Mendekati tengah hari, Rifat
mengirim sebuah pesan WhatsApp di grup kalau dia sudah tiba di Jogja. Saat itu
kami berlima masih di Lasem. Aku sedikit terkejut mengetahui bahwa perjalanan
Lasem-Jogja sebenarnya tidak terlalu lama, cukup ditempuh dalam waktu 6 jam.
Sehingga kalau kami berangkat siang ini, kemungkinan malam hari aku sudah tiba
di rumah yang kurindukan.
Sebelum pulang kami terlebih dahulu
bersih-bersih penginapan. Kami menyapu dan membuang sampah-sampah. Tak lupa
kami membersihkan sprei, melipat selimut, dan merapikan tempat tidur agar
terlihat rapi. Kami berusaha penginapan ini bersih kembali seperti sedia kala.
Pukul dua siang hujan gerimis
turun. Saat itu pintu depan dibuka dan rombongan pengunjung masuk. Dalam
rombongan itu juga ada Mas Pop yang bertugas sebagai pemandu. Beberapa anggota
rombongan itu menyapa kami dengan senyum dan kemudian mendengarkan Mas Pop yang
sepertinya sedang menjelaskan tentang penginapan kami. Rasanya Mas Pop belum
pernah menjelaskan pada kami tentang penginapan tempat kami menginap. Ya
sudahlah, sepertinya sudah terlambat, aku sudah begitu merindukan Jogja.
![]() |
| Berdo'a di depan makam |
Saat aku keluar dari dalam bangunan
itu, di teras depan ada dua orang cewek. Aku berkenalan dengan mereka berdua.
Mereka adalah dua mahasiswi Universitas Indonesia yang tertarik dengan Lasem. Sambil
menunggu yang lain siap untuk berangkat, aku menceritakan pengalamanku selama
lima hari berada di Lasem secara singkat kepada dua cewek itu.
Sebelum berangkat, kami berlima
menyempatkan diri untuk berfoto dengan Mas Pop di halaman museum. Setelah itu
kami pamit kepada Mas Pop dan kedua cewek yang baru kukenal itu. Lalu satu per
satu motor kami melewati pintu gerbang. Awal dari perjalanan pulang yang
panjang ini.
Kami mampir dulu pada sebuah pom
bensin tak jauh dari pusat kota Lasem. Jam saat itu menunjukkan pukul setengah
empat sore. Dengan kelompok yang terdiri dari tiga motor, kami melintasi
pantura yang banyak dilalui kendaraan-kendaraan besar. Sementara itu langit di
atas kami gelap. Sejauh mata memandang sampai ke horizon di ujung selatan dan
barat, langit hitam pekat. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun deras.
Saat kami tiba di Kota Rembang,
hujan belum juga turun. Sementara langit masih gelap. Di sini kami berbelok ke
arah selatan menuju Blora, meninggalkan jalan pantura yang menuju ke arah Kota Pati,
Kudus, dan Semarang. Di Rembang ini, kami harus berhenti sebentar karena ada
sedikit masalah dengan motor KLX-nya Cacing. Aku menyarankannya untuk mencari
bengkel terdekat. Namun Cacing menolak saranku karena dia merasa motornya masih
baik-baik saja.
Kami melanjutkan perjalanan ke arah
selatan menuju Blora. Kalau sepanjang pantura dari Lasem sampai Rembang
jalannya lurus dan mendatar, jalan menuju Blora ini perlahan-lahan naik dan
mulai berkelok. Ditambah lagi, ternyata di beberapa tempat jalanan ini masih
banyak yang berlubang. Hujan gerimis mulai turun, lalu agak deras. Kami belum
memakai mantel. Sampai akhirnya di suatu tempat kami ada plang besar penunjuk
arah menuju makam RA Kartini.
Siapa yang tidak kenal RA Kartini?
Kami menyempatkan diri untuk ziarah ke makam pahlawan nasional itu. Dari jalan
utama Rembang-Blora, makam itu letaknya berada di sebelah barat jalan.
Kendaraan yang hendak menuju ke sana harus melewati sebuah tanjakan curam
sebelum sampai di lokasi parkiran makam. Bangunan makam sudah terlihat dari
parkiran itu.
Saat kami tiba di sana, makam itu
hening. Sepertinya hanya kami pengunjung yang berziarah ke makam itu. Tak bisa
dibayangkan bahwa yang bersemayam di sana adalah salah satu pahlawan besar
negeri ini, yang namanya dikenang dalam sebuah lagu dan menjadi lagu wajib
siswa sekolah, yang tanggal lahirnya diperingati secara khusus setiap tahunnya.
Kami memarkirkan motor dan kemudian
masuk ke dalam makam. Di depan makam RA Kartini kami berdo’a untuk arwahnya. Di
sebelah makam RA Kartini, juga terdapat makam suaminya, yaitu Adipati Ario
Singgih Djojo Adhiningrat dan anak semata wayangnya, Soesalit Djojo
Adhiningrat. Tidak bisa dibayangkan, walau usianya hanya sampai 25 tahun, namun
jasanya bagi bangsa ini sungguh luar biasa, sehingga ia dinobatkan sebagai
pahlawan nasional.
Sekembalinya dari makam, kami
kembali ke motor masing-masing untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini kami
mengenakan mantel, karena hujan bertambah deras. Selepas meninggalkan tempat
parkir, kami melintasi jalan yang menurun curam sebelum tiba lagi ke jalan raya
Rembang-Blora. Hujan kali ini disertai angin. Sementara kami harus melintasi
jalanan berkelok dan berlubang, dengan beberapa lubang yang tidak terlihat
karena tertutup genangan air. Tak terasa kami sudah berada di tengah Perbukitan
Kendeng yang banyak ditumbuhi pohon jati itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar