jembatan kereta api.
Di ujung jembatan itu, tampak
sekelompok anak laki-laki sedang menikmati minuman yang dibungkus plastik.
Rupanya di sana ada warung yang menjual aneka minuman instan seperti Pop Ice
dan Nutrisari. Anak-anak itu menyapa kami begitu akrab, seakan kami bukan orang
asing bagi mereka. kamipun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berfoto
bersama mereka. Setelah mereka pergi, giliran kami berfoto selfie sepuasnya di
ujung jembatan. Akhirnya, penjelajahanku menyusuri jejak-jejak perkeretaapian
di Lasem kesampaian juga.
![]() |
| Berpose di eks-jembatan kereta api |
![]() |
| Bagian dalam gedung Lasem Heritage |
![]() |
| Berpose di depan pintu Lasem Heritage |
![]() |
| Berkenalan dengan kawan baru di pos ronda |
![]() |
| Berdiri di depan rumah tua |
![]() |
| Berfoto tanpa izin di depan rumah warga pecinan Lasem |








Tidak ada komentar:
Posting Komentar