Minggu, 15 Maret 2020

Ekspedisi Lasem Part 13 : Makam Raden Ajeng Kartini



Berfoto di depan patung RA Kartini

Mendekati tengah hari, Rifat mengirim sebuah pesan WhatsApp di grup kalau dia sudah tiba di Jogja. Saat itu kami berlima masih di Lasem. Aku sedikit terkejut mengetahui bahwa perjalanan Lasem-Jogja sebenarnya tidak terlalu lama, cukup ditempuh dalam waktu 6 jam. Sehingga kalau kami berangkat siang ini, kemungkinan malam hari aku sudah tiba di rumah yang kurindukan.

Sebelum pulang kami terlebih dahulu bersih-bersih penginapan. Kami menyapu dan membuang sampah-sampah. Tak lupa kami membersihkan sprei, melipat selimut, dan merapikan tempat tidur agar terlihat rapi. Kami berusaha penginapan ini bersih kembali seperti sedia kala.

Pukul dua siang hujan gerimis turun. Saat itu pintu depan dibuka dan rombongan pengunjung masuk. Dalam rombongan itu juga ada Mas Pop yang bertugas sebagai pemandu. Beberapa anggota rombongan itu menyapa kami dengan senyum dan kemudian mendengarkan Mas Pop yang sepertinya sedang menjelaskan tentang penginapan kami. Rasanya Mas Pop belum pernah menjelaskan pada kami tentang penginapan tempat kami menginap. Ya sudahlah, sepertinya sudah terlambat, aku sudah begitu merindukan Jogja.

Berdo'a di depan makam
Saat itu pula, untuk pertama kalinya selama kami berada di Lasem, bangunan yang berada di samping penginapan dibuka. Ternyata bangunan itu adalah sebuah museum. Koleksinya berupa benda-benda peninggalan zaman dulu seperti mesin tenun, alat masak, alat-alat untuk membatik, perangko, foto-foto keluarga, dan juga ada alat penumbuk padi.

Saat aku keluar dari dalam bangunan itu, di teras depan ada dua orang cewek. Aku berkenalan dengan mereka berdua. Mereka adalah dua mahasiswi Universitas Indonesia yang tertarik dengan Lasem. Sambil menunggu yang lain siap untuk berangkat, aku menceritakan pengalamanku selama lima hari berada di Lasem secara singkat kepada dua cewek itu.

Sebelum berangkat, kami berlima menyempatkan diri untuk berfoto dengan Mas Pop di halaman museum. Setelah itu kami pamit kepada Mas Pop dan kedua cewek yang baru kukenal itu. Lalu satu per satu motor kami melewati pintu gerbang. Awal dari perjalanan pulang yang panjang ini.

Kami mampir dulu pada sebuah pom bensin tak jauh dari pusat kota Lasem. Jam saat itu menunjukkan pukul setengah empat sore. Dengan kelompok yang terdiri dari tiga motor, kami melintasi pantura yang banyak dilalui kendaraan-kendaraan besar. Sementara itu langit di atas kami gelap. Sejauh mata memandang sampai ke horizon di ujung selatan dan barat, langit hitam pekat. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun deras.

Saat kami tiba di Kota Rembang, hujan belum juga turun. Sementara langit masih gelap. Di sini kami berbelok ke arah selatan menuju Blora, meninggalkan jalan pantura yang menuju ke arah Kota Pati, Kudus, dan Semarang. Di Rembang ini, kami harus berhenti sebentar karena ada sedikit masalah dengan motor KLX-nya Cacing. Aku menyarankannya untuk mencari bengkel terdekat. Namun Cacing menolak saranku karena dia merasa motornya masih baik-baik saja.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Blora. Kalau sepanjang pantura dari Lasem sampai Rembang jalannya lurus dan mendatar, jalan menuju Blora ini perlahan-lahan naik dan mulai berkelok. Ditambah lagi, ternyata di beberapa tempat jalanan ini masih banyak yang berlubang. Hujan gerimis mulai turun, lalu agak deras. Kami belum memakai mantel. Sampai akhirnya di suatu tempat kami ada plang besar penunjuk arah menuju makam RA Kartini.

Siapa yang tidak kenal RA Kartini? Kami menyempatkan diri untuk ziarah ke makam pahlawan nasional itu. Dari jalan utama Rembang-Blora, makam itu letaknya berada di sebelah barat jalan. Kendaraan yang hendak menuju ke sana harus melewati sebuah tanjakan curam sebelum sampai di lokasi parkiran makam. Bangunan makam sudah terlihat dari parkiran itu.

Saat kami tiba di sana, makam itu hening. Sepertinya hanya kami pengunjung yang berziarah ke makam itu. Tak bisa dibayangkan bahwa yang bersemayam di sana adalah salah satu pahlawan besar negeri ini, yang namanya dikenang dalam sebuah lagu dan menjadi lagu wajib siswa sekolah, yang tanggal lahirnya diperingati secara khusus setiap tahunnya.

Kami memarkirkan motor dan kemudian masuk ke dalam makam. Di depan makam RA Kartini kami berdo’a untuk arwahnya. Di sebelah makam RA Kartini, juga terdapat makam suaminya, yaitu Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan anak semata wayangnya, Soesalit Djojo Adhiningrat. Tidak bisa dibayangkan, walau usianya hanya sampai 25 tahun, namun jasanya bagi bangsa ini sungguh luar biasa, sehingga ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Sekembalinya dari makam, kami kembali ke motor masing-masing untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami mengenakan mantel, karena hujan bertambah deras. Selepas meninggalkan tempat parkir, kami melintasi jalan yang menurun curam sebelum tiba lagi ke jalan raya Rembang-Blora. Hujan kali ini disertai angin. Sementara kami harus melintasi jalanan berkelok dan berlubang, dengan beberapa lubang yang tidak terlihat karena tertutup genangan air. Tak terasa kami sudah berada di tengah Perbukitan Kendeng yang banyak ditumbuhi pohon jati itu.       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jelajah Lereng Merapi: Aktivitas Penambang Pasir di Aliran Kali Putih

  Plang larangan menambang pasir di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Selama ini lereng barat Gunung Merapi merupakan kawasan yang sering...